Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE DUA PULUH SEMBILAN
Pagi itu Siena bangun dengan wajah kusut dan suasana hati yang lebih kusut lagi.
Ia menatap langit-langit kamar beberapa detik, lalu mendengus kesal sendiri.
“Kenapa sih aku mikirin dia terus?” lirih Siena berucap pada dirinya sendiri seraya mengacak-acak kasar rambut panjangnya yang sedikit berantakan.
Ia lalu bangkit dari ranjang, menarik tirai hingga cahaya matahari masuk terlalu terang. Kemudian, Siena melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuruni satu persatu anak tangga dengan langkah tergesa.
Di ruang keluarga ayah Alex yang tengah duduk membaca koran melirik sebentar kearahnya.
“Kamu kalau jalan seperti mau perang.” Seloroh ayah Alex bergurau
Siena yang mendengar itu berdecih. “Yah, Ayah tahu alamat rumahnya Bastian tidak?”
Ayah Alex menurunkan korannya perlahan, keningnya mengernyit menatap putri semata wayangnya itu dengan mata yang memicing.
“Kenapa?” tanya nya penuh selidik
“Ya tidak kenapa-kenapa yah. Ayah tinggal jawab saja, tau atau tidak.” Sahut Siena lalu mendudukkan dirinya dikursi sofa yang bersebrangan dengan ayahnya.
Ayah Alex semakin menyipitkan matanya. “Semalam masih kesal. Sekarang cari alamat rumahnya. Ayah harus khawatir atau bangga?”
Siena menatap tajam. “Ayah drama banget.”
“Jadi untuk apa?” Ujar Ayah Alex
Siena terdiam sebentar. Lalu menghembuskan napas kasar.
“Dia terluka karena aku. Setidaknya aku harus memastikan dia tidak mati disudut rumahnya sendiri". Jawab Siena
Ayah Alex yang mendengar itu menahan senyum tipis. Ia letakkan koran itu kembali diatas meja.
"Ayah sudah tau semuanya. Semalam ibu cerita, jujur sebenarnya ayah juga terkejut kenapa kalian bisa tiba-tiba diserang seperti itu. Apa kalian punya musuh?" tanya Ayah Alex.
Siena menggeleng. "Ayah tau sendiri kan kalau putri ayah yang cantik dan baik hati ini tidak pernah mencari musuh?".
"Cih!" Ayah Alex berdecih mendengar ucapan putrinya itu yang penuh dramatis.
“Cantik mungkin. Baik hati? Itu masih perlu bukti.”
Siena langsung menyilangkan tangan di dada. “Yah, serius. Aku juga tidak tau kenapa bisa begitu. Kejadiannya begitu tiba-tiba.”
“Itulah yang membuat Ayah tidak tenang.” Suaranya berubah lebih tegas. “Kejadian seperti itu tidak datang tanpa sebab.”
Siena memalingkan wajah sebentar. Ia juga memikirkan hal yang sama semalaman. Tapi mengakuinya di depan Ayah hanya akan membuatnya dilarang ke mana-mana.
“Yang penting aku baik-baik saja,” katanya akhirnya. “Dan Bastian juga masih hidup.”
Nada kalimat terakhirnya terdengar lebih pelan.
Ayah Alex menangkap itu.
“Dan itu alasan kau ingin ke rumahnya?” tanya Ayah Alex langsung.
Siena tidak menjawab segera. Ia hanya mendecih kecil.
“Dia terluka saat ada aku di sana. Setidaknya aku harus memastikan keadaannya stabil. Itu saja.”
“Tidak ada maksud lain?” Ayah Alex menatap tajam putrinya.
Siena membalas tatapan itu tanpa mundur. “Kalau ada pun, bukan urusan Ayah.”
Sunyi beberapa detik.
Lalu Ayah Alex meraih ponselnya dan mengirimkan sesuatu.
Ponsel Siena bergetar.
Alamat itu muncul di layar benda pipih itu.
“Pergi kalau memang perlu,” ucap Ayah Alex akhirnya. “Tapi jangan bertindak gegabah. Ayah tidak ingin kejadian semalam terulang.”
Siena mengangguk singkat. “Aku bukan anak kecil, Yah.”
“Justru itu yang Ayah khawatirkan.”
Siena mendengus pelan lalu bangkit dan kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar.
Beberapa menit kemudian, Siena sudah siap dengan tas selempang yang tersampir dibahu kirinya. Ia membuka ponsel lagi, memastikan alamatnya benar.
Siena menuruni tangga untuk kedua kalinya, kali ini langkahnya lebih terkendali. Ayah Alex masih di ruang keluarga, tapi koran itu sudah terlipat rapi di meja.
“Aku pergi,” ucap Siena tanpa basa-basi.
Ayah Alex menoleh. “Dengan siapa?”
“Sendiri.”
Alis pria paruh baya itu terangkat tipis. “Kau yakin?”
Siena menghela napas pelan. “Yah, aku cuma mau memastikan dia tidak sekarat. Bukan mau ikut perang.”
“Justru perang sering datang tanpa diundang,” balas Ayahnya tenang.
Siena memutar bola matanya jengah. “Ayah ini kenapa jadi puitis sekali sih pagi-pagi?”
“Karena anak Ayah keras kepala.”
Siena terdiam sepersekian detik, lalu mendekat dan meraih kunci mobil di atas meja.
“Aku akan kabari kalau sudah sampai.”
Ayah Alex menatapnya lebih lama dari biasanya. “Jangan ikut campur terlalu jauh, Siena.”
Ia berhenti sejenak di depan pintu.
“Aku tidak pernah sengaja masuk ke masalah, Yah,” gumamnya pelan. “Masalahnya saja yang suka ikut aku.”
Sudut bibir Ayah Alex bergerak tipis, entah ingin tersenyum atau justru menghela napas.
Siena membuka pintu dan melangkah keluar.
Udara pagi menyentuh wajah yang cantik putih bak porselen itu yang sedikit menenangkan tapi tidak cukup mengurai kusut di kepalanya.
Ia baru saja membuka pintu mobil ketika suara klakson terdengar dari depan rumah.
Siena menoleh, tubuhnya membeku.
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan gerbang.
Evan turun dengan santai, senyum tipis terlukis di wajahnya seolah dunia baik-baik saja.
“Pagi, sayang.” Sapa Evan melangkah menghampiri Siena.
Siena mengangkat wajahnya sebentar. Tidak tersenyum. Tidak juga cemberut.
“Pagi.” Balas nya singkat
Evan mendekat beberapa langkah. “Mau ke mana pagi-pagi begini?”
“Pergi.”
Jawabannya datar. Tidak ketus. Tidak ramah.
Evan tersenyum kecil. “Ya aku tahu pergi. Maksudku ke mana, sayang?”
Siena menatap Evan sebentar. “Ada urusan.”
Evan menunduk memperhatikan kunci mobil di tangan kanan Siena. “Aku antar.”
“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.” Tolak Siena cepat
Evan menghela napas pelan. “Masih kesal?”
Siena memiringkan kepala sedikit. “Kesal kenapa?”
“Kemarin aku tidak sempat menjengukmu dirumah sakit.” Ujar Evan
Siena terdiam sepersekian detik. Lalu bahunya terangkat ringan. “Oh. Itu.”
Responnya terlalu ringan untuk sesuatu yang seharusnya berat.
“Aku pikir kamu sibuk,” lanjutnya.
Evan menatapnya lebih lama. “Sayang juga tidak bisa dihubungi.”
“Kamu juga.” Sahut Siena cepat
Hening.
Bukan hening canggung. Lebih seperti dua orang yang sama-sama menahan sesuatu.
Evan melangkah lebih dekat, jaraknya kini hanya satu langkah.
“Kamu kenapa, sih?” tanyanya pelan. “Kedengaran beda hari ini.”
Siena menghela napas tipis. “Tidak apa-apa. Cuma kurang tidur.”
Itu jawaban setengah jujur.
Evan mengangguk pelan, lalu tangannya terulur hendak merapikan rambut Siena yang tertiup angin. Namun, dengan cepat Siena langsung memundurkan kakinya dan menepis tangan Evan.
Sementara, Evan yang melihat sikap Siena hanya bisa diam mematung. Tangannya masih menggantung diudara.
Seulas senyum tipis menyeringai tersungging di wajah Evan. "Kamu kenapa sih? Sikap mu hari ini beda banget".
"Aku hanya capek". Sahut Siena
Evan mendesah pelan. “Kalau sayang capek kan bisa bilang ke aku. Aku bisa anter kemanapun sayang pergi. Aku tidak suka sayang jalan sendiri begini.”
Siena tak menyahut, ia hanya menatap Evan beberapa detik. Tatapannya tidak tajam. Tidak lembut juga.
Biasa saja.
“Aku cuma mau memastikan sesuatu,” kata Siena pelan.
“Memastikan apa, sayang?”
Siena memalingkan wajah sebentar.
“Semalam ada kejadian,” ucap Siena akhirnya. “Aku cuma mau lihat kondisinya.”
Evan mengernyit. “Kondisi siapa?”
Siena kembali menatapnya.
"Bastian".
.
.
.
Bersambung....
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut