Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Maya terdiam sejenak, terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh putri bungsunya. Dia mengalihkan pandangannya ke jendela, menatap keluar seolah mencari jawaban di sana. Hatinya bergetar, campuran antara rasa bersalah yang mendalam untuk putrinya.
"Seyra," suara Maya bergetar, "Hubungan antara Mama dan Papa sudah nggak bisa di perbaiki. Kami sudah berusaha, tapi... kadang cinta saja nggak cukup. Dan, kamu sudah bisa mandiri meski tanpa adanya Mama di samping kamu. Itu alasan kenapa Mama hanya membawa kakakmu."
Seyra merenung sejenak, dia kembali bersuara setelah menarik napas panjang. "Tapi, Mama. Apa Mama nggak bisa berusaha cukup hanya dengan Papa? apa Mama nggak mencintai Papa lagi?"
Maya menggelengkan kepala, merasa terjebak antara kejujuran dan perlindungan. "Aku mencintai Papa mu, tetapi cinta itu nggak selalu berarti kita bisa bersama. Ada banyak hal yang terjadi, ada banyak luka yang nggak bisa di sembuhkan, Seyra."
Seyra mengangguk singkat, dia tau alasan sebenarnya sang ibu ingin bercerai. Yakni, ibunya sudah memiliki laki-laki lain. Dari alurnya, Seyra ingat jika saat ini baru pertengahan bab di mana awal kehancuran keluarga sang antagonis wanita.
Dalam versi novel yang dia baca, perceraian kedua orang tuanya menjadi awal hancurnya mental Seyra Clara. Hubungan antara ibu dan anak itu renggang, sejak Seyra memilih tinggal bersama kakeknya di Paris dari kelas satu SMP sampai lulus dan sekarang dia sudah kelas dua SMA sudah dua tahun dia menetap kembali di Jakarta.
Bukan hanya hubungan ibu dan anak, Seyra serta Valeri juga tidak akur. Seyra yang pendiam, sering kali di anggap patung oleh kakaknya. Mereka jarang bertegur sapa, bahkan selama dia berada di Paris tak sekali pun Valeri menghubunginya.
Hanya sang ayah yang selalu menghubungi Seyra, di sela-sela kesibukannya mengurus bisnis.
'Bodo amat, mau cerai atau nggak. Aslinya gue nggak peduli, cuma kalau gue bilang begini nanti kesannya gue jadi anak durhaka.' Batin Seyra.
Dia menatap sendu ibunya, seolah dia enggan untuk menerima pernyataan barusan. Akting gadis itu sangat bagus, hingga mereka semua terperdaya.
"Jadi... Mama bakal tetap cerai?" cicit Seyra, dia memilin ujung bajunya.
Maya mengangguk, "Ya, dan kakak kamu akan ikut sama Mama!"
Seyra merasakan hatinya terjepit. Kata-kata ibunya itu bagaikan palu yang menghantam kepalanya, membuatnya sulit bernapas. Dia sudah menduga, tetapi tetap saja, mendengar hal itu secara langsung terasa seperti ditusuk jarum tak kasat mata.
"Jadi, aku akan di tinggalkan?" tanyanya pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Dia berusaha menahan air mata yang ingin tumpah, mencoba menunjukkan ketegaran yang tidak dia rasakan. Sejujurnya perasan asli Seyra masih ada, itulah yang membuatnya kesulitan mengendalikan dirinya saat ini.
Maya menghela napas, terlihat sangat berat untuk menjawab. "Seyra, bukan itu maksud Mama. Kamu bisa tinggal di mana saja yang kamu mau. Kakekmu mencintaimu, dan dia akan menjagamu seperti dulu."
Seyra merasakan kemarahan menyelimutinya. "Tapi aku ingin tinggal di sini, bersama kalian apa itu hal mustahil sekarang?"
Maya menatapnya dengan penuh penyesalan. "Kamu harus mengerti, Seyra. Ini adalah keputusan yang sulit, dan Mama nggak ingin kamu merasa terjebak di antara kami. Mama mencintaimu, tetapi Mama juga punya hak untuk bahagia."
"Bahagia?" Seyra hampir tertawa, tetapi tidak ada keceriaan dalam tawanya. "Bagaimana bisa Mama bahagia kalau semua ini justru menghancurkan perasaan anak-anak Mama?"
Maya terdiam, dan Seyra bisa melihat
keraguan di matanya. Di dalam hatinya, Seyra tahu bahwa ibunya sudah memilih jalan ini, meskipun dia tidak sepenuhnya bahagia dengan keputusan itu.
"Apa Kak Valeri juga setuju dengan keputusan ini?" Lanjut Seyra.
Maya menggelengkan kepala. "Dia masih muda, Sey. Dia nggak sepenuhnya mengerti. Tapi kami berpikir ini adalah yang terbaik untuk semua orang."
"Ma, aku juga masih muda. Kenapa hanya Kak Valeri yang Mama pikirkan? sejak dulu Mama selalu begitu, apa-apa untuk Kak Valeri dan aku harus menerima sisa yang dia nggak sukai, mulai dari pakaian, sepatu, tas bahkan kaos kaki semua harus bekas dari Kakak, bahkan di situasi seperti ini pendapatku nggak di butuhkan."
Seyra merasa seolah dunia di sekelilingnya runtuh. Dia tidak ingin mengambil posisi sebagai anak durhaka, namun perasaan yang menghimpit dadanya begitu menyakitkan. Dia adalah anak yang terjebak dalam pusaran badai yang tidak pernah dia buat.
"Seyra, siapa yang mengajarkan kamu bicara kasar seperti ini hah?" bentak sang ibu.
Seyra terkekeh miris, tersirat luka tak kasat mata dari tawa gadis itu. "Siapa lagi kalau bukan Mama."
"Kurang ajar... kamu-"
Tangan Maya yang melayang hendak menampar Seyra seketika terhenti, Lewin menahan pergelangan tangan istrinya dan menatap tajam pada wanita itu.
"Cukup, aku akan menyetujui perceraian kita. Jangan pernah kamu muncul lagi di hadapanku dan Seyra!" ancam Lewin dingin.
Seyra terdiam, matanya melebar mendengar kata-kata ayahnya. Dia tidak pernah membayangkan akan ada momen seperti ini.
Namun, rasa sakit yang terus-menerus menghujam hatinya membuatnya merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk berbicara. Dia hanya ingin menyampaikan unek-unek dari pemilik tubuh asli Seyra Clara, buka Seyra Avalen.
"Mama tahu, setiap kali aku melihat Kak Valeri mendapatkan semua yang di inginkannya, hati ini terasa hancur. Aku juga butuh perhatian, butuh kasih sayang. Kenapa Mama nggak pernah melihatku? Aku juga anak Mama."
Maya yang sebelumnya marah besar, kini terlihat tertegun. Dia mengalihkan pandangannya, seolah mencoba mencari kata-kata yang tepat.
"Seyra, kamu tahu Valeri adalah anak yang istimewa. Dia butuh lebih banyak dukungan, dia nggak seberani kamu."
"Apa Mama nggak pernah berpikir kenapa aku berani sendirian?" Seyra hampir berteriak, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku terpaksa karena aku berpikir dengan sikapku yang urakan, Mama bisa melihatku sedikit saja. Aku juga ingin merasa istimewa. Kenapa harus ada perbandingan seperti ini antara aku dan Kakak?"