Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.
Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.
Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.
Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?
Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Arak, Ego, dan Pajak Ketenangan
Suasana di dalam Kedai Awan Senja terasa hangat oleh uap masakan dan aroma arak mahal, namun kehadiran Tian Shan menciptakan sebuah anomali.
Ia duduk bersandar dengan santai, tangan kanannya memegang guci keramik berisi arak, sementara wajahnya yang terpahat sempurna—bahkan jauh lebih tampan dan karismatik dibandingkan lima puluh tahun lalu—terlihat tenang di bawah temaram lampu lampion.
Meskipun secara teknis ia sudah melewati usia paruh baya, ranah Pendekar Suci telah mengunci penampilannya di masa jaya; kulitnya seputih giok dan matanya memiliki kedalaman yang mampu membuat siapa pun merinding jika menatapnya terlalu lama.
Pelayan kedai, seorang pria paruh baya yang tampak gemetar menuangkan arak, mulai bercerita tanpa diminta karena merasakan tekanan aura Tian Shan yang tak kasat mata.
"Tuan pasti baru turun dari pertapaan jauh," bisik pelayan itu sambil meletakkan sepiring kacang. "Dunia sudah berubah. Sejak kemunculan tangan raksasa yang merobek langit di Lembah Kematian lima puluh tahun lalu, energi Qi di bumi ini meledak berkali-kali lipat. Para tetua menyebutnya sebagai terbukanya gerbang Alam Atas.".
Tian Shan hanya mendengarkan sambil menyesap araknya.
Ia tahu "tangan raksasa" itu adalah bagian dari Avatarnya sendiri yang ia panggil untuk melindungi para saksi saat melawan Naga Kuno.
"Semua orang membicarakan Legenda Pendekar Naga," lanjut pelayan itu, suaranya sedikit merendah. "Tapi... itu cerita lama. Pendekar muda zaman sekarang, yang lahir di era Qi melimpah ini, banyak yang meremehkannya. Mereka pikir sang legenda hanyalah orang beruntung yang hidup di zaman energi lemah. Mereka merasa, dengan latihan sepuluh tahun sekarang, mereka sudah bisa melampaui apa yang dicapai sang legenda dalam seratus tahun."
Tian Shan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat menawan namun menyimpan ironi yang tajam.
Keheningan Tian Shan terusik ketika tiga pemuda dengan seragam sutra berwarna kuning cerah mendekati mejanya.
Mereka adalah murid inti dari Klan Matahari Emas, klan terpandang di wilayah tersebut.
Pemimpin mereka, seorang pria dengan pedang berhias permata di pinggangnya, menendang kursi di depan Tian Shan.
"Hei, wajah cantik," ejek pemuda itu sambil menatap Tian Shan dengan angkuh. "Kau punya aura yang lumayan, tapi pakaianmu terlihat seperti sampah dari museum sejarah. Dan pedang berbalut kain itu? Apa itu tusuk gigi peninggalan kakekmu?".
Dua temannya tertawa terbahak-bahak. Mereka merasa kuat karena telah mencapai ranah Pendekar Bumi di usia muda—sesuatu yang mustahil lima puluh tahun lalu.
"Kami sedang butuh uang tambahan untuk bersenang-senang di rumah bordil malam ini," lanjut si pemimpin sambil menggebrak meja. "Karena kau terlihat seperti bangsawan yang tersesat, berikan tas uangmu dan guci arak itu, maka kami akan membiarkanmu pergi dengan wajah tampanmu tetap utuh."
Tian Shan tidak bergeming. Ia meneguk araknya hingga tetes terakhir, lalu meletakkan gucinya dengan perlahan.
"Aku baru bangun dari tidur yang sangat panjang," ucap Tian Shan, suaranya terdengar seperti denting logam yang jernih. "Dan hal pertama yang kutemui adalah anak-anak yang belum berhenti menyusu, namun sudah berani menggonggong pada serigala."
"Apa kau bilang?!" Murid klan tersebut menghunuskan pedangnya.
Namun, sebelum bilah pedang itu keluar sepenuhnya dari sarungnya, tekanan udara di dalam kedai berubah secara drastis.
Sebuah beban seberat gunung tiba-tiba menghantam pundak ketiga pemuda itu.
BUKK!
Ketiganya seketika berlutut hingga lantai kayu di bawah mereka hancur.
Mereka tidak bisa bergerak, bahkan untuk bernapas pun sulit.
Tian Shan masih duduk santai, hanya menatap mereka dengan mata yang berkilat ungu redup.
"Dunia memang berubah, tapi kebodohan manusia ternyata tetap abadi." ucap Tian Shan. Ia bangkit berdiri, jubah hitam-putihnya berkibar meski tidak ada angin.
Ia berjalan mendekati si pemimpin yang kini pucat pasi dan berkeringat dingin.
Tian Shan merogoh kantong uang di pinggang pemuda itu, lalu mengambil dua kantong lainnya dari teman-temannya.
Tidak hanya itu, ia juga mencabut pedang permata sang pemimpin dan mematahkannya menjadi dua hanya dengan dua jari.
"Karena kalian sudah merusak selera arakku, anggap saja ini adalah pajak ketenangan," kata Tian Shan sambil menimbang-nimbang kantong emas di tangannya. "Dan beritahu pemimpin klan kalian... seorang 'kenalan lama' sedang menuju ke kediamannya untuk menagih hutang yang jauh lebih besar dari sekadar emas."
Tian Shan berjalan keluar dari kedai dengan langkah ringan, meninggalkan tiga pendekar muda yang pingsan karena tekanan mental yang terlalu hebat.
Warga kedai hanya bisa terpaku, menyadari bahwa sosok yang baru saja pergi bukanlah sembarang pengembara, melainkan badai yang akan segera meluluhlantakkan kedamaian semu di Negara Matahari Terbit.