Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.
Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Paviliun Kitab Suci Keluarga Han adalah bangunan kuno berlantai tiga yang terletak di sisi timur kediaman, dikelilingi oleh hutan bambu ungu yang tenang. Ini adalah fondasi warisan keluarga, tempat di mana ratusan teknik bela diri dan metode kultivasi disimpan selama berabad-abad.
Bagi murid biasa, tempat ini adalah tanah suci. Namun, saat Han Feng melangkah masuk melewati pintu kayu berukir naga, hidung Han Feng hanya mencium aroma debu tua dan kertas lapuk yang menyengat.
Suasana di dalam paviliun cukup ramai. Banyak murid sedang sibuk memilih teknik bela diri di saat-saat terakhir sebelum turnamen, berharap bisa mendapatkan pencerahan instan atau jurus rahasia yang bisa membalikkan keadaan di arena nanti.
Kedatangan Han Feng, seperti biasa, memicu gelombang keheningan sesaat. Berita tentang "Pukulan 5000 Jin" di alun-alun pendaftaran telah menyebar lebih cepat daripada angin. Tatapan yang diarahkan kepada Han Feng kini bukan lagi tatapan meremehkan murni, melainkan campuran antara rasa takut, iri, dan rasa ingin tahu yang mendalam.
Han Feng mengabaikan mereka semua. Han Feng berjalan lurus menuju meja penjaga di dekat pintu masuk.
Seorang tetua berambut putih dengan punggung bungkuk sedang duduk di sana, menyipitkan mata membaca gulungan kuno. Ini adalah Tetua Buku, sosok misterius yang dikabarkan memiliki kultivasi setara dengan Kepala Keluarga, namun memilih menghabiskan sisa hidupnya menjaga tumpukan kertas ini.
"Murid Han Feng memberi salam pada Tetua Buku," ucap Han Feng sambil membungkuk sedikit—sikap hormat yang wajar, tidak berlebihan namun tidak merendahkan diri.
Tetua Buku tidak mengangkat kepalanya. Suaranya terdengar serak seperti gesekan dua lembar kertas amplas. "Han Feng... Si 'Sampah' yang baru saja menghancurkan pilar pengukur kekuatan. Apa yang kau cari di sini? Lantai satu hanya berisi teknik dasar. Lantai dua butuh izin khusus. Lantai tiga terlarang."
"Saya mencari teknik pergerakan (Footwork)," jawab Han Feng lugas. "Sesuatu yang eksplosif. Sesuatu yang bisa menutupi kekurangan kecepatan akibat membawa beban berat."
Tetua Buku akhirnya mendongak. Mata tuanya yang keruh menatap Pedang Meteor Hitam di punggung Han Feng. Ada kilatan pengakuan di matanya.
"Besi Meteor Inti Bintang dari gudang si tua Tie?" Tetua Buku terkekeh pelan. "Kau anak yang menarik. Membawa peti mati besi itu ke mana-mana pasti melelahkan. Pergilah ke Rak Nomor 7 di sudut barat. Di sana ada tumpukan teknik 'gagal' yang mungkin cocok untuk orang gila sepertimu."
"Terima kasih, Tetua."
Han Feng segera bergerak menuju lokasi yang ditunjuk. Rak Nomor 7 terletak di sudut paling gelap dan berdebu di lantai satu. Tidak ada murid lain di sana. Kebanyakan murid berebut di Rak Nomor 1 sampai 3 yang berisi teknik pedang populer dan teknik tinju yang terlihat gagah.
Han Feng mulai memindai gulungan-gulungan di rak itu.
Teknik Langkah Kura-Kura Besi... Terlalu lambat. Teknik Lompatan Katak Beracun... Terlalu aneh dan terbuka. Teknik Lari Angin Sepoi... Terlalu lemah.
Tangan Han Feng berhenti pada sebuah gulungan bambu yang warnanya sudah menghitam dan tali pengikatnya hampir putus. Debu tebal menutupi permukaannya.
Han Feng mengambilnya dan meniup debunya.
[Langkah Ledakan Guntur (Thunder Burst Step)] [Tingkat: Kuning - Puncak (Diduga Cacat)] [Deskripsi: Teknik pergerakan kuno yang memfokuskan aliran Qi ke titik akupunktur di kaki untuk menciptakan ledakan kecepatan sesaat yang menyerupai sambaran petir. Sangat cepat dalam garis lurus.] [Kekurangan: Ledakan energi yang dihasilkan memberikan beban ekstrem pada otot kaki dan tulang kering. Pengguna dengan fisik lemah akan mengalami patah tulang kaki setelah tiga langkah. Resiko kelumpuhan tinggi.]
Mata Han Feng berbinar.
Bagi kultivator Qi biasa, teknik ini adalah bunuh diri. Menggunakan teknik yang bisa mematahkan kaki sendiri demi kecepatan sesaat adalah pertukaran yang bodoh. Itulah sebabnya teknik ini dibuang di rak teknik gagal.
Tapi bagi Han Feng?
Han Feng memiliki Tubuh Dewa Naga yang tulangnya telah ditempa ulang oleh Sutra Hati Naga Purba dan energi Teratai Api Inti Bumi. Kakinya sekeras pilar baja. Beban balik yang "ekstrem" bagi orang lain, bagi Han Feng mungkin hanya menggelitik.
"Ini sempurna," gumam Han Feng. "Dengan ini, aku bisa mengubah tubuhku menjadi peluru meriam hidup. Dikombinasikan dengan berat Pedang Meteor Hitam... momentum tabrakannya akan menghancurkan apa saja."
Tepat saat Han Feng hendak berbalik membawa gulungan itu ke meja pendaftaran, sebuah tangan terulur dan menghalangi jalannya.
"Eits, tunggu dulu, Saudara Han."
Han Feng mengangkat wajahnya. Di depannya berdiri tiga orang murid senior. Yang memimpin adalah seorang pemuda berwajah licik dengan tahi lalat besar di dagunya.
Han Bo. Salah satu kaki tangan setia Han Lie. Kultivasinya berada di Pembentukan Tubuh Tingkat 7.
"Ada urusan apa?" tanya Han Feng datar.
Han Bo menyeringai, melirik gulungan di tangan Han Feng. "Kudengar kau membuat keributan di alun-alun tadi pagi. Tuan Muda Han Lie sangat tidak senang. Dia memintaku menyampaikan pesan: 'Jangan terlalu sombong hanya karena punya sedikit tenaga sapi'."
Han Bo maju selangkah, mencoba mengintimidasi Han Feng dengan aura tingkat 7-nya.
"Dan gulungan itu..." Han Bo menunjuk Langkah Ledakan Guntur. "Itu teknik berbahaya. Sebagai sesama saudara, aku tidak ingin melihatmu lumpuh sebelum naik panggung. Jadi, serahkan padaku. Aku akan mengembalikannya ke rak untukmu."
Tangan Han Bo bergerak hendak merampas gulungan itu.
Namun, sebelum jari Han Bo menyentuh bambu itu, tangan kiri Han Feng bergerak secepat kilat, mencengkeram pergelangan tangan Han Bo.
Grep.
Cengkeraman itu tidak terlihat kuat, tapi wajah Han Bo langsung berubah warna menjadi ungu. Dia merasa seolah-olah pergelangan tangannya sedang dijepit oleh catok besi hidrolik. Tulangnya berderit, memprotes tekanan yang tak tertahankan.
"L-Lepaskan..." desis Han Bo, keringat dingin mengucur. Dia mencoba mengalirkan Qi untuk melepaskan diri, tapi Qi-nya hancur berantakan saat menabrak kekuatan fisik Han Feng yang mendominasi.
"Han Bo," suara Han Feng rendah, hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Kau pikir Paviliun Kitab ini tempat bermain? Kau ingin aku mematahkan tanganmu di sini, di depan Tetua Buku, dan membuat kita berdua diusir keluar?"
Mata Han Bo melirik ketakutan ke arah meja penjaga. Tetua Buku masih tampak membaca, tapi aura mengerikan samar-samar mulai menyebar dari arah sana. Di Paviliun Kitab, perkelahian dilarang keras. Siapapun yang memulai akan dihukum berat.
"Kau..." Han Bo menggertakkan gigi.
"Minggir," Han Feng menghempaskan tangan Han Bo.
Han Bo terhuyung mundur, menabrak dua temannya hingga mereka hampir jatuh menimpa rak buku. Pergelangan tangannya memar membentuk cetakan jari berwarna biru kehitaman.
Han Feng berjalan melewati mereka tanpa menoleh lagi.
"Ingat ini, Han Bo," kata Han Feng sambil berjalan menjauh. "Jangan menjadi anjing bagi tuan yang bahkan tidak akan mengubur mayatmu jika kau mati. Itu nasihat gratis."
Han Feng meletakkan gulungan itu di meja Tetua Buku.
"Saya pinjam yang ini," kata Han Feng.
Tetua Buku melirik Han Bo yang sedang memegangi tangannya yang kesakitan di kejauhan, lalu kembali menatap Han Feng. Sudut bibir keriputnya terangkat sedikit.
"Mata yang bagus. Teknik itu cocok untukmu," kata Tetua Buku sambil mencatat peminjaman. "Tapi ingat, Langkah Ledakan Guntur yang ada di gulungan ini tidak lengkap. Bagian akhirnya hilang ratusan tahun lalu. Kau hanya bisa mempelajari tiga langkah pertama. Jangan memaksakan diri mencoba langkah keempat, atau kakimu akan meledak sungguhan."
"Terima kasih atas peringatannya, Tetua."
Han Feng mengambil gulungan itu dan melangkah keluar dari paviliun, meninggalkan Han Bo yang menatap punggungnya dengan penuh kebencian dan ketakutan.