Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 3 bagian 2
Yulia tengah duduk di sebuah kursi taman yang sangat indah. Sebuah taman yang terletak berdekatan dengan kebun teh yang luas dan danau buatan kecil yang dihuni 2 ekor angsa putih. Namun semuanya tampak sangat kosong di penglihatnya, hanya ada kursi panjang yang ia duduki. Saat ia memandang ke atas terlihat pemandangan indah yang membentang semuanya berwarna hijau dan sangat indah. Ia ingat ini adalah kebun teh di kampung halaman kakeknya. Tempat indah yang akan selalu ia sukai.
Tempat itu hampir tidak pernah terasa panas, suhu udaranya selalu berada di titik yang ia suka. Tidak terlalu panas namun tidak juga terlalu dingin.
‘ini hanya mimpi, kenapa aku memimpikan ini?’
Yulia sudah pernah mengalami mimpi ini sebelumnya. Di bawah pohon Magnolia yang bersemi lebat, kakak perempuannya yang masih berusia sekitar 5 tahun tengah bermain dengan sekumpulan boneka. Namun begitu ia menyadari kehadiran Yulia ia segera berdiri dan berjalan mendekat pada Yulia. Langkah demi langkah yang diambil kakaknya tampak memakan waktu satu tahun, karna semakin ia melangkah semakin dewasa juga dirinya.
Hingga akhirnya kakaknya berdiri di hadapannya, seperti yang terakhir ia lihat dengan dress putih bersih dan senyum kecil di wajahnya.
“maafkan aku, kau bebas”
Itu adalah kalimat yang selalu diucapkan kakaknya sebelum melangkah pergi menuju cahaya putih yang tidak pernah ia sadari dari mana asalnya.
“Kak jangan pergi ayah dan ibu menunggumu”
Itu yang berusaha Yulia katakan, namun kata-kata itu tidak pernah terucap. Ia hanya berusaha mengulurkan tangannya dan mencoba menarik kakaknya, namun itu tidak pernah sampai.
“Kembali!!” teriak Yulia secara refleks terbangun dari tidurnya. Tangannya menjulur ke depan basah dipenuhi keringat. Jantungnya berdetak dengan keras dan cepat, membuat tarikan nafasnya tidak teratur.
Yulia melirik jam dinding di atas meja belajarnya, masih pukul 13.30, ia hanya tidur siang tidak lebih dari 30 menit tapi mimpi itu datang seolah tidak kenal waktu. Ia tidak pernah mengerti apa maksud dari mimpi itu. Mimpi yah ia alami hampir selama seminggu, dan setiap kali ia ingin menceritakan hal itu pada keluarga atau teman-temannya mereka akan selalu berkata bahwa mimpi hanya lah bunga tidur. Ia tidak menemukan solusi untuk masalah mimpi ini, dan itu membuat siswa libur panjangnya menjadi tidak nyaman.
Akhir tahun ditandai dengan curah hujan yang semakin tinggi, membuat aktifitas di pusat kota sedikit menurun. Beberapa kalangan lebih memilih menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga. Membuat suasana kota jauh lebih sepi dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada pesta kembang api, tidak ada konser besar, atau hanya sekedar pasar malam kecil. Semuanya berjalan seolah tidak ada pergantian tahun.
Satu-satunya hal yang membuat taman kota begitu ramai adalah penemuan sesosok mayat yang terkoyak hancur. Orang yang pertama kali menemukan mayat itu adalah sepasang kekasih yang tengah bermesraan di titik yang jauh dari keramaian. Mereka menghindari keramaian manusia, namun malah menemukan jasad manusia yang sudah tidak dikenali. Jika dilihat dari kondisi mayat, itu jelas bukan korban kecelakaan. Itu terlihat seperti korban pembunuhan sadis..
Tim kepolisian setempat diterjunkan beberapa saat setelah mendapat laporan. Ada begitu banyak kejanggalan dalam kasus ini. Salah satunya adalah ditemukannya beberapa alat ritual seperti lilin merah, darah dan sebuah simbol pentagram terbalik yang disusun tidak jauh dari lokasi korban ditemukan. Tidak ditemukan alat yang digunakan untuk melukai korban atau tanda-tanda adanya orang lain yang terlibat, dan saat ini kasus masih dalam proses penyelidikan.
Yulia yang saat itu pergi untuk merayakan tahun baru bersama Harry dan Miki sempat menjadi orang yang ikut berkerumun di taman kota. Yulia yang sangat ingin tahu adalah orang pertama yang melihat langsung simbol itu. Sebelum polisi datang mengamankan lokasi dan tidak seorang pun yang boleh mendekat. Mereka pergi dengan rasa penasaran dan takut yang menyertai. Jika jasadnya diletakan di taman kota, apakah artinya pembunuhnya juga ada di sekitar mereka?
Otaknya masih mengingat kejadian yang selama satu semester ini ia lihat. Kasus Mitha yang kesurupan, mayat yang ditemukan di halaman belakang, dan yang menjadi penutup di akhir semester adalah mayat yang ada di dalam ruang kepala sekolah. Ia tidak pernah membayangkan akan menjumpai hal-hal seperti ini, ditambah kejadian yang baru saja dilihatnya. Membuatnya semakin tidak tenang, terlepas dari gosip yang berkaitan dengan satanik, ini jelas kasus pembunuhan. Ternyata ada begitu banyak orang yang berpotensi menjadi pembunuh.
Saat ini Yulia tengah duduk di atas kasurnya, menatap balkon kamarnya dari jendela yang ia biarkan terbuka. Semilir angin yang membawa tetesan hujan masuk begitu saja, membuat suasana yang sunyi kini bertambah dingin. Otaknya masih mencerna apa yang terjadi, simbol pentagram terbalik itu terus menghantuinya seolah tidak mengizinkannya terlepas dari jeratnya. Ini kah yang dimaksud masuk dalam jerat setan? Mungkin jika ia tidak terlalu ingin tahu, ia tidak akan terjebak.
Ia menatap balkon kamarnya dengan pandangan intens ketika sekelebat bayangan seorang wanita dengan punggung yang sempit menyapa indra penglihatannya. Selama satu per sekian detik ia meragukan penglihatnya, namun detik setelah ya ia dengan jelas melihat bayangan transparan yang tampak seperti kakaknya yang tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Ia mencoba bangkit dari duduknya, namun begitu ia menoleh kembali ke balkon, sosok transparan itu sudah hilang.
Yulia masih tersesat dalam lamunannya hingga tidak menyadari ibunya masuk dan menutup jendela.
“Apa yang kau pikirkan hingga tidak menyadari ibumu masuk?” tanya sang ibu setelah menutup jendela dan duduk di tempat tidurnya.
“Tidak ada, hanya sesuatu yang kutemui sebelum pulang” jawab Yulia pelan. Ia tahu apa tujuan ibunya datang, namun enggan untuk menolak. Bagaimana mungkin ia tidak membiarkan ibunya masuk?
“Ada kabar dari kakakmu?”
Itu adalah pertanyaan yang selalu diulang oleh kedua orang tuanya selama liburannya dimulai. Mengapa mereka bertanya padanya? Sedangkan ia tidak tahu kapan dan kemana kakaknya pergi. Ia tidak pernah melihatnya sejak 3 bulan yang lalu, dan entah mengapa sejak liburan dimulai kakaknya tidak lagi terdengar kabarnya. Haruskah ia mengatakan bahwa beberapa detik yang lalu ada sosok transparan yang mirip kakaknya di balkon kamar? Apa yang akan menjadi reaksi ibunya, mungkin ia menganggapnya gila.
“Tidak Bu, aku tidak tahu memangnya ke mana ia pergi?” Tanya Yulia sedikit malas. Bukan karena ia tidak peduli, tapi untuk apa memperhatikan orang yang tidak ingin diberi perhatian. Ia yang ingin perhatian malah tidak pernah diberi.
“Katanya pergi dengan teman-teman kuliahnya tapi ibu tidak tahu mereka pergi ke mana, ibu khawatir, dua orang itu juga ikut menghilang tertelan bumi. Ibu dengar ada penemuan mayat perempuan di taman kota, itu bagaimana ceritanya, kamu di sana kan?” Tanya sang ibu penuh kekhawatiran.
“Iya saat itu aku ada di sana, tapi tidak tahu kronologi kejadiannya. Tau-tau sudah ramai saja” jawab Yulia malas.
“Seperti apa jasadnya?” tanya Sang ibu panik.
“Tidak tahu Bu, tidak terlihat. Yang pasti itu bukan kakak, kan izinnya pergi dengan Krista dan Dion kenapa tidak menghubungi keduanya untuk bertanya?” jawab Yulia kesal. Terbesit rasa bersalah dalam hatinya. Apakah ibunya tidak sadar jika ia merasa cemburu? Mungkin jika ia yang tidak kembali ibunya tidak akan sepanik ini.
“Ibu tidak punya akses untuk bertanya pada keduanya, tolong lah cari tahu dimana kakakmu. Sudah 5 hari kakakmu tidak mengirim kabar, bagaimana jika terjadi hal buruk?” ujar ibunya penuh kepanikan.
“Ibu itu tidak usah berpikir seperti itu, kalau kakak tidak baik-baik saja ia akan memberi kabar. Mungkin dia sedang menikmati liburan di Bali atau tempat-tempat indah lainnya tidak seperti aku yang hanya terkurung di kamar dan hanya keluar di lingkungan sekitar” jawab Yulia dengan nada yang sedikit tinggi.
Mendengar perubahan nada bicara Yulia, ibunya terdiam dan pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Selalu seperti itu, ketika ia yang kesal kedua orang tuanya hanya akan mendiamkannya namun berbeda jika kakaknya yang kesal, kedua orang tuanya akan dengan senang hati memanjakannya. Ia tidak peduli lagi. Ia mengalihkan kembali pandangannya ke arah balkon yang kini sudah tertutup. Sebenarnya apa yang ia lihat tadi? Ia tidak pernah melihat bayangan-bayangan seperti itu, apakah itu arwah?
Sebenarnya ini bukan kali pertama ia melihat sosok transparan seperti itu. Sejak kejadian di malam tahun baru itu, ia selalu merasa ada seseorang yang mengikutinya. Apalagi ketika ia berada di tenpat yang sepi dan sendiri, ia merasa ada seseorang yang selalu mengawasi. Ia tidak tahu ini hanya perasaan paranoidnya atau memang ada entitas yang mengikutinya. Bersyukur ia tidak berakhir seperti Mitha, kalau tidak siapa yang akan memperhatikannya? Mungkin teman-temannya.
Dalam kasus Mitha, ia tidak tahu kepada siapa dia harus berterimakasih. Rasanya ia dan teman-temannya tidak meminta tolong pada siapa pun, namun kasusnya bisa selesai begitu saja. Dari gosip yang beredar di sekolah, anak-anak IPS lah yang menyelesaikan semua kasusnya. Padahal mereka tidak terlibat, Sora bahkan mengatakan hal-hal buruk pada Andre , mengapa mereka masih mau membantu? Terkadang ia masih menyesali apa yang terjadi. Tapi apa gunanya menyesal toh semuanya sudah selesai.
Ia tidak ingin memikirkannya kembali, itu tidak penting. Libur akhir semester hanya tersisa 3 hari lagi, ia harus memanfaatkannya dengan baik. Salah satunya adalah dengan tidur tepat waktu tanpa gangguan tugas atau pun teman-temannya yang mengajaknya pergi. Bukan berarti ia tidak suka pergi, ia hanya menikmati me timenya. Terkadang terbesit rasa iri di hatinya ketika melihat teman-temannya punya keluarga yang begitu sempurna dan tanpa masalah. Sedangkan dirinya? Ia bahkan masih ragu dengan apa pekerjaan orang tuanya sebenarnya. Mereka jelas bukan pengusaha dan jelas bukan kariyawan yang pekerjaannya terlihat. Yang ia tahu orang tuanya sangat kaya.
Hujan semakin deras di luar dan pikirannya kembali pada lambang pentagram terbalik yang ditemukan di TKP penemuan mayat. Ia ingat pernah melihat lambang seperti itu, tapi lebih rumit dari yang ia lihat kemarin. Sayangnya ia tidak ingat di mana tempatnya, mungkin kalau dia ingat itu bisa menjadi petunjuk bagi polisi. Ia tidak pernah berpikir untuk terlibat dalam urusan kepolisian.
Kring kring
Suara pesan masuk memecahkan keheningan di dalam kamarnya. Miki mengirim sebuah pesan suara. Hal yang tidak biasa.
‘Yul, aku terus memikirkannya. Kejadian di malam tahun baru kemarin, rasanya seperti ada yang mengikutiku sampai rumah. Aku selalu merasa ada yang mengwasiku ketika aku sendiri. Aku takut, Harry tidak mempercayai kata-kataku. Dia bilang aku hanya lelah dan terus berhalusinasi, bagimana jika aku berakhir seperti Mitha kemarin? Kau ingatkan kasus Mitha, apa kau tahu siapa yang membantunya lepas dari kesurupan itu? Sepertinya aku perlu bantuan orang itu juga.’
Itu adalah pesan yang dikirim Miki. Bagaimana mungkin ia lupa dengan apa yang terjadi pada Mitha? Itu adalah titik terbodoh dalam hidupnya, ia merasa menjadi orang yang tidak berguna saat itu. Dijauhi oleh teman sekelas, menjadi gunjingan setiap anak yang ia dekati, dan yang pasti orang yang ia suka juga ikut menjauhinya. Itu benar-benar menyakitkan.
Ia tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengar pesan Miki. Bukan hanya dia yang mendapatkan perasaan seperti itu, apa Miki juga melihat penampakan yang ia lihat? Ia harus memastikannya.
‘Apakah kau juga melihat penampakan aneh di sekitar rumahmu akhir-akhir ini?’
Dalam hatinya ia berharap agar Miki membalas iya,
‘Tidak, aku hanya merasa tidak pernah sendirian’
Yulia membaca pesan itu dengan rasa kecewa. Setidaknya ada orang yang merasakan apa yang ia rasakan, walau tidak melihat apa yang dia lihat. Ia tidak akan dianggap gila sendiri. Satu pesan lagi ia terima dari Miki yang isinya,
‘Apa kau ingat siapa orang yang membantu Mitha saat kesurupan kemarin, seperti aku perlu minta tolong padanya. Aku takut tiba-tiba kesurupan seperti Mitha dan mamaku malah memasukanku ke RSJ, itu akan menjadi masalah lain’
Itu benar, akan menjadi masalah besar jika mereka dianggap gila. Dia segera merekam pendapatnya lalu mengirimkannya pada Miki.
‘Dari gosip yang beredar orang yang membantu Mitha sembuh itu Andre dan teman-temannya, tapi aku tidak tahu pasti bagaimana caranya. Apa menurutmu kita harus meminta bantuan mereka? Lalu bagaimana dengan Harry apa menurutmu kita harus memberi tahu dia tentang masalah ini, mungkin dia bisa membantu’
‘Kita akan beri tahu dia secara langsung, dia satu-satunya orang yang tidak melihat TKP secara langsung. Mungkin saja ia tidak terpengaruh sama sekali. Aku akan memberi tahunya saat hari pertama masuk sekolah’
Itu adalah jawaban yang Yulia terima. Baiklah mari singkirkan pikiran tentang Harry, sekarang mari pikiran bagaimana caranya menemui Andre dan teman-temannya. Mereka hampir tidak pernah terlihat berkeliaran di sekitar sekolah sejak acara perkemahan itu. Andre dan Hani pun tidak lagi pernah terlibat dalam urusan organisasi apa pun. Sepertinya mereka mengundurkan diri dari Dewan Ambalan. Jika mereka tidak ingin melibatkan Harry maka mereka harus menunggu sampai sekolah masuk.
‘Apa kau tahu bagaimana caranya berbicara dengan Andre atau Hani?Mereka tidak lagi pernah terlihat di pertemuan apa pun akhir-akhir ini. Terakhir kali aku melihat Andre itu saat keluarga Dewanta akhirnya mengumumkan masalah Sora dan Ibunya, setelah itu aku hanya melihanya Hani dan anak baru misterius itu, apakah mereka kekasih?’
Miki pernah bercerita tentang masalah keluarga Andre saat awal masuk SMA, dan tahun kemarin Sora membuat masalah besar. Menurut cerita Miki, Sora adalah pihak yang salah dan ia pun yakin Andre tidak akan membuat masalah jika tidak ada yang menyulut api. Ia tahu Sora adalah orang yang meledak-ledak dan tidak mudah menerima kekalahan. Sejujurnya ia ikut setuju ketika keluarga Dewanta akhirnya tidak mengakui Sora dan ibunya, itu seperti membuang aib memalukan dalam keluarga.
Soal anak baru dan Hani yang menjadi kekasih, itu sepertinya akan menjadi topik pembuka di awal semester.
‘Ya sudah bertahan dulu nanti saat sekolah sudah masuk aku akan coba berbicara pada Hani atau Ida, mereka lebih mudah ditemui dari pada Andre atau anak baru itu. Semoga saja mereka mau menolong’