Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Luka di Balik Kata Maaf
Pagi itu, cuaca di luar tampak mendung, seolah mewakili perasaan Airin yang masih berkecamuk. Meskipun luka fisiknya mulai memudar berkat perawatan intensif yang diberikan Jordan, luka di hatinya justru semakin terasa perih. Pesan singkat dari Dion masuk ke ponselnya tadi subuh, memohon dengan sangat untuk bertemu sekali saja. Dion mengatakan keluarganya benar-benar hancur; ayahnya dipecat, dan semua pintu masa depannya seolah tertutup rapat.
Tanpa memberi tahu Jordan yang sedang memimpin rapat darurat di kantor pusat, Airin memutuskan untuk menemui Dion. Ia meminta supir pribadi yang disiapkan Jordan untuk mengantarnya ke sebuah kafe tersembunyi yang jauh dari jangkauan mahasiswa universitas mereka.
Saat Airin melangkah masuk, ia melihat Dion duduk di pojok ruangan. Penampilan pria itu berantakan; matanya sembab dan bahunya layu. Begitu melihat Airin, Dion langsung bangkit dan bersujud di depan meja, membuat beberapa pengunjung kafe menoleh.
"Rin, aku minta maaf... aku benar-benar minta maaf," isak Dion. "Aku tidak menyangka dampaknya akan seburuk ini. Keluargaku kehilangan segalanya, Rin. Ayahku stres berat."
Airin menghela napas panjang, ia merasa iba meskipun hatinya masih sakit. Ia meminta Dion duduk dengan tenang. "Bangunlah, Dion. Jangan seperti ini."
"Aku khilaf, Rin. Aku cuma penasaran dan merasa kamu menjauh dari kami. Aku tidak tahu kalau foto itu bakal jadi senjata buat orang-orang jahat itu membully kamu," ucap Dion terbata-bata.
Airin menatap Dion dengan pandangan yang dalam, ada kekecewaan yang nyata di matanya yang bening. "Dion, yang membuatku paling sedih bukan hanya foto itu. Tapi kenapa... kenapa saat aku ditarik, saat aku dicaci, kamu, Kriss, dan Thea hanya diam? Kalian sahabatku sejak semester satu. Tapi kemarin, kalian berdiri di sana seolah ikut menonton pertunjukan sirkus. Kalian bahkan terlihat seperti ikut membully ku dengan tatapan dingin itu."
Dion menunduk, air matanya jatuh ke atas meja. "Kami... kami takut, Rin. Kami takut pada Pak Jordan, dan kami merasa dikhianati karena kamu tidak jujur siapa kamu sebenarnya. Kami merasa seperti orang bodoh yang selama ini menganggapmu orang biasa."
"Apa identitas itu lebih penting daripada persahabatan kita?" suara Airin bergetar, ia mencoba menahan tangis. "Aku merahasiakannya untuk melindungi diriku sendiri, agar aku bisa berteman tulus dengan kalian tanpa embel-embel nama keluarga. Tapi ternyata, saat aku jatuh, kalian yang paling pertama melepaskan tanganku."
"Maafkan kami, Rin. Kriss dan Thea juga merasa bersalah, tapi mereka terlalu malu untuk menemuimu," lirih Dion.
Airin terdiam cukup lama. Sifat lembutnya membuatnya sulit untuk menyimpan dendam terlalu lama. "Aku memaafkanmu, Dion. Aku akan mencoba bicara pada Jordan untuk mencabut sanksi terhadap ayahmu. Tapi untuk pertemanan kita... aku rasa kita butuh waktu. Aku tidak bisa melihat kalian dengan cara yang sama lagi."
Dion hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tahu bahwa meskipun ia dimaafkan, tembok besar telah terbangun di antara mereka.
Tanpa sepengetahuan mereka, di luar kafe, sebuah mobil SUV hitam terparkir dengan mesin yang masih menyala. Di dalamnya, Jordan mencengkeram setir dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia telah melacak keberadaan Airin sejak gadis itu keluar dari apartemen. Matanya menatap tajam ke arah jendela kafe, melihat Airin yang sedang menghapus air matanya di depan Dion.
Jordan ingin sekali masuk dan menyeret Dion keluar, namun ia menahan diri. Ia melihat betapa tulus dan baiknya hati Airin yang bahkan masih bisa memaafkan pengkhianat. Amarah Jordan perlahan mereda, digantikan oleh rasa posesif yang semakin menggila. Ia menyadari satu hal: Airin terlalu berharga untuk dibiarkan berinteraksi dengan dunia luar yang kejam sendirian.
Begitu Airin keluar dari kafe, Jordan langsung keluar dari mobilnya, mencegat Airin di depan pintu. Airin tersentak kaget.
"Jordan? Kamu... kenapa ada di sini?" tanya Airin gugup.
Tanpa sepatah kata pun, Jordan menarik Airin ke dalam pelukannya yang sangat erat di pinggir jalan. Ia mengusap punggung Airin dengan posesif, seolah ingin menunjukkan pada siapa pun di dalam kafe itu bahwa Airin adalah miliknya yang mutlak.
"Jangan pernah menemuinya lagi tanpa izin dariku, Airin," bisik Jordan dengan nada yang rendah dan penuh penekanan. "Hatimu terlalu lembut, dan aku tidak suka melihatmu menangis untuk orang yang sudah membuangmu."
Airin hanya bisa bersandar di dada Jordan, merasakan detak jantung pria itu yang kuat. Di satu sisi ia merasa terkekang, namun di sisi lain, ia tahu hanya di pelukan pria posesif inilah ia benar-benar aman dari pengkhianatan.