"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Malam Hari pukul 19.00 WIB.
Disa turun dari bus kota dengan langkah yang tidak lagi gontai. Meskipun perutnya masih terasa perih karena hanya terisi kopi hitam dan sisa roti pemberian Manda tadi siang, ada energi baru yang mengalir di nadinya. Energi itu bernama dendam yang terukur.
Langkah kaki Disa bergema di lorong kontrakan yang sepi. Begitu sampai di depan pintu nomor 12, ia melihat lampu teras yang belum dinyalakan. Sunyi. Ia merogoh tasnya, mencari ponsel yang sejak tadi bergetar.
Mas Abdi: "Dis, aku mampir ke rumah Ibu dulu ya. Shinta katanya mau bahas soal gedung lagi, dia butuh masukan Mas. Kamu makan duluan saja, nggak usah tunggu Mas."
Disa menatap pesan itu dengan senyum miring yang mengerikan. "Makan duluan? Pakai apa, Mas? Pakai nasi menguning yang sudah hampir basi itu?" gumamnya pelan.
Disa membuka pintu, menyalakan lampu dan menutupnya kembali dengan rapat.
Disa tidak langsung mandi atau beristirahat. Ia meletakkan tas kerjanya di meja, lalu berdiri di tengah ruang tamu, menatap sekeliling. Selama tiga tahun, ia menganggap rumah ini adalah istana kecil yang harus dijaga meski dengan tetesan air mata. Sekarang, ia melihatnya sebagai tempat kejadian perkara.
"Kamu bilang gajimu cuma sepuluh juta, Mas. Kita lihat, di mana kamu simpan sisanya," bisik Disa.
Disa melangkah ke kamar utama. Ia membuka lemari besar milik Abdi. Biasanya, ia hanya merapikan baju-baju suaminya dengan penuh kasih sayang, memastikan setiap kemeja terukur rapi setrikaannya. Namun malam ini, tangan Disa bekerja seperti mesin pemindai.
Ia mulai meraba kantong-kantong jas yang jarang dipakai, memeriksa sela-sela lipatan baju, hingga ke bagian paling bawah lemari yang ditutupi koper lama.
Insting auditornya bekerja tajam. Orang yang menyembunyikan uang dalam jumlah besar biasanya punya tempat "parkir" sementara sebelum uang itu dipindahkan.
Setelah tiga puluh menit mencari, tangan Disa menyentuh sesuatu yang keras di balik tumpukan sweater tebal Abdi. Sebuah kotak kecil berbahan beludru hitam.
Disa membukanya. Di dalamnya bukan uang, melainkan tumpukan kartu plastik. Ada tiga kartu ATM dari bank yang berbeda, yang selama ini tidak pernah disebutkan oleh Abdi. Di atas kartu-kartu itu, terdapat sebuah buku tabungan atas nama Abdiansyah (QQ) Ratna Ningsih.
Jantung Disa berhenti berdetak sesaat. QQ Ratna Ningsih. Itu nama Ibu mertuanya.
"Jadi benar... kamu jadikan rekening Ibumu sebagai tempat pencucian uangmu, Mas?"
Disa segera membuka buku tabungan itu. Matanya membelalak melihat mutasi rekening yang tercetak di sana. Setiap tanggal 25, tepat di hari gajian, ada setoran tunai sebesar 15.000.000 rupiah yang masuk secara konsisten. Dan setiap tanggal 26 atau 27, uang itu langsung didebet dalam jumlah besar.
Keterangannya membuat Disa mual:
Toko Emas Mulia - Rp 5.000.000
Angsuran Mobil Shinta - Rp 4.500.000
Toko Bangunan (Granit) - Rp 3.500.000
Disa mencengkeram buku tabungan itu hingga kertasnya lecek. Air mata amarah jatuh membasahi halaman mutasi. Selama tiga tahun, ia menyiksa dirinya sendiri.
Ia pernah membagi satu butir telur menjadi dua bagian demi Fikri, sementara ia sendiri hanya makan nasi putih dengan garam. Ia pernah berjalan kaki berkilo-kilo meter ke pasar demi menghemat ongkos bus dua ribu rupiah.
Ternyata di saat yang sama suaminya sedang sibuk mencicil mobil untuk adiknya dan membelikan granit untuk rumah ibunya.
"Bajingan..." Disa mendesis. "Kamu membiarkan istrimu kelaparan demi gaya hidup mereka!"
Disa mengambil ponselnya, memotret setiap halaman buku tabungan itu dengan saksama. Ia harus memiliki bukti otentik. Ia tidak akan membongkar ini sekarang. Ia harus tetap pura-pura tidak tahu. Ia ingin melihat sampai sejauh mana Abdi akan terus bersandiwara.
Pukul 21.00 WIB, suara motor Abdi terdengar di depan. Disa dengan sigap mengembalikan buku tabungan dan kartu-kartu itu ke tempat asalnya. Ia merapikan kembali tumpukan baju itu seolah tidak pernah disentuh.
Ia berjalan ke dapur, mengambil piring yang berisi nasi kuning sisa tadi pagi. Ia duduk di meja makan, menatap piring itu dengan tatapan kosong saat Abdi masuk ke rumah.
"Lho, Dis? Kamu belum tidur?" Abdi masuk dengan wajah ceria, membawa sebuah kantong plastik berlogo restoran cepat saji terkenal.
"Belum, Mas. Nunggu kamu," jawab Disa datar, matanya tertuju pada piring nasi kuningnya.
Abdi duduk di depan Disa, lalu meletakkan kantong plastik itu di meja. Aroma ayam goreng yang gurih menyeruak, membuat perut Disa yang kosong memberontak.
"Tadi Ibu maksa Mas makan di luar sama Shinta, Mas bungkuskan buat kamu nih. Makan ya, mumpung masih hangat," ujar Abdi dengan nada sok perhatian.
Disa menatap ayam goreng itu, lalu menatap wajah suaminya. "Mas sudah makan sama Ibu dan Shinta? Makan apa?"
"Ah, cuma steak biasa, Dis. Mas terpaksa ikut karena Ibu yang minta, kalau nggak ikut nanti dikira Mas sombong," jawab Abdi enteng.
"Steak ya? Mahal kan, Mas?"
Abdi sedikit gugup. "Ya... lumayan. Tapi tadi Shinta yang bayar pakai uang tabungannya katanya. Mas mah mana ada uang buat makan begitu."
Disa ingin sekali tertawa kencang saat itu juga. Shinta yang bayar? Pakai uang yang kamu setor setiap bulan ke rekening Ibumu itu, kan?
Disa meraih piring nasi kuningnya. Di depan Abdi, ia mulai menyuapkan nasi yang sudah agak keras itu ke mulutnya. Ia mengabaikan ayam goreng mewah pemberian Abdi.
"Kok makan itu? Ini ada ayam enak," protes Abdi.
"Sayang kalau dibuang, Mas. Kita kan harus irit. Kamu bilang gaji kamu sisa sedikit karena bayar rumah sakit Fikri," jawab Disa sambil terus mengunyah nasi hambar itu. Setiap suapan terasa seperti menelan kerikil, tapi Disa menikmatinya sebagai pengingat akan rasa sakitnya.
"Iya sih... kamu memang istri yang pengertian, Dis. Maaf ya, Mas belum bisa kasih kemewahan," ucap Abdi sambil mengelus rambut Disa, sebuah sentuhan yang kini terasa sangat menjijikkan bagi Disa.
Disa menelan nasinya, lalu menatap Abdi dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Nggak apa-apa, Mas. Aku sudah terbiasa hidup susah, kan? Yang penting Mas bahagia sama Ibu dan Shinta. Aku... aku akan cari uang sendiri sekarang, biar Mas nggak terlalu terbebani."
"Nah, gitu dong! Istri itu harus bantu suami," Abdi tampak sangat lega.
Disa mengangguk. Dalam hatinya, ia bersumpah. "Kamu pikir aku akan membantu bebanmu, Mas? Tidak. Aku akan membangun penjara buatmu. Dengan tanganku sendiri, aku akan pastikan setiap rupiah yang kamu sembunyikan akan kembali padaku, dan kamu akan merasakan bagaimana rasanya tidak punya satu rupiah pun bahkan untuk membeli segelas air."
:
Malam itu, saat Abdi sudah tertidur lelap dengan dengkuran yang puas, Disa berdiri di balkon kecil kontrakan mereka. Ia menelepon Rio, temannya di kantor.
"Halo, Rio? Maaf ganggu malam-malam. Besok tolong carikan aku kontak pengacara spesialis harta gono-gini dan pidana perbankan. Tapi jangan bilang siapa-siapa, apalagi Pak Heru."
"Dis? Ada apa? Kamu serius?" suara Rio terdengar panik di seberang sana.
"Aku serius, Rio. Aku baru saja menemukan bangkai yang sangat besar di rumahku sendiri. Dan aku butuh orang yang ahli untuk mengautopsinya sampai ke tulang."
Disa menutup teleponnya, matanya menatap tajam ke arah langit Jakarta yang gelap. Perang dingin baru saja dimulai.