NovelToon NovelToon
Rahasia Dua Bintang Kampus

Rahasia Dua Bintang Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"Jeny? Siapa Jeny? " tanya Gilang dengan kening berkerut.

"Itu, si Karateka cantik kampus kita. Yakin nggak tahu? Atau pura-pura nggak tahu?"

Alis Gilang terangkat sebelah, mencoba menerka perempuan mana yang di maksud Aris, sahabatnya.

"Kamu lagi ngejar dia kan? Jangan mengelak, ada saksi mata yang lihat kamu jalan bareng dia kemarin siang di gang belakang kampus, " ejek Aris lagi terkekeh.

"Oh, cewek itu namanya Jeny? Siapa yang ngejar dia? Kenal juga nggak, " sungut Gilang.

Gilang Putra Candra, mahasiswa semester 4 andalan Universitas Gama dalam setiap lomba karya tulis nasional tak sengaja bertemu dengan Jeny Mau Riska Atlit Karate-Do sabuk hitam yang juga mahasiswi semester 4 Universitas Gama di gang belakang kampus.

Pertemuan tak sengaja itu, perlahan menjadi rumor di kalangan mahasiswa angkatan mereka.

Akankah rumor itu menjadi awal rahasia mereka?

Ikuti kisah mereka dalam RAHASIA DUA BINTANG KAMPUS

Kisah ini hanya fiktif. Kesamaan nama, lokasi hanya kebetulan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak

Sesuai janji Herman, Jeny ke kantornya untuk mengambil dana saku untuk turnamen. Baru saja ia mengetuk pintu, seorang pegawai memberitahunya kalau Herman sedang berada di ruang Rektor. Akhirnya Jeny memilih menunggu di kursi depan ruangan Civitas.

"Hai, Jeny, " panggil seseorang.

Jeny mendongak. Ia tertegun menatap gadis cantik di depannya.

"Kenalin, Aku Mona. "

Gadis itu mengulur tangan di depan wajahnya yang tengah duduk.

Jeny berdiri dan menjabat tangan Mona.

"Hai, salam kenal."

"Kamu lagi tunggu siapa di sini? "

"Tunggu pak Herman, lagi ketemu pak Rektor katanya."

Mona mengangguk, "Kalau boleh tau, soal rumor kamu dengan Gilang. Apa itu benar? "

Jeny terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu.

"Rumor? Soal Apa? " tanya Jeny pura-pura tak mengerti.

"Masa kamu nggak tahu? Rumor soal Kalian dekat. Apalagi waktu kamu syuting di kampusku waktu itu. Makin menjadi rumornya. "

"Oh nggak, aku nggak dekat dengan dia. Cuma kebetulan aja dapat tugas video promosi itu dari pak Herman. Sebelumnya juga aku cuma kebetulan ketemu kok."

Mona mengangguk, tapi tatapannya seperti meremehkan.

"Oke, syukurlah kalau begitu. Tapi sebaiknya kamu jaga jarak dengannya. Gilang itu banyak penggemar, bisa-bisa kamu diserang sama mereka. "

"Oke, terima kasih sarannya. Aku juga tak tertarik padanya dan...nggak ada kepentingan di luar tugas yayasan. Jadi..pasti akan aku lakukan."

"Sip.. kapan-kapan kita ngobrol lagi ya. Kamu lumayan menyenangkan. Semoga saja kita bisa dekat. "

Jeny hanya tersenyum berusaha ramah.

Mona berlalu sambil melambai padanya.

Jeny duduk kembali meneruskan scroll media sosial menunggu Herman.

Tak jauh, terdengar suara derap langkah kaki seseorang yang sedang berlari. Makin lama makin dekat.

"Hai, Jeny. Kamu ngapain di sini? "

Jeny mendongak lagi. 'Yang di bicarakan datang,' batinnya.

"Lagi tunggu pak Herman, " jawabnya cuek pandangannya kembali ke ponsel.

"Oh, pak Herman lagi kemana?"

"Di ruang pak Rektor. "

Gilang merasa aneh dengan sikap dingin Jeny. Rasanya terakhir mereka bertemu saat ia mengantar Jeny ke kampusnya setelah selesai take video dia tak secuek ini.

Gilang duduk di samping Jeny lalu memangku tasnya. Jeny menoleh ke samping, bingung dengan sikap Gilang.

"Aku juga mau ketemu pak Herman, makanya aku duduk di sini, " ujar Gilang seolah paham dengan kebingungan Jeny.

Jeny hanya diam tak merespon.

Dering handphone Gilang berbunyi.

"Halo Mon, " jawabnya.

"Kamu dimana? " tanya Mona di balik telpon.

Suaranya sangat keras sampai Jeny bisa mendengarnya.

"Di kantor pak Herman, masih tunggu beliau ketemu Papamu."

"Apa jeny masih disana? "

Gilang melirik ke arah Jeny yang tak bergeming menatap layar.

"Iya, kenapa? "

"Lang, kamu nggak risih apa sama rumor yang menggila di kampus? Kamu memang suka sama dia jadi sesantai itu bareng dia?"

"Sebentar, masalah kamu apa? aku aja santai kok ngadepin soal itu. Kenapa kamu yang kayak cacing kepanasan?"

"Lang, Aku peduli sama kamu. Kamu nggak tahu soal rumor kalau dia... dia itu... anak diluar nikah. Kamu nanti ke bawa-bawa rumor negatifnya."

"Aku nggak ada waktu ngurusin begituan, Mon. Lagipula orang akan lihat sendiri kebenarannya nanti. Kalau pun benar, itu bukan kemauannya begitu. Dia cuma imbas dari keputusan orang dewasa yang salah. Udah ah, aku jadi ikut campur. Emang kamu dimana ini? "

"Aku di ruangan Papaku."

"Busyet, ringan banget itu mulut ngomongin orang. Mentang-mentang anak pejabat. Udah, aku tutup, Bye."

Jeny menegakkan tubuhnya memperbaiki posisi duduknya karena terlalu lama menunduk.

Gilang melirik Jeny, ia jadi penasaran ingin mengklarifikasi perkataan Mona tadi.

"Jeny."

Jeny menoleh. "Hmm? "

"Kamu sudah lihat hasil video nya waktu itu? " tanya Gilang basa basi.

"Belum, mungkin nanti pak Herman sekalian kasih lihat ke Aku."

"Aku ada nih, kamu mau lihat? " tawar Gilang antusias.

Baru saja Gilang hendak membuka galerinya, Jeny menggeleng.

"Nggak perlu, nanti aja nggak apa kok."

Gilang terpaku. Ia tiba-tiba merasa canggung.

"Kamu dulu SMA di mana?"

"SMA Kartika."

Gilang mengangguk, mengharap Jeny akan bertanya juga padanya, tapi...tak ada.

Suasana saat itu makin canggung. Terlihat sekali Jeny seolah menghindar darinya. Gilang merasa kegerahan. Ia mengipas wajahnya dengan tangan. Padahal hawa disana tak sepanas itu karena AC central ada di beberapa titik lorong.

Jeny lalu memasukkan handphone ke saku celananya, lalu menatap Gilang.

"Lang, terima kasih sudah membela ku. Lain kali, abaikan aja. Kamu nggak wajib bersikap seperti itu kok soal aku. Justru, orang akan mengira kita benar dekat. Nyatanya nggak, kan. "

Jeny menghela nafas. Gilang terdiam mendengar penjelasan Jeny. Ia tak menyangka obrolannya dengan Mona tadi terdengar oleh Jeny.

"Apa kamu sudah klarifikasi? Rumor seperti itu membuat citramu buruk. "

"Rumor soal aku anak diluar nikah itu sudah ku luruskan dengan pihak kampus dan rektorat, bagiku itu cukup. Selebihnya, aku tak mau repot menjelaskan. Seperti yang kamu bilang tadi, kebenaran akan menemukan sendiri jalannya. Jadi, jangan buang energi mu untuk peduli padaku."

Gilang paham, Jeny saat ini sedang membuat benteng pertahanan darinya.

"Jeny, aku tak bersikap khusus karenamu. Aku hanya merasa perlu meluruskan untuk tak perlu mengurusi masalah orang lain pada Mona. Kalau pun yang ia bahas tentang orang lain, aku juga akan bersikap sama. "

Jeny tahu, Gilang berusaha untuk membuatnya tak berhati-hati padanya.

"Syukurlah kalau memang begitu, tapi sewaktu-waktu kamu menemukan pertanyaan soal aku, bilang saja kamu tak peduli. Aku akan sangat berterima kasih."

Gilang mengangguk, menghormati permintaan sekaligus keputusan Jeny.

Dengan sikap Mona yang manis dan berpura-pura baik hati padanya tadi dan tiba-tiba mencelanya di hadapan Gilang, Jeny bisa mengambil kesimpulan bahwa tak ada yang benar-benar tulus.

Pun termasuk Gilang.

Jeny lebih memilih menjaga jarak dengan mereka.

"Hei, sudah lama menunggu? " sapa Herman yang berjalan menghampiri mereka.

"Tidak juga, Pak. "

Jeny berdiri sambil memasang tas ke pundaknya. Gilang ikut berdiri dan menyusul mereka masuk ke ruangan civitas. Ia hanya diam dengan hati yang masih terasa canggung.

***

Siang itu, Kantin kampus penuh sesak dengan mahasiswa yang mengisi lambung tengah mereka.

Asap rokok, suara berisik diskusi santai, gelak tawa bergemuruh menjadi pemandangan biasa yang terjadi setiap jam makan siang di sana.

Di meja sudut, dua teman Gilang tengah menikmati makan siang mereka--tanpa Gilang.

"Ris, kamu tahukan Gilang lagi pendekatan ke Jeny? " tanya Indra sambil menikmati makan siangnya.

Sesekali ia menyeruput minuman dingin didepannya. Cuaca panas, hanya bisa disembuhkan dengan air dingin pelepas dahaga.

"Pendekatan? Sejak kapan? "

"Sudah dari minggu lalu, tapi aku juga lama nggak tanya progressnya. Lagi fokus selesaikan Karya ilmiah kayaknya."

"Wah, kalau Jeny tahu memang dia nggak terganggu? Dia kan musuh banget sama cowok. "

"Nggak musuh juga, mungkin lebih tepatnya menghindar. Dengar dari Erwin teman kecilnya, Jeny sering jadi pelampiasan keisengan anak-anak cowok di tempat mereka tinggal. Jadi dia berusaha nggak berurusan sama Cowok."

"Segitu traumanya ya. Apa orang tuanya nggak melindungi dia? "

"Dia kan tinggal sama Neneknya aja di sini. Mamanya jadi TKW sejak dia SMA, Ayahnya meninggal waktu dia SMP. Jadi dia kayak nggak punya orang yang melindungi. Makanya sikap nya dingin, jutek dan nggak bersahabat. Dia nggak mau dianggap lemah. "

"Ternyata.. dia bukan anak diluar nikah?"

Indra menggeleng, "Nggak tahu dari mana tiba-tiba ada rumor begitu. Selama ini, anak-anak karateka yang klarifikasi kalau ada yang ngomongin masalah Jeny itu. Pada nggak tahu kebenarannya, makanya nggak punya empati."

"Ya, harusnya kalau berpikir "itu bukan urusan saya" sudah cukup untuk nggak memperbesar hoax model gitu, apalagi bikin masalah sampai nyebar fitnah."

"Betul juga. Eh ada lagi, ini juga yang bikin Jeny itu trauma sama cowok. Rika pernah dengar dari teman dekat Jeny yang juga karateka. Waktu kejadian Ayahnya meninggal itu, dia sempat di tuduh mencuri sepatu anak kelas lain di sekolahnya. Dia sampai nggak mau masuk sekolah kurang lebih sebulan karena tertekan. Terus akhirnya dia pindah dari sekolah itu. "

Aris tersentak, ' Kok kayak kasusnya Gilang dulu ya? ' batin Aris.

"Sekolah mana kejadiannya Ind? "

"SMP Dharma Bakti. "

"OH GOD, " teriak Aris

UHUKUHUKUHUK

Indra buru-buru memukul dadanya dan segera menenggak habis air di hadapannya.

1
falea sezi
lnjut bnyk
Cahaya Tulip: 😁🙏diusahakan kak.. krn up 3 novel baru setiap hari.. Terima kasih sdh mampir🤗🥰🙏
total 1 replies
falea sezi
kkn ne bapak nya mona prestasi mona apaan dah
falea sezi
suka novel yg ada gambar nya gini
Cahaya Tulip: 🥰🙏Terima kasih akak..
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍😍
Cahaya Tulip: Siap kak.. on progress🤗 di up besok ya.. Terima kasih🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!