Terobsesi Kamu Season 2
Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.
Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.
Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.
Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.
"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.
"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.
Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Seorang Anak
Di dalam kamar yang terkunci rapat, jantung Vira berpacu hebat. Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti seorang pencuri yang sedang menyentuh barang terlarang. Rasa takut menjalar di sekujur sarafnya, berharap tindakannya ini tidak akan pernah terendus oleh putrinya.
Vira mengeluarkan ponsel lipat milik Chika yang berhasil ia "amankan" sejenak. Namun, saat layar itu menyala, sebuah barisan kode sandi menghadangnya. Vira mengembuskan napas panjang; ia tahu jika salah mengetikkan angka, kekacauan besar akan menanti dan Chika pasti akan semakin membencinya.
"Apa tanggal lahirnya?" gumam Vira ragu.
Dengan napas tertahan, ia mencoba memasukkan enam digit angka tanggal lahir putri sulungnya itu. Gagal. Layar itu berkedip merah, menolak aksesnya.
Vira meremas tangannya yang mulai berkeringat dingin. Ia meraih ponselnya sendiri di atas nakas dan mengirim pesan singkat kepada William, berharap suaminya memiliki kunci jawaban. Tak butuh waktu lama, layar ponselnya berpijar. William membalas dengan sebuah petunjuk yang tak terduga.
"Dia sepertimu, Sayang. Dia teledor dan pelupa. Gunakan tanggal lahirku. Semua kode ponsel dan PC-nya sama."
Vira mengernyit. Balasan suaminya terdengar seperti ejekan halus, meski ia harus mengakui kebenarannya. Ia segera mencoba deretan angka tanggal lahir William. Klik. Layar itu terbuka.
"Idih, benar-benar anak papa." gumam Vira sembari terkekeh pelan, sedikit merasa lega.
Vira segera bergerak cepat. Ia membuka satu per satu pesan masuk. Benar saja, kotak masuk Chika dipenuhi hasutan dari Monic dan Cyntia yang tujuannya hanya satu yaitu mendepak Vira dari rumah itu. Cyntia terbukti sangat ahli memanipulasi pikiran putrinya dengan mengirimkan pesan suara berisi isakan tangis, mengaku sedih karena dipisahkan dari Chika, sembari menuduh Vira sebagai ibu tiri jahat yang memiliki niat terselubung.
Tanpa ragu, Vira menghapus semua pesan beracun itu dan memblokir nomor Cyntia serta Monic. Ia sadar tindakan ini mungkin hanya solusi sementara—karena kakak iparnya pasti akan mengamuk lagi—tapi setidaknya untuk saat ini, pikiran putrinya akan sedikit "bersih".
"Ma ... Mama!" panggil Chika tiba-tiba dari luar kamar.
Jantung Vira seolah mencelos. Dengan gerakan kilat, ia mematikan ponsel Chika dan menyembunyikannya di bawah kolong tempat tidur. Vira mengatur napas, merapikan rambutnya sejenak, lalu keluar menemui putrinya dengan senyum yang dipaksakan tenang. Kemudian, keduanya pun pergi ke ruang makan.
.
.
Suasana di ruang makan terasa sedikit lebih hangat siang itu. Chika mulai mau mencicipi masakan Vira, meskipun wajahnya langsung meringis setelah kunyahan pertama.
"Belajar masaklah, Ma. Besok-besok aku nggak mau makan yang rasanya seperti ini lagi, lho," komentar Chika pedas. Ia sedang mengunyah fuyunghai buatan Vira yang memang terasa agak hambar dan kurang bumbu.
Meski dikritik habis-habisan, Vira hanya tersenyum lebar. Ia merasa senang karena setidaknya, meski rasanya tak keruan, Chika tetap menelan dan menghabiskan masakan itu sampai tandas.
.
.
Setelah makan siang usai, Vira segera mengisyaratkan kepada baby sitter untuk membawa Anggi kembali ke kamarnya. Ia tahu betul, jika si bungsu sampai mengendus keberangkatannya, balita itu pasti akan menangis histeris dan memaksa ikut.
Bukannya Vira tidak ingin memboyong kedua putrinya sekaligus, namun ia tak ingin suasana di rumah orang tuanya menjadi gaduh. "Sang Mesin Tempur"—begitu ia menjuluki ayahnya—baru saja diizinkan pulang ke rumah, dan masa pemulihan pasca-stroke membutuhkan ketenangan ekstra.
"Ma, lihat ponselku tidak?" tanya Chika tiba-tiba, langkah kakinya menuruni tangga sembari kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri dengan cemas.
Vira berusaha menjaga riak wajahnya tetap tenang, ia menyesap kopinya perlahan sebelum menyahut. "Kan, sudah Mama bilang, taruh barang itu di tempatnya, Chika. Jangan dibiasakan teledor," ujar Vira dengan nada menyalahkan yang dibuat-buat, taktik agar putrinya tidak curiga.
"Tadi seingatku langsung aku taruh di atas tempat tidur, kok," gerutu Chika dengan bibir yang ditekuk masam.
"Sudah, kamu bersiap-siap saja dulu. Tunggu di mobil, nanti Mama nyusul. Sambil Mama berkemas, nanti Mama coba cari lagi di kamarmu," ucap Vira, mencoba mengalihkan perhatian Chika agar segera keluar dari rumah.
"Benar ya, cari sampai ketemu!" desak Chika sekali lagi.
"Iya, iya. Sudah, jangan berisik. Nanti Anggi bangun dan menangis kalau tahu kita mau pergi," tukas Vira sembari bangkit dari kursi, lalu bergegas menuju kamarnya sendiri untuk menyiapkan keperluan.
Dengan gerakan cepat, Vira mengemas beberapa potong pakaian miliknya dan milik Chika ke dalam tas jinjing. Setelah memastikan semuanya siap, ia mengambil ponsel lipat itu dari kolong tempat tidur dan berpura-pura baru saja menemukannya.
Begitu ponsel itu diserahkan kembali, Chika menerimanya dengan sikap biasa tanpa banyak bertanya. Vira mengembuskan napas lega yang tertahan di dada.
Pak Ojan, sang sopir, segera menghidupkan mesin. Mobil pun meluncur perlahan meninggalkan halaman rumah, membelah jalanan Jakarta Utara yang padat menuju arah Bandung. Di kursi belakang, Vira menatap Chika yang mulai asyik dengan dunianya sendiri, berharap perjalanan ini bisa merajut kembali benang-benang kasih yang sempat koyak.
.
.
Udara sejuk Bandung menyambut kedatangan mereka saat mobil perlahan berhenti di halaman rumah yang asri itu. Vira segera turun dengan hati yang berdebar haru. Aina, ibunya, sudah berdiri di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca. Tanpa kata, keduanya langsung berhamburan dalam pelukan, menumpahkan segala rindu yang tertahan selama dua minggu berpisah.
"Eh, cucu Oma juga ikut," sambut Aina ramah begitu melihat Chika turun dari mobil. Ia segera mendekat, merengkuh bahu gadis belia itu dan mencium kedua pipinya. Chika hanya diam, membiarkan dirinya dicium meski ekspresi wajahnya masih tampak dingin dan cuek.
"Ayah di kamar, Bu?" tanya Vira sembari melepaskan pelukannya.
"Tidak, ayahmu ada di halaman belakang. Biasalah, sedang mengurus 'selingkuhannya'. Senapan angin kesayangannya itu," jawab Aina dengan nada jengah.
"Ayah sudah bisa bergerak banyak, Bu?"
"Sudah, sedikit-sedikit. Kan, William yang mengirim fisioterapis setiap hari ke rumah."
Vira tertegun sejenak, hanya bisa mengangguk pelan. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya, ia sendiri bahkan tidak tahu kalau suaminya sepeduli itu terhadap kesehatan ayahnya di tengah kesibukan kantor.
Vira segera melangkah menuju halaman belakang. Begitu kedua netra ayah dan anak itu bertemu, pertahanan mereka runtuh. Air mata haru mengalir tanpa suara. Sang Ayah masih duduk di atas kursi roda, tubuhnya tampak lebih kurus, dan bicaranya pun masih terbata-bata akibat serangan stroke. Namun, pergerakan tangannya kini jauh lebih stabil dibandingkan terakhir kali bertemu saat di rumah sakit.
Aina menyusul dengan nampan berisi dua cangkir teh hangat yang masih mengepul. Ia meletakkannya di atas meja gazebo, lalu menatap putrinya. "Jadi, sudah ada tanda-tanda nambah cucu buat kami belum, Vir?" goda Aina.
Belum sempat Vira membuka mulut untuk menjawab, ia menangkap kilatan dari sudut matan Chika yang berdiri tak jauh darinya. Putrinya tampak cemberut, wajahnya seketika berubah masam mendengar topik pembicaraan tersebut.
Bersambung...
🤣🤣semuanya aja lah
mulai bsk dicatat tiap bln-nya will spy bs jaga, sblm 'dapat' minta jatah dl🤭