NovelToon NovelToon
Belenggu Setelah Pernikahan : Terobsesi Kamu Season 2

Belenggu Setelah Pernikahan : Terobsesi Kamu Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Pelakor
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Drezzlle

Terobsesi Kamu Season 2


Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.

Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.

Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.

Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.

"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.

"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.

Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan Seorang Anak

Di dalam kamar yang terkunci rapat, jantung Vira berpacu hebat. Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti seorang pencuri yang sedang menyentuh barang terlarang. Rasa takut menjalar di sekujur sarafnya, berharap tindakannya ini tidak akan pernah terendus oleh putrinya.

Vira mengeluarkan ponsel lipat milik Chika yang berhasil ia "amankan" sejenak. Namun, saat layar itu menyala, sebuah barisan kode sandi menghadangnya. Vira mengembuskan napas panjang; ia tahu jika salah mengetikkan angka, kekacauan besar akan menanti dan Chika pasti akan semakin membencinya.

"Apa tanggal lahirnya?" gumam Vira ragu.

Dengan napas tertahan, ia mencoba memasukkan enam digit angka tanggal lahir putri sulungnya itu. Gagal. Layar itu berkedip merah, menolak aksesnya.

Vira meremas tangannya yang mulai berkeringat dingin. Ia meraih ponselnya sendiri di atas nakas dan mengirim pesan singkat kepada William, berharap suaminya memiliki kunci jawaban. Tak butuh waktu lama, layar ponselnya berpijar. William membalas dengan sebuah petunjuk yang tak terduga.

"Dia sepertimu, Sayang. Dia teledor dan pelupa. Gunakan tanggal lahirku. Semua kode ponsel dan PC-nya sama."

Vira mengernyit. Balasan suaminya terdengar seperti ejekan halus, meski ia harus mengakui kebenarannya. Ia segera mencoba deretan angka tanggal lahir William. Klik. Layar itu terbuka.

"Idih, benar-benar anak papa." gumam Vira sembari terkekeh pelan, sedikit merasa lega.

Vira segera bergerak cepat. Ia membuka satu per satu pesan masuk. Benar saja, kotak masuk Chika dipenuhi hasutan dari Monic dan Cyntia yang tujuannya hanya satu yaitu mendepak Vira dari rumah itu. Cyntia terbukti sangat ahli memanipulasi pikiran putrinya dengan mengirimkan pesan suara berisi isakan tangis, mengaku sedih karena dipisahkan dari Chika, sembari menuduh Vira sebagai ibu tiri jahat yang memiliki niat terselubung.

Tanpa ragu, Vira menghapus semua pesan beracun itu dan memblokir nomor Cyntia serta Monic. Ia sadar tindakan ini mungkin hanya solusi sementara—karena kakak iparnya pasti akan mengamuk lagi—tapi setidaknya untuk saat ini, pikiran putrinya akan sedikit "bersih".

"Ma ... Mama!" panggil Chika tiba-tiba dari luar kamar.

Jantung Vira seolah mencelos. Dengan gerakan kilat, ia mematikan ponsel Chika dan menyembunyikannya di bawah kolong tempat tidur. Vira mengatur napas, merapikan rambutnya sejenak, lalu keluar menemui putrinya dengan senyum yang dipaksakan tenang. Kemudian, keduanya pun pergi ke ruang makan.

.

.

Suasana di ruang makan terasa sedikit lebih hangat siang itu. Chika mulai mau mencicipi masakan Vira, meskipun wajahnya langsung meringis setelah kunyahan pertama.

"Belajar masaklah, Ma. Besok-besok aku nggak mau makan yang rasanya seperti ini lagi, lho," komentar Chika pedas. Ia sedang mengunyah fuyunghai buatan Vira yang memang terasa agak hambar dan kurang bumbu.

Meski dikritik habis-habisan, Vira hanya tersenyum lebar. Ia merasa senang karena setidaknya, meski rasanya tak keruan, Chika tetap menelan dan menghabiskan masakan itu sampai tandas.

.

.

Setelah makan siang usai, Vira segera mengisyaratkan kepada baby sitter untuk membawa Anggi kembali ke kamarnya. Ia tahu betul, jika si bungsu sampai mengendus keberangkatannya, balita itu pasti akan menangis histeris dan memaksa ikut.

Bukannya Vira tidak ingin memboyong kedua putrinya sekaligus, namun ia tak ingin suasana di rumah orang tuanya menjadi gaduh. "Sang Mesin Tempur"—begitu ia menjuluki ayahnya—baru saja diizinkan pulang ke rumah, dan masa pemulihan pasca-stroke membutuhkan ketenangan ekstra.

"Ma, lihat ponselku tidak?" tanya Chika tiba-tiba, langkah kakinya menuruni tangga sembari kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri dengan cemas.

Vira berusaha menjaga riak wajahnya tetap tenang, ia menyesap kopinya perlahan sebelum menyahut. "Kan, sudah Mama bilang, taruh barang itu di tempatnya, Chika. Jangan dibiasakan teledor," ujar Vira dengan nada menyalahkan yang dibuat-buat, taktik agar putrinya tidak curiga.

"Tadi seingatku langsung aku taruh di atas tempat tidur, kok," gerutu Chika dengan bibir yang ditekuk masam.

"Sudah, kamu bersiap-siap saja dulu. Tunggu di mobil, nanti Mama nyusul. Sambil Mama berkemas, nanti Mama coba cari lagi di kamarmu," ucap Vira, mencoba mengalihkan perhatian Chika agar segera keluar dari rumah.

"Benar ya, cari sampai ketemu!" desak Chika sekali lagi.

"Iya, iya. Sudah, jangan berisik. Nanti Anggi bangun dan menangis kalau tahu kita mau pergi," tukas Vira sembari bangkit dari kursi, lalu bergegas menuju kamarnya sendiri untuk menyiapkan keperluan.

Dengan gerakan cepat, Vira mengemas beberapa potong pakaian miliknya dan milik Chika ke dalam tas jinjing. Setelah memastikan semuanya siap, ia mengambil ponsel lipat itu dari kolong tempat tidur dan berpura-pura baru saja menemukannya.

Begitu ponsel itu diserahkan kembali, Chika menerimanya dengan sikap biasa tanpa banyak bertanya. Vira mengembuskan napas lega yang tertahan di dada.

Pak Ojan, sang sopir, segera menghidupkan mesin. Mobil pun meluncur perlahan meninggalkan halaman rumah, membelah jalanan Jakarta Utara yang padat menuju arah Bandung. Di kursi belakang, Vira menatap Chika yang mulai asyik dengan dunianya sendiri, berharap perjalanan ini bisa merajut kembali benang-benang kasih yang sempat koyak.

.

.

Udara sejuk Bandung menyambut kedatangan mereka saat mobil perlahan berhenti di halaman rumah yang asri itu. Vira segera turun dengan hati yang berdebar haru. Aina, ibunya, sudah berdiri di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca. Tanpa kata, keduanya langsung berhamburan dalam pelukan, menumpahkan segala rindu yang tertahan selama dua minggu berpisah.

"Eh, cucu Oma juga ikut," sambut Aina ramah begitu melihat Chika turun dari mobil. Ia segera mendekat, merengkuh bahu gadis belia itu dan mencium kedua pipinya. Chika hanya diam, membiarkan dirinya dicium meski ekspresi wajahnya masih tampak dingin dan cuek.

"Ayah di kamar, Bu?" tanya Vira sembari melepaskan pelukannya.

"Tidak, ayahmu ada di halaman belakang. Biasalah, sedang mengurus 'selingkuhannya'. Senapan angin kesayangannya itu," jawab Aina dengan nada jengah.

"Ayah sudah bisa bergerak banyak, Bu?"

"Sudah, sedikit-sedikit. Kan, William yang mengirim fisioterapis setiap hari ke rumah."

Vira tertegun sejenak, hanya bisa mengangguk pelan. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya, ia sendiri bahkan tidak tahu kalau suaminya sepeduli itu terhadap kesehatan ayahnya di tengah kesibukan kantor.

Vira segera melangkah menuju halaman belakang. Begitu kedua netra ayah dan anak itu bertemu, pertahanan mereka runtuh. Air mata haru mengalir tanpa suara. Sang Ayah masih duduk di atas kursi roda, tubuhnya tampak lebih kurus, dan bicaranya pun masih terbata-bata akibat serangan stroke. Namun, pergerakan tangannya kini jauh lebih stabil dibandingkan terakhir kali bertemu saat di rumah sakit.

Aina menyusul dengan nampan berisi dua cangkir teh hangat yang masih mengepul. Ia meletakkannya di atas meja gazebo, lalu menatap putrinya. "Jadi, sudah ada tanda-tanda nambah cucu buat kami belum, Vir?" goda Aina.

Belum sempat Vira membuka mulut untuk menjawab, ia menangkap kilatan dari sudut matan Chika yang berdiri tak jauh darinya. Putrinya tampak cemberut, wajahnya seketika berubah masam mendengar topik pembicaraan tersebut.

Bersambung...

1
kusuma ningsih
ceritanya sangat menarik sehingga yg membacanya tertawa emosi.. /Angry//Angry//Angry//Angry/
Drezzlle: Terimakasih kak, semoga berujung tertawa bahagia ya 🙏🤣
total 1 replies
Rain
😭😭 Gue ngga bisa bayangin vira bangun dari pingsan diomelin inneke mending kt gua lu hijrah ke arab cari juragan minyak drpd sma si will kgk bsa ngatasin sundel satu itu citya
Drezzlle: sabar buk 😩
total 1 replies
suryani duriah
siular sirubah silampirhadeeh kesal bgt2😡ada cctv ini nenek mudah bgt ditipu udah will suruh david eksekusi eeeh sabar2😁😁😁
suryani duriah: semangat👍👍
total 4 replies
D'Mas0712
astaga.. duh nenek lampir kurang ajar. dasar gila
D'Mas0712
pasti si vira jadi dilema. antara menjadi anak atau seorang istri
Vanilla Ice Creamm
awas aja kl vira mati, ya thor 😏
Drezzlle: paling lumpuh 🤣😒
total 1 replies
Icha sun
bener2 gak waras si cyntia, William bakalan ngamuk nih
Addb_Rh
Dan Vira pun mulai munjukkan tanduknya.. eh taringnya, eh cakarnya..

🤣🤣semuanya aja lah
Addb_Rh: menunjukkan mksdnya😌
total 1 replies
Addb_Rh
mama mertuanya, ih innalillahi bgt. Jadi pen ku jorogin. Ikut campur bgt ngatur-ngatur. heeeey🙄
Adyvi
Setidaknya Chika liat, jadi dia tahu kejadian yang sesungguhnya 🥲
Adyvi
Takutnya kalau punya mertua kek gitu 🙈 jadi berasa berdosa karena gabisa ngurusin ortu dikala sakit, hiks.
Rain
Sundal.. kurang puas thor mending cewe ky gtu diunyeng unyeng dulu minimal beberpa rambut botak lah ya😌 Klo ada apa2 sm vira apa iya William kgk naik darah😌😌 Yg bingung si chika knapa msih seneng aja ama cintiaa dh tau ini manusia stgh hewan😭
Drezzlle: Kan udah berubah sedikit tuh bocah 🤣
total 1 replies
Aruna02
si ineke kenapa sih malah miara si Cintia dah tau anak nya udah nikah 😏
Drezzlle: karena nggak punya piaraan yang bisa menjilat seperti Cyntia 🤣🤣🤣
total 1 replies
suryani duriah
weeeh cintya bakalan masuk hotel prodeo ato pindah alam🤔vira wanita kuat moga nggak apa2 awas yaa thor jgn dibikin patah2😏😁😁👍
Drezzlle: aamiin 🤲

nggak jamin ya kalau tulang nggak patah mungkin kepalanya memar 🤣
total 1 replies
Jun
/Sob//Sob//Sob/ jangan bilang Vira mati dan si uler jadi mama baru thor
Drezzlle: bisa jadi 🤣🤣
total 1 replies
Alessandro
siklus hormonal emg gk bs ditebak sih, kdg bs dtg lbh cpt atau lbh lambat.

mulai bsk dicatat tiap bln-nya will spy bs jaga, sblm 'dapat' minta jatah dl🤭
Alessandro
pak will, berhub istrimu newbie.. jgn gaya yg aneh2, konvensional aja dl spy nyaman.. kl ud pro, baru deh side-back, fellatio, 69, cowgirl, cunnilingus, helikoper atau spiderman
Alessandro: insting 😏
total 2 replies
Alfatia🌷
Chintya, lintah darat emang🔪🔪
Alfatia🌷
Arghhh... nikah sama laki-laki banyak duit, tapi lingkungannya rumit.
Drezzlle: enak kan yg penting banyak duit
total 1 replies
Aruna02
lagian si wiliam banyak duit kok masih tinggal sama orang tua sih
Drezzlle: ya kan dia duda ada ada anak 2, apalagi cuma tinggal ada ibu doang. pastilah pengen nglindungin ibunya apa lupa pas Miranda nyulik Anggi.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!