NovelToon NovelToon
Vallheart

Vallheart

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Romansa / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang Terkenal

Nama Roselein Tescarossa menyebar cepat di Academy Magica, lebih cepat dari mantra angin tercepat Reyd.

“Katanya dosen Karza sendiri yang menuduhnya.”

“Dan Pangeran Reyd langsung membelanya.”

“Berani sekali atau nekat?”

Bisikan itu mengikuti Lein ke mana pun ia pergi.

Di aula makan, beberapa murid perempuan memandangnya dengan tatapan campur aduk: penasaran, iri, bahkan terang-terangan tidak suka. Ada yang berbisik pelan, ada pula yang tak repot menurunkan suara.

“Kenapa selalu dia?” gumam seseorang.

“Gadis biasa, tapi selalu di sisi pangeran.”

Lein menunduk, berusaha fokus pada makanannya.

“Jangan pedulikan mereka, Lein” kata Lysa pelan sambil menenangkan sahabatnya itu.

Lein mengangguk, meski sulit. Ia tidak pernah berniat menjadi pusat perhatian, apalagi seperti ini.

Reyd tampak tenang seperti biasa, seolah semua tatapan itu tidak ada. Namun justru ketenangannya membuat situasi semakin panas.

***

Di halaman latihan sore itu, suasana berubah.

“Oi, Reyd!”

Suara Grack menggema.

Ia berdiri di tengah lapangan, mengenakan sarung tinju besi berlapis api. Mana merah-oranye berdenyut lembut di permukaannya.

“Apa kau sibuk, Pangeran gadungan?” Grack menyeringai lebar. “Aku ingin mencoba ini pada wajah jelekmu itu.”

Reyd menghela napas kecil. “Apa?”

“Kita berduel” potong Grack. “Santai saja. Duel latihan. Tidak ada politik. Tidak ada dosen yang melihat.”

Beberapa murid berhenti berlatih, mereka mulai memperhatikan.

Lein menatap Grack, dia sedikit panik. “Grack, jangan... ”

Namun Grack sudah mengangkat tinjunya, api kecil menyala di sela-sela besi.

“Aku menantangmu,” katanya antusias. “Sebagai teman.”

Reyd menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Kalau begitu, sebentar saja.”

Arena latihan kecil diaktifkan.

Tidak resmi.

Tidak diumumkan.

Namun cukup menarik perhatian setengah Academy.

Grack menyerang lebih dulu. Tinju apinya melesat cepat, panasnya terasa bahkan dari luar arena.

Reyd menghindar dengan angin ringan, memutar tubuh tanpa meninggalkan jejak.

“Cepat juga kau” Grack tertawa.

Tinju kedua datang, lebih kuat.

Reyd menahannya... bukan dengan potongan angin, melainkan peredam tekanan, membuat api Grack menyebar tanpa menghantam langsung.

“Jangan hancurkan lantai,” kata Reyd datar.

“Pelindung lantainya kuat!” balas Grack.

Lein menutup mata sesaat, lalu membukanya kembali.

Entah kenapa, ia tidak terlalu khawatir.

Duel itu berakhir cepat.

Grack kehabisan napas lebih dulu, tertawa sambil menurunkan tinjunya. “Oke, oke. Aku kalah darimu. Tapi lain kali, aku akan meninju wajah jelekmu itu!”

Reyd menepuk bahu Grack. “Sarung tinjumu bekerja dengan baik.”

Sorakan kecil terdengar.

Lein menghela napas lega, lalu menyadari tatapan yang kembali tertuju padanya.

Beberapa murid perempuan berbisik lebih tajam.

“Bahkan Grack juga dekat dengannya.”

“Beruntung sekali gadis sok cantik itu”

Lein tersenyum kaku.

Di dalam dirinya, Raksha menghela napas panjang.

Ketenaran adalah bentuk lain dari jerat.

***

Karza berdiri di dekat jendela ruang dosen, memandangi halaman Academy yang ramai oleh murid-murid. Duel Reyd dan Grack hanyalah riak, namun riak itu mempertegas satu hal.

Roselein bukan gadis biasa.

Bekas mana pada dirinya tidak hilang. Tidak melemah. Justru semakin jelas bagi mereka yang tahu cara melihatnya.

“Menarik…” gumam Karza.

Ia berbalik saat pintu diketuk.

“Masuk.”

Seorang murid melangkah masuk. Tinggi, berambut gelap, mata tajam yang selalu tampak tenang. Jubahnya bersih, lambang murid senior tersemat rapi.

Jizz Zarty.

Salah satu murid paling berbakat di Academy Magica... bukan karena kekuatan mentah, melainkan karena kecerdasannya membaca orang dan situasi.

“Anda memanggil saya, Dosen Karza?” tanyanya sopan.

Karza menatapnya lama sebelum berbicara. “Aku butuh seseorang yang tidak mencolok, namun cukup dekat dengan murid-murid tahun bawah.”

Jizz mengangguk pelan. “Dan cukup bisa dipercaya.”

“Benar.” Karza meletakkan sebuah kristal kecil di atas meja. “Aku ingin kau mendekati seorang murid.”

Jizz menatap kristal itu, resonansinya lembut, samar. “Siapa dia?”

“Roselein Tescarossa.”

Mata Jizz sedikit menyipit.

“Gadis yang dibela Pangeran Reyd,” katanya. “Nama itu sedang ramai diperbincangkan.”

“Itulah sebabnya,” balas Karza tenang. “Aku tidak ingin tuduhan. Aku ingin kepastian.”

Jizz berpikir sejenak. “Apa yang harus saya cari?”

“Reaksinya,” jawab Karza. “Bukan rahasia yang ia sembunyikan dengan kata-kata, melainkan yang ia sembunyikan dengan cara hidupnya. Cara ia menggunakan mana. Cara ia menghindar.”

Jizz tersenyum tipis. “Mendekatinya sebagai teman?”

“Atau sebagai murid senior yang ramah,” kata Karza. “Apa pun yang membuatnya lengah.”

Jizz mengangguk sekali. “Saya mengerti.”

Ia berbalik untuk pergi, namun Karza menambahkan satu kalimat.

“Jangan memojokkannya.”

Jizz berhenti sejenak. “Karena?”

“Jika dia benar-benar seperti yang aku curigai,” jawab Karza pelan, “maka tekanan akan membuatnya menghilang, bukan membuka diri.”

Jizz membungkuk singkat. “Saya akan berhati-hati.”

Pintu tertutup.

Karza kembali menatap keluar jendela.

Pion telah digerakkan.

***

Di sisi lain Academy, Lein berjalan bersama Lysa di koridor perpustakaan.

Entah kenapa, ia merasakan tatapan singkat. Bukan penuh permusuhan, melainkan penilaian seseorang.

Ia menoleh.

Seorang murid senior berdiri tak jauh, membawa beberapa buku, wajahnya ramah.

Tatapan mereka bertemu sekejap.

Murid itu tersenyum sopan, lalu berlalu.

Lein tidak tahu namanya.

Namun Raksha merasakan sesuatu bergerak, seperti benang halus yang ditarik perlahan.

1
Namida Leda
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!