NovelToon NovelToon
JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Sinopsis:

Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.

Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA ARAH YANG BERBEDA

Liang Chen bangun sebelum matahari terbit.

Kamar penginapan masih gelap. Udara dingin tipis menyusup dari celah jendela. Kota kecil itu belum benar-benar hidup, tapi suara pertama sudah mulai terdengar—langkah kaki penjaga malam yang pulang, suara gerobak sayur dari kejauhan, dan bunyi pintu kayu yang dibuka pelan.

Ia duduk di tepi ranjang, menunggu pikirannya benar-benar jernih.

Malam sebelumnya, untuk pertama kalinya sejak menemukan kitab itu, ia tidak langsung memikirkan cara melarikan diri. Ia justru memikirkan tujuan.

Selama ini, ia hanya berjalan untuk bertahan hidup. Tidak ada arah. Tidak ada rencana. Ia menghindari konflik, mengambil pekerjaan apa saja, lalu pergi sebelum terikat.

Namun sekarang, keadaan itu sudah berubah.

Kitab di dalam ranselnya bukan benda yang bisa dibawa tanpa konsekuensi. Setiap hari ia menyimpannya, semakin banyak orang yang ingin merebutnya. Dan semakin banyak orang yang mati, cerita tentangnya akan semakin membesar.

Ia tidak bisa terus berjalan seperti ini.

Liang Chen berdiri, menuangkan sedikit air hangat ke wajahnya. Ia tidak membawa banyak barang, jadi persiapannya tidak lama. Ransel disampirkan ke bahu. Pisau kecil diselipkan di tempat biasa.

Ia turun ke bawah.

Pemilik penginapan masih duduk di belakang meja, seperti kemarin. Wajahnya tetap setengah mengantuk, seolah dunia di luar tidak pernah benar-benar menarik perhatiannya.

“Pergi pagi,” katanya.

“Jalan masih sepi,” jawab Liang Chen.

Pria itu mengangguk. “Orang yang jalan pagi biasanya punya alasan.”

Liang Chen tidak menjawab. Ia hanya menaruh kunci di meja, lalu berjalan keluar.

Langit timur mulai berubah warna. Garis merah tipis muncul di balik atap rumah.

Di gerbang kota, dua penjaga berdiri dengan tombak di tangan. Mereka tidak menghentikannya, tapi salah satu dari mereka memperhatikan ranselnya sedikit lebih lama.

Itu sudah cukup menjadi tanda.

Liang Chen keluar kota tanpa menoleh.

Begitu melewati gerbang, jalan terbagi dua.

Satu jalur menuju utara, ke wilayah pegunungan. Jalur itu sepi, panjang, dan jarang dipakai pedagang. Tempat yang bagus untuk menghilang.

Jalur lain menuju barat daya, ke kota yang lebih besar. Tempat berkumpulnya orang-orang persilatan, pedagang, dan berbagai aliran kecil.

Tempat yang berbahaya.

Liang Chen berdiri di persimpangan itu beberapa saat.

Jika ia memilih jalur pegunungan, ia bisa bertahan hidup lebih lama. Tidak banyak orang akan mencarinya di sana. Ia bisa hidup sebagai pengembara biasa lagi.

Tapi masalahnya tidak akan hilang.

Cerita tentangnya akan terus tumbuh. Orang-orang akan terus mencari. Dan suatu hari nanti, seseorang yang cukup kuat akan menemukan jejaknya.

Jika ia memilih kota besar, ia mungkin bisa menemukan orang yang tahu sesuatu tentang kitab itu. Mungkin asal-usulnya. Mungkin cara menghilangkan jejaknya.

Atau justru bertemu orang yang ingin membunuhnya.

Liang Chen menatap kedua jalur itu.

Lalu ia melangkah.

Ke arah kota.

Langkahnya tidak ragu.

Jika masalah memang akan datang, lebih baik ia yang mendekat duluan.

Perjalanan menuju kota besar memakan waktu setengah hari. Jalan itu lebih ramai dari yang ia duga. Beberapa pedagang lewat dengan gerobak kecil. Seorang biksu tua berjalan perlahan, membawa tongkat kayu.

Tidak ada yang memperhatikannya secara khusus.

Namun sekitar tengah hari, Liang Chen mulai merasakan sesuatu yang tidak ia sukai.

Bukan suara.

Bukan langkah.

Melainkan pola.

Seorang pria bertopi lebar muncul di tikungan jalan. Ia berjalan berlawanan arah, lalu menghilang. Beberapa saat kemudian, pria lain dengan pakaian hampir serupa muncul dari arah belakang.

Wajah mereka berbeda.

Tapi sikap mereka sama.

Langkah tenang. Mata waspada. Tidak membawa banyak barang.

Orang-orang seperti ini tidak sedang bepergian.

Mereka sedang bekerja.

Liang Chen tidak mempercepat langkah. Ia juga tidak memperlambatnya. Ia hanya berjalan seperti biasa, seolah tidak menyadari apa pun.

Menjelang sore, jalan mulai sepi. Pepohonan di kiri kanan semakin rapat. Kota tujuan masih beberapa li di depan.

Di tikungan jalan yang sempit, tiga orang berdiri.

Mereka tidak menyembunyikan diri. Tidak pula memasang wajah agresif. Hanya berdiri, seolah sedang menunggu teman.

Namun posisi mereka menutup seluruh jalur.

Liang Chen berhenti beberapa langkah dari mereka.

“Jalan ini sepi,” katanya datar.

Salah satu dari mereka tersenyum tipis. “Justru itu yang kami cari.”

“Kalau begitu, kalian beruntung.”

Pria itu memiringkan kepala. “Kami mencari seseorang.”

“Banyak orang lewat sini.”

“Yang kami cari membawa ransel.”

Liang Chen mengangguk pelan. “Itu tidak terlalu langka.”

Pria kedua maju satu langkah. “Yang kami cari bernama Liang Chen.”

Nama itu diucapkan tanpa ragu.

Cerita itu sudah menemukan wajahnya.

Liang Chen tidak menjawab. Ia hanya berdiri dengan sikap biasa.

“Ada orang yang ingin bicara denganmu,” lanjut pria pertama. “Kami diminta mengantarmu. Hidup-hidup, kalau bisa.”

“Kalau tidak bisa?”

Pria itu tersenyum. “Kami tetap akan pulang.”

Hening turun di antara mereka.

Angin sore meniup debu tipis di jalan.

Liang Chen menatap posisi kaki mereka, jarak di antara tubuh mereka, arah matahari, dan bentuk tanah di sekelilingnya.

Tiga orang. Jarak cukup rapat. Tidak ada senjata yang dihunus, tapi gagang pedang terlihat jelas di pinggang.

Mereka yakin.

Keyakinan seperti itu biasanya datang dari pengalaman.

Atau dari jumlah.

Liang Chen menghela napas pendek.

“Aku tidak suka diantar,” katanya.

“Itu bukan pilihanmu.”

“Biasanya begitu.”

Ia melangkah maju.

Gerakannya tenang. Tidak cepat. Tidak lambat.

Pria di tengah langsung menghunus pedang. Dua lainnya bergerak melebar, mencoba menutup sudut.

Liang Chen tidak menunggu.

Ia melangkah ke sisi kiri, mendekati pria yang posisinya paling dekat. Bukan yang paling kuat. Bukan yang paling cepat.

Yang paling mudah dijangkau.

Pedang lawan baru setengah terangkat ketika Liang Chen sudah berada di dalam jaraknya. Tangannya menghantam pergelangan lawan, memutar sudut serangan. Pedang itu meleset.

Siku Liang Chen menghantam dada lawan. Udara keluar dari paru-parunya dalam satu hentakan.

Tubuh itu jatuh mundur.

Dua lainnya bergerak bersamaan.

Liang Chen mundur setengah langkah, membiarkan pedang mereka saling menghalangi. Ujung pedang hampir beradu.

Setengah detik.

Cukup.

Ia masuk ke celah di antara mereka, tubuhnya berputar rendah. Pisau kecil muncul di tangannya, bergerak cepat, pendek, tanpa gerakan tambahan.

Satu lawan terhuyung.

Yang terakhir mundur dua langkah, matanya membesar.

Ia tidak menyerang lagi.

Liang Chen tidak mengejar.

Ia berdiri, napasnya tetap teratur.

Pria itu menelan ludah. “Kau… benar-benar dia.”

Liang Chen tidak menjawab.

“Aku tidak dibayar untuk mati,” lanjut pria itu, lalu berbalik dan lari ke arah hutan.

Liang Chen tidak menghentikannya.

Cerita itu akan terus berjalan, dengan atau tanpa izin darinya.

Ia membersihkan pisaunya sebentar, lalu memasukkannya kembali. Dua tubuh di tanah tidak bergerak.

Ia menyeret mereka ke pinggir jalan. Tidak disembunyikan sepenuhnya. Hanya cukup agar tidak terlihat dari kejauhan.

Matahari hampir tenggelam.

Liang Chen menatap jalur ke depan.

Kota itu masih beberapa li lagi. Tapi sekarang, satu hal sudah jelas:

Namanya tidak lagi hanya beredar sebagai rumor.

Sekarang, orang-orang sudah mulai dikirim untuk mencarinya.

Ia mengencangkan ranselnya, lalu melanjutkan langkah.

Langit senja berubah merah gelap di atas pepohonan.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa perjalanan ini tidak lagi bisa kembali menjadi sederhana.

Jalan ke depan akan semakin sempit.

Dan setiap langkah akan menarik lebih banyak mata ke arahnya.

1
Restu Agung Nirwana
Cocok untuk yang suka adegan pertarungan berdarah-darah 🔥🔥
Happy Alone
Kapan Liang Chen baku hantam? Terima Kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Bab 20+, mulai lebih bnyk adegan pertarungan 🤭
total 2 replies
Happy Alone
Tuh orang gak kedinginan kali ya tidur dibawah pohon begitu. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: hehehe... namanya jg pengembara kak, bisa tdr dmn saja 😄
total 1 replies
Happy Alone
udah aku diduga, hidupnya bakal dipenuhi kemalangan. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Nasib pengembara bebas (Liang Chen) yg gak pny tujuan dan ambisi, cuma mau hidup bebas. Tp tanpa sengaja malah terseret ke dalam konflik dunia persilatan gara-gara di kasih kitab yg blm di ketahui asal-usulnya oleh orang sekarat (Xu Fan). Ya beginilah jdnya 😄
total 1 replies
Happy Alone
Umpan untuk seseorang yang pantas mempelajari kitab. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: smoga suka ya... 🙂
total 3 replies
Happy Alone
Sebenernya awal awal baca agak bingung. Maksudnya, si Liang Chen siapa? Xu Fan siapa? mereka ada dimana? terus tuh buku apaan? tapi udahlah. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Trims apresiasinya kak, mohon dukungannya biar gak kendor 😄
total 6 replies
Happy Alone
Liang Chen, dia pria baik yang akan selalu dapat kemalangan. Namanya ada kata Liang, artinya baik hati. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Wow, sampai arti namanya pun di nilai. Terimakasih, semoga suka sama ceritanya 😍
total 1 replies
Happy Alone
Semangat, Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Iya, terimakasih mohon dukungannya biar makin semangat nulisnya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!