Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Tuan Haysa melayangkan tangan hendak menampar Hana, tapi gadis itu lebih sigap menangkap tangannya dan membalikkan keadaan.
Plak!
Hana menampar wajah ayahnya, cukup keras hingga membuat tubuh laki-laki itu terhuyung ke belakang dan mengeluarkan darah dari sela-sela bibirnya.
"Kau ... anak durhaka!" tuding tuan Haysa dengan tangan gemetar.
Plak!
Tamparan lain mendarat di pipi Hana, Ethan melakukannya dengan penuh emosi hingga membuat tubuh Hana jatuh di lantai.
"Sungguh tidak tahu malu. Kau sendiri yang pergi meninggalkan Evan dengan laki-laki lain, sekarang menyalahkan mereka. Kenapa? Laki-laki itu menyiksamu, meninggalkanmu, atau mengkhianatimu? Lalu, kau datang meminta kembali dengan Evan seenakmu. Hana, itu semua pilihanmu. Kau pergi begitu saja, sekarang biarkan Evan dan Shopia melanjutkan pertunangan ini. Lagi pula, mereka sudah terikat perjodohan dan saling mencintai sebelum kau datang," ucap Ethan dengan lantang.
Bisik-bisik pun kembali terdengar, kali ini tentang keburukan Hana.
"Kakak, sudahlah. Aku tidak apa-apa, jika Hana ingin melanjutkan pertunangan dengan Evan, aku akan mengalah. Aku akan pergi dari keluarga ini. Jangan membuat keributan terlalu besar," ucap Shopia dengan suaranya yang lembut dan penuh kepura-puraan.
"Shopia, kau adalah korban di sini. Kau sudah rela menggantikan Hana untuk menjaga wajah keluarga. Dia yang seharusnya pergi dan tidak mengganggu kalian. Dia sudah memutuskan meninggalkan Evan dengan laki-laki lain, sekarang datang dengan keadaan seperti ini. Supaya apa? Supaya dikasihani semua orang dan tidak disalahkan atas apa yang telah dia lakukan," tegas Ethan lagi semakin mengundang riuh suara para tamu undangan.
"Hana, bukankah aku sudah merelakanmu dengan laki-laki itu saat kau lebih memilih untuk bersamanya? Kau mengatakan tidak akan menyesal, tapi kenapa sekarang kau datang mengganggu kami? Apakah laki-laki itu sudah bosan terhadapmu?" ucap Evan membakar bara yang dinyalakan Ethan.
"Sungguh tidak masuk akal! Kami kira kau diculik sehingga meminta kepolisian untuk mencarimu ke seluruh kota. Pantas saja kau tidak ditemukan hingga saat ini, itu karena kau memang pergi dengan sengaja," hardik Tuan Haysa menuding anaknya sendiri.
Semua orang terkejut mendengar itu, mereka yang awalnya iba berubah menjadi benci terhadap Hana. Banyak cibiran dan makian yang ia dengar dari mereka, membuat hatinya panas dan tak terkendali.
"Wanita tak tahu malu! Kau merusak hari bahagia saudaramu sendiri!"
"Kau tidak pantas berada di sini!"
"Seharusnya kau punya rasa malu!"
Satu per satu kata-kata pedas itu hinggap di telinga Hana. Ia mengepalkan tangan, menahan gejolak emosi yang memuncak.
"Bagus kau, Hana! Ternyata selama ini kau pergi dengan laki-laki lain meninggalkan Evan. Sekarang kau datang dengan tidak tahu malu mengganggu mereka. Aku malu pernah melahirkan dirimu! Kau benar-benar aib keluarga!" sengit sang ibu dengan perasaan malu yang tak terbendung.
"Beruntung Evan memilih Shopia, tidak bertunangan denganmu. Lagi pula, Shopia jauh lebih baik dari pada dirimu. Dia berpendidikan, tahu sopan santun. Tidak seperti dirimu yang tidak pernah diajarkan apapun di desa. Jangan mengganggu mereka, aku tidak akan membiarkanmu mengganggu pertunangan mereka," tambah ibunya Evan meskipun sang suami mencegahnya untuk berbicara.
Laki-laki itu tidak ingin ikut campur dengan urusan keluarga Haysa. Dia hanya menjalankan wasiat untuk meneruskan perjodohan antara dua keluarga.
Hana tertawa sumbang, ia bangkit perlahan, menahan segala macam perih dari hinaan yang ia dapatkan.
Seumur hidupku, belum pernah ada yang berbicara lancang kepadaku seperti itu. Dunia ini sungguh buta, tidak bisa melihat kebenaran.
Hana berdiri tegak, tangannya ia lipat satu di depan dan satu di belakang. Tatapan matanya tajam menusuk, atmosfer di ruangan itu berubah saat ia mulai menatap mereka satu per satu.
Akan kuingat wajah kalian semua. Penghinaan hari ini akan ku balas ribuan kali lipat. Terutama kalian berdua, Evan dan Shopia.
Hana mematri tatapan pada keduanya, Shopia bergidik ngeri. Ia mendekati Evan dan merangkul lengannya.
"Evan, aku takut," bisiknya.
"Jangan takut! Dia tidak akan bisa menyakitimu," ucap Evan menenangkan.
"Bagaimana aku pergi, kalian berdua yang lebih tahu? Atau perlu aku ungkapkan semuanya di sini?" Hana tersenyum mengancam kepada sepasang kekasih di atas podium itu.
Shopia dan Evan menegang, meneguk saliva gugup. Hana tersenyum kembali melihat reaksi dari keduanya. Apalagi saat tatapan mata semua orang tertuju pada mereka.
"Kalian pikir, aku datang untuk merebut laki-laki itu? Hmmm ... aku tidak menginginkannya. Dia bahkan tidak pantas berdiri di sampingku. Sampah seperti itu memang lebih cocok berada di tempatnya," sarkas Hana mengguncang seisi gedung.
Tuan Haysa maju ke depan, rahangnya mengeras penuh emosi.
"Kurang ajar! Satpam! Bawa anak ini pergi dan kurung dia di gudang bawah tanah! Jangan beri dia makan atau minum, biarkan dia merenungi kesalahannya!" titah tuan Haysa tanpa berkedip menatap Hana.
Dua orang satpam datang berlari hendak membawa Hana, tapi gadis itu melengos enggan dicekal.
"Jangan menyentuhku! Aku akan pergi sendiri!" katanya seraya berbalik setelah melayangkan tatapan tajam kepada sang ayah.
Ia pergi diiringi dua satpam, meninggalkan gedung dan pesta pertunangan yang seharusnya miliknya.
Dunia ini sangat berbeda dari duniaku. Tubuh ini juga sangat lemah, aku benar-benar tidak berdaya berada di dalam tubuh ini. Tunggu saja, aku akan memulihkan diriku. Ah, seingatku gadis ini memiliki rumah peninggalan dari neneknya. Sebaiknya, aku pergi ke sana.
Ia melirik kedua penjaga, dan dengan gerakan cepat membuat mereka jatuh pingsan. Hana pergi ke rumah peninggalan nenek dari ayahnya. Nenek yang sangat menyayanginya, tapi meninggal kemudian setelah beberapa hari kedatangan Hana.
hai jalang gk tau diri lo