NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:205.2k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

…lantai itu tak pernah disentuh tubuh Ning.

Dua lengan kuat lebih dulu melingkari tubuhnya. Kruk jatuh dengan suara nyaring, tapi Ning justru tersentak oleh aroma yang familiar—bau parfum samar khas seseorang.

"Kamu enggak papa?"

Ning mendongak.

“Mas Yuda…” suara Ning lirih, nyaris tak terdengar.

“Kenapa selalu kayak gini?!”

Suara itu bergetar. Marah. Tertahan terlalu lama.

"Ning, nggak papa, Mas. Cuma..."

Wajah pria itu tegang, rahangnya mengeras, matanya gelap menahan emosi. Satu tangannya menyangga punggung Ning, yang lain mencengkeram lengannya erat seolah takut ia benar-benar jatuh.

“cuma enggak seimbang…” suara Ning lirih, nyaris tak terdengar.

Yuda membantunya berdiri dengan benar, lalu mengambil kruk di lantai dan menyerahkan pada Ning.

"Ada apa ini? Kenapa main dorong sampai dia mau jatuh!?"

"Huuhh, enggak usah sok jadi pahlawan." Dewi mendengus dari sofa. “Bagus sih. Tukang ojeknya datang. Pas banget.” Ia berdiri, menepuk-nepuk tangan seolah sedang menyaksikan sesuatu yang lucu. “Dari pada kamu sok jadi pahlawan kesiangan. Sekalian aja. Nikahin tuh Ning.”

Yuda menoleh tajam. “Apa?”

“Ya nikah,” ulang Dewi santai, tapi nadanya menusuk. “Kalian kan sederajat, selevel. Kamu cuma tukang ojek, dan Ning pincang. Enggak usah pake cinta-cintaan segalalah. Nanti juga cinta sendiri. Buruan nikahin Ning. Jangan menghalu mau nikah sama aku!”

Ning membeku. Dadanya kembali sesak.

"Dewi!"

Pintu depan terbuka. Pak Hasto masuk dengan peci masih terpasang, sarung diselempangkan. Ia berhenti begitu mendengar kata-kata Dewi.

“Apa maksudmu ngomong begitu?” suaranya berat.

Dewi menoleh malas. “Fakta, Yah. Daripada Ning ganggu hidup orang lain, mending cepat keluar dari rumah ini.”

Bu Sumi muncul dari kamar, matanya langsung menyorot Yuda dan Ning. “Sudah benar Dewi ngomong. Dari dulu juga Ning cuma bawa sial.”

“Cukup!” suara Pak Hasto meninggi. "Sudah, Sum. Apa kamu masih belum puas sakitin Ning sampai sejauh ini!?"

“Belum puas?” Bu Sumi tertawa sinis. “Dia yang lebih dulu datang membawa luka untuk kami, Mas! Dia dan ibunya itu.”

"Harus Mas katakan berapa kali! Jangan bawa-bawa orang yang sudah pergi!"

"Makanya aku bawa dia! Dia pembawa sial!" pekik bu Sumi menggebu sambil menunjuk Ning.

"Sumi!"

Perdebatan pecah. Nada meninggi, kata-kata tajam beterbangan.

Ning berdiri kaku di samping Yuda, tubuhnya gemetar halus. Ia malu... Tapi tak ada yang bisa dia lakukan.

Plak!

Tubuh Ning hampir limbung. sebuah asbak mendarat di dahinya. Cairan merah keluar dari sana.

"Sumi! Kau gila! Apa yang sudah kau lakukan!?" bentak Pak Hasto.

Rahang Yuda langsung mengeras. Dia hendak maju, namun Ning menahannya, menatapnya dengan permohonan dan gelengan pelan.

Gigi Yuda beradu. Antara marah, dan ketidak berdayaan menghadapi mata bening wanita cacat itu.

“Saya akan menikahi Ning,” kata Yuda penuh tekat, tiba-tiba memecah.

Semua suara seketika terputus.

“Apa?” Dewi menoleh tajam.

“Malam ini juga,” lanjut Yuda tegas.

Bu Sumi terkekeh. “Hahaha, bagus! Bagus! Bawa dia pergi! Biar pembawa sialnya pindah ke kamu!”

"Sum!"

Pak Hasto dilema, menatap Yuda dengan mata penuh tanya.

Yuda menoleh pada Ning. “Boleh bicara sebentar?”

Mereka bergeser ke sudut halaman rumah. Ning duduk di kursi plastik, wajah menunduk, jemarinya saling meremas di pangkuan.

“Mas… maaf,” katanya lebih dulu. “Ning bikin Mas terlibat. Mas enggak harus nikah sama Ning karena kasihan.”

Yuda menggeleng, tangannya sibuk membersihkan luka di dahi Ning. “Ini bukan karena kasihan.”

Ning menatap Yuda. Ia sadar diri, sadar jika dirinya cacat. Ia sama sekali tak ingin karena kasihan, Yuda sampai merepotkan diri dengan menikahinya.

Yuda menatapnya dalam-dalam. “Dengar ya. Mas enggak pernah merasa ini terpaksa.”

Ning terdiam.

“Kamu ingat apa yang Mas bilang waktu kita di atas motor ke warung?” lanjut Yuda menatap lebih jauh mata bening Ning. “Daripada Mas nikah sama orang kayak Dewi, Mas jauh lebih memilih kamu.”

Ning mengernyit. “Mas…”

"Sakit ya? Maaf ya."

Ning menggeleng. "Ning udah biasa dengan rasa sakit, Mas."

"Setelah ini, tidak lagi." Yuda menutup luka dengan plester.

“Ning" Yuda menggenggam tangan Ning. "Kamu mungkin cacat fisik,” Ia melirik Dewi yang sedang berdiri berkacak pinggang di ambang pintu.

"Heh! Cepetan ! Sok-sokan pake mau ngobrol berdua!" suara cempreng Dewi menggema.

Yuda tersenyum kecil, getir. “Tapi kamu enggak cacat mental seperti yang teriak-teriak di sana. Dan itu jauh lebih penting.”

Ning tertawa tanpa suara. Sindiran Yuda sedikit mengobati hati yang luka. Luka karena keadaan yang terasa kejam baginya. Namun, dia harus berlapang dada menerima semua.

"Sekarang... Mas melamar kamu. Ningsih, Nikah sama Mas. Mas bakal kasih seisi dunia buat kamu."

Terdengar gombal, tapi berhasil bikin Ning senyum lagi. Ia mengangguk pelan. “Iya, Mas... Ning mau.”

Mas Ridho… perlahan ia lepaskan nama itu. Mungkin memang sudah saatnya. Ia mengubur mimpi, karena memang merasa tak pantas.

Pak Hasto memandang dari jauh Yuda dan Ning yang sedang bicara berdua. Wajah pria itu penuh kebimbangan. Ia baru beberapa kali bertemu dengan Yuda. Ada rasa takut tersendiri. Takut jika Ning tak bahagia. Bagaimana sifat Yuda saja dia belum sepenuhnya yakin.

Yuda dan Ning sudah kembali, mereka duduk di ruang tamu.

"Kamu... Benar-benar serius sama Ning?" tanyanya.

Yuda mengangguk, sangat yakin. "Iya. Saya akan membuatnya bahagia, Pak. Semua yang tidak dia dapatkan di sini. Saya akan memberikan semuanya."

Dewi mencibir. “Heleh, sok-sokan! Tukang ojek aja banyak kali mimpinya. Omongan setinggi langit, ntar ketampar sama pesawat!”

"Dewi! Jangan begitu! Bukannya kamu yang memang ingin Ning pergi dari sini!?"

Dewi mendekus, lalu melengos.

Pak Hasto menghela napas panjang. Keputusan berat, tapi keributan ini harus diakhiri.

Malam itu, akad dilakukan sederhana dengan Wali hakim.

Bu Sumi kembali nyinyir, “Ya pantaslah, namanya juga anak haram walinya ya hakim.”

"Sumi! Ning bukan anak haram!" tampik Pak Hasto.

Ning diam. Ia sudah terlalu sering mendengar kalimat itu. Anak haram, anak pelakor.

Yuda menggenggam tangannya. “Enggak apa-apa.”

Dari luar terdengar suara mobil berhenti. Yuda melongok, "Itu orang saya. Sebentar," katanya meminta izin. Lalu berdiri dan berjalan ke depan.

Bastian datang tergesa, membawa tas cokelat. “Sorry, gua enggak telat kan?”

"Enggak, kok. Mana?"

Bastian menyerahkan tas coklat itu pada Yuda. Lalu ia ikut duduk menjadi saksi.

"Ini maharnya, Pak." Yuda menyerahkan tas coklat itu.

"Baik, saya buka isinya, Mas Yuda," ucap si penghulu sambil membuka tas itu.

Beberapa gepok uang tunai dikeluarkan dari dalam sana. Mata Bu Sumi dan Dewi seketika melebar.

"Semuanya, lima puluh juta."

"Apa!?"

Bu Sumi terbelalak. “Lima puluh juta?!”

1
bibuk Hannan & Afnan
hayuh loh, kalian semuanya knp tdk jujur sedari awal saat Ranu sadar siuman dr koma mengenalkan Ning sebagai anggota keluarga baru status nya istri Yudha biar tdk ada kesalah pahaman
Agunk Setyawan
Ning dimanfaatin Bu anggun orangvtua egois Yuda juga aneh knp g jujur
sutiasih kasih
knapa g jujur aj bu anggun... demi kbaikan smua org....
krn klo diam & mnyembunyikan fakta.... yg ada semakin mnmbah masalah...🙄🙄
Ariany Sudjana
muak lama-lama dengan keluarga Yuda, apalagi Bu anggun, uang ada, tapi menyodorkan Ning untuk menemani Ranu terapi, dan ga mau jujur kaalu Ning itu istrinya Yuda
Sapna Anah
kenapa ga jujur aja sebelum terlambat makin d tutupi justru makinmenyskitkan bagi Ranu dan ning
muthia
bu Anggun egois, kasian ning😭
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
smakin ngeselin in novel, banyak ahli terapys knp nyusahin ning, udh gt si anggun jg gak bil kl ning istri yuda, bodohnya lg ning juga gak bilang kl sdh nikah, ah
Bunda Juna
ibunya goblok greget bnget knpa gak jujur dari awal .....
Sri Rahayu
knp sih ngga terus terang ma Ranu...kl Ning itu istri nya Yuda...ya resiko lah apa yg akan Ranu rasakan, drpd.bohong trs nanti terlalu dlm perasaan Ranu pd Ning... lanjut Thorr😘😘😘
mama
bu anggun soplak.. greget bgt.. tak skip aja lah nunggu semuanya kebongkar aj baru tau rasa.. buat ning ny pergi jauh thor setelah tau semuanya.. biar Yuda sama anggun kalang kabut nyari🤣.. enk aj ning mau di manfaatin cuma buat kesembuhan ranu.. gk mikir ati ny ning blas km yud sm bu anggun😭
Arin
Mending jujur sekarang sebelum terlalu jauh. Daripada nunggu nanti-nanti Bu Anggun
Arieee
sembunyikan terus biar anak u saling benci😡😡😡😡😡😡
Nurmaulida Zahra
satu kata egois untuk keluarga yuda
Sri rahayu
demi anaknya hidup dia menghancurkan anaknya yg lain .sungguh kejam Bu anggun .seharusnya setelah Ranu bangun jujur sebenarnya Ning udah menikah dengan Yuda .jadi Ranu tidak mengharap Ning terlalu dalam
Sri rahayu
kasihan Ning tidak tau sekenario orang tua Yuda dan Yuda sendiri .dia seperti pion yg diumpankan kepada Ranu supaya Ranu mau berusaha tetap hidup dan berjalan seperti sedia kala .mungkin nanti Ning di suruh menikah dengan Ranu .dan Ning tidak tau sekenario yg mereka ciptakan
sutiasih kasih
mna ktegasanmu dbg suami yud....
jgnlah krna ibumu km tega mmbuat ning dlm posisi sulit... pdhl km pun jga merasakn ancaman dlm rmh tanghamu...
boleh bakti trhdp org tua yud.... tpi mnolak hal yg akn mmbuat rmh tanggamu hncur jga suatu keharusan yuda........
krna prmintaan ibumu itu konyol... & mrmaksakn khendaknya...🙄🙄
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Arieee
demi anak yang sakit anak yang sehat ditekan sampai sakit hati🤧🤧🤧🤧
Ariany Sudjana
Yuda bodoh, ga mau bicara sama Ning, apa yang dirasakan. Ning juga bodoh, suami pulang kerja, kok tetap urus Ranu, suaminya dulu yang diprioritaskan. Bu anggun juga bodoh, kan orang kaya, kenapa Ning yang disuruh jadi terapisnya Ranu? ini yang akan menghancurkan rumah tangga Yuda dan Ning
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!