“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
…lantai itu tak pernah disentuh tubuh Ning.
Dua lengan kuat lebih dulu melingkari tubuhnya. Kruk jatuh dengan suara nyaring, tapi Ning justru tersentak oleh aroma yang familiar—bau parfum samar khas seseorang.
"Kamu enggak papa?"
Ning mendongak.
“Mas Yuda…” suara Ning lirih, nyaris tak terdengar.
“Kenapa selalu kayak gini?!”
Suara itu bergetar. Marah. Tertahan terlalu lama.
"Ning, nggak papa, Mas. Cuma..."
Wajah pria itu tegang, rahangnya mengeras, matanya gelap menahan emosi. Satu tangannya menyangga punggung Ning, yang lain mencengkeram lengannya erat seolah takut ia benar-benar jatuh.
“cuma enggak seimbang…” suara Ning lirih, nyaris tak terdengar.
Yuda membantunya berdiri dengan benar, lalu mengambil kruk di lantai dan menyerahkan pada Ning.
"Ada apa ini? Kenapa main dorong sampai dia mau jatuh!?"
"Huuhh, enggak usah sok jadi pahlawan." Dewi mendengus dari sofa. “Bagus sih. Tukang ojeknya datang. Pas banget.” Ia berdiri, menepuk-nepuk tangan seolah sedang menyaksikan sesuatu yang lucu. “Dari pada kamu sok jadi pahlawan kesiangan. Sekalian aja. Nikahin tuh Ning.”
Yuda menoleh tajam. “Apa?”
“Ya nikah,” ulang Dewi santai, tapi nadanya menusuk. “Kalian kan sederajat, selevel. Kamu cuma tukang ojek, dan Ning pincang. Enggak usah pake cinta-cintaan segalalah. Nanti juga cinta sendiri. Buruan nikahin Ning. Jangan menghalu mau nikah sama aku!”
Ning membeku. Dadanya kembali sesak.
"Dewi!"
Pintu depan terbuka. Pak Hasto masuk dengan peci masih terpasang, sarung diselempangkan. Ia berhenti begitu mendengar kata-kata Dewi.
“Apa maksudmu ngomong begitu?” suaranya berat.
Dewi menoleh malas. “Fakta, Yah. Daripada Ning ganggu hidup orang lain, mending cepat keluar dari rumah ini.”
Bu Sumi muncul dari kamar, matanya langsung menyorot Yuda dan Ning. “Sudah benar Dewi ngomong. Dari dulu juga Ning cuma bawa sial.”
“Cukup!” suara Pak Hasto meninggi. "Sudah, Sum. Apa kamu masih belum puas sakitin Ning sampai sejauh ini!?"
“Belum puas?” Bu Sumi tertawa sinis. “Dia yang lebih dulu datang membawa luka untuk kami, Mas! Dia dan ibunya itu.”
"Harus Mas katakan berapa kali! Jangan bawa-bawa orang yang sudah pergi!"
"Makanya aku bawa dia! Dia pembawa sial!" pekik bu Sumi menggebu sambil menunjuk Ning.
"Sumi!"
Perdebatan pecah. Nada meninggi, kata-kata tajam beterbangan.
Ning berdiri kaku di samping Yuda, tubuhnya gemetar halus. Ia malu... Tapi tak ada yang bisa dia lakukan.
Plak!
Tubuh Ning hampir limbung. sebuah asbak mendarat di dahinya. Cairan merah keluar dari sana.
"Sumi! Kau gila! Apa yang sudah kau lakukan!?" bentak Pak Hasto.
Rahang Yuda langsung mengeras. Dia hendak maju, namun Ning menahannya, menatapnya dengan permohonan dan gelengan pelan.
Gigi Yuda beradu. Antara marah, dan ketidak berdayaan menghadapi mata bening wanita cacat itu.
“Saya akan menikahi Ning,” kata Yuda penuh tekat, tiba-tiba memecah.
Semua suara seketika terputus.
“Apa?” Dewi menoleh tajam.
“Malam ini juga,” lanjut Yuda tegas.
Bu Sumi terkekeh. “Hahaha, bagus! Bagus! Bawa dia pergi! Biar pembawa sialnya pindah ke kamu!”
"Sum!"
Pak Hasto dilema, menatap Yuda dengan mata penuh tanya.
Yuda menoleh pada Ning. “Boleh bicara sebentar?”
Mereka bergeser ke sudut halaman rumah. Ning duduk di kursi plastik, wajah menunduk, jemarinya saling meremas di pangkuan.
“Mas… maaf,” katanya lebih dulu. “Ning bikin Mas terlibat. Mas enggak harus nikah sama Ning karena kasihan.”
Yuda menggeleng, tangannya sibuk membersihkan luka di dahi Ning. “Ini bukan karena kasihan.”
Ning menatap Yuda. Ia sadar diri, sadar jika dirinya cacat. Ia sama sekali tak ingin karena kasihan, Yuda sampai merepotkan diri dengan menikahinya.
Yuda menatapnya dalam-dalam. “Dengar ya. Mas enggak pernah merasa ini terpaksa.”
Ning terdiam.
“Kamu ingat apa yang Mas bilang waktu kita di atas motor ke warung?” lanjut Yuda menatap lebih jauh mata bening Ning. “Daripada Mas nikah sama orang kayak Dewi, Mas jauh lebih memilih kamu.”
Ning mengernyit. “Mas…”
"Sakit ya? Maaf ya."
Ning menggeleng. "Ning udah biasa dengan rasa sakit, Mas."
"Setelah ini, tidak lagi." Yuda menutup luka dengan plester.
“Ning" Yuda menggenggam tangan Ning. "Kamu mungkin cacat fisik,” Ia melirik Dewi yang sedang berdiri berkacak pinggang di ambang pintu.
"Heh! Cepetan ! Sok-sokan pake mau ngobrol berdua!" suara cempreng Dewi menggema.
Yuda tersenyum kecil, getir. “Tapi kamu enggak cacat mental seperti yang teriak-teriak di sana. Dan itu jauh lebih penting.”
Ning tertawa tanpa suara. Sindiran Yuda sedikit mengobati hati yang luka. Luka karena keadaan yang terasa kejam baginya. Namun, dia harus berlapang dada menerima semua.
"Sekarang... Mas melamar kamu. Ningsih, Nikah sama Mas. Mas bakal kasih seisi dunia buat kamu."
Terdengar gombal, tapi berhasil bikin Ning senyum lagi. Ia mengangguk pelan. “Iya, Mas... Ning mau.”
Mas Ridho… perlahan ia lepaskan nama itu. Mungkin memang sudah saatnya. Ia mengubur mimpi, karena memang merasa tak pantas.
Pak Hasto memandang dari jauh Yuda dan Ning yang sedang bicara berdua. Wajah pria itu penuh kebimbangan. Ia baru beberapa kali bertemu dengan Yuda. Ada rasa takut tersendiri. Takut jika Ning tak bahagia. Bagaimana sifat Yuda saja dia belum sepenuhnya yakin.
Yuda dan Ning sudah kembali, mereka duduk di ruang tamu.
"Kamu... Benar-benar serius sama Ning?" tanyanya.
Yuda mengangguk, sangat yakin. "Iya. Saya akan membuatnya bahagia, Pak. Semua yang tidak dia dapatkan di sini. Saya akan memberikan semuanya."
Dewi mencibir. “Heleh, sok-sokan! Tukang ojek aja banyak kali mimpinya. Omongan setinggi langit, ntar ketampar sama pesawat!”
"Dewi! Jangan begitu! Bukannya kamu yang memang ingin Ning pergi dari sini!?"
Dewi mendekus, lalu melengos.
Pak Hasto menghela napas panjang. Keputusan berat, tapi keributan ini harus diakhiri.
Malam itu, akad dilakukan sederhana dengan Wali hakim.
Bu Sumi kembali nyinyir, “Ya pantaslah, namanya juga anak haram walinya ya hakim.”
"Sumi! Ning bukan anak haram!" tampik Pak Hasto.
Ning diam. Ia sudah terlalu sering mendengar kalimat itu. Anak haram, anak pelakor.
Yuda menggenggam tangannya. “Enggak apa-apa.”
Dari luar terdengar suara mobil berhenti. Yuda melongok, "Itu orang saya. Sebentar," katanya meminta izin. Lalu berdiri dan berjalan ke depan.
Bastian datang tergesa, membawa tas cokelat. “Sorry, gua enggak telat kan?”
"Enggak, kok. Mana?"
Bastian menyerahkan tas coklat itu pada Yuda. Lalu ia ikut duduk menjadi saksi.
"Ini maharnya, Pak." Yuda menyerahkan tas coklat itu.
"Baik, saya buka isinya, Mas Yuda," ucap si penghulu sambil membuka tas itu.
Beberapa gepok uang tunai dikeluarkan dari dalam sana. Mata Bu Sumi dan Dewi seketika melebar.
"Semuanya, lima puluh juta."
"Apa!?"
Bu Sumi terbelalak. “Lima puluh juta?!”