NovelToon NovelToon
ISTRI GENDUT MILIK DUKE

ISTRI GENDUT MILIK DUKE

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Balas Dendam / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:597.1k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.

Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.

Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.

Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.

"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."

Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.

Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21. KETAKUTAN ALARIC

Pembicaraan di Bangunan Kesehatan sebenarnya berjalan seperti biasa, tenang, terukur, dan penuh perhitungan.

Alaric duduk santai ruang kerja Aldren, lengan bersedekap, wajahnya serius namun tidak tegang.

Gideon bersandar pada pilar batu di dekat jendela, mendengarkan sambil sesekali menimpali. Topik mereka satu: penawar racun penggemuk yang bersarang lama di tubuh Liora.

"Dengan Veridorn Aegis," Aldren menjelaskan sambil membuka buku catatannya, "kita bisa benar-benar menetralisir sisa racun di dalam darah Duchess. Tanaman ini langka, tapi efeknya-"

Kata-kata Aldren terpotong oleh suara langkah kaki yang tergesa dan napas yang memburu.

Pintu Bangunan Kesehatan terbuka kasar.

Seorang pelayan berlari masuk dengan wajah pucat, matanya membelalak ketakutan.

"Tabib Aldren?!"

Aldren refleks berdiri. "Ada apa?"

Pelayan itu menelan ludah, suaranya bergetar.

"T-Tolong ... Nyonya Duchess ... muntah darah," ucap yang pelayan dengan wajah seperti ingin menangis.

Dunia Alaric seakan runtuh dalam satu detik.

Cangkir teh di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai, pecahannya berderak nyaring, namun tak satu pun dari mereka benar-benar mendengarnya.

"Muntah ... darah?" suara Alaric nyaris tidak terdengar.

Pelayan itu mengangguk cepat, air mata menggantung di sudut matanya.

Alaric tidak menunggu penjelasan lain.

Tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya.

Ia berlari.

Keluar dari Bangunan Kesehatan, menyusuri lorong panjang, menuruni tangga, melewati halaman dalam kastil dengan napas terengah. Mantelnya berkibar, sepatunya menghantam lantai batu tanpa ritme.

Satu nama terus berputar di kepalanya.

Liora.

"Bertahanlah," gumam Alaric berulang-ulang. "Tolong ... bertahanlah."

Baru semalam ... baru semalam ia memeluk Liora, menenangkan tubuh istrinya yang gemetar, mendengar napasnya yang perlahan tenang di dadanya.

Baru pagi ini pula Alaric melihat kebahagiaan para pelayan, senyum-senyum yang tulus karena akhirnya Duke dan Duchess mereka benar-benar bersama.

Lalu kenapa?

Kenapa kebahagiaan itu direnggut secepat ini?

Pikiran Alaric kacau. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya.

Ia tidak pernah takut perang.

Ia tidak pernah gentar monster.

Ia tidak goyah di hadapan kematian.

Tapi kehilangan Liora? Memikirkan sesuatu terjadi pada istrinya ....

Itu ketakutan yang belum pernah Alaric kenal sebelumnya.

Pintu kamar Liora tampak di ujung lorong.

Alaric tidak mengetuk.

Ia mendorong pintu itu terbuka dengan kasar.

"LIORA?!"

Suara itu terhenti di tenggorokannya.

Wajah Alaric memucat seketika.

Liora duduk di atas tempat tidur, tubuhnya sedikit membungkuk. Seprai putih di bawah Liora ternoda merah. Begitu pula sudut bibirnya, jejak darah yang belum sepenuhnya terhapus.

Pelayan-pelayan berdiri panik di sekeliling, termasuk Sasa yang wajahnya sudah basah oleh air mata. Panik dan takut terjadi sesuatu pada majikan kesayangannya.

Alaric berlari ke sisi tempat tidur.

"Liora?!" Alaric berlutut di hadapannya, tangan gemetar meraih wajah istrinya. "Apa yang terjadi?!"

Liora mengangkat pandangannya perlahan. Wajahnya pucat, matanya sayu, namun masih sadar.

Sebelum ia sempat berbicara, Alaric menoleh tajam ke para pelayan.

"Bagaimana ini bisa terjadi?!" suaranya meninggi, penuh kemarahan bercampur panik.

Sasa tersentak, menahan isak. "K-Kami tidak tahu, Yang Mulia. Kami hanya menyuguhkan teh herbal racikan Tabib Aldren seperti biasa. Tidak ada yang berbeda ..."

Alaric menggertakkan giginya. "Panggil Aldren. Sekarang. Secepatnya!"

Pelayan lain langsung berlari keluar kamar.

Alaric kembali fokus pada Liora. Ia merengkuh wajah pucat itu dengan kedua tangannya, mengusap lembut seolah takut sentuhan sedikit saja akan melukainya.

"Kau merasakan apa?" tanya Alaric rendah, nyaris memohon.

Liora menelan ludah dengan susah payah. "Dadaku ... sakit," jawabnya lemah.

Jantung Alaric serasa diremas.

"Sasa," panggil Alaric cepat. "Ambilkan kain bersih."

Sasa segera bergerak, tangannya gemetar saat menyerahkan kain lembut itu.

Alaric sendiri yang membersihkan sudut bibir Liora, gerakannya perlahan, penuh kehati-hatian. Ia juga menyuruh pelayan lain mengganti seprai yang terkena darah.

Tidak lama kemudian, langkah cepat terdengar kembali.

Aldren masuk dengan tas tabib di tangan, disusul Gideon.

Begitu melihat kondisi Liora, Aldren langsung bergerak tanpa banyak bicara. Ia memeriksa denyut nadi, mata, pernapasan, lalu membuka mulut Liora dengan lembut untuk melihat lebih jelas.

Alaric berdiri di sisi ranjang, tangan terkepal, napasnya tertahan.

Gideon berdiri sedikit di belakangnya, wajahnya sama tegangnya.

Sasa berdiri di sudut ruangan, menutup mulutnya agar tangisnya tidak pecah.

Beberapa menit terasa seperti keabadian.

Lalu Aldren menghela napas panjang.

Bukan napas panik.

Napas lega.

Alaric langsung mendekat. "Bagaimana keadaannya?"

Aldren menoleh, wajahnya lebih tenang. "Ini ... bukan kondisi yang membahayakan."

Alaric dan Gideon sama-sama terdiam.

"Bukan ... membahayakan?" ulang Gideon bingung.

"Dia muntah darah," tambah Alaric, suaranya bergetar. "Bagaimana mungkin itu tidak berbahaya?"

Aldren tersenyum tipis. "Justru sebaliknya. Teh herbal yang aku racik untuk menghentikan penyebaran racun itu mulai diterima oleh tubuh Duchess. Muntah darah ini adalah proses pembuangan racun yang sudah lama mengendap."

Alaric terdiam, mencerna kata-kata itu.

"Jadi," suara Alaric lirih, "Liora membaik?'

"Iya," jawab Aldren mantap. "Proses detoksifikasi sudah dimulai. Kita hanya perlu penawar utamanya, dan Nyonya Duchess akan benar-benar pulih."

Alaric menghembuskan napas panjang, kedua tangannya mengusap wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak mendengar kabar itu, beban di dadanya sedikit terangkat.

Aldren menambahkan, "Aku akan menyiapkan obat tambahan. Untuk beberapa hari ke depan, Nyonya Duchess harus banyak istirahat, jangan bekerja berat. Pagi hari, berjalan ringan di bawah sinar matahari selama tiga puluh menit akan sangat membantu."

Semua mengangguk.

Liora sudah terlelap, mungkin karena kelelahan dan obat penenang ringan yang Aldren berikan.

Alaric duduk di kursi di samping tempat tidur. Ia menggenggam tangan Liora erat, seolah takut kehilangan sentuhan itu.

Aldren berkata pelan, "Nyonya Duchess akan baik-baik saja. Dia hanya perlu waktu."

Alaric menatap wajah istrinya lama, lalu berkata, "Kau hanya butuh satu tanaman itu untuk penawar, bukan?"

Aldren mengangguk. "Iya."

Alaric berdiri. "Kalau begitu aku yang akan pergi."

Gideon langsung bereaksi. "Yang Mulia, Anda tidak bisa pergi ke wilayah perbatasan timur begitu saja."

"Aku hanya perlu dua sampai tiga hari," jawab Alaric tegas. "Lebih cepat daripada menunggu orang-orangmu satu minggu."

"Anda harus sabar," kata Gideon menahan.

"Sabar?" Alaric menoleh, matanya tajam namun penuh ketakutan. "Bagaimana aku bisa sabar setelah melihat istriku penuh darah?"

Gideon dan Aldren terdiam.

Mereka melihat pria yang tidak pernah gentar, yang ditakuti musuh dan monster, kini tampak rapuh karena satu orang.

Alaric menoleh ke Aldren. “l"Siapkan kuda. Dan gambaran tanaman itu."

Aldren mengangguk pelan. "Baik."

Tak ada yang bisa membantahnya.

Alaric kembali menatap Liora yang tertidur. Ia membungkuk sedikit, menyentuhkan keningnya ke punggung tangan istrinya.

Dengan suara hampir tak terdengar, ia berbisik, "Aku akan segera kembali."

Dan kali ini ia tidak akan membiarkan apa pun menghalanginya.

1
Atik Kiswati
udah tamat aja nih.....
Nor Azlin
cerita tentang papa mama nya sudah tamat dengan ending nya yang penuh suka duka & bahagia yah aku sangat puas hati lah thor sukses buat mu yah sampai ketemu di lanjutan nya yah 😂😂
Archiemorarty: Makasih udah baca ceritanya kak, happy reading di sequel selanjutnya 🥰
total 1 replies
Alfia Amira
butuh kretek kyk nya si liola nih 😁😁
trueNetizen
suka sekali dengan cerita ini
Alfia Amira
panas lah kalo matahari nya dua kali lipat 🤭🤭🤭
Nor Azlin
thor penasaran ni kok ibu nya si Arron tidak ada bersama mereka yah ...apa dia sudah meninggal atau dia memang tidak dapat ikut yah🤔🤔🤔lanjutkan thor
Archiemorarty: Emaknya Aaron ada kok, nanti bakal ketemu di sequel 🤭
total 1 replies
Dian
lanjutt
Lusianina
akhirnya yg ditunggu2 OMG SO EXCITED!!!!😱😱😱
Nor Azlin
Alhamdulillah syukur akhirnya twins lahir ke dunia ini bertemu sama kakak Rowan nya sama anggota keluarga yang lain ... welcome baby twins semoga kalian berdua setangguh daddy mommy kalian yah jadilah anak2 yang berbakti pada kedua orang tua kalian begitu juga sama negara ... lanjutkan thor
Nor Azlin
🤣🤣🤣🤣betul sekali tu yang ngidam itu bukan Liora kan tapi si Alaric nya tu 😂😂😂kasihan sekali si Gideon nya tu sebut aja anak dalam perut Liora pasti Gideon pasti melunak kan hanya demi bayi si Liora aja tu 😆😆😆semoga senyuman juga keceriaan pada keluarga mereka berpanjangan yah ...lanjutkan thor
Nor Azlin
sudah pasti lah kakak kandung nya mereka tiga bersaudara kan thor ...nah kerana mereka bersaudara lah hukuman nya Liora di kasih liburan ke utara tempat kelahiran mereka Alias kampung halaman mereka bukan...seperti nya Liora sangat di sayangi dalam keluarga Alaric yah ...semoga Alaric bisa memburu Monster yang lain nya agar kehidupan keluarga kecil nya bisa hidup damai yah 😂😂😂selamat berburu Duke...lanjutkan thor
Archiemorarty: Gimana gx disayang, dia udah ngelametin Alaric, keluarganya, satu kerajaan. pasti disayang dia 🤭
total 1 replies
Cicih Sophiana
suami idaman hanya memuja satu wanita yaitu istri nya...🥰😍😍
Archiemorarty: Benar sekali 🤭
total 1 replies
Ani Susanti
cembokur
Nor Azlin
sudah aku katakan yah mereka akan mendapat anak selepas perang habis 😂😂🤣🤣tebakan aku benar deh ...semoga bahagia selalu yah Alaric Liora nya & tidak sabar mau ketemu sama Pangeran kecil sama Puteri kecil yah ...lanjutkan rhor
Archiemorarty: Siap siap ketemu para pembuat onar cadel ya 🤭
total 1 replies
Nor Azlin
nah itu yang membuat ceritanya si author menjadi seru & menantang untuk di baca yah😂😂😂bayangkan aja membaca nya dengan dada berdebar-debar juga emosi yang ketakutan kayak kita nonton filem lah di tv gitu 😂😂😂menyenangkan sekali lho aku suka thor tidak bosan jadi nya aku terhibur banget deh...semoga selepas pulang dari medan perang ini khabar gembira menyusul Alaric sama Liora nya bahawa Alaric junior sama Liora junior udah ada di dalam perut nya Liora yah ...aku rasa kan iya deh si Liora hamil kerana wajah sama pipi nya udah gembul kembali tu 😂😂😂 lanjutkan thor
Archiemorarty: Hahaha... tenang tenang...para bocil bakal hadir nanti 🤭
total 1 replies
Cicih Sophiana
berbuat apa Marquess sampai di tendang Liora...
Cicih Sophiana
mungkin Lilola kurus krn gak ada yg ngasih makan Duke... kasian😪
Cicih Sophiana
semoga Alaric pulang dengan sehat...
Cicih Sophiana
Alaric pasti selamat krn kan semangat untuk Lilola nya tercinta...
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee OFF💕
wkwwkkwk... klu udh Kaisar yg manggil hrs patuh yaa hahahaha
Terselamatkan krn ada Gideon 🤭🤭🤭😀
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee OFF💕: hahaha oh iyaa 🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!