Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21. KETAKUTAN ALARIC
Pembicaraan di Bangunan Kesehatan sebenarnya berjalan seperti biasa, tenang, terukur, dan penuh perhitungan.
Alaric duduk santai ruang kerja Aldren, lengan bersedekap, wajahnya serius namun tidak tegang.
Gideon bersandar pada pilar batu di dekat jendela, mendengarkan sambil sesekali menimpali. Topik mereka satu: penawar racun penggemuk yang bersarang lama di tubuh Liora.
"Dengan Veridorn Aegis," Aldren menjelaskan sambil membuka buku catatannya, "kita bisa benar-benar menetralisir sisa racun di dalam darah Duchess. Tanaman ini langka, tapi efeknya-"
Kata-kata Aldren terpotong oleh suara langkah kaki yang tergesa dan napas yang memburu.
Pintu Bangunan Kesehatan terbuka kasar.
Seorang pelayan berlari masuk dengan wajah pucat, matanya membelalak ketakutan.
"Tabib Aldren?!"
Aldren refleks berdiri. "Ada apa?"
Pelayan itu menelan ludah, suaranya bergetar.
"T-Tolong ... Nyonya Duchess ... muntah darah," ucap yang pelayan dengan wajah seperti ingin menangis.
Dunia Alaric seakan runtuh dalam satu detik.
Cangkir teh di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai, pecahannya berderak nyaring, namun tak satu pun dari mereka benar-benar mendengarnya.
"Muntah ... darah?" suara Alaric nyaris tidak terdengar.
Pelayan itu mengangguk cepat, air mata menggantung di sudut matanya.
Alaric tidak menunggu penjelasan lain.
Tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya.
Ia berlari.
Keluar dari Bangunan Kesehatan, menyusuri lorong panjang, menuruni tangga, melewati halaman dalam kastil dengan napas terengah. Mantelnya berkibar, sepatunya menghantam lantai batu tanpa ritme.
Satu nama terus berputar di kepalanya.
Liora.
"Bertahanlah," gumam Alaric berulang-ulang. "Tolong ... bertahanlah."
Baru semalam ... baru semalam ia memeluk Liora, menenangkan tubuh istrinya yang gemetar, mendengar napasnya yang perlahan tenang di dadanya.
Baru pagi ini pula Alaric melihat kebahagiaan para pelayan, senyum-senyum yang tulus karena akhirnya Duke dan Duchess mereka benar-benar bersama.
Lalu kenapa?
Kenapa kebahagiaan itu direnggut secepat ini?
Pikiran Alaric kacau. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya.
Ia tidak pernah takut perang.
Ia tidak pernah gentar monster.
Ia tidak goyah di hadapan kematian.
Tapi kehilangan Liora? Memikirkan sesuatu terjadi pada istrinya ....
Itu ketakutan yang belum pernah Alaric kenal sebelumnya.
Pintu kamar Liora tampak di ujung lorong.
Alaric tidak mengetuk.
Ia mendorong pintu itu terbuka dengan kasar.
"LIORA?!"
Suara itu terhenti di tenggorokannya.
Wajah Alaric memucat seketika.
Liora duduk di atas tempat tidur, tubuhnya sedikit membungkuk. Seprai putih di bawah Liora ternoda merah. Begitu pula sudut bibirnya, jejak darah yang belum sepenuhnya terhapus.
Pelayan-pelayan berdiri panik di sekeliling, termasuk Sasa yang wajahnya sudah basah oleh air mata. Panik dan takut terjadi sesuatu pada majikan kesayangannya.
Alaric berlari ke sisi tempat tidur.
"Liora?!" Alaric berlutut di hadapannya, tangan gemetar meraih wajah istrinya. "Apa yang terjadi?!"
Liora mengangkat pandangannya perlahan. Wajahnya pucat, matanya sayu, namun masih sadar.
Sebelum ia sempat berbicara, Alaric menoleh tajam ke para pelayan.
"Bagaimana ini bisa terjadi?!" suaranya meninggi, penuh kemarahan bercampur panik.
Sasa tersentak, menahan isak. "K-Kami tidak tahu, Yang Mulia. Kami hanya menyuguhkan teh herbal racikan Tabib Aldren seperti biasa. Tidak ada yang berbeda ..."
Alaric menggertakkan giginya. "Panggil Aldren. Sekarang. Secepatnya!"
Pelayan lain langsung berlari keluar kamar.
Alaric kembali fokus pada Liora. Ia merengkuh wajah pucat itu dengan kedua tangannya, mengusap lembut seolah takut sentuhan sedikit saja akan melukainya.
"Kau merasakan apa?" tanya Alaric rendah, nyaris memohon.
Liora menelan ludah dengan susah payah. "Dadaku ... sakit," jawabnya lemah.
Jantung Alaric serasa diremas.
"Sasa," panggil Alaric cepat. "Ambilkan kain bersih."
Sasa segera bergerak, tangannya gemetar saat menyerahkan kain lembut itu.
Alaric sendiri yang membersihkan sudut bibir Liora, gerakannya perlahan, penuh kehati-hatian. Ia juga menyuruh pelayan lain mengganti seprai yang terkena darah.
Tidak lama kemudian, langkah cepat terdengar kembali.
Aldren masuk dengan tas tabib di tangan, disusul Gideon.
Begitu melihat kondisi Liora, Aldren langsung bergerak tanpa banyak bicara. Ia memeriksa denyut nadi, mata, pernapasan, lalu membuka mulut Liora dengan lembut untuk melihat lebih jelas.
Alaric berdiri di sisi ranjang, tangan terkepal, napasnya tertahan.
Gideon berdiri sedikit di belakangnya, wajahnya sama tegangnya.
Sasa berdiri di sudut ruangan, menutup mulutnya agar tangisnya tidak pecah.
Beberapa menit terasa seperti keabadian.
Lalu Aldren menghela napas panjang.
Bukan napas panik.
Napas lega.
Alaric langsung mendekat. "Bagaimana keadaannya?"
Aldren menoleh, wajahnya lebih tenang. "Ini ... bukan kondisi yang membahayakan."
Alaric dan Gideon sama-sama terdiam.
"Bukan ... membahayakan?" ulang Gideon bingung.
"Dia muntah darah," tambah Alaric, suaranya bergetar. "Bagaimana mungkin itu tidak berbahaya?"
Aldren tersenyum tipis. "Justru sebaliknya. Teh herbal yang aku racik untuk menghentikan penyebaran racun itu mulai diterima oleh tubuh Duchess. Muntah darah ini adalah proses pembuangan racun yang sudah lama mengendap."
Alaric terdiam, mencerna kata-kata itu.
"Jadi," suara Alaric lirih, "Liora membaik?'
"Iya," jawab Aldren mantap. "Proses detoksifikasi sudah dimulai. Kita hanya perlu penawar utamanya, dan Nyonya Duchess akan benar-benar pulih."
Alaric menghembuskan napas panjang, kedua tangannya mengusap wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak mendengar kabar itu, beban di dadanya sedikit terangkat.
Aldren menambahkan, "Aku akan menyiapkan obat tambahan. Untuk beberapa hari ke depan, Nyonya Duchess harus banyak istirahat, jangan bekerja berat. Pagi hari, berjalan ringan di bawah sinar matahari selama tiga puluh menit akan sangat membantu."
Semua mengangguk.
Liora sudah terlelap, mungkin karena kelelahan dan obat penenang ringan yang Aldren berikan.
Alaric duduk di kursi di samping tempat tidur. Ia menggenggam tangan Liora erat, seolah takut kehilangan sentuhan itu.
Aldren berkata pelan, "Nyonya Duchess akan baik-baik saja. Dia hanya perlu waktu."
Alaric menatap wajah istrinya lama, lalu berkata, "Kau hanya butuh satu tanaman itu untuk penawar, bukan?"
Aldren mengangguk. "Iya."
Alaric berdiri. "Kalau begitu aku yang akan pergi."
Gideon langsung bereaksi. "Yang Mulia, Anda tidak bisa pergi ke wilayah perbatasan timur begitu saja."
"Aku hanya perlu dua sampai tiga hari," jawab Alaric tegas. "Lebih cepat daripada menunggu orang-orangmu satu minggu."
"Anda harus sabar," kata Gideon menahan.
"Sabar?" Alaric menoleh, matanya tajam namun penuh ketakutan. "Bagaimana aku bisa sabar setelah melihat istriku penuh darah?"
Gideon dan Aldren terdiam.
Mereka melihat pria yang tidak pernah gentar, yang ditakuti musuh dan monster, kini tampak rapuh karena satu orang.
Alaric menoleh ke Aldren. “l"Siapkan kuda. Dan gambaran tanaman itu."
Aldren mengangguk pelan. "Baik."
Tak ada yang bisa membantahnya.
Alaric kembali menatap Liora yang tertidur. Ia membungkuk sedikit, menyentuhkan keningnya ke punggung tangan istrinya.
Dengan suara hampir tak terdengar, ia berbisik, "Aku akan segera kembali."
Dan kali ini ia tidak akan membiarkan apa pun menghalanginya.
btw aku ngebayangin, kalo seandainya di masa Alaric udah ada HP, lagi perang sambi live streaming : hay guys kita lagi siapp² mau perang nih, kita mau musnahin moster, nanti aku kasih tau yaa monster nya itu seperti apa
🤣🤣🤣
hbs nangis ketawa ngakak saat baca
Pipi gembul kesayangan Alaric... menghilang. 🤣🤣🤣
semoga Alaric baik² saja, othor membuyku menangis lagi 😭
ommoooo