NovelToon NovelToon
ISTRI GENDUT MILIK DUKE

ISTRI GENDUT MILIK DUKE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:86.4k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.

Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.

Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.

Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.

"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."

Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.

Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21. KETAKUTAN ALARIC

Pembicaraan di Bangunan Kesehatan sebenarnya berjalan seperti biasa, tenang, terukur, dan penuh perhitungan.

Alaric duduk santai ruang kerja Aldren, lengan bersedekap, wajahnya serius namun tidak tegang.

Gideon bersandar pada pilar batu di dekat jendela, mendengarkan sambil sesekali menimpali. Topik mereka satu: penawar racun penggemuk yang bersarang lama di tubuh Liora.

"Dengan Veridorn Aegis," Aldren menjelaskan sambil membuka buku catatannya, "kita bisa benar-benar menetralisir sisa racun di dalam darah Duchess. Tanaman ini langka, tapi efeknya-"

Kata-kata Aldren terpotong oleh suara langkah kaki yang tergesa dan napas yang memburu.

Pintu Bangunan Kesehatan terbuka kasar.

Seorang pelayan berlari masuk dengan wajah pucat, matanya membelalak ketakutan.

"Tabib Aldren?!"

Aldren refleks berdiri. "Ada apa?"

Pelayan itu menelan ludah, suaranya bergetar.

"T-Tolong ... Nyonya Duchess ... muntah darah," ucap yang pelayan dengan wajah seperti ingin menangis.

Dunia Alaric seakan runtuh dalam satu detik.

Cangkir teh di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai, pecahannya berderak nyaring, namun tak satu pun dari mereka benar-benar mendengarnya.

"Muntah ... darah?" suara Alaric nyaris tidak terdengar.

Pelayan itu mengangguk cepat, air mata menggantung di sudut matanya.

Alaric tidak menunggu penjelasan lain.

Tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya.

Ia berlari.

Keluar dari Bangunan Kesehatan, menyusuri lorong panjang, menuruni tangga, melewati halaman dalam kastil dengan napas terengah. Mantelnya berkibar, sepatunya menghantam lantai batu tanpa ritme.

Satu nama terus berputar di kepalanya.

Liora.

"Bertahanlah," gumam Alaric berulang-ulang. "Tolong ... bertahanlah."

Baru semalam ... baru semalam ia memeluk Liora, menenangkan tubuh istrinya yang gemetar, mendengar napasnya yang perlahan tenang di dadanya.

Baru pagi ini pula Alaric melihat kebahagiaan para pelayan, senyum-senyum yang tulus karena akhirnya Duke dan Duchess mereka benar-benar bersama.

Lalu kenapa?

Kenapa kebahagiaan itu direnggut secepat ini?

Pikiran Alaric kacau. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya.

Ia tidak pernah takut perang.

Ia tidak pernah gentar monster.

Ia tidak goyah di hadapan kematian.

Tapi kehilangan Liora? Memikirkan sesuatu terjadi pada istrinya ....

Itu ketakutan yang belum pernah Alaric kenal sebelumnya.

Pintu kamar Liora tampak di ujung lorong.

Alaric tidak mengetuk.

Ia mendorong pintu itu terbuka dengan kasar.

"LIORA?!"

Suara itu terhenti di tenggorokannya.

Wajah Alaric memucat seketika.

Liora duduk di atas tempat tidur, tubuhnya sedikit membungkuk. Seprai putih di bawah Liora ternoda merah. Begitu pula sudut bibirnya, jejak darah yang belum sepenuhnya terhapus.

Pelayan-pelayan berdiri panik di sekeliling, termasuk Sasa yang wajahnya sudah basah oleh air mata. Panik dan takut terjadi sesuatu pada majikan kesayangannya.

Alaric berlari ke sisi tempat tidur.

"Liora?!" Alaric berlutut di hadapannya, tangan gemetar meraih wajah istrinya. "Apa yang terjadi?!"

Liora mengangkat pandangannya perlahan. Wajahnya pucat, matanya sayu, namun masih sadar.

Sebelum ia sempat berbicara, Alaric menoleh tajam ke para pelayan.

"Bagaimana ini bisa terjadi?!" suaranya meninggi, penuh kemarahan bercampur panik.

Sasa tersentak, menahan isak. "K-Kami tidak tahu, Yang Mulia. Kami hanya menyuguhkan teh herbal racikan Tabib Aldren seperti biasa. Tidak ada yang berbeda ..."

Alaric menggertakkan giginya. "Panggil Aldren. Sekarang. Secepatnya!"

Pelayan lain langsung berlari keluar kamar.

Alaric kembali fokus pada Liora. Ia merengkuh wajah pucat itu dengan kedua tangannya, mengusap lembut seolah takut sentuhan sedikit saja akan melukainya.

"Kau merasakan apa?" tanya Alaric rendah, nyaris memohon.

Liora menelan ludah dengan susah payah. "Dadaku ... sakit," jawabnya lemah.

Jantung Alaric serasa diremas.

"Sasa," panggil Alaric cepat. "Ambilkan kain bersih."

Sasa segera bergerak, tangannya gemetar saat menyerahkan kain lembut itu.

Alaric sendiri yang membersihkan sudut bibir Liora, gerakannya perlahan, penuh kehati-hatian. Ia juga menyuruh pelayan lain mengganti seprai yang terkena darah.

Tidak lama kemudian, langkah cepat terdengar kembali.

Aldren masuk dengan tas tabib di tangan, disusul Gideon.

Begitu melihat kondisi Liora, Aldren langsung bergerak tanpa banyak bicara. Ia memeriksa denyut nadi, mata, pernapasan, lalu membuka mulut Liora dengan lembut untuk melihat lebih jelas.

Alaric berdiri di sisi ranjang, tangan terkepal, napasnya tertahan.

Gideon berdiri sedikit di belakangnya, wajahnya sama tegangnya.

Sasa berdiri di sudut ruangan, menutup mulutnya agar tangisnya tidak pecah.

Beberapa menit terasa seperti keabadian.

Lalu Aldren menghela napas panjang.

Bukan napas panik.

Napas lega.

Alaric langsung mendekat. "Bagaimana keadaannya?"

Aldren menoleh, wajahnya lebih tenang. "Ini ... bukan kondisi yang membahayakan."

Alaric dan Gideon sama-sama terdiam.

"Bukan ... membahayakan?" ulang Gideon bingung.

"Dia muntah darah," tambah Alaric, suaranya bergetar. "Bagaimana mungkin itu tidak berbahaya?"

Aldren tersenyum tipis. "Justru sebaliknya. Teh herbal yang aku racik untuk menghentikan penyebaran racun itu mulai diterima oleh tubuh Duchess. Muntah darah ini adalah proses pembuangan racun yang sudah lama mengendap."

Alaric terdiam, mencerna kata-kata itu.

"Jadi," suara Alaric lirih, "Liora membaik?'

"Iya," jawab Aldren mantap. "Proses detoksifikasi sudah dimulai. Kita hanya perlu penawar utamanya, dan Nyonya Duchess akan benar-benar pulih."

Alaric menghembuskan napas panjang, kedua tangannya mengusap wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak mendengar kabar itu, beban di dadanya sedikit terangkat.

Aldren menambahkan, "Aku akan menyiapkan obat tambahan. Untuk beberapa hari ke depan, Nyonya Duchess harus banyak istirahat, jangan bekerja berat. Pagi hari, berjalan ringan di bawah sinar matahari selama tiga puluh menit akan sangat membantu."

Semua mengangguk.

Liora sudah terlelap, mungkin karena kelelahan dan obat penenang ringan yang Aldren berikan.

Alaric duduk di kursi di samping tempat tidur. Ia menggenggam tangan Liora erat, seolah takut kehilangan sentuhan itu.

Aldren berkata pelan, "Nyonya Duchess akan baik-baik saja. Dia hanya perlu waktu."

Alaric menatap wajah istrinya lama, lalu berkata, "Kau hanya butuh satu tanaman itu untuk penawar, bukan?"

Aldren mengangguk. "Iya."

Alaric berdiri. "Kalau begitu aku yang akan pergi."

Gideon langsung bereaksi. "Yang Mulia, Anda tidak bisa pergi ke wilayah perbatasan timur begitu saja."

"Aku hanya perlu dua sampai tiga hari," jawab Alaric tegas. "Lebih cepat daripada menunggu orang-orangmu satu minggu."

"Anda harus sabar," kata Gideon menahan.

"Sabar?" Alaric menoleh, matanya tajam namun penuh ketakutan. "Bagaimana aku bisa sabar setelah melihat istriku penuh darah?"

Gideon dan Aldren terdiam.

Mereka melihat pria yang tidak pernah gentar, yang ditakuti musuh dan monster, kini tampak rapuh karena satu orang.

Alaric menoleh ke Aldren. “l"Siapkan kuda. Dan gambaran tanaman itu."

Aldren mengangguk pelan. "Baik."

Tak ada yang bisa membantahnya.

Alaric kembali menatap Liora yang tertidur. Ia membungkuk sedikit, menyentuhkan keningnya ke punggung tangan istrinya.

Dengan suara hampir tak terdengar, ia berbisik, "Aku akan segera kembali."

Dan kali ini ia tidak akan membiarkan apa pun menghalanginya.

1
Mita Paramita
kok tamat sih🤨🤨🤨 lagi seru serunya.
Archiemorarty: ada Sequel nanti kemungkinan kak 🥰
total 1 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐨𝐡 𝐭𝐚𝐦𝐚𝐭 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐨𝐡 𝐨𝐤 𝐭𝐡𝐨𝐫😘😘
total 2 replies
Lala Kusumah
yaaaaaa tamat, tapi gapapa happy ending, bahagianya 😍😍😍
tapi nanti ada cerita lanjutan anak-anak ya 🙏🙏🙏🫰🫰👍👍
Archiemorarty: kemungkinan ada, walau nggak cadel lagi nanti mereka 🤭
total 1 replies
Ir
sampai ketemu di next cerita calon bandit kerjaan 🤭🤭
Archiemorarty: calon bandit kerajaan gx tuh 🤣
total 1 replies
Lala Kusumah
tegaaaanng pisan 🫣🫣😵‍💫😵‍💫
Jelita S
terimakasih thor atas ceritamu,,lnjut y cerita Elala🤣🤣
Archiemorarty: Siap siap, ditunggu ya. tapi gx akan jadi bocil cadel lagi nanti 🤭
total 1 replies
Miss Typo
keren 👍👍👍
Miss Typo: masama thor 🤗
total 2 replies
Miss Typo
kok tau² tamat thor????
happy ending 👏👍

terimakasih thor 🙏, selalu sukses dgn karya-karyanya di novel dan tunggu cerita para bocil cadel juga Rowan 😍
Miss Typo: masama thor 🤗

iya, pasti dah pada gede mereka 😁
total 2 replies
Eli Rahma
ehhh,..beneran tamat nih thor..tp tar ada kelanjutanyya kan ..ttg para bocil..
Archiemorarty: kemungkinan ada, masih dipikirkan. soalnya kalau jadi satu cerita, panjang banget
total 1 replies
Miss Typo
tunggu saat waktunya tiba Elara bisa mengendalikan sihir itu
Miss Typo
belum saatnya Elara menggunakan kekuatannya
Ir
hmm gampang ini mah kalo misal nya mau bikin Elara meratakan dunia pancing aja emosi nya pasti segel nya Arram bakalan hancur, jangan sampe aja di manfaatkan sama orang² jahat, sekarang tinggal Evan kak keajaiban apa yang Evan punya ga adil kalo Elara doang yang di spill 🤣🤣
Archiemorarty: Hahaha....Evan sama kayak bapak emaknya dia 🤭
total 1 replies
Jelita S
Lanjut thor
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮 𝐢𝐧𝐝𝐞𝐫𝐚 𝐤𝐞 𝟔 𝐭𝐡𝐨𝐫? 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐡 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢 𝐫𝐞𝐢𝐤𝐢 𝐚𝐝𝐚 𝐢𝐬𝐭𝐢𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐭𝐮𝐩 𝐚𝐮𝐫𝐚 ...

𝐚𝐮𝐫𝐚 𝐝𝐢 𝐫𝐞𝐢𝐤𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐮𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐦𝐚𝐤𝐡𝐥𝐮𝐤 𝐠𝐚𝐢𝐛 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐫𝐬𝐛𝐭 𝐛𝐬 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐨𝐛𝐚𝐭𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 😁😁
Jelita S
wah msih lnjut rupanya sang penyihir hitam y
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐡𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐚𝐬𝐚𝐡 𝐠𝐤 𝐬𝐢𝐡 𝐤𝐞𝐦𝐚𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐄𝐥𝐚𝐫𝐚 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐝𝐢𝐡𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧?? 😕😕😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐧𝐤𝐪𝐮 𝐲𝐠 𝐬𝐮𝐥𝐮𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐬 𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐥𝐢𝐭𝐚 𝐛𝐬 𝐧𝐠𝐨𝐛𝐫𝐨𝐥 𝐝𝐠𝐧 𝐦𝐚𝐤𝐡𝐥𝐮𝐤 𝐡𝐚𝐥𝐮𝐬 𝐭𝐡𝐨𝐫😭😭 𝐭𝐩 𝐩𝐚𝐬 𝐮𝐝𝐡 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐓𝐊 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐞 𝐬𝐤𝐫𝐧𝐠 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐝𝐞 𝐝𝐢𝐚 𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐠𝐤 𝐛𝐬 𝐥𝐡𝐭 𝐦𝐚𝐤𝐡𝐥𝐮𝐤 𝐡𝐥𝐬 𝐥𝐠 😕😕
total 2 replies
Ir
akhhh aku bari mau mikir monster selanjutnya Evan yang bikin kejutan, ternyata emak nya, ini dua bocil Alaric harus di ajarin mengendalikan diri ini, kalo engga hancur dunia
Archiemorarty: Baru tiga tahun udah duarrrr 🙄
total 1 replies
Ir
elara dapet ini pasti dari leluhur nya yang dulu² pasti kan, soalnya Alaric ga bisa sihir, Lior juga ga punya, kak pokoknya harus di jelasin sih dari mana Elara sama Evan dapet kekuatan itu
Archiemorarty: Ohoho...siap siap 🤭
total 1 replies
Miss Typo
di bab brpa tuh ya saat Alaric dan pasukannya menyerah monster hampir menyerah dan Liora datang bersama pasukannya membantu, trs ada anak yg bilang itu lho, bingung ngomongnya. matahari dan bulan kalau gak salah anak kembar Liora. berarti Elara matahari nya panas membara dengan sihir nya, apa Evan yg akan merendam nya saat Elara kehilangan kendali dari kekuatan sihirnya. aaahh gak tau lah 🤣
Archiemorarty: boleh boleh 🤭
total 3 replies
Miss Typo
berarti yg matahari Elara ya thor, wah kekuatan Elara keluar karna melihat kakaknya berdarah gak sadarkan diri karna monster itu, dan pas monster mendekat mau menyerang dia gak rela semua terluka seperti Rowan
Miss Typo: mantep nih 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!