Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia
Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang
Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Bisik-bisik Jin di Kegelapan
Hutan Durian Berduri menyergap rombongan seperti nafas dingin yang merayap dari dalam bumi. Pohon-pohon durian liar menjulang bagai penjaga kuno, duri-durinya runcing dan hitam berkilat di bawah kabut subuh yang tebal. Akar-akar menjalar di tanah seperti urat-urat naga yang hidup, sementara daun-daun basah meneteskan air dingin yang menusuk leher dan tulang. Udara terasa berat, lembab, penuh aroma tanah basah bercampur kemenyan yang semakin pekat—bau manis yang menggoda tapi beracun, seperti hembusan napas dari dunia yang tak seharusnya disentuh.
Obor-obor di tangan warga berkedip lemah, cahayanya hanya cukup untuk menerangi beberapa langkah di depan. Bisik-bisik mulai terdengar lagi, semakin jelas, semakin dekat. Bukan angin, bukan daun bergesekan—itu suara-suara halus yang memanggil nama mereka satu per satu, penuh janji dan ancaman. “Asep… kenapa kau ragu?” “Nen… datanglah, anakku…” “Ujang… kau tahu apa yang kau inginkan…”
Kang Ujang, yang berjalan paling depan dengan tombak di tangan, tiba-tiba terhenti. Matanya menyipit menatap kabut di depan. “Saya denger… suara perempuan. Panggil nama saya.” Sebelum ada yang sempat bereaksi, angin menderu pelan, kabut tebal menyelimuti tubuhnya seperti selimut sutra basah. Rombongan berteriak memanggil, tapi Kang Ujang sudah lenyap—terjebak dalam dunia ilusi yang diciptakan hutan itu.
Di dalam kabut yang lembab dan hangat seperti pelukan terlarang, dunia berubah. Pohon-pohon menghilang, digantikan pemandangan yang terlalu nyata: sebuah sungai kecil di pinggir desa, airnya jernih mengalir tenang, cahaya pagi menyinari permukaannya hingga berkilau seperti permata cair. Dan di tepi sungai itu berdiri seorang perempuan—Teh Sari, ibu muda yang malam tadi tergelatak pingsan di lantai rumahnya.
Tapi ini bukan Teh Sari yang rapuh dan ketakutan seperti yang dilihat Kang Ujang semalam. Ilusi ini membuatnya jauh lebih memikat, lebih sempurna, lebih menggoda daripada kenyataan. Ia berdiri di air dangkal, kain jarik batiknya basah menempel ketat di tubuhnya, memperlihatkan lekuk pinggul yang penuh dan montok, garis pinggang yang ramping, serta payudara yang menonjol tegas di balik kebaya kuning tipis yang sudah tembus pandang karena air. Rambut hitamnya yang panjang terurai basah hingga pinggang, helai-helainya menempel di kulit kuning langsat yang berkilau, seperti sutra hitam yang baru dicelup embun pagi. Kulitnya mulus tanpa cela, berkilau lembut di bawah cahaya ilusi yang hangat.
Teh Sari tersenyum tipis, bibir merahnya melengkung penuh godaan, mata hitam pekatnya menatap Kang Ujang dengan pandangan yang membakar. “Ujang… akhirnya kau datang juga,” bisiknya. Suaranya lembut, serak, seperti hembusan angin musim panas yang membawa aroma bunga melati bercampur kemenyan. Ia melangkah keluar dari air, jariknya tersingkap tinggi memperlihatkan paha mulus yang panjang dan berkilau tetesan air. Setiap langkahnya membuat payudaranya bergoyang pelan, kain tipis kebaya menempel ketat hingga garis putingnya samar terlihat.
Kang Ujang tak bisa bergerak. Napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang seperti ingin melompat keluar. Ia ingat malam tadi—bagaimana ia hampir menyentuh tubuh yang sama ini saat Teh Sari pingsan di lantai. Godaan itu kini hidup kembali, lebih nyata, lebih panas.
Teh Sari mendekat perlahan. Tangan lembutnya menyentuh lengan Kang Ujang, dingin tapi membara, seperti api yang tersembunyi di balik salju. “Ingat malam tadi, Ujang? Saat kau ingin menyentuhku… tapi kau takut. Sekarang tak ada yang melihat. Hutan ini milik kita. Tubuhku… milikmu.” Ia mendekatkan wajahnya hingga napasnya terasa panas di bibir Kang Ujang. Aroma tubuhnya menyengat—melati, kemenyan, dan sesuatu yang lebih dalam, lebih liar.
Kang Ujang menelan ludah. Matanya turun ke payudara Teh Sari yang naik turun pelan, ke lekuk pinggul yang menggoda, ke paha mulus yang masih basah oleh air sungai. Tangan ilusi itu meraih tangan Kang Ujang, membawanya ke pinggangnya yang ramping, lalu naik perlahan ke payudara yang montok dan lembut. Jari-jarinya meremas pelan, merasakan kehangatan dan kelembutan yang nyaris membuatnya kehilangan akal. “Ujang… rasakan. Ini yang kau inginkan sejak malam tadi, kan? Tak ada Kang Asep. Tak ada Daeng Tasi. Hanya kita.”
Dalam hati Kang Ujang, perang sedang berkecamuk sengit. “Ini bukan nyata… ini jebakan. Tapi… Ya Tuhan, kenapa terasa begini nyata? Tubuhnya… baunya… sentuhannya… saya hampir gila.” Nafsunya membutakan, tangannya hampir meremas lebih kuat, hampir menarik kebaya itu hingga terbuka sepenuhnya. Bibir Teh Sari semakin dekat, hampir menyentuh bibirnya, hembusan napasnya panas dan manis seperti madu beracun.
Tapi tiba-tiba suara itu berubah—lembut menjadi serak, seperti suara Mbah Saroh yang pernah didengar desa. “Tetap di sini, Ujang… lupakan mereka. Lupakan desa. Miliki aku… selamanya.”
Itu yang menyadarkannya. Kang Ujang mendorong ilusi itu dengan keras, tombaknya menebas udara. “Bukan! Ini bukan Teh Sari! Setan!” Kabut mulai pecah, suara rombongan terdengar samar memanggil namanya. Ia berlari menembus kabut, napas tersengal, jantung masih berdegup kencang karena godaan yang nyaris menelannya hidup-hidup.
Ketika Kang Ujang muncul kembali di hadapan rombongan, wajahnya pucat, keringat membasahi seluruh tubuhnya. “Saya… saya liat ilusi. Teh Sari… dia… hampir saya jatuh lagi.” Kang Asep menatapnya tajam, tapi tak bicara apa-apa—ia tahu godaan itu nyaris menimpa dirinya juga malam tadi.
Pak Kades menepuk bahu Kang Ujang. “Itu jebakan jin. Mereka tahu kelemahan kita. Tetap kuat. Jangan lepaskan doa.”
Mereka melanjutkan perjalanan, dan tak lama kemudian menemukan gubuk tua yang reyot, mirip sekali dengan yang dibakar tiga puluh tahun lalu—atap daun rumbia compang-camping, dinding anyaman bambu berlubang. Di dalamnya kosong, hanya ada sehelai rambut kelabu panjang tergeletak di lantai, basah dan berbau hangus. Dan dari dalam gubuk itu, terdengar tangisan bayi samar, seperti suara yang datang dari dunia lain.
Siti Aisyah memegang dada, napasnya tersengal. “Dia di sini… tapi bukan di sini. Ini masih jebakan. Kita belum sampai ke tempat sebenarnya.”
Rombongan tahu: hutan ini hidup, dan bisik-bisik jin hanyalah permulaan dari kegelapan yang jauh lebih dalam.