NovelToon NovelToon
Tergoda Janda Kembang

Tergoda Janda Kembang

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Romansa pedesaan / CEO
Popularitas:91k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.

Tapi, nasib justru mempermainkannya. Malam itu, Rayyan menyelamatkan Lilis yang hendak di lecehkan seseorang, tapi Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang membuat warga desa salah paham, hingga mengharuskannya menikahi Lilis, seorang janda kembang.

Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?

Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#32

#32

“Sudah datang?” tanya Monica, bangkit dari pembaringan dengan hanya mengenakan selimut untuk menutupi tubuh polosnya. 

“Diam saja di sana, aku siapkan buburnya,” kata Dio, mencegah Monica mendekat ke arahnya. Dio khawatir terjadi sesuatu dengan janin mereka, karena semalam Monica mengeluh sakit setelah mereka bergulat. 

Monica tersenyum dan kembali duduk di tempatnya semula, menunggu dengan sabar ketika Dio menyiapkan bubur ayam kaki lima yang ia inginkan untuk sarapan pagi ini. “Ini makanlah.” 

“Terima kasih, Sayang.” Monica menerima piring berisi bubur ayamnya. Sejak hamil seleranya berubah, biasanya ia tak pernah mau makan-makanan yang dijual di pinggir jalan, tapi sekarang sering sekali menginginkannya, sungguh kebiasaan yang aneh. 

Semalam mengatakan ingin menginap di hotel kamar VVIP, alih-alih tidur di rumah mereka sendiri. Tapi pagi harinya menginginkan sesuatu yang harganya berbanding terbalik dengan keinginannya semalam, bubur ayam kaki lima. 

“Seleramu aneh sekali,” gerutu Dio. 

“Gimana lagi, ini keinginan anakmu, calon penerus keluarga Erlangga. Biar dia tidak ngileran, Mas harus memastikan menuruti semua keinginannya,” cicit Monica manja. 

Karena Itulah Dio menurut saja, padahal permintaan Monica kadang cukup menyulitkan. Membuat Dio rela mengutak-atik bahkan melakukan mark up, karena gajinya belum cukup untuk membelanjakan perhiasan mahal yang selalu diinginkan Monica nyari setiap bulan. Kadang sebulan lebih dari dua kali. 

Di tengah acara sarapan, ponsel Dio berdering, pria itu pun menjauh ke balkon, agar Monica tak mendengar pembicaraannya. 

“Tuan, bagaimana ini? Saya gak bisa leluasa bergerak. Karena dua orang dari Ibu Kota itu benar-benar memeriksa keuangan perusahaan, hingga pengeluaran Inventaris yang paling kecil, bahkan hari sabtu begini, saya pikir mereka istirahat, ternyata tetap datang ke kantor,” lapor asisten Dio. 

“Padahal rencana saya, hari ini mau saya bereskan, agar lebih leluasa, tapi tetap tak bisa. Saya harus bagaimana, Tuan?” 

“Haish, sial!” 

“Apa, Tuan?”

“Ah, tidak, bukan kamu. Aku mengumpat pada dua orang itu.” 

Dio merasa makin terpojok, Mbah Nuning benar-benar tak main-main dengan ancamannya. Wanita itu tak mau mewariskan sahamnya padahal Dio sudah mengabulkan keinginannya untuk memiliki cicit. Tapi karena berasal dari wanita selain mantan istri pertamanya, Mbah Nuning pun urung melanjutkan niatnya. 

Padahal Dio pikir, saham Mbah Nuning sudah resmi di berikan padanya ketika akad nikahnya dengan Lilis. Rupanya hal itu belum terealisasi. 

Dio terus berpikir keras, namun sejauh apapun ia berpikir, tak satupun cara lagi yang bisa dia pikirkan. Hingga pria itu pun hanya bisa menghembuskan nafas pasrah. 

•••

Di peternakan milik Juragan Sastro. 

Siang terik membakar, namun pekerjaan Bu Saodah belum juga berakhir, karena ia masih harus meletakkan rumput segar untuk sapi-sapi di kandang. 

“Odah, ayo cepat ngeruk kotorannya!” perintah Lasmi, salah satu buruh peternakan juga, namun, wanita itu sudah menyelesaikan tugasnya lebih dulu. Sementara Bu Saodah, masih saja mengeruk kotoran secara perlahan karena belum terbiasa bekerja dengan ritme cepat. 

“Iya, ini juga sudah cepat, bawel sekali.” Bu Saodah menggerutu kesal, karena Lasmi selalu memarahinya. Karena Bu Saodah lebih banyak istirahat daripada bekerja. 

“Bawel?! Kamu bilang aku bawel?!” Pekik Lasmi dengan mata melotot. “Lebih baik bawel tapi aku bekerja dengan gesit, sedangkan kamu pemalas, baru juga pegang sapu sudah istirahat.” 

Di peternakan itu, kabar tentang Bu Saodah segera menyebar dengan cepat, para biang gosip yang tak pernah henti mencari bahan rumpian, dengan cepat menemukan alasan mengapa Bu Saodah ada di tempat itu. 

Setelah mereka tahu apa penyebabnya, para ibu yang bekerja disana memandang Bu Saodah dengan tatapan mencibir. Tak ada yang tak mengenal sosok Juragan Sastro, pria itu sangat baik, dan gemar menolong. Karena itulah ia setuju saja ketika Bu Saodah menawarkan Lilis, karena wanita itu beralasan, Lilis sangat kesulitan setelah diceraikan suaminya. 

Kini setelah tahu kebohongan Bu Saodah, para pekerja di peternakan, khususnya para wanita, ramai-ramai mencibir kelakuan Bu Saodah yang tega menikahkan Lilis, demi bisa hidup berkecukupan. 

“Memang ada larangan orang beristirahat?” 

“Ya memang tidak ada, tapi kalau kamu leletnya luar biasa, lebih lelet dari siput. Gara-gara kamu lelet bekerja, kami semua jadi terlambat menyelesaikan pekerjaan!” omel Lasmi geram. Karena ia sudah ingin pulang dan selonjoran, tapi Bu Saodah yang lambat, membuatnya terlambat pulang ke rumahnya. 

“Terserah aku, mau bekerja sampai kapan, kalau kamu mau pulang, pulang saja duluan,” usir Saodah dengan egois. Padahal Lasmi tak bisa lewat karena kotoran-kotoran sapi masih berserakan di jalan. Jika ia lewat begitu saja, maka Bi Saodah harus mengulang pekerjaan, karena pasti kembali berantakan. 

“Ya, sudah, kalau kamu maunya begitu. Padahal aku memikirkanmu.” Lasmi menggerutu, kemudian mulai mendorong gerobak ukuran sedang, yang berisi rumput segar untuk pakan sapi. 

Keluar masuk kandang, membuat lantai yang sebagian bersih dari kotoran sapi, kini kotoran-kotoran sapi itu kembali berceceran karena terseret ujung gerobak, atau terbawa roda gerobak yang berputar keluar masuk kandang. Bu Saodah menjerit seperti orang kesetanan, karena pekerjaan yang ia lakukan susah payah, kini kembali harus dia ulang. 

Tapi Lasmi tak lagi mempedulikan, karena Bu Saodah tak mau diberi peringatan. 

•••

Di Desa Kembang Turi. 

Seperti biasa, setiap pagi dan sore, Nanang dibantu emaknya datang ke peternakan dan kebun cabai milik Rayyan, guna menyiram bibit cabai serta merawat kambing-kambing yang berada di sana. 

Sejak awal ide membeli peternakan sudah Nanang tentang mati-matian, namun, Rayyan tak mempedulikan. Dan akhirnya kini, dirinya juga yang ketiban jadi pengganti mandor abal-abal, yang sedang bulan madu di kota. 

“Nasib, nasib,” keluh Nanang. “Untung teman tersayang, kalau tidak, sudah aku sembelih kambing-kambing itu,” sambung Nanang, sedikit geram. Karena kini pekerjaannya bertambah, selain merawat sawahnya, ia juga harus merawat perkebunan milik Rayyan. 

“Nang, kalau sudah selesai ayo pulang, Emak belum sholat ashar.” Bu Siti yang sedang istirahat, tiba-tiba bersuara. 

“Iya, Mak, ini juga sudah beres, kambing-kambingnya sudah makan, kandangnya pun sudah aku bersihkan.” 

Bu Siti pun bangkit, meski lelah ia tidak mengeluh, karena ia suka dengan ide Rayyan yang mengubah peternakan, menjadi ladang cabai. Dari kacamata pengamatan Bu Siti, hal itu lebih menguntungkan. 

Nanang merapikan peralatan yang baru selesai ia pergunakan, pria itu berjalan ke depan pagar lalu menggembok tempat tersebut. Tapi—

“Mas Nanang, aku ke rumah Mas Nanang tadi.” 

Deg! 

Hal ini juga yang membuat Nanang bersedia merawat kebun Rayyan, karena ia bisa sering berurusan dengan Ratri anak Pak Noto, juragan cabai dari desa sebelah. 

“Ada perlu apa, ya?” 

Ratri turun dari motor, “Mau nyari Mas Rayyan. Nanya soal kiriman cabai, jadi atau tidak?” 

“Oh, jadi. Rayyan sedang ke kota ada urusan, dia bilang langsung ke aku saja. Apa sudah siap kirim?” 

“Sudah, Mas. Tadi pagi sudah terkumpul, dan kalau jadi, nanti malam di angkut. Minta alamat pabriknya.” 

“Oh, iya, nanti aku kirim via WA saja ya? Soalnya catatan alamat ada di ponsel.” 

Ratri pun mengangguk, kemudian kembali ke motornya. “Oh, iya, Mas. Tumben warungnya Lilis libur?” 

Ratri adalah teman sekolah Lilis, jadi Nanang tak heran bila Ratri bertanya. 

“Oh, Lilisnya sedang pergi.” 

“Pergi kemana?” 

“Ke kota, diajak suaminya,” jawab Nanang tanpa curiga. 

“Suami? Lilis sudah menikah lagi?” 

“Iya.” 

“Maaf, kalau boleh tahu dengan siapa? Soalnya aku tak dengar kabar apa-apa.” Ratri semakin kepo, 

“Ini, Lilis dinikahi Rayyan.”

Deg! 

1
Rahmawati
dulu lilis makan asal kenyang, gk peduli ada gizinya ato tidak.
cepet pulih ya lis
ardan
bagus ceritanya seru nih
Bunda Aish
wes cari yang lain saja Nang, yang gak menilai dari fisik dan materi.... makan hati kalau dpt yg begituan mah
Bunda Aish
habis itu lihatlah mukanya anaknya Monica ya Dio biar semakin menyesal kau memilih wc umum 😏
Esther
Makan yang banyak Lis supaya cepat pulih kesehatanmu
Shee_👚
nah Nanang kenapa ini, ngasih kabar kah kalau ibu nanang harus op
Shee_👚
😭😭😭😭
pantes lah kalau kurang gizi, lilis banting tulang buat nyari uang kebutuhan emak tiri
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh ada apa tuh 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
🥺😭😭😭
Nar Sih
makan yg banyak ya lis,biar sehat dan sgra bisa hamil lgi ,kira,,ada apa dgn nanang ,lanjut kakk moon👍🥰
Patrick Khan
eh kenapa q ikut bukak mulut mw makan juga😂
moon: ngarep ada yang nyuapin, ternyata cuma nyuapin harapan palsu
total 3 replies
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
sabar ya Lis,nanti bisa hamil lagi...
Meliandriyani Sumardi
bawa emaknya nanang ke rsnya tuan ulat bulu biar diobatin dengan maksimal..kasian nanang kalau gitu
Netty Siska Rondonuwu
lanjut dong
Bunda Aish
tunjukkan pesona mu Lis.... Dio,semoga dikau segera dirambati perasaan menyesal 😏
Dew666
💎💎💎💎💎
ardan
wkwkwk🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga cepet diganti ya 😭😭😭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Hebatnya lagi
Rahmawati
nanti kasih mereka anak kembar Thor biar rumah tuan gusman rame
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!