NovelToon NovelToon
Mengejar Mauren

Mengejar Mauren

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romansa / Kegiatan Olahraga Serba Bisa
Popularitas:877
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Gemuruh Stadion

Sore itu Stadion Olahraga Remaja Jakarta sudah ramai dengan anak-anak dari SMA. Celetuk dan candaan khas anak-anak SMA begitu riuh terdengar bercampur dengan yel-yel terhadap jagoannya masing-masing. Turnamen antar sekolah ini sangat prestisius karena sangat berarti bagi nama sekolah mereka.

Melalui grup WhatsApp sekolah, tak bosan-bosan Rommy mengoordinir anak-anak SMA Tunas Bangsa untuk datang dan memberi semangat Mauren. Dia bahkan telah membuat kaos dengan foto Mauren berpose karate dengan mengenakan baju karate dengan tulisan ‘Mauren! Kamu bisa!’ yang dikenakan semua pendukung Mauren sore itu dan menciptakan yel-yel ‘Mauren Keren!” itu.

Bagi SMA Tunas Bangsa, ini adalah kali pertama mereka ikut turnamen ini, dan Mauren, sang murid baru, datang mewakili SMA Tunas Bangsa dengan gemblengan Sensei Nakamura yang sangat keras dan berdisiplin tinggi. Dan Mauren adalah satu-satunya perwakilan dari SMA Tunas Bangsa pada turnamen tahun ini.

Mauren tampak manis dengan balutan baju karate putihnya. Rommy juga sudah siap dengan kamera DSLR-nya yang dilengkapi lensa jarak jauh yang mengabadikan setiap adegan. Tampak Mauren agak pucat, mungkin karena nervous, dan coba menenangkan perasaannya dengan bernyanyi-nyanyi kecil. Sensei Nakamura tampak sibuk berusaha menenangkan hati Mauren.

Sebelum turnamen dimulai, Rommy sudah sibuk mengkoordinir para suporter dari SMA Tunas Bangsa. Dia telah membentuk grup WhatsApp khusus untuk acara ini, mengajak teman-teman sekelas, anggota ekskul, bahkan anak-anak dari kelas lain untuk datang. "Kita harus jadi yang paling rame! Mauren butuh dukungan kita!" pesannya di grup kemarin malam. Pagi ini, dia tiba lebih awal, membawa spanduk besar bertuliskan "SMA Tunas Bangsa Dukung Mauren!" dan yel-yel sederhana yang dia ciptakan: "Mauren juara! Tunas Bangsa menang!"

Dari deretan atas bangku penonton, Rommy turun ke bawah mendekati Mauren, tapi tidak bisa masuk ke lokasi pertandingan, dan hanya bisa berteriak, “Mauren Keren!” sambil membentangkan banner Mauren Keren! yang telah dia persiapkan. Mauren yang sedang melakukan warming up hanya bisa tersenyum dan dari bibirnya terlihat bilang terima kasih.

“Semangat, Ren!” teriak Rommy sambil mengacungkan kepalannya ke udara yang dibalas dengan gerakan yang sama dari Mauren. Lalu Rommy kembali ke tempat duduknya di samping Tony.

“Kita lupakan sejenak urusan lu dengan Axel, mari kita dukung dulu Mauren hari ini,” kata Rommy sambil terus membidikkan kameranya ke arah Mauren.

Tony hanya mengangguk pelan.

Suasana agak berubah saat Axel datang dengan mengenakan sweater hitam, bersama anggota geng The Executioners. Dia melihat Tony dan Rommy, akhirnya pandangan mereka beradu dengan penuh kebencian dan dendam.

Tampak juga Pak Sajit, Bu Catarina, Pak Wito dan beberapa guru lain duduk di kursi bersama guru-guru dari sekolah lain di bagian tribun yang disediakan untuk para guru. Pak Sajit memberikan dua jempol kepada Mauren yang melihat mereka dari jauh dan dibalas oleh Mauren dengan dua jempol juga. Bu Catarina dan guru-guru lain juga ikut memberi dua jempol tanda dukungan kepada Mauren yang disambut dengan senyum manis Mauren.

“Mauren keren!” teriak Bu Catarina.

Papa dan Mama Mauren juga tampak hadir di deretan penonton ditemani Kak Andre, kakak Mauren. Mama Mauren turun ke bawah ditemani Papa Mauren. Mauren mendekat ke mereka dan mereka saling memberikan salam tos.

“Fokus, Ren. Jangan nervous,” kata Mama Mauren yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Mauren. Lalu mereka kembali ke tempat duduknya.

Tampak juga lelaki tua, Opa Lardo, yang mengenakan jaket dan topi baret, duduk di antara kerumunan penonton, namun dia diam saja, tak berbicara sepatah kata pun.

Babak penyisihan turnamen dimulai, dan Mauren berada di kelompok putri kelas ringan. Dan lawannya adalah seorang karateka putri dari SMA XII yang terkenal dengan tendangan cepat.

Sensei Nakamura memberikan instruksi dengan berbisik kepada Mauren, “Tetap tenang, dan perhatikan kuda-kuda dan timing saat melepaskan pukulan.”

Mauren lalu mengangguk dan maju ke tengah matras pertandingan. Lalu pertandingan dimulai, dan Mauren segera bergerak lincah.

Turnamen dimulai dengan babak penyisihan. Mauren berada di kelompok putri kelas ringan. Lawan pertamanya adalah seorang gadis dari SMA Harapan Bangsa, yang terkenal dengan tendangan cepat. Sensei Nakamura berdiri di pinggir matras, memberikan instruksi pelan. "Ingat, kuda-kuda kuat, pukulan presisi." Mauren mengangguk, lalu melangkah ke matras.

Lawan Mauren menyerang lebih dulu dengan tendangan andalannya, tendangan ke arah perut Mauren yang bisa dihindari oleh Mauren dengan mudah. Lalu Mauren membalas dengan satu pukulan lurus dan pelan ke dada. Masuk! Skor pertama untuk Mauren!

Gemuruh penonton segera membahana, terutama dari pendukung Mauren yang menyambut skor pertama itu dengan heboh, dan yel-yel “Mauren keren!” terdengar ramai.

Kembali Mauren melakukan serangan bertubi-tubi yang gagal diblok oleh lawan yang kehilangan keseimbangan.

“Ippon!” wasit berteriak tanda poin penuh untuk Mauren dan segera mengangkat tangan Mauren sebagai pemenang.

Pada pertandingan pertama ini Mauren menang relatif mudah dan melaju ke perempat final. Yel-yel Mauren keren! terdengar begitu ramai. Papa dan Mama Mauren berdiri sambil memberikan applause dan disusul oleh Kak Andre dan Rommy.

Axel juga ikut bertepuk tangan, namun pandangan matanya tetap melekat tajam ke arah Tony. Tony juga melihat, tapi tidak memedulikan itu, karena dia fokus memberi dukungan kepada Mauren, bukan untuk berkelahi.

Di tribun guru, terlihat para guru bertepuk tangan.

“Hebat, Mauren!” teriak Pak Sajit sambil bertepuk tangan. Bidikan kamera Rommy tak melewatkan adegan itu.

Pertandingan di perempat final lebih berat. Lawan Mauren kali ini lebih berat, seorang karateka dengan aliran shotokan yang agresif. Lawannya dengan agresif menyerang Mauren dengan tendangan, dan Mauren terkena tendangan di perutnya.

“Tenang, ambil napas dan tenangkan pikiran!” instruksi Sensei Nakamura.

Mauren mengambil langkah mundur selangkah untuk melakukan tensho yang diajarkan Sensei Nakamura kemarin sambil sedetik memejamkan mata agar pikiran tenang. Lawan kembali menyerang dengan agresif, namun Mauren dengan tenang melancarkan serangan balik berupa tendangan dan pukulan. Mauren mendapatkan dua kali poin waza-ari dan wasit langsung mengangkat tangannya dan dinobatkan sebagai pemenang. Lolos semi final!

Segera dia membungkuk memberikan tanda hormat kepada para juri dan wasit serta sensei dan para penonton.

Para suporter begitu heboh dan meneriakkan yel-yel Mauren Keren sambil memukul-mukul kursi. Terlihat Papa dan Mama Mauren berpelukan sambil tertawa gembira. Adegan indah itu tak luput dari jepretan kamera Rommy.

Saat membidik kerumunan dengan kamera jarak jauhnya, Rommy melihat sosok tua Opa Lardo yang cukup dikenalnya, dan ia beberapa kali menjepret dengan kameranya.

Ujian selanjutnya adalah di partai semi final, di mana lawan yang akan dihadapi adalah dari SMA Patriot. Sensei Nakamura tampak memberikan instruksi dan menyuruh Mauren fokus dan menenangkan diri. Dari jauh di tribun penonton Mama Mauren tampak memimpin putrinya agar fokus dengan gerakan mokuso. Dia memejamkan mata beberapa detik dan mengatur napasnya, diikuti Mauren di matras pertandingan.

Wasit lalu memanggil kedua karateka ke tengah lapangan dan memberi aba-aba pertandingan dimulai. Mama Mauren terus melakukan mokuso karena begitu tegangnya pertandingan. Sedangkan Papa Mauren terus fokus memandang duel Mauren dengan lawannya. Penonton hening, dan sesekali terdengar suara “ser” dan “klik” dari kamera Rommy yang terus mengabadikan semua adegan itu dari detik ke detik.

Lawan Mauren seolah tak memberikan kesempatan kepada Mauren dan terus menyerang tanpa henti. Mauren sempat tersudut, dan sebuah pukulan menerjang bahunya yang membuatnya meringis kesakitan.

Rommy segera memberi komando kepada teman-temannya meneriakkan yel-yel Mauren Keren! yang membuat semangat Mauren kembali. Tak kurang Axel yang berteriak, ‘Come on Ren!”

Pak Sajit berdiri diikuti beberapa guru SMA Tunas Bangsa dan memberikan tepuk tangan untuk menyemangati Mauren dan ikut meneriakkan yel-yel “Mauren Keren!”

Lawan Mauren terus melakukan serangan tanpa henti. Tiba-tiba Mauren melancarkan tendangan melingkar. Kakinya berputar cepat seperti cambuk yang dilepas dari kendali. Tendangan itu berhasil masuk, disusul pukulan lurus ke dada (tsuki). Skor untuk Mauren! Skor kini seimbang.

Pertandingan dilanjutkan, kembali lawan melakukan serangan dengan agresif, tapi Mauren berhasil melakukan blocking dengan sempurna, dan skor kembali untuk Mauren! Mauren menang dan wasit segera mengangkat tangannya. Stadion langsung bergemuruh menyambut kemenangan Mauren yang lolos ke final.

Mauren segera melakukan selebrasi dengan berlari keliling matras memberikan tanda terima kasih atas dukungan para suporter setelah membungkuk kepada wasit, para juri dan sensei.

“Hidup Mauren!” teriak Rommy yang segera sibuk dengan kameranya untuk mengabadikan setiap adegan di stadion yang hingar bingar itu dari para supporter yang meneriakkan yel-yel, keluarga Mauren yang tak mampu menahan tangis, Pak Sajit dan para guru yang bertepuk tangan bahagia, dan tak lupa Opa Lardo yang hanya menunjukkan ekspresi wajah dingin, sambil sesekali bertepuk tangan. Beberapa murid tampak memperagakan gaya Mauren melakukan blocking sempurna yang memperoleh poin menentukan itu.

“Apapun yang terjadi nanti di final jangan dipikirkan. Nanti akan jadi beban di pikiranmu,” kata Sensei Nakamura. “Kau sudah juara. Anggap saja nanti pertandingan sebagai sparring.”

“Haik, Sensei,” Mauren membungkuk. Memang hatinya lega dan rasa nervous sejak Mauren melakukan tensho dan mokuso tadi.

Pertandingan final yang tekanannya seharusnya lebih berat, justru dijalani oleh Mauren dengan lebih ringan. Mauren tampak tersenyum dan tanpa beban memasuki matras pertandingan sambil memberikan salam hormat kepada suporter, keluarga dan para guru Mauren.

Di lorong stadion, pandangan Mama Mauren sedang memperhatikan berbagai sudut stadion yang tiba-tiba hening menjelang partai final putrinya itu. Tiba-tiba, pandangannya bertemu dengan Opa Lardo yang sedang duduk di tribun sebelah yang dekat pintu keluar. Wajah Pingkan memucat. "Lardo?" gumamnya pelan dan suaranya bergetar. Opa Lardo menoleh, matanya tajam seolah terkejut melihat ke arah Pingkan atau mamanya Mauren itu. Mereka saling tatap dan bumi seolah berhenti berputar. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

1
bartolomeus marsudiharjo
Gue banget
bartolomeus marsudiharjo
Seru banget. Menjanjikan.
jc: terimakasih
total 1 replies
Noname
Karya Ai ?
jc: bukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!