Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Dari Keluarga Erlangga
Skandal Nathan dan Mahira makin melebar, foto-foto mereka sekarang ga cuma di sosmed biasa, tapi udah masuk tabloid, portal berita online, bahkan TV gosip mulai bahas.
"CEO Erlangga Group Selingkuh dengan Mantan Pacar, Istri Baru Terabaikan."
Headlinenya kejam, komen netizen makin sadis. Dan keluarga besar Erlangga mulai ga bisa diem aja.
Minggu sore, Richard dapet telepon dari kakaknya, Paman Hendri.
"Richard, kamu udah liat berita tentang Nathan? ini memalukan! memalukan keluarga kita!" Suara Paman Hendri keras di telepon.
"Aku tau Mas, aku lagi coba ngomong sama Nathan."
"Coba? COBA?! ini bukan masalah coba Richard! ini masalah reputasi keluarga Erlangga! bisnis kita bisa kena dampak! klien klien mulai nanya nanya!"
"Aku akan urus, Mas."
"Kamu harus urus SEKARANG! kalau ga, kita semua yang kena batunya!"
Telepon ditutup kasar, Richard duduk di ruang kerjanya sambil ngusap wajah lelah. Dia tau anaknya keras kepala, dia tau Nathan gak akan dengerin siapapun, kalau udah menyangkut Mahira, tapi Richard harus coba.
***
Sore itu Richard ngumpulin keluarga besar di mansion untuk rapat keluarga darurat. Paman Hendri dateng dengan istri dan dua anaknya.
Bibi Sarah, wanita yang dulu meremehkan Naura di pesta amal, juga dateng dengan suaminya. Ada juga sepupu sepupu Nathan yang lain, total ada sepuluh orang.
Nathan dipaksa hadir, dia duduk di sofa dengan ekspresi bosan dan kesel. Naura ga diundang ke ruang rapat, tapi dia berdiri di luar pintu yang sedikit terbuka, dengerin percakapan di dalam.
"Nathan, apa yang kamu pikirin?!" Paman Hendri langsung menyerang begitu rapat dimulai. "Kamu udah nikah! kamu punya istri! kenapa kamu masih main main sama mantan kamu?!"
"Aku ga main main, Mahira temen aku." Nathan jawab datar.
"TEMEN?!" Bibi Sarah ikut nyerang. "Temen yang kamu peluk peluk di depan umum?! temen yang kamu ajakin dinner romantis?! jangan bercanda Nathan!"
"Urusan aku sama Mahira bukan urusan kalian."
"BUKAN URUSAN KAMI?!" Paman Hendri berdiri, mukanya merah karena marah. "Kamu lupa Nathan? kamu bagian dari keluarga Erlangga! nama kamu ERLANGGA! apapun yang kamu lakuin itu ngaruh ke semua kita!"
Richard coba menenangkan, "Mas, tolong."
"Jangan bela dia Richard! anakmu ini udah kelewatan! dia pikir dia bisa seenaknya aja?!" Paman Hendri nunjuk Nathan. "Kamu tau ga Nathan? klien dari Jepang batal kontrak karena mereka ga mau kerjasama sama perusahaan yang CEO-nya ga bisa jaga komitmen! itu nilai kontraknya dua puluh miliar!"
Nathan menegang, "Itu bukan gara-gara aku."
"EMANG GARA GARA SIAPA?!" Paman Hendri berteriak. "Gara-gara skandal kamu sama Mahira! mereka bilang kalau CEO nya aja ga bisa setia sama istri, gimana bisa mereka percaya dia setia sama kontrak bisnis?!"
Suasana hening sebentar, Nathan menggenggam sofa keras.
"Aku gak tau bakal separah ini."
"Ya udah terlambat Nathan! kerusakan udah terjadi!" Bibi Sarah ikut nimbrung. "Kamu harus putus sama Mahira, sekarang, dan fokus ke istri kamu, perbaiki image kamu."
"Aku ga akan putus sama Mahira," Nathan bilang tegas.
"NATHAN!" Richard ikut naikin suara, jarang banget Richard marah. "Dengerin aku, ini bukan cuma tentang kamu, ini tentang perusahaan yang ibu kamu titip ke kamu, tentang ribuan karyawan yang nasibnya tergantung perusahaan ini!"
"Aku tau tanggung jawab aku."
"Kalau kamu tau, kenapa kamu masih egois?!" Richard berdiri, jalan ke Nathan. "Kamu pikir ibu kamu bakal seneng liat kamu kayak gini? liat kamu hancurin perusahaan yang dia bangun puluhan tahun gara-gara wanita?!"
Nathan berdiri juga, berhadapan sama ayahnya. "JANGAN BAWA-BAWA IBU!"
"AKU HARUS BAWA BAWA DIA KARENA KAMU LUPA SAMA WASIAT DIA!" Richard berteriak. "Dia minta kamu menikah karena dia pengen kamu bahagia dengan keluarga, bukan karena dia pengen kamu nikah kontrak terus selingkuh sama mantan!"
"Aku mencintai Mahira! aku selalu mencintai dia!" Nathan berteriak balik.
"DAN KAMU UDAH NIKAH SAMA NAURA!" Richard nunjuk ke arah pintu dimana Naura berdiri di luar, meski Richard ga tau Naura ada di sana. "Naura yang polos itu, yang kamu paksa nikah, yang sekarang hamil anak kamu, dan kamu tinggalin buat main sama Mahira?!"
Hening, semua orang di ruangan shock.
"Hamil?" Paman Hendri berbisik. "Naura hamil?"
Nathan nutup mata, napasnya berat. Di luar pintu, Naura nahan napas, tangannya nutup mulut biar isakannya ga kedengeran.
"Iya." Nathan akhirnya ngaku. "Naura hamil dua bulan."
Bibi Sarah melotot, "Dan kamu masih berani selingkuh?! kamu masih berani tidur sama Mahira?! kamu bener-bener gak punya hati Nathan!"
"Aku gak tidur bareng dia." Nathan mau bantah tapi suaranya ga yakin.
"Jangan bohong Nathan, semua orang tau kamu nginep di hotel sama Mahira seminggu lalu, jangan pikir kami buta!" Paman Hendri ngeluarin ponselnya, nunjukin foto Nathan masuk hotel. "Ini bukti nya!"
Nathan diem, gak bisa membantah. Karena emang bener.
Richard mundur selangkah, menatap anaknya dengan pandangan kecewa yang dalem banget. "Aku gak nyangka kamu bisa sejahat ini Nathan."
"Ayah."
"Jangan panggil aku ayah kalau kamu masih kayak gini." Richard ngambil jasnya. "Aku kasih kamu dua pilihan, putus sama Mahira dan perbaiki hubungan sama Naura, atau aku copot kamu dari posisi CEO."
"APA?!" Nathan shock. "Ayah gak bisa lakuin itu!"
"Aku bisa dan aku akan lakuin kalau kamu ga berubah." Richard menatap Nathan tajam. "Aku gak akan biarin kamu hancurin perusahaan yang ibu kamu bangun, aku gak akan biarin kamu sakiti wanita yang gak bersalah, pilih Nathan, Mahira atau perusahaan."
Richard keluar dari ruangan, melewati pintu dimana Naura berdiri. Dia berhenti pas liat Naura, mata mereka bertemu. Richard langsung tau Naura udah dengerin semuanya.
"Naura." Richard bilang pelan.
Naura ngusap air matanya cepet. "Aku gak sengaja denger Pak."
Richard menatap Naura dengan mata berkaca kaca, dia melangkah dan peluk Naura, pelukan seorang ayah yang minta maaf untuk kesalahan anaknya.
"Maafkan Nathan, Nak." Richard berbisik "Dia masih terluka dari masa lalunya, dia gak bisa mikir jernih."
Naura nangis di pelukan Richard. "Aku ngerti Pak."
"Kamu gak pantas diperlakukan kayak gini." Richard melepas pelukan, ngelap air mata Naura dengan lembut. "Kamu wanita baik, terlalu baik buat Nathan yang masih bocah dalam urusan hati."
Naura tersenyum pahit, senyum yang penuh luka. "Ini cuma pernikahan kontrak kan Pak? perasaan ga pernah jadi bagian dari kesepakatan."
Kata kata Naura bikin dada Richard sesak, gadis ini ngomongin pernikahannya sendiri kayak ngomongin transaksi bisnis. Padahal Richard tau Naura udah jatuh cinta sama Nathan.
Tau dari cara Naura ngeliatin Nathan, dari cara Naura selalu nunggu Nathan pulang. Dari cara Naura nangis sendirian.
"Naura, kamu gak harus bertahan kalau kamu gak kuat." Richard ngomong serius. "Aku bisa bantu kamu keluar dari pernikahan ini, kamu bisa pergi, dapet uang sesuai kontrak, hidup tenang sama bayi kamu."
Naura menatap Richard lama, keluar dari pernikahan ini. Pergi dari Nathan, hidup sendiri sama bayinya. Kedengeran bagus, kedengeran seperti kebebasan.
Tapi...
"Kalau aku pergi, perusahaan gimana Pak?" Naura bertanya pelan. "Saham yang Ibu Selia tinggalin bakal jatuh ke Paman Hendra kan? ribuan karyawan bakal kehilangan pekerjaan."
Richard terdiam, Naura bener. Kalau Naura pergi sebelum dua tahun, kontrak batal, syarat wasiat ga terpenuhi, saham jatuh ke Hendra yang korup.
"Aku akan cari cara lain." Richard bilang ga yakin.
Naura menggeleng pelan, "Gak ada cara lain Pak, wasiat itu jelas, Nathan harus nikah minimal dua tahun, kalau ga, semuanya hilang."
"Tapi kamu gak harus korbankan kebahagian kamu."
"Kebahagiaan aku?" Naura tertawa pahit. "Aku udah gak tau apa itu bahagia Pak, yang aku tau cuma aku punya tanggung jawab, punya bayi yang harus aku jaga, dan kalau aku bertahan satu setengah tahun lagi, setidaknya ribuan orang ga kehilangan pekerjaan gara gara aku egois."
Richard memeluk Naura lagi, kali ini lebih erat. "Maafkan aku Naura, maafkan aku udah bawa kamu ke situasi ini."
Naura gak menjawab, dia cuma nangis di pelukan Richard. Nangis untuk hidupnya yang udah ga bisa diubah. Nangis untuk cintanya yang ga akan pernah terbalas, nangis untuk bayinya yang bakal lahir tanpa kasih sayang ayah.
***
Di dalam ruang rapat, Nathan masih berdiri dengan tangan mengepal. Keluarganya satu per satu keluar dengan pandangan kecewa.
Tinggal Nathan sendirian, dia duduk di sofa, kepala ditundukkan, tangan ngusap wajah kasar. Pilihan ayahnya terus berputar di kepala, Mahira atau perusahaan.
Cinta atau tanggung jawab, hati atau logika. Nathan ngambil ponselnya, buka chat dengan Mahira.
...📩...
Mahira: Sayang, kamu udah selesai rapat keluarga? gimana?
Nathan menatap chat itu lama. Jari-jarinya mengetik
^^^Nathan: Keluargaku minta aku putus sama kamu.^^^
Mahira: WHAT?! Tapi, kenapa?!
^^^Nathan: Gara-gara skandal kita, perusahaan kena dampaknya, ayah mengancam akan mencopot jabatan aku dari CEO, kalau aku gak putus sama kamu.^^^
Mahira: Terus kamu mau gimana?
Nathan menatap pertanyaan itu lama, tangannya gemetar. Hatinya bilang pilih Mahira, tapi otaknya bilang pilih perusahaan.
^^^Nathan: Aku ga tau, aku benar-benar bingung.^^^
Mahira: Nathan, kamu cinta sama aku kan?
^^^Nathan: Iya, kamu kan tau kalo aku cinta sama kamu.^^^
Mahira: Kalau kamu cinta aku, fight for me, jangan menyerah gampang, kita udah nunggu lima tahun buat bisa bersama lagi, masa sekarang kamu mau nyerah gara-gara ancaman keluarga?
Nathan membaca chat Mahira berkali-kali. Fight for me, kata-kata yang bikin Nathan merasa dia harus jadi knight yang selamatin princessnya.
Kata-kata yang bikin Nathan lupa dia punya istri yang hamil, kata-kata yang bikin Nathan makin terjebak dalam manipulasi Mahira.
^^^Nathan: Aku gak akan nyerah, aku akan cari cara, aku janji.^^^
Mahira: Itu baru Nathan yang aku sayang, aku percaya sama kamu, kita pasti bisa lewatin ini.
Nathan tersenyum baca chat Mahira, gak tau senyum Mahira di seberang sana adalah senyum kemenangan. Senyum seseorang yang berhasil manipulasi targetnya.
Dan sementara Nathan sibuk chat sama Mahira, Naura berdiri di koridor kosong sendirian. Dengan bayi di perutnya, dan hati yang udah ga bisa lebih hancur lagi.
Tapi dia tetep berdiri, tetep kuat, karena dia ga punya pilihan. Karena dia harus bertahan demi bayinya, demi ribuan karyawan yang gak tau nasib mereka, tergantung sama gadis muda yang lagi patah hati ini.
Demi tanggung jawab yang gak pernah dia minta, tapi harus dia pikul, dan Naura nangis dalam diam sambil mengelus perutnya.
"Kita harus kuat sayang," dia berbisik "Mama dan kamu harus kuat."
Meski dalemnya Naura pengen menyerah, pengen lari, pengen hilang. Tapi dia gak bisa, karena terlalu banyak yang tergantung padanya. Terlalu banyak yang akan hancur kalau dia pergi.
Jadi Naura tetep di sana dan tetep bertahan. Di pernikahan yang menyiksa, dengan suami yang mencintai wanita lain. Dengan sahabat, yang pengen membunuh bayinya.
ada laki2 lain yg perhatian dn menjaga,kenapa gk sm laki2 itu
lagian nathan jg selingkuh lbh baik naura pergi menjauh dari nathan.
daripd sakit hati tiap hari.
suami yg blm lepas dr masa lalunya gk akn percaya sm omongan istri sah nya.
buat apa tetap cinta dn bertahan.
pergi,cari kebahagiaanmu bersama anakmu sj