Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...
Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?
Baca ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benturan
Malam di Desa Sumberingin jatuh dengan keheningan yang tidak biasa. Angin pegunungan yang biasanya menderu di sela-sela pohon jati kini seolah tertahan oleh sesuatu yang tak kasat mata. Di puncak bukit pemakaman, gundukan tanah merah yang baru saja dirapikan oleh Bimo siang tadi tampak sunyi di bawah cahaya bintang. Namun, bagi mereka yang memiliki mata batin, makam putri Ustadz Ahmad itu tidaklah gelap. Makam itu diselimuti oleh pendaran cahaya keemasan yang tipis namun rapat, sebuah pagar gaib yang tercipta dari untaian doa dan dzikir sang ayah yang tak putus-putus sejak jenazah diturunkan.
Pukul satu dini hari, sebuah bayangan muncul dari balik semak-semak kamboja. Bimo datang dengan langkah mengendap, membawa cangkul pendek yang ia sembunyikan di balik sarungnya. Wajahnya yang semula tampak tenang kini kembali memucat, urat-urat di lehernya menonjol, dan ulat-ulat di dalam tubuhnya mulai menggeliat liar seolah-olah mereka mencium aroma "makanan" namun terhalang oleh dinding yang panas.
Begitu kaki Bimo menyentuh batas luar area makam tersebut, sebuah getaran hebat menghantam dadanya.
Dinding Cahaya di Liang Lahat
"Argh!" Bimo mundur beberapa langkah, memegangi dadanya yang terasa seperti dipukul palu godam.
Ia mencoba maju kembali, namun setiap kali ia mendekat dalam jarak satu meter dari makam, udara di sekitarnya mendadak menjadi sangat panas. Cahaya keemasan yang tadinya samar kini tampak lebih nyata di mata Bimo yang sudah tercemar energi hitam. Pagar itu berbentuk jaring-jaring cahaya yang tersusun dari huruf-huruf Arab yang bercahaya, membentengi gundukan tanah itu dari segala arah.
"Sial! Doa orang tua itu benar-benar jadi penghalang!" maki Bimo dengan suara tertahan.
Ia mencoba menghantamkan cangkulnya ke arah makam, namun sebelum mata cangkul itu menyentuh tanah, sebuah percikan energi memukul balik tangannya hingga cangkul itu terlempar jauh. Tangan Bimo melepuh, mengeluarkan bau daging terbakar yang aneh. Rasa sakit di kelaminnya meledak kembali, ulat-ulat sengkolo di dalamnya menjerit kesakitan karena terpapar hawa suci dari doa Ustadz Ahmad.
Bimo jatuh terduduk, meraung tanpa suara di kegelapan. Ia merasa terjepit. Jika ia tidak bisa menembus makam ini, ulat-ulat di kepalanya akan mulai memakan matanya sebelum fajar tiba. Putus asa, ia mulai mencakar tanah di luar batas pagar, berteriak memanggil kegelapan yang telah menjadi sekutunya.
Guncangan di Lereng Gunung
Di saat yang sama, ratusan kilometer jauhnya, di gubuk gelap Mbah Suro, suasana menjadi kacau. Meja kayu tempat Mbah Suro meletakkan kuali hitamnya mendadak bergetar hebat. Air hitam di dalam kuali itu mulai bergejolak, mendidih tanpa api, dan memercikkan uap yang berbau busuk.
Mbah Suro yang sedang bermeditasi tersentak bangun. Matanya yang buta sebelah mendelik lebar. Ia merasakan sebuah hantaman energi yang sangat murni sedang mencoba memutus ikatan santetnya pada Bimo melalui perantara makam di Sumberingin.
"Kurang ajar! Doa ustadz desa ini... energinya sangat kuat!" geram Mbah Suro.
Getaran di meja itu semakin keras hingga cawan-cawan sesaji terjatuh dan pecah. Mbah Suro menyadari bahwa ini bukan sekadar doa biasa, melainkan doa seorang ayah yang benar-benar ikhlas dan terjaga wudhunya. Energi suci dari Kyai Ahmad sedang merambat melalui ikatan batinnya dengan sang anak, dan menyerang balik sumber santet yang mencoba menodai makam tersebut.
Mbah Suro mulai berkeringat dingin. Jika pagar gaib itu berhasil memukul balik santetnya, maka ulat sengkolo itu akan berbalik menyerang Mbah Suro sendiri. Ia tidak punya pilihan lain. Ia harus terjun langsung ke dalam peperangan gaib ini untuk membuka jalan bagi Bimo.
Adu Kekuatan: Hitam Melawan Putih
Mbah Suro mengambil sebuah botol berisi minyak kental berwarna hijau gelap dan menyiramkannya ke dalam kuali. Ia mulai merapalkan mantra-mantra kuno yang kasar dan berat, bahasa yang tidak lagi digunakan oleh manusia biasa. Suaranya bergema memenuhi gubuknya, menggetarkan lantai tanah.
"Bumi petaka, langit duka! Bangkitlah ulat-ulat penghisap cahaya!" raung Mbah Suro.
Di pemakaman Sumberingin, Bimo merasakan sebuah kekuatan baru merasuki tubuhnya. Sebuah hawa dingin yang sangat pekat turun dari langit, menyelimuti raga Bimo. Mata Bimo berubah menjadi hitam legam, seluruh bintik-bintik di kulitnya bergetar dan mengeluarkan cairan hitam yang sangat amis.
Ini adalah kekuatan pinjaman dari Mbah Suro.
Bimo berdiri kembali. Ia tidak lagi memegang cangkul. Ia melangkah maju, membiarkan dadanya beradu langsung dengan jaring cahaya keemasan itu. Suara mendesis seperti air yang disiram ke bara api terdengar saat kulit Bimo bersentuhan dengan pagar doa. Kulitnya melepuh, bajunya hangus, namun ia terus merangsek maju.
Di rumahnya, ustadz Ahmad yang sedang bersujud di atas sajadah mendadak tersedak. Ia batuk darah, namun ia tidak berhenti berdzikir. Ia merasakan "bentengnya" sedang digempur oleh raksasa hitam.
Runtuhnya Pagar Suci
Mbah Suro di gubuknya semakin menggila. Ia menyayat telapak tangannya sendiri dengan keris, meneteskan darahnya ke dalam kuali hitam sebagai tumbal energi. "Hancur! Hancur kau, cahaya putih!"
Getaran di meja Mbah Suro mencapai puncaknya hingga kuali tanah liat itu retak di bagian tengahnya. Namun, ledakan energi hitam yang keluar dari retakan itu meluncur melalui udara gaib menuju pemakaman Sumberingin.
DUAARR!
Sebuah ledakan sunyi terjadi di atas makam putri Ustadz Ahmad. Cahaya keemasan yang tadi melingkar rapat tiba-tiba retak, meredup, dan akhirnya pecah menjadi serpihan kecil yang lenyap di telan kegelapan malam. Udara panas mendadak berganti menjadi hawa yang sangat anyir dan busuk.
Bimo terlempar beberapa meter, namun ia segera bangkit dengan tawa yang mengerikan. Pagar gaib itu telah musnah. Doa sang ayah telah dipatahkan oleh pengorbanan darah sang dukun.
Ustadz Ahmad di rumahnya jatuh pingsan di atas sajadahnya, tasbihnya putus, butirannya berhamburan ke lantai kayu. Kekuatan batinnya terkuras habis oleh serangan mendadak Mbah Suro yang sangat brutal.
Kemenangan Semu di Ujung Lubang
Bimo berjalan mendekati gundukan tanah makam yang kini tak terlindungi lagi. Ia merasakan ulat-ulat di dalam dirinya bersorak kegirangan. Kegelapan telah memenangkan ronde ini.
"Terima kasih, ..." bisik Bimo ke arah langit malam yang mendung.
Ia mengambil kembali cangkulnya yang sempat terlempar. Tanah yang tadinya sekeras batu kini terasa lunak, seolah-olah bumi Sumberingin telah menyerah pada kehendak iblis. Bimo mulai mencangkul dengan tenang, tidak ada lagi rasa panas yang menghalanginya. Setiap ayunan cangkulnya terasa ringan, seolah-olah setan-setan di sekitar makam itu ikut membantunya menggali.
Ratih, yang mengawasi dari balik pohon beringin tua, tampak pucat pasi. Ia telah melihat benturan energi yang mengerikan tadi. Ia melihat bagaimana cahaya keemasan itu hancur berkeping-keping.
"Bahkan doa orang suci pun tidak bisa menahanmu, Bimo..." desis Ratih dengan rasa takut yang mulai muncul. "Kamu benar-benar sudah menjadi kesayangan iblis."
Ratih melihat Bimo mulai mencapai papan penutup liang lahat. Aroma kematian yang kini tak lagi terpagar mulai keluar memenuhi udara malam. Ratih ingin berteriak, ingin membangunkan seluruh warga desa, namun lidahnya terasa kelu. Kekuatan Mbah Suro yang sedang bekerja di tempat itu juga menekan kesadarannya.
Bimo membuka papan kayu itu dengan satu sentakan kuat. Di bawah sana, terbaring jasad gadis remaja yang malang, kini tanpa perlindungan, siap untuk dinodai oleh pemangsa yang lebih buruk dari sekadar binatang. Bimo menatap ke bawah dengan mata yang penuh nafsu dan kegilaan yang sudah tidak bisa dinalar lagi.
Ia telah menembus pagar suci, dan malam ini, di Desa Sumberingin, kehancuran kedua akan segera terlaksana di atas reruntuhan doa seorang ayah yang hancur.
pnasaran lanjutanya