Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...
Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?
Baca ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penodaan Pertama
Angin malam di pemakaman Desa Karang Anyar berhembus kencang, menggoyang dahan-dahan pohon kamboja tua yang bunganya berguguran di atas nisan-nisan bisu. Kegelapan di puncak bukit itu terasa pekat, hanya menyisakan siluet pepohonan yang tampak seperti tangan-tangan raksasa yang mencoba menggapai langit. Di tengah kesunyian yang mencekam itu, suara cangkul yang menghantam tanah terdengar ritmis dan berat.
Srak... Srak... Srak...
Bimo, dengan napas yang memburu dan peluh yang membanjiri tubuhnya, terus menggali. Ia tidak lagi peduli pada rasa lelah yang menghantam otot-ototnya. Ia tidak lagi peduli pada rasa takut akan makhluk halus yang mungkin menghuni tempat itu. Ketakutan terbesarnya saat ini bukan lagi hantu, melainkan pembusukan hidup-hidup yang sedang ia alami. Pikirannya telah sepenuhnya lumpuh oleh obsesi untuk sembuh. Logikanya telah mati, digantikan oleh naluri purba seekor binatang yang terjepit.
Galian Menuju Kegelapan
"Sedikit lagi... sedikit lagi..." gumam Bimo dengan suara yang nyaris tidak terdengar, bercampur dengan suara gemertak giginya.
Setiap kali cangkulnya masuk ke dalam tanah yang masih gembur itu, Bimo merasakan denyutan di selangkangannya semakin hebat. Ulat sengkolo di dalam tubuhnya seolah-olah memberikan komando, mendesaknya untuk segera mencapai dasar liang. Bau busuk dari tubuh Bimo kini bercampur dengan bau tanah basah, menciptakan aroma yang sanggup membuat siapa pun pingsan jika berada di dekatnya.
Setelah hampir satu jam menggali dengan kecepatan yang tidak manusiawi, ujung cangkulnya mengenai sesuatu yang lunak namun padat. Bimo menjatuhkan cangkulnya dan mulai menggali dengan tangan kosong. Ia mencakar tanah, kuku-kukunya pecah dan berdarah, namun ia tidak merasakannya. Hingga akhirnya, putihnya kain mori muncul dari balik gelapnya tanah.
Bimo tertegun sejenak. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa mau lepas. Di depannya terbaring jenazah gadis kembang desa yang tadi siang ia bantu kuburkan. Dengan tangan gemetar, ia membuka tali pocong di bagian kepala. Aroma kapur barus dan melati yang sudah membusuk menyeruak keluar.
Penodaan yang Terkutuk
Malam itu, bulan mati seolah menjadi saksi bisu atas runtuhnya seluruh kemanusiaan di dalam diri Bimo. Rasa sakit di kelaminnya meledak menjadi sebuah dorongan nafsu yang gelap dan mengerikan—sebuah nafsu yang bukan berasal dari cinta, melainkan dari rasa haus akan kesembuhan yang sesat.
Bimo mulai melakukan aksi keji tersebut. Di bawah temaram cahaya bintang yang redup, ia menodai jenazah itu. Suara burung hantu yang melengking di kejauhan seolah menjadi musik pengiring bagi ritual terkutuk ini. Kegilaan telah mengambil alih seluruh sarafnya. Benar dugaan Mbah Suro, jenazah itu masih murni, masih perawan. Sensasi dingin dari kulit mayat itu beradu dengan panasnya api santet di tubuh Bimo.
Anehnya, setiap kali ia bernafsu dan bergerak liar menikmati kenikmatan dalam sunyi, Bimo merasa rasa sakit di tubuhnya berkurang secara ajaib. Ulat-ulat sengkolo yang biasanya menggigit dagingnya, kini merayap keluar dari pori-porinya dan masuk ke dalam kain mori jenazah tersebut, seolah-olah mereka menemukan inang baru yang lebih segar. Bimo merasa tubuhnya menjadi ringan. Ia merasa seolah-olah tenaganya kembali seperti saat ia masih menjadi eksekutif di Jakarta.
Karena merasa "kesembuhan" itu nyata, Bimo melakukannya berulang kali. Ia kehilangan kontrol diri. Ia menikmati penodaan itu di atas tanah makam yang suci. Baginya, jenazah di bawahnya bukan lagi manusia, melainkan obat, sebuah alat untuk mengembalikan kejayaannya yang hilang.
Tawa Sang Dukun di Lereng Gunung
Ratusan kilometer dari tempat itu, di sebuah gubuk yang gelap dan penuh asap kemenyan, Mbah Suro duduk bersila di depan sebuah kuali tanah liat. Di dalam air kuali yang hitam, ia melihat bayangan Bimo yang sedang melakukan aksi bejatnya di lubang kubur.
Mbah Suro tertawa terbahak-bahak. Suaranya kering dan tajam, memantul di dinding gubuknya yang kumal.
"Hahahaha! Bagus... Bagus sekali!" Mbah Suro menepuk-nepuk pahanya yang keriput. "Satu... Dia sudah melakukan yang pertama. Dia pikir dia sedang mengobati dirinya, padahal dia baru saja menyerahkan kunci terakhir pintu nerakanya kepadaku!"
Mbah Suro tahu benar rahasia santet Ulat Sengkolo. Syarat bersenggama dengan mayat perawan adalah sebuah jebakan tingkat tinggi. Benar bahwa penyakitnya akan terasa hilang sementara, namun itu karena ulat-ulat tersebut sedang "bertelur" di dalam tubuh korbannya. Semakin sering Bimo melakukannya, semakin banyak ulat yang akan bersarang di dalam jiwanya, bukan lagi hanya di raganya.
"Dia sudah memilih jalannya sendiri. Jalan menuju keabadian sebagai iblis," gumam Mbah Suro sambil menaburkan serbuk hitam ke dalam kuali. "Tinggal enam lagi, Bimo. Enam lagi dan kamu akan menjadi milik kegelapan seutuhnya."
Sisa-Sisa Nurani yang Terbungkam
Setelah selesai dengan aksi kejinya, Bimo duduk terengah-engah di samping jenazah yang kini berantakan. Ia menatap tangannya yang kotor dan berlumuran tanah. Untuk sesaat, setitik cahaya nurani mencoba muncul di benaknya. Apa yang baru saja aku lakukan? Aku sudah menjadi monster...
Namun, perasaan itu segera hilang saat ia meraba kulit perutnya. Bintik-bintik hitam yang biasanya terasa kasar, kini mulai menghalus. Bau busuk yang biasanya sangat menyengat, kini mulai berkurang drastis. Perasaan lega secara fisik ini mengalahkan segala rasa bersalah secara moral.
"Aku sembuh... Aku akan benar-benar sembuh," bisik Bimo dengan mata yang berkilat gila.
Ia segera merapikan kembali kain mori jenazah itu, mengikat talinya meski dengan asal-asalan, lalu mulai menimbun kembali lubang kubur tersebut. Ia bekerja dengan cepat, mencoba menghilangkan jejak sebelum matahari terbit. Ia tidak sadar bahwa di atas dahan pohon jati, Ratih masih mengawasinya.
Tatapan Ratih yang Membatu
Ratih melihat semuanya. Dari awal penggalian hingga penodaan yang menjijikkan itu selesai. Air mata Ratih tidak lagi keluar. Rasa benci di hatinya kini telah bermutasi menjadi sebuah rasa dingin yang luar biasa. Ia melihat Bimo bukan lagi sebagai mantan kekasih atau musuh, melainkan sebagai sebuah entitas yang sudah tidak punya harapan lagi untuk diselamatkan.
"Teguh salah," desis Ratih pelan. "Orang ini tidak pantas didoakan. Dia bahkan lebih rendah dari ulat yang ada di badannya."
Ratih menutup matanya sejenak. Ia teringat ibunya. Ia membayangkan jika jenazah di bawah sana adalah orang yang dicintai oleh seseorang, dan Bimo dengan teganya melakukan hal itu hanya demi ego kesembuhannya. Ratih kini mengerti mengapa Mbah Suro menyuruhnya membiarkan Bimo.
"Biarlah dia merasa sembuh," gumam Ratih. "Biarlah dia mengejar enam mayat lainnya. Semakin tinggi dia terbang dengan kesembuhan palsunya, semakin dalam dia akan jatuh ke dasar penderitaan yang sesungguhnya."
Kembali ke Kehidupan Semu
Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, Bimo sudah kembali ke gubuknya di belakang rumah Pak Haji Mansur. Ia segera mandi di pancuran, menggosok tubuhnya sekuat tenaga. Benar saja, luka-luka di selangkangannya mulai menutup. Bau amis itu hilang, digantikan oleh bau sabun yang ia curi dari gudang Pak Haji.
Pagi itu, Bimo keluar dengan wajah yang tampak lebih segar. Ia menyapa Pak Haji Mansur dengan senyum yang dulu sering ia gunakan untuk memikat para kliennya di Jakarta.
"Bimo? Kamu tampak segar sekali pagi ini," puji Pak Haji Mansur yang sedang memberi makan ayam. "Sepertinya kerja kerasmu di makam kemarin membawa berkah ya?"
"Benar, Pak Haji. Saya merasa jiwa saya lebih bersih setelah mengabdi semalaman di sana," jawab Bimo dengan kelicikan yang sempurna.
Bimo kini memiliki kepercayaan diri baru. Ia merasa telah menemukan "resep" kesembuhannya. Ia mulai memasang telinga lebar-lebar, menunggu kabar kematian perawan lainnya di desa-desa sekitar. Ia tidak tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil sekarang adalah langkah menuju sebuah pengadilan gaib yang tidak akan pernah ia bayangkan.
Di bawah langit biru Desa Karang Anyar yang indah, seorang mayat hidup sedang berjalan dengan kedok pertobatan, sementara di dalam tanah, ulat-ulat yang ia tinggalkan di jenazah pertama mulai menetas, bersiap untuk menagih hutang nyawa yang lebih besar. Bimo sudah melewati batas yang tidak bisa ditarik kembali. Ia telah resmi menjadi pemburu kematian.