Siang itu Berlian berniat pulang kerja lebih awal, dengan tujuan untuk memberi kejutan pada sang suami. Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke tujuh.
Tapi kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi. Niat awal ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang terkejut.
Berlian mendapati sang suami asyik berbagi peluh dengan adik di ranjang miliknya.
Kedua kakinya tak mampu lagi menopang badan, hatinya luruh lantak melihat kenyataan di depan mata.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat," alibi laki-laki yang menjadi suami Berlian.
Akankah Berlian tegar menghadapi atau malah hancur meratapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi Gila
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.
Kini Berlian telah pindah ke mansion tuan Wiranata.
"Nak, ada yang ingin ayah bicarakan," kata tuan Wiranata.
"Iya yah," Berlian duduk menatap tenang tuan Wiranata.
"Ayah ini sudah tua, sudah waktunya kamu menggantikan ayah di perusahaan," tuan Wiranata menyodorkan berkas yang tertata rapi dalam sebuah map.
"Apa ini yah?" Berlian membuka perlahan.
"Sebuah legalitas bahwa kamu adalah putri kandung ayah," jelas tuan Wiranata.
"Siang ini kamu ada waktu nggak?" tanya tuan Wiranata.
"Maura belum kasih jadwal untuk hari ini," bilang Berlian.
"Hhhmmm oke, kalau senggang datang lah ke perusahaan. Ayah menunggu," beritahu tuan Wiranata.
"Akan aku usahakan yah," kata Berlian.
"Lama Dom tak ke sini," tuan Wiranata mengganti tema.
"Dom sedang sibuk ngurusin proyek ekspansi perusahaan," bilang Berlian.
"Oh, seperti itu? Kirain sibuk menyiapkan tunangan," ucap tuan Wiranata.
Berlian tertawa.
Hari ini memang acara tunangan keluarga Alexander dan keluarga Sentosa.
"Malah ketawa?" tanya tuan Wiranata heran.
"Dominic memang mau tunangan Yah, dengan Nona dari keluarga Sentosa," cerita Berlian.
"Oh begitu? Mau main-main sama pria tua ini? Awas saja kalau dia ke sini, aka ku patahkan kakinya," tuan Wiranata tak rela jika Dominic tak serius dengan Berlian.
"Biarin aja Yah, toh keluarga mereka sepadan,"
"Sekarang ayah tanya, kalian ini serius nggak sih?" telisik tuan Wiranata.
"Siapa yang bilang nggak serius? Aku serius sama putri Uncle," Dominic gabung di meja makan.
"Nona keluarga Sentosa?" tanya tuan Wiranata penuh selidik.
"Ya biarin aja, ngapain diurusin," Dominic menyodorkan piring kosong dan minta dilayani oleh Berlian.
.
Di hotel bintang lima milik keluarga Alexander.
Nyonya Alexander sedang sibuk menyiapkan untuk acara pertunangan Dominic dan Kinara.
Nyonya Sentosa menghampiri.
"Wah, mewah sekali. Pesta nya pasti meriah," puji nyonya Sentosa.
"Tentu saja, ini acara istimewa. Oh ya, Kinara datang jam berapa?" tanya nyonya Alexander antusias.
"Siang ini, apa Dom jadi jemput?" tanya balik nyonya Sentosa.
"Coba aku hubungi dia, takutnya lupa," kata nyonya Alexander meraih ponsel.
"Mah, ke sini bentar," panggil tuan Alexander.
"Ada apa sih Pah?" nyonya Alexander mendekat setelah ramah tamah dengan calon besan.
"Mah, apa kamu yakin Dom mau dengan acara tunangan ini? Seperti yang sudah-sudah, aku tak mau punya musuh baru gara-gara penolakan dia," kata tuan Alexander.
"Mama yakin Pah. Siapa yang tak mau dengan Kinara. Gadis cantik, model internasional, dan jelas asal usulnya," ujar nyonya Alexander dengan wajah sumringah.
"Bentar Pah, aku mau hubungi Dom," nyonya Alexander menggeser layar ponsel untuk menghubungi Dom.
.
Saat itu Dominic tengah bersama Berlian.
Ponsel Dominic berdering.
"Nah kan, sesuai prediksi," Dominic menunjukkan layar ponsel ke arah Berlian.
"Nyonya besar?" tanya Berlian, merasa heran dengan nama kontak yang ada di ponsel Dominic.
"Mama," jelas Dominic pada Berlian.
Dominic menggeser layar ponsel untuk menerima telepon.
"Dom, jangan lupa jemput Kinara siang ini," kata mama di seberang.
"Siapa Kinara Mah?" seru Dominic.
"Dominic Alexander, jangan bercanda kamu," suara mama terdengar meninggi, naik satu oktaf daripada nada biasanya.
"Mah, hari ini aku di luar negeri. Jadi mana bisa aku jemput. Siapa namanya tadi?" tukas Dominic.
"Dominic, kamu ngerjain mama kah?"
"Mah, proyek ku bermasalah. Jadi Dom di sini sekarang," jelas Dom.
"Dom, kamu nggak bohong kan? Atau kamu sedang sama janda itu?" tanya nyonya Alexander penuh selidik.
"Mah, dari awal aku keberatan dengan pertunangan ini. Mama dan papa sudah tahu bukan?" balas Dom.
"Mama pasti ingat. Aku pernah bilang jika akan menikah dengan satu wanita. Dia adalah cewek kenangan masa kecilku," lanjut Dominic.
"Dom, jangan gila kamu. Acara sudah siap, dan kamu tak ada. Apa kamu ingin mama dan papa mu ini jantungan," kata nyonya Alexander kesal.
"Hentikan obsesi gila mu itu," nada kesal terdengar dari suara nyonya Alexander.
"Aku sudah menemukannya Mah. Jadi jangan paksa Dom menikah dengan siapa pun," pungkas Dominic mengakhiri panggilan sang mama.
.
Di bandara.
Seorang wanita cantik melenggang dengan santai. Kacamata hitam bertengger di pangkal hidung mancung yang terpahat indah di wajah. Pakaian berkelas menutup tubuhnya.
Dia menghentikan langkah melihat sekeliling. Mencari Dominic, yang info dari mama nya menyempatkan waktu menjemput sebelum acara nanti malam.
"Dominic Alexander, jangan sebut nama Kinara kalau tak bisa membuat mu jatuh cinta padaku," gumam Kinara.
"Nona Kinara?" sapa seseorang yang kini berdiri di depan Kinara.
Kinara menurunkan sedikit kacamata untuk melihat jelas siapa yang menyapa.
"Siapa?" tanya Kinara
"Maaf Nona, saya utusan keluarga Alexander untuk menjemput anda," jelas nya.
"Oh, dimana Dominic?" tanya Kinara.
"Maaf Nona, saya hanya diperintahkan untuk menjemput anda," orang suruhan itu tutup mulut tak mau menjelaskan.
'Setia pada tuannya,' puji Kinara dalam hati untuk keluarga Alexander yang punya anak buah tak diragukan lagi kesetiaan nya.
"Hhmmm baiklah. Tapi sebelum itu aku mau nelpon nyonya Alexander, memastikan kalau kamu adalah utusannya," Kinara melakukan hal seperti yang dia bilang.
"Oke, kita berangkat," ujar Kinara setelah memutus panggilan.
'Dominic Alexander, cukup hari ini kamu buat aku kecewa,' gerutu Kinara dalam hati.
Kinara menekan sebuah nama yang ada di kontak nya.
"Selidiki Dominic Alexander, aku tak mau terlewat satu pun info tentangnya," perintah Kinara.
.
"Dom, kita mau kemana?" tanya Berlian saat Dominic mengajaknya pergi.
"Ada deh," bilang Dominic tanpa mau menjelaskan.
Mobil mewah itu berhenti di sebuah butik terkenal.
"Ngapain?" tanya Berlian.
"Hhssst, ayo sayang," ajak Dom memberi isyarat Berlian untuk tak banyak bertanya.
"Selamat datang tuan Dominic," sapa mereka kompak.
"Pilihkan kebaya yang pas buat dia. Dan pastikan itu dari bahan terbaik," perintah Dominic.
"Dom, apa ini nggak berlebihan?" tanya Berlian.
"Panggil nama, hukuman sepuluh kali," Dominic duduk menyilangkan kaki, menunggu Berlian dipilihkan kebaya yang sesuai.
"Isssshhhh... Baiklah sayang," tukas Berlian kesal.
Dominic tertawa.
.
.
To be continued