Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup kembali di dunia lain (chapter 1)
Di sebuah negara yang tak dikenal banyak orang, hiduplah seorang pria bernama Hanemo Wakasa, berusia 27 tahun. Ia hanyalah seorang musisi jalanan—mengamen dari sudut ke sudut kota demi bertahan hidup.
Malam itu, seperti biasa, Wakasa berjalan menyusuri jalanan gelap untuk mencari tempat tidur. Angin malam berembus dingin, dan kota terasa lebih sepi dari biasanya.
Namun, ada sesuatu yang aneh.
Langkah kaki.
Pelan… tapi jelas.
Wakasa menyadari ada seseorang berjalan di belakangnya. Ia melirik sekilas, melihat bayangan mencurigakan. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ah… mungkin cuma perasaanku, pikirnya.
Ia memilih mengabaikannya.
Kesalahan besar.
Srrk!
Sesuatu yang dingin dan tajam menembus punggungnya.
“G—eehh…?!”
Wakasa terdiam. Matanya membelalak saat rasa sakit luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia menunduk perlahan dan melihat darah menetes ke aspal jalanan.
Tangannya gemetar.
Tubuhnya melemah.
Napasnya tersengal.
“Heeh… sa-sakit… aaahh…” suaranya bergetar.
“Aku… aku nggak mau mati…”
Itulah kata-kata terakhir Wakasa sebelum pandangannya menghitam dan tubuhnya tergeletak tak bernyawa di jalanan.
Ketika ia membuka mata kembali, dunia di sekelilingnya telah berubah.
Tak ada jalanan. Tak ada darah.
Ia melayang di sebuah ruang luas berwarna keabu-abuan. Di hadapannya berdiri tiga sosok bercahaya—aura mereka begitu kuat hingga membuat jiwa Wakasa bergetar.
Salah satu dari mereka melangkah maju.
“Selamat datang, jiwa yang malang,” ucapnya dengan suara tenang namun berwibawa.
“Namaku Algiers, Dewa Pencipta. Saat ini, kau berada di Alam Roh.”
Wakasa terdiam. Wajahnya pucat, matanya penuh kekecewaan dan amarah yang tertahan.
“…Jadi… aku benar-benar mati, ya.”
Algiers mengangguk pelan.
“Kau ditusuk oleh orang yang sempat kau sadari keberadaannya.”
“Jadi… dia pelakunya…” Wakasa mengepalkan tangan.
“Dia melakukannya bukan tanpa alasan.”
“Alasan?” suara Wakasa meninggi. “Apa salahku?!”
“Dia tidak menyukaimu. Ia merasa kau mengambil wilayah mencari uangnya… dan orang-orang lebih menyukaimu dibanding dirinya.”
Wakasa terdiam sejenak.
“…Jadi dia iri padaku?”
Algiers kembali mengangguk.
Keheningan menyelimuti mereka.
Kemudian, sang dewa berkata,
“Aku akan memberimu kesempatan untuk hidup kembali.”
Wakasa menoleh cepat.
“Hidup kembali?”
“Namun bukan di dunia asalmu,” lanjut Algiers.
“Aku akan mengirim mu ke dunia lain—dunia yang dipenuhi sihir.”
“…Dunia lain?” Wakasa terkejut. “Sihir?”
“Di sana, kau bebas memilih jalan hidupmu sendiri.”
“Aku juga akan memberimu berkah: skill yang berguna, dan kemampuan untuk menguasai seluruh sihir.”
Wakasa terdiam lama.
Dunia lamaku aku tidak punya apa pun , bahkan untuk hidup layak aja aku gak bisa dapatkan.
Jika ini kesempatan kedua…
Ia mengangkat kepalanya.
“Baiklah. Aku menerimanya.”
Algiers tersenyum tipis. Ia mengangkat tongkatnya, dan cahaya menyilaukan menyelimuti Wakasa.
“Gunakan lah berkah ku ini dengan bijak.”
“Dan nikmatilah dunia barumu.”
- DAN PERJALANAN MENUJU DUNIA LAIN PUN DIMULAI -
Saat kesadarannya kembali, Wakasa merasakan sakit ringan di kepalanya.
“eeeh…”
Ia membuka mata dan menyadari tubuhnya terasa… berbeda.
Ia berlari ke sebuah sungai dan menatap pantulan dirinya.
“…Aku kembali ke usia remaja…”
“Dan wajahku… benar-benar berubah.”
Ia teringat kata-kata Algars.
—Kau akan mendapatkan skill yang berguna dan menguasai semua sihir—
“Baiklah…” Wakasa menghela napas.
“Mari kita coba.”
“Status Open.”
Kecepatan 100/100
Pukulan 100/100
Kekuatan Sihir 100/100
Kemampuan Bertarung 100/100
Pertahanan 100/100
Teknik Berpedang 100/100
Mysteri -/-
“Wah… gila.”
“Tunggu… ‘Mysteri’?”
Ia mengerutkan kening.
“Mungkin skill tersembunyi?”
Ia mengangkat tangannya.
“Fire Ball.”
“Wind Cutter.”
“Rock Rain.”
“Arashi Ice.”
Ledakan elemen terjadi bergantian.
“Hebat…” Wakasa tersenyum kagum.
Namun senyumnya memudar saat ia menyadari sekelilingnya.
“Hutan…?”
“Aku bangun di tengah hutan?!”
Tiba-tiba—
BUM!
Tanah bergetar hebat. Pohon-pohon tumbang di kejauhan. Suara auman menggelegar mengguncang udara.
“Monster…?” Wakasa menelan ludah.
“Dan sepertinya… ada dua monster yang sedang bertarung.”
Ia berlari menuju sumber suara.
Sesampainya di sana, tubuhnya membeku.
Di hadapannya berdiri monster raksasa—
Dinos killer.
Tingginya sekitar 25 meter, tubuhnya sebesar 30 gajah dewasa, dengan kuku panjang dan aura kehancuran yang mengerikan.
Wakasa menatap monster itu dengan mata membelalak.
“…Kehidupan keduaku… langsung begini, ya?”
“Sepertinya… monster itu penyebab kekacauan di hutan ini.”
Wakasa berbisik pelan sambil mengintip dari balik semak. Matanya mengamati monster besar di hadapannya—tubuhnya penuh dengan bulu bulu tajam , napasnya berat, dan bekas pertarungan masih terlihat jelas.
“Hebat juga… monster segede ini bisa dikalahkan. Jangan-jangan—”
Ia menelan ludah.
“Apa jangan jangan hu—hutan ini memang rumahnya para monster.”
Pikiran itu membuat Wakasa sedikit merinding, tapi rasa penasaran justru lebih besar. Ia mengepalkan tangan.
“Kalau begitu… sekalian saja aku tes seberapa kuat sihirku.”
Beberapa menit kemudian, ia berdiri dan melangkah keluar dari semak.
“Skill Kecepatan, aktif!”
Begitu monster itu menyadari keberadaannya, raungan keras menggema di seluruh hutan. Namun sebelum cakar raksasa itu menyentuhnya—
ZHAP!
Wakasa menghilang.
“Eh?”
Ia muncul beberapa meter di belakang monster itu.
“HAHAHA! Serius?! Ini teleport?!”
Wakasa tertawa lebar. “Dengan ini aku bisa pindah ke mana pun yang aku bayangkan!”
Monster itu mengamuk. Cakaran, ledakan sihir, dan serangan brutal dilancarkan bertubi-tubi—namun semuanya meleset.
“Yah… sayang sekali.”
Wakasa mengangkat tangannya.
“Fire Big Ball!”
—Duarrrrrr!!—
Bola api raksasa menghantam tubuh monster itu. Ledakannya meratakan pepohonan di sekitar. Monster itu terlempar dan tergeletak, tapi masih bergerak.
“Oh? Masih hidup? Keras kepala juga.”
Wakasa menyeringai.
“Kalau begitu… One Thousand Knife Lightning!”
Langit berkilat. Ribuan pisau petir menghujani monster itu tanpa ampun.
Beberapa detik kemudian—hening.
Monster itu tak bergerak lagi.
“……”
Wakasa menatap tangannya sendiri, lalu tertawa puas.
“HAHAHAHA! Gila… aku bisa mengeluarkan sihir sedahsyat ini!”
Namun saat ia menoleh ke sekeliling, senyumnya perlahan memudar.
“……waduh.”
Pohon tumbang di mana-mana. Tanah hangus. Dan matahari mulai terbenam.
“Ngomong-ngomong…”
Ia menatap bangkai monster itu.
“Ini… bisa dimakan nggak ya?”
Rasa lapar menang.
“Yah, dicoba saja. Aku juga belum makan sejak datang ke dunia ini.”
“Knife.”
Ia memotong sedikit daging, lalu membuat api untuk memanggangnya. Beberapa saat kemudian, aroma harum menyebar.
“Wah…”
Wakasa mengendus.
“Ini baunya kayak daging sapi premium.”
Ia menggigit.
“—HAP!”
Mata Wakasa langsung berbinar.
“Uuu mmm! Enak banget!”
Teksturnya juicy, rasanya lembut.
“Siapa sangka daging monster seenak ini!”
Ia makan dengan lahap hingga kenyang.
“Haaah… kenyang.”
Ia mengelus perutnya.
“Daging terenak yang pernah aku makan.”
Saat mengecek statusnya, sebuah skill baru muncul.
[Magic Hole]
“Magic Hole?”
Ia mengernyit.
“Apaan tuh?”
“Magic Hole.”
Sebuah lubang hitam besar muncul di sampingnya.
“Whoa…”
Ia memasukkan pisaunya—Shopp—lalu mengambilnya kembali.
“HAHAHA! Inventory!”
“Dengan ini aku bisa nyimpen daging monster buat stok!”
Lalu ia pergi untuk memotong daging monster itu tidak lama kemudian saring itu terpotong semua.Setelah menyimpan potongan daging, Wakasa membuat alas tidur dari daun.
“Hari ini… benar-benar menyenangkan.”
“Terima kasih, Dewa Algiers.”
Di kejauhan, sang dewa yang mengamati dari bola cahaya hanya tersenyum tipis.
— Keesokan Harinya —
“Huu aah~”
“Aku tidur nyenyak banget.”
Setelah sarapan daging monster, Wakasa berdiri dan menatap hutan lebat.
“Aku nggak bisa terus di sini. Terlalu banyak monster.”
Lalu wakasa untuk melakukan perjalanan menuju kota terdekat.Setelah merapikan semuanya dan memastikan tidak ada yang tertinggal ia pun mulai melakukan perjalanan.
“Baiklah… saatnya pergi. Go go go!”
Ia mengikuti aliran sungai. Tetapi yang terlihat sepanjang jalan hanya pohon pohon dan beberapa monster yang ia lawan sebagian.
— 2 Jam Kemudian —
“Hmm… ibukota masih jauh gak ya?”
“Isinya hutan terus… meski monster-monster banyak yang muncul tetapi semua itu monster ukuran kecil dan terlihat gak berharga , tetapi ada satu monster Berukuran besar sepertinya lumayan mahal kalo laku dijual.”
Tiba-tiba, pemandangan berubah.
Bangunan batu, tembok besar, dan gerbang megah muncul di hadapannya.
“…….”
Wakasa terdiam, lalu melompat senang.
“AKHIRNYA!”
“Perjalanan panjangku terbayar juga!”