Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir, mantan prajurit wanita hebat di dunia kuno, kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad ia bergerak menumpas kejahatan dan zombie.
Sepupu dan tunangan yang selingkuh? Bunuh!
Paman dan Bibi yang licik? Bunuh!
Orang-orang serakah yang berniat jahat? Bunuh!
Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya. Bersama orang-orang kepercayaannya, menaklukkan kota miskin yang terbuang, menciptakan sebuah kota aman yang akan menjadi cahaya dimasa depan. Menciptakan sebuah harapan ditengah-tengah keputusasaan.
Mampukah Elle menciptakan harapan ditengah kehancuran? Atau justru gugur dimakan kejinya akhir dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sapi Mutan
**
"Kak? Apa maksudmu? Disana penuh hewan mutan, kau malah mau pergi ke arah sana. Pergi saja ke jalan sebelumnya yang kita rencanakan untuk dilewati. Lagipula zombie-zombie itu sudah kita bersihkan, kan?" Protes Darrion dengan nada kesal. Ia sungguh tidak terima dengan jalan pikiran kakanya. Selain itu, ia tidak ingin kakaknya terluka lagi. Ia hanya ingin pergi ke jalan yang lebih aman agar keselamatan lebih terjamin.
"Benar, nona muda. Sebaiknya kita kembali ke jalan sebelumnya dibanding melanjutkan perjalanan melewati tempat dimana hewan mutan berada." Tambah paman Jergh berpendapat.
Elle lantas menatap satu persatu orang yang ada didepannya. Semua orang tampak tidak terima. Tidak ada satupun yang setuju dengan pendpatnya. Kecuali Luca, entah dia setuju atau tidak, dia hanya diam dengan raut tanpa ekspresi andalannya.
"Boleh aku berbicara?" Ucap Shirley seraya mengangkat tangannya. Ia menatap semuanya dengan canggung.
"Bicaralah." Balas Elle seraya mengangguk.
"Aku hanya ingin memberitahu, jalan yang aku lewati sebelumnya itu pusat kota. Kalian lewat sana bisa saja, tapi ada lebih banyak zombie disana. Yang mengejarku kemarin hanya sebagian besar yang ada disana. Itupun aku tidak sengaja membuat keributan. Jelasnya, disana adalah sarang zombie. Aku rasa sudah tidak ada orang hidup lagi disana. Kami dapat keluar murni karena keberuntungan." Jelas Shirley dengan raut serius.
"Kakak, Sasa juga melihatnya. Banyak sekali, kakakku Lio bahkan menangis sebelumnya." Timpal Sasa dengan nada kekanak-kanakan. Dan raut wajah polos dengan mata bulat yang dilebarkan.
Elle tertawa samar melihat reaksinya. Tapi kemudian ia menjadi serius. Bahkan Sasa mengatakan hal itu menakutkan. "Dengar? Masih mau pergi kesana?" Tanya Elle menatap semuanya, satu persatu dengan mata tajam.
Beberapa terbatuk canggung. Beberapa membuang muka menatap hal lain yang penting tidak menatap Elle. Berbeda dengan Luca yang selalu menatap Elle intens. Sebab ia masih belum dapat jawaban dari Elle sejak malam itu. Disini, ketika kedua matanya lagi-lagi bersinggungan, Elle lah yang cepat-cepat membuang muka.
"Kalau begitu ikuti katamu, kak."
"Benar, benar, nona muda ikuti katamu."
"Aku setuju, lagipula terluka oleh hewan mutan tidak akan membuat kita menjadi zombie."
"Ya! Itu benar, aku setuju."
"Baiklah, ayo berangkat?" Ucap Elle kemudian, mengajak semuanya.
"Tunggu satu hari. Tingkatkan kekuatan semua orang, gunakan inti kristal yang sudah didapatkan." Luca mengeluarkan suara. Ia rasa, memang sudah seharusnya meningkatkan kekuatan masing-masing orang.
Elle setuju. Karena meski hewan mutan tidak akan membuat mereka berubah menjadi zombie. Tapi hewan mutan lebih kuat dari zombie yang satu level dengan mereka. Hal ini, memang harus dipertimbangkan agar setiap orang mampu menjaga dirinya sendiri.
Selain memperkuat sehari sebelumnya, pertarungan yang sebenarnya bisa mengokohkan pondasi dasar dari level masing-masing kekuatan setiap orang.
Jadi, keesokan harinya setelah sarapan. Semuanya berangkat menuju tempat dimana hewan mutan berkumpul. Karena ada tambahan kendaraan, saat ini Avin dan paman Jergh diungsikan ke Van milik Shirley, agar paman Jergh bisa menyetir bergantian dengan Shirley.
"Bisakah kau memperkirakan ada berapa banyak hewan mutan disana?" Tanya Elle pada Luca.
"Tidak lebih dari 3, sepertinya? Aku tidak begitu yakin." Ucap Luca seraya menggelengkan kepalanya merasa bingung sebab sebelumnya ia jelas melihat banyak hewan mutan.
Elle mengangguk paham. Tak bertanya lebih lanjut, hanya mulai mempersiapkan diri. Lagipula hewan mutan tidak akan muncul banyak di masa awal kiamat. Sebelumnya ia merasa aneh dengan perkataan Luca yang memberitahu bahwa di jalur ini banyak hewan mutan.
Pikirannya berkata untuk menjauhi jalur ini dengan jalur lain. Tapi pada akhirnya mereka tetap menghadapi jalur ini. Yang mana jumlah hewan mutan ternyata berubah menjadi 3? Mungkinkah itu hanya kamuflase sebelumnya? Luca belum meningkatkan kekuatan sebelumnya jadi radarnya tidak menangkap dengan akurat? Pikir Elle.
'Apapun itu, ayo lihat dan hadapi dulu.' Ucapnya dalam hati.
**
Begitu sampai di area yang dimaksud, kedua kendaraa berhenti dengan posisi berdekatan. Satu persatu keluar untuk melihat. Tempat ini lebih seperti peternakan, jadi wajar baginya ada hewan mutan disini.
Meski begitu, tidak mungkin semua hewan bermutasi. Mungkin beberapa saja, dan kemungkinan paling besar adalah sebagian besar hewan mati. Yang sangat wajar, karena dalam hal ini hewan ternak di peternakan mempunya lebih sedikit kekuatan dibanding dengan hewan liar yang kemampuan adaptasinya lebih tinggi.
"Terlalu hening." Bisik Elle tertahan. Melihat sekeliling yang berantakan tanpa tanda kehidupan.
"Sesuatu datang." Suara magnetis Luca memecah keheningan yang mencekam.
Mendengar Luca, semua orang bersiap. Kecuali dua orang anak kecil yang tetap didalam kendaraan, hanya saja sengaja Elle pindahkan ke hummer agar keduanya lebih aman ketika menunggu. Diluar juga ada paman Jergh yang menjaga sementara yang lain maju untuk melihat situasi.
"Aku tidak melihat apa-apa, tapi dia terus maju dengan cepat! Hati-hati." Ucap Luca merasa gugup.
Elle sangat waspada, ketika ia mendengar perkataan Luca ia menajamkan telinganya. Mungkin yang datang memiliki kemampuan yang sama seperti Avin. Yang disisi lain, Avin juga menghilang ditempat, berharap dengan menggunakan kekuatannya ia bisa merasakan makhluk itu.
"KIRI, ELLE!" Pekik Luca, membuat Elle dengan cepat menebaskan pedangnya.
GGGGGRRRRRRR!
Suara geraman terdengar, darah menyiprat sedikit, dan Elle tersenyum menatap seekor sapi hitam yang kini sudah terlihat wujudnya. Elle beranggapan, ia tergores dan terluka sehingga wujudnya bisa terlihat.
"Sial! Banteng?!" Pekik Darrion terkejut, dengan warna dan ukurannya yang jauh lebih besar.
"Itu sapi, tuan muda!" Timpal Sam agak frustasi dengan penglihatan Darrion.
"Bersiap! Tunjukkan hasil peningkatan kekuatan masing-masing." Ucap Elle bergema dengan tegas. Kemudian ia mundur, membiarkan yang lain maju terutama Darrion.
Darrion sudah banyak berkembang, berdasarkan penjelasannya tentang banyaknya kekuatan, berdasarkan ingatan di kehidupan lalu, Elle tahu bahwa Darrion sudah berada di level 1 akhir. Sedangkan yang lain masih ada di level 1 menengah. Kecuali Shirley dan Luca yang tidak menyebutkan apa-apa tentang perkembangannya.
Sedangkan dirinya sendiri, kekuatan kayunya berada di level dua awal. Sedangkan ruangnya level dua akhir mengingat perubahannya yang lebih banyak. Itu terjadi ketika Luca membiarkannya menyerap inti kristal dari zombie tingkat tinggi sebelumnya.
Set! Set! Set! Ssshhhh!
Darrion mengeluarkan angin, dengan bentuk bilah berjumlah tiga dan membuatnya berputar diudara membentuk lingkaran. Bilah-bilah yang berputar terlihat sangat tajam, siap menebas. Membuat Elle takjub, adiknya ternyata bisa membentuk anginnya seperti ini.
Memang, tim nya menyerap banyak dan mereka bekerja lebih keras untuk meningkatkan kekuatan. Yang Elle tidak tahu adalah, mereka termotivasi olehnya, tidak ingin melihat Elle terluka tanpa mereka melakukan apapun untuk menyelamatkannya. Sama seperti pikiran Luca.
**