NovelToon NovelToon
Gadis Culun Itu "Pacar" Ketua Geng Motor

Gadis Culun Itu "Pacar" Ketua Geng Motor

Status: tamat
Genre:Misteri / Bad Boy / Romansa / Tamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Penguasa Kampus yang Baru

Kabar tentang Devan yang resmi memacari Lia menyebar seperti api yang menyambar bensin di Universitas Mahardika. Jika sebelumnya Lia adalah "target bully", kini ia menjadi sosok yang paling disegani sekaligus dibicarakan di setiap sudut kantin. Tidak ada lagi yang berani menyenggol bahunya saat di koridor, dan meja tempat ia duduk di perpustakaan selalu dibiarkan kosong, seolah-olah itu adalah area suci yang tidak boleh diganggu.

Pagi itu, Lia berjalan menuju kelasnya dengan perasaan risih. Ia merasa seperti hewan di kebun binatang; semua mata mengikuti langkahnya. Saat ia melewati mading kampus, ia melihat kerumunan mahasiswa sedang membicarakan sesuatu. Ternyata, seseorang telah menempelkan foto kencan Lia dan Devan di jembatan layang kemarin.

"Wah, lihat. Gadis culun kita benar-benar jadi 'Ratu Mawar'," bisik seorang mahasiswi yang langsung diam saat Lia menoleh.

Tiba-tiba, langkah Lia dihadang oleh Sarah. Namun, ada yang berbeda kali ini. Sarah tidak lagi membawa jus untuk ditumpahkan atau kata-kata makian. Wajahnya tampak pucat, dan ia membawa sebuah kotak cokelat mahal.

"Lia... hai," sapa Sarah dengan suara yang dipaksakan ramah. "Aku... aku ingin minta maaf soal kejadian-kejadian kemarin. Aku tidak tahu kalau kamu sedekat itu dengan Kak Devan. Ini ada sedikit kado kecil untukmu, anggap saja tanda perdamaian."

Lia menatap kotak itu, lalu menatap Sarah. Ia menyadari satu hal: mereka tidak menghormatinya, mereka hanya takut pada Devan. "Simpan saja cokelatmu, Sarah. Aku tidak butuh kado untuk dimaafkan. Cukup jangan ganggu aku lagi, itu sudah lebih dari cukup."

Lia melangkah pergi, meninggalkan Sarah yang terpaku menahan malu. Untuk pertama kalinya, Lia merasa memiliki suara. Namun, di dalam hatinya, ia merasa sedikit sedih. Ia ingin dihargai karena dirinya sendiri, bukan karena siapa pacarnya.

Siang harinya, saat jam istirahat, raungan mesin motor yang sangat dikenal terdengar di parkiran fakultas. Devan datang tidak sendirian. Ia membawa Baron dan empat anggota Black Roses lainnya. Mereka semua memakai rompi kulit kebanggaan mereka, menciptakan pemandangan yang sangat kontras dengan lingkungan akademis yang rapi.

"Devan! Kenapa bawa pasukan ke sini?" tanya Lia panik saat menghampiri mereka.

Devan turun dari motornya, melepas kacamata hitamnya, lalu mengacak rambut Lia dengan gemas. "Aku hanya ingin makan siang dengan pacarku. Apa itu dilarang?"

"Tapi tidak perlu membawa seluruh anggota gengmu juga," bisik Lia sambil melirik orang-orang yang mulai memotret mereka dari jauh.

"Baron dan yang lain lapar, Lia. Dan aku ingin memastikan semua orang di sini tahu bahwa meskipun aku tidak di sini, mataku tetap ada di mana-mana," kata Devan sambil memberikan tatapan tajam ke arah sekumpulan mahasiswa yang sedang berbisik.

Mereka akhirnya makan siang di kantin kampus. Bayangkan pemandangannya: seorang gadis berkacamata tebal duduk dikelilingi oleh pria-pria bertato yang sibuk makan bakso dengan lahap. Baron bahkan sempat membantu Lia membukakan tutup botol minumnya dengan sangat sopan, membuat Lia tertawa kecil.

"Nona Lia, jangan khawatir. Kalau ada yang berani menatapmu lebih dari tiga detik, bilang padaku. Akan kubuat matanya juling," canda Baron yang langsung dihadiahi jitakan oleh Devan.

Namun, di tengah suasana akrab itu, ponsel Devan bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan sebuah pesan gambar. Devan membukanya, dan seketika ekspresinya berubah menjadi sangat dingin.

Pesan itu berisi foto Lia dari jarak jauh saat sedang berjalan masuk ke kelas pagi tadi, dengan tulisan: "Pilihan yang bagus, Devan. Tapi mawar yang cantik lebih mudah layu daripada yang kamu kira."

Tangan Devan gemetar karena menahan amarah. Ia tahu ini bukan dari The Vipers. Pola terornya berbeda. Ini terasa lebih personal, lebih rahasia.

"Ada apa, Devan?" tanya Lia, menyadari perubahan aura pacarnya.

"Bukan apa-apa. Hanya urusan bengkel," bohong Devan. Ia segera berdiri. "Lia, aku harus pergi sekarang. Baron akan tetap di sini sampai kelasmu selesai. Dia akan mengantarmu pulang."

"Tapi Devan, aku bisa pulang sendiri—"

"Tidak untuk kali ini, Lia. Turuti aku," nada suara Devan tidak terbantahkan.

Lia hanya bisa mengangguk pasrah. Ia melihat Devan pergi dengan terburu-buru, diikuti oleh dua anggota geng lainnya. Ada perasaan tidak enak yang menyelinap di hati Lia. Ia merasa bahwa kedamaian yang baru saja ia rasakan hanyalah ketenangan sebelum badai besar datang.

Di sisi lain kota, di sebuah apartemen mewah, seorang wanita berambut merah panjang sedang menyesap wine sambil menatap layar laptop yang menampilkan data pribadi Lia. Ia tersenyum sinis, memperlihatkan tato kecil berbentuk bunga mawar yang sudah layu di pergelangan tangannya.

"Jadi ini gadis yang menggantikanku, Devan?" bisiknya pelan. "Mari kita lihat seberapa lama dia bisa bertahan di duniamu yang berdarah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!