Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, Gilang, suaminya justru membawa Lila, istri kedua yang juga tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Antara Kebahagiaan dan Pengkhianatan
“Hamil…? Aku hamil…?”
Ruangan serba putih itu mendadak terasa sunyi, hanya terdengar detik jarum jam yang begitu nyaring. Desiran halus dari mesin pendingin ruang menghembuskan hawa dingin menusuk tulang. Namun, Almira Abimanyu merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya hingga membuat kedua matanya berkaca-kaca. Aroma desinfektan yang biasanya membuatnya mual, hari ini tercium bagai aroma kebahagiaan. Ia menggenggam erat selembar kertas di tangannya, hasil laboratorium yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Di hadapannya, Dokter Melati tersenyum tulus. "Selamat, Nyonya Almira. Hasilnya positif. Anda hamil. Penantian Anda selama tiga tahun ini, berakhir sudah," ucapnya dengan nada lembut yang membuat hati Almira kian menghangat.
Dunia seakan berhenti berputar. Tiga tahun pernikahan, penantian panjang yang penuh dengan doa dan harapan, akhirnya berbuah manis. Air mata haru menggenang di pelupuk matanya, membentuk kristal-kristal bening yang berkilauan. Ia memejamkan mata, membiarkan emosi meluap dalam diam. Kehadiran seorang anak, buah cinta antara dirinya dan Gilang, adalah impian yang selama ini ia dambakan.
"Ya Allah… Alhamdulillah," bisik Almira lirih, suaranya bergetar karena haru. Ia membuka mata dan menatap Dokter Melati dengan senyum yang mengembang di wajahnya. "Terima kasih, Dokter. Terima kasih banyak."
Dokter Melati mengangguk dengan senyum yang sama lebarnya. "Sama-sama, Nyonya. Jaga diri baik-baik, ya. Usia kehamilan Anda masih sangat muda. Hindari stres dan perbanyak istirahat. Jangan lupa konsumsi vitamin dan makanan bergizi."
Almira mendengarkan setiap nasihat Dokter Melati dengan seksama. Ia berjanji akan melakukan semua yang terbaik untuk menjaga kehamilannya untuk memastikan anaknya lahir sehat dan sempurna. Ia akan menjadi ibu terbaik, sebaik yang bisa ia berikan.
Setelah berpamitan dengan Dokter Melati, Almira keluar dari ruangan dan melangkah menuju parkiran. Matanya berbinar-binar, membayangkan reaksi Gilang saat mendengar kabar bahagia ini. Ia akan menyiapkan kejutan istimewa ini untuk suaminya.
Almira mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan mengetik pesan singkat untuk Gilang: "Sayang, ada kejutan spesial untukmu malam ini. Pulang cepat, ya. Aku tunggu di rumah. Aku akan masak makanan kesukaanmu."
Almira mengirim pesan itu sambil tersenyum. Gilang akan sangat bahagia, itulah keyakinannya. Ia bahkan bisa membayangkan pelukan hangat dan ciuman mesra yang akan diberikan Gilang padanya. Malam ini akan menjadi malam yang tak terlupakan.
Beberapa menit menunggu dan sama sekali tak ada balasan dari Gilang, meskipun berulang kali ia memeriksa layar ponselnya. Padahal centang dua berwarna abu-abu telah berubah menjadi biru.
“Kenapa Mas Gilang tidak membalas pesanku?" Almira bertanya-tanya dalam hati. Pikiran buruk berkelebat, namun segera ia tepis.
“Pasti Mas Gilang sedang sibuk,” gumamnya mengingat sang suami memang sedang berada di luar kota untuk mengurus proyek barunya.
"Tidak apa-apa, Almira. Bukankah suamimu sudah berjanji akan pulang hari ini?” gumamnya lagi menghibur diri sendiri.
Almira menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran negatif yang tiba-tiba berseliweran. Ia percaya pada Gilang. Pria itu sangat mencintainya. Ia harus tetap positif dan mempersiapkan kejutan untuk Gilang.
Wanita itu segera melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit. Malam ini, ia akan merayakan kebahagiaan bersama suaminya.
*
*
*
Sesampainya di rumah, Almira bergegas mempersiapkan kejutan untuk Gilang. Ia ingin menciptakan suasana yang romantis dan berkesan. Ia membersihkan rumah, memasak masakan kesukaan Gilang, menata meja makan dengan lilin dan bunga, dan menyalakan musik romantis. Ia ingin membuat Gilang merasa istimewa dan dicintai.
Selesai membersihkan diri, Almira mengenakan gaun favorit suaminya, gaun berwarna merah marun yang selalu membuat Gilang terpesona. Duduk di depan meja rias, wanita yang memiliki wajah cantik itu merias wajahnya dengan makeup natural, menonjolkan kecantikan alaminya. Ia ingin terlihat sempurna di mata Gilang.
Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam, Gilang belum juga pulang. Almira mulai merasa gelisah. Ia mencoba menghubungi Gilang, tetapi panggilannya tidak dijawab. Ia mengirim pesan singkat, tetapi hanya dibaca tanpa ada balasan.
Kecemasan mulai menggerogoti hatinya. “Kemana Mas Gilang? Mengapa ia tidak mengangkat teleponnya? Apakah terjadi sesuatu padanya?*
Almira mencoba menenangkan dirinya. “Mungkin Mas gailang terjebak macet di jalan. Aku harus tetap sabar dan menunggu.”
Pukul sembilan malam. Suara deru mobil terdengar dari luar. Jantung Almira berdebar kencang. Ia berlari menuju pintu depan, siap menyambut Gilang dengan senyum dan pelukan hangat.
Namun, begitu ia sampai di teras depan dan melihat pintu mobil terbuka, senyum di wajah Almira seketika lenyap. Tubuh wanita itu membeku saat melihat Gilang keluar dari mobil, namun tidak seorang diri. Ada seorang wanita ikut turun bersamanya.
Mata Almira terpaku pada wanita itu yang berjalan sambil memegangi perutnya yang membuncit, berjalan dengan dagu terangkat layaknya seorang ratu.
"Aku pulang," ucap Gilang dengan nada datar, tanpa sedikit pun menunjukkan penyesalan. Ia menggandeng tangan wanita itu dan membawanya mendekat ke arah Almira yang terpaku di ambang pintu.
“Siapa dia, Mas?" tanya Almira. Matanya menatap Gilang dan wanita itu bergantian, dengan tatapan penuh kebingungan. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Namun, ia merasa akan mendengar sesuatu yang buruk.
"Almira, kenalkan… Ini Lila, istri keduaku," ucap Gilang dengan enteng, seolah mengucapkan kalimat biasa saja. Seolah-olah yang baru saja ia ucapkan bukanlah masalah besar. Pria itu menatap Almira dengan tatapan yang sulit dibaca.
Dunia Almira runtuh seketika. Kebahagiaannya hancur berkeping-keping. Air mata yang tadi ia tahan dengan susah payah akhirnya tumpah, membasahi pipinya. Ia merasa seperti disambar petir di siang bolong. Pengkhianatan itu begitu menyakitkan, lebih sakit dari apapun yang pernah ia bayangkan. Rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya sesak napas dan sulit bernapas.
"Istri… kedua?" bisik Almira dengan suara tercekat, nyaris tak terdengar. Air matanya semakin deras mengalir, membentuk sungai kecil di wajahnya.
Ia ingin berteriak, ingin marah, ingin menghancurkan semua yang ada di hadapannya. Tapi ia tidak bisa. Ia merasa seperti kehilangan suaranya, kehilangan kekuatannya, kehilangan dirinya sendiri. Tubuhnya seolah kehilangan tulang-belulang.
Wanita yang bernama Lila itu tersenyum sinis ke arah Almira. Ia mendekat dan mengulurkan tangannya. "Hai, Mbak Almira. Senang bertemu denganmu. Semoga kita bisa akur, ya," ucap Lila dengan suaranya yang begitu manis, namun terdengar begitu palsu di telinga Almira.
Almira menatap tangan Lila dengan tatapan jijik. Ia tidak ingin menyentuh wanita itu. Ia merasa jijik pada wanita yang telah merebut kebahagiaannya.
"Mas Gilang, apa maksud semua ini?" tanya Almira dengan suara bergetar, mengabaikan uluran tangan Lila. "Mengapa kamu melakukan ini padaku? Ini… ini hanya prank, kan? Katakan padaku, Mas! Kamu cuma lagi nge-prank aku, kan?"
Gilang menghela napas panjang. "Maafkan aku, Almira. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi aku mencintai Lila, dan dia sedang mengandung anakku," jawab Gilang dengan nada yang terdengar seperti pembelaan diri.
"Mencintai Lila? Anakmu?" Almira tertawa sinis. "Lalu bagaimana denganku? Apakah kamu tidak mencintaiku lagi? Apakah aku tidak berarti apa-apa bagimu?"
Gilang mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya kembali. "Aku mencintaimu, tapi aku juga mencintai Lila. Sudahlah, jangan terlalu mendramatisir keadaan. Lagi pula ini juga untuk kebahagiaan kita. Kamu harusnya senang, akhirnya impian kita memiliki seorang anak akan terwujud. Anak Lila, akan menjadi anakmu juga."
Di samping Gilang, diam-diam Lila menyeringai licik. "Mas Gilang. Kakiku mulai pegal. Apa Mbak Mira akan terus menahan kita di luar? Kamu ingat kan? Dokter bilang aku tidak boleh kecapekan," ucap Lila sambil menggelayut menyandarkan kepala di lengan Gilang.
"Maaf membiarkan kamu menunggu, Sayang. Kita masuk, ya?” Gilang menggenggam tangan Lila dan melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan Almira yang masih terpaku di ambang pintu dengan air mata yang semakin deras.
semangat thor