Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Pertemuan di Ambang Duka
Lorong rumah sakit yang dingin terasa semakin mencekam saat malam semakin larut. Bau bunga kamboja dan cairan antiseptik menyatu, menciptakan aroma perpisahan yang menyesakkan dada. Di depan ruang jenazah, Amara terduduk lemas di bangku kayu. Matanya sembap, tatapannya kosong menatap pintu besi yang menutup rapat raga bundanya untuk terakhir kali.
Ummi Salamah duduk di sisi kanan Amara, merangkul bahu menantunya itu dengan penuh kasih, sementara Aisyah duduk di sisi kiri, terus membisikkan doa-doa penenang. Amara merasa seperti sedang bermimpi buruk yang tak berujung. Ia pulang untuk menyelamatkan, namun yang ia dapati hanyalah kehilangan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terburu-buru dan napas yang memburu terdengar menggema di sepanjang lorong. Amara tidak menoleh, ia terlalu lemas untuk sekadar mengangkat kepala. Namun, aroma parfum yang sangat ia kenali—campuran wangi kayu cendana dan kesejukan air wudhu—menyapa indra penciumannya.
"Amara..."
Suara itu rendah, serak, dan penuh dengan kepedihan yang mendalam.
Amara tersentak. Ia mendongak perlahan. Di sana, berdiri seorang pria dengan jaket yang tampak kusam karena perjalanan jauh, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya menunjukkan kelelahan yang luar biasa. Itu Hannan.
"Mas... Hannan?" bisik Amara hampir tak percaya.
Hannan tidak memedulikan apapun lagi. Ia langsung berlutut di depan Amara. Matanya yang merah menatap mata istrinya dengan tatapan yang seolah ingin merengkuh seluruh rasa sakit wanita itu. Tanpa kata-kata, Hannan menggenggam kedua tangan Amara yang dingin seperti es.
"Kenapa kamu pergi sendiri, Amara? Kenapa tidak menungguku?" tanya Hannan dengan suara bergetar. Bukan kemarahan yang ada di sana, melainkan rasa syukur yang amat sangat karena menemukan istrinya masih bernapas.
Amara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menghambur ke pelukan Hannan, menangis sejadi-jadinya di dada suaminya. "Bunda, Mas... Bunda sudah tidak ada... Aku terlambat. Semuanya sudah berakhir," isaknya pilu.
Hannan memeluk istrinya dengan sangat erat, seolah tak ingin membiarkan seujung rambut pun dari Amara tersakiti lagi. "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Sabar, Sayang. Mas sudah di sini. Kamu tidak sendirian lagi."
Saat itulah, Hannan baru menyadari kehadiran dua sosok lain di belakang Amara. Matanya terbelalak saat melihat seorang wanita paruh baya dengan mukena yang disampirkan di bahunya sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ummi?" gumam Hannan kaget. Ia melepaskan sedikit pelukannya, mencoba mencerna keadaan. "Bagaimana bisa Ummi ada di sini? Dan... Aisyah?"
Aisyah maju dan mencium tangan kakaknya. "Mas Hannan... Aisyah yang menemukan Mbak Amara di bandara tadi. Dan kebetulan Ummi sedang ada di Jakarta untuk acara pengajian, jadi Aisyah langsung menghubungi Ummi."
Ummi Salamah bangkit dan menghampiri putra sulungnya itu. Tanpa aba-aba, beliau mengusap wajah Hannan yang tampak sangat lelah. "Hannan, anakku... Kamu nekat pulang ke Indonesia hanya demi istrimu, meski Abahmu melarang?"
Hannan menunduk, mencium tangan ibunya dengan takzim. "Maafkan Hannan, Ummi. Tapi Hannan tidak bisa membiarkan istri Hannan dalam bahaya. Hannan sudah berjanji di depan Allah untuk menjaganya."
Ummi Salamah menghela napas panjang, lalu menatap Amara yang masih terisak. "Tadi Ummi sudah melihat sendiri bagaimana istrimu ini bertaruh nyawa. Dia menyelamatkan adikkmu dari perampok di bandara saat dia sendiri sedang hancur memikirkan ibunya. Hannan... Ummi memberikan rida Ummi untuk pernikahan kalian."
Mendengar ucapan ibunya, Hannan merasa separuh beban di pundaknya terangkat. Namun, ia tahu tantangan terberat belum selesai.
"Terima kasih, Ummi," ucap Hannan tulus. "Tapi, bagaimana dengan Abah? Jika beliau tahu kita semua ada di sini..."
"Soal Abah, biar itu menjadi urusan Ummi nanti," potong Ummi Salamah tegas. "Sekarang, tugasmu adalah mengurus jenazah ibunda Amara. Kita harus memandikan dan menshalatkannya sebelum fajar menyingsing. Ummi akan membantu proses pensucian jenazahnya."
Hannan mengangguk. Ia berdiri dan membantu Amara untuk bangkit. Di depan pintu ruang jenazah itu, Hannan membisikkan sesuatu ke telinga Amara.
"Amara, mungkin kamu merasa telah kehilangan segalanya malam ini. Tapi ketahuilah, di balik kesedihan ini, Allah sedang menunjukkan jalan. Ummi sudah menerimamu. Kita akan mengantarkan Bunda ke peristirahatan terakhirnya dengan cara yang paling mulia."
Malam itu, di bawah temaram lampu rumah sakit, sebuah keluarga yang awalnya terpecah mulai menyatu kembali di atas pusara duka. Hannan membuktikan bahwa cinta dan tanggung jawabnya sebagai suami jauh lebih besar daripada rasa takutnya akan pengucilan.
Namun, di kegelapan parkiran rumah sakit, sebuah mobil hitam masih mengintai. Anak buah kolega Bastian ternyata belum menyerah. Mereka melihat Hannan datang, dan kini mereka tahu bahwa "harta karun" yang sesungguhnya bukan hanya dokumen yang dibawa Amara, tapi nyawa Gus Hannan yang bisa dijadikan sandera untuk memaksa Amara menyerah.