Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 : Menyelamatkan
Derap kaki kuda Windchaser berhenti tepat di depan gerbang utama kediaman Menteri Xu, menciptakan kepulan debu yang menyelimuti para penjaga yang baru saja hendak menyilangkan tombak. Qinqin melompat turun sebelum kuda itu benar-benar stabil. Ia tidak menunggu Wu Lian.
"Nona Muda? Anda tidak boleh masuk! Nyonya Besar Bai memerintahkan..."
BRAK!
Qinqin menghantamkan siku tangannya tepat ke ulu hati penjaga yang menghalangi jalannya, membuat pria itu terlipat di tanah sambil megap-mangap. Wu Lian yang menyusul di belakang hanya melirik dingin, memberikan tekanan aura yang cukup untuk membuat penjaga lainnya mematung seperti patung batu.
Qinqin melangkah lebar melintasi aula tengah. Di sana, Nyonya Bai sedang duduk di kursi kebesaran, menyesap teh dengan santai bersama Xu Feng yang sibuk mengamati segel resmi keluarga di atas meja.
"Seleramu masih saja rendah, Nyonya Bai. Ayahku sedang meregang nyawa, dan kau sudah sibuk memoles kursi untuk pantatmu?" suara Qinqin menggelegar, memantul di pilar-pilar jati aula.
Nyonya Bai tersentak hingga cangkir tehnya berdenting keras. Ia menoleh, matanya melebar melihat Qinqin yang berdiri dengan pakaian penuh debu namun dengan tatapan yang bisa menyayat kulit.
"Xu Qinqin! Beraninya kau masuk tanpa tata krama! Dan kau..." Nyonya Bai mendadak kelu saat melihat Wu Lian berdiri tegak di belakang Qinqin, tangan sang Jenderal berada di hulu pedang, memancarkan niat membunuh yang pekat.
"Tata krama?" Qinqin tertawa sinis, langkahnya tidak berhenti sampai ia berdiri tepat di depan meja Nyonya Bai. "Tata krama macam apa yang kau bicarakan? Mengirim pembunuh bayaran ke Barat? Membakar surat-suratku? Atau sengaja mencekik napas suamimu sendiri demi harta?"
"Jaga mulutmu, Kakak!" Xu Feng berdiri, mencoba menggertak. "Ayah sedang sakit parah, dan kau datang membawa keributan!"
"Diam, bocah ingusan!" gertak Qinqin sambil menunjuk wajah Xu Feng dengan belati peraknya. "Kau pikir aku tidak tahu kau sudah siap-siap memakai jubah menteri itu? Minggir, atau aku akan memastikan kau tidak punya tangan untuk memegang segel itu lagi."
Nyonya Bai berdiri, mencoba mendapatkan kembali wibawanya. "Ayahmu sudah sekarat. Tabib bilang tidak ada harapan. Jangan ganggu waktu tenang terakhirnya."
Qinqin menyeringai, matanya yang berwarna emas berkilat berbahaya. "Tabibmu mungkin bodoh, atau mungkin dia sudah kau beli. Tapi aku? Aku membawa sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan emas harammu."
Tanpa menunggu balasan, Qinqin menendang pintu kamar ayahnya hingga terbuka lebar. Di dalam, bau busuk dari luka yang tak kunjung sembuh dan aroma obat murahan menyeruak. Xu Manchu terbaring kaku, wajahnya sudah berwarna keabu-abuan.
Nyonya Bai mencoba mengejar, namun langkahnya terhenti saat Wu Lian menghunuskan setengah bilah pedangnya. Bunyi gesekan logam itu terdengar mengerikan. "Satu langkah lagi, dan kepalamu akan menghias pintu ini, Nyonya," ujar Wu Lian tanpa emosi.
Qinqin segera menghampiri ayahnya. Ia tidak menangis. Air mata hanya untuk orang lemah, dan saat ini, ia butuh fokus. Ia mengeluarkan Akar Naga Putih, menghancurkannya dengan kasar menggunakan gagang belati, lalu mencampurnya dengan ramuan penetral yang ia bawa.
"Dengar, Ayah. Aku sudah jauh-jauh dari Barat, melewati hantu-hantu di Gunung Qingyun. Jangan berani-berani mati sebelum kau melihatku menyeret wanita itu ke penjara," bisik Qinqin sambil memaksa cairan itu masuk ke tenggorokan Xu Manchu.
Selama beberapa detik, tidak ada reaksi. Tubuh Xu Manchu tetap diam. Nyonya Bai di ambang pintu tertawa kecil, "Sia-sia, Qinqin. Dia sudah---"
Ughhk!
Xu Manchu mendadak tersedak hebat. Tubuhnya melengkung, dan sedetik kemudian ia memuntahkan gumpalan darah hitam yang sangat pekat dan berbau menyengat ke lantai. Napasnya yang tadi tersendat kini mulai terdengar berat namun teratur.
Mata Menteri Xu perlahan terbuka. Ia menatap langit-langit, lalu beralih ke wajah Qinqin. Tangannya yang gemetar mencoba meraih tangan putrinya.
"Qin... qin..."
Qinqin menangkap tangan itu, lalu menoleh ke arah Nyonya Bai yang kini gemetar hebat hingga menjatuhkan sapu tangan sutranya.
"Kejutan, Nyonya Bai," ujar Qinqin dengan nada yang sangat manis namun mematikan. "Sepertinya acara pemakaman yang kau siapkan harus diganti menjadi acara pengadilan keluarga. Jenderal, tolong pastikan tidak ada tikus yang keluar dari rumah ini malam ini."
Wu Lian menyeringai tipis, sebuah pemandangan langka yang sangat mengerikan. "Dengan senang hati, Istriku."
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂