NovelToon NovelToon
SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Sistem / Fantasi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 TENTANG MANUSIA TERAKHIR

Abimanyu berdiri di atas balkon cadas yang menjorok ekstrem, sebuah titik di mana angin tidak lagi hanya berbisik, melainkan menghantam dengan kebenaran yang dingin dan tanpa kompromi. Di sini, udara begitu tipis sehingga setiap tarikan napas terasa seperti mencicipi ketiadaan yang murni. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan detak jantungnya yang kini telah menjadi satu-satunya kompas di tengah kesunyian semesta yang luas. Namun, dorongan dari dalam rohnya memaksa ia untuk menoleh ke belakang, menatap ke arah jurang yang sangat dalam, ke arah Lembah Nama yang kini tampak seperti luka kecil di kulit bumi.

Di bawah sana, di dalam kabut yang menyelimuti peradaban kertas, manusia-manusia masih bergerak. Dari ketinggian ini, mereka tidak lagi tampak seperti individu dengan nama, gelar, atau ambisi. Mereka tampak seperti koloni semut hitam yang sangat sibuk, berdesak-desakan di sekitar remah-remah kenyamanan yang mereka sebut sebagai "kebahagiaan".

"Lihatlah mereka, wahai jiwaku yang sudah membasuh diri dengan api," bisik Abimanyu, suaranya segera ditelan oleh deru angin gunung. "Lihatlah makhluk-makhluk yang paling menjijikkan, yang paling tahan lama, dan yang paling sulit untuk punah: Manusia Terakhir.".

Abimanyu teringat pada Profesor Danu dan Dr. Hardi yang masih mendekam di dalam kotak-kotak beton universitas. Di mata Abimanyu sekarang, mereka bukan lagi rekan sejawat, melainkan perwakilan dari jenis manusia yang telah kehilangan kemampuan untuk menginginkan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.

Manusia-manusia di lembah itu telah menemukan "kebahagiaan," lalu mereka berkedip dengan mata yang kecil dan penuh kepuasan diri. Mereka adalah pencipta tatanan yang tidak mengenal risiko. Mereka telah menghapus segala sesuatu yang tajam, segala sesuatu yang berbahaya, dan segala sesuatu yang bisa membuat mereka gemetar.

"Bagi mereka, kesehatan adalah segalanya," pikir Abimanyu sambil menatap titik-titik cahaya di kota yang mulai menyala. "Mereka berjalan dengan hati-hati agar tidak tersandung. Mereka mencintai tetangga mereka bukan karena cinta, melainkan karena mereka butuh kehangatan dari tubuh lain agar tidak merasa kedinginan di tengah kesunyian eksistensi.".

Di Lembah Nama, setiap orang menginginkan hal yang sama, setiap orang adalah sama. Siapa pun yang merasa berbeda akan secara sukarela masuk ke rumah sakit jiwa atau membenamkan diri dalam tumpukan tugas administrasi agar tidak perlu berpikir. Mereka telah mengubah penderitaan menjadi "masalah teknis" yang bisa diselesaikan dengan prosedur operasional standar atau revisi kurikulum yang membosankan.

Dari balkon cadasnya, Abimanyu tertawa—sebuah tawa yang pahit seperti empedu. Ia melihat bagaimana sistem pendidikan yang dulu ia bangun dengan susah payah hanyalah pabrik raksasa untuk memproduksi Manusia Terakhir ini.

"Kami mengajarkan mereka untuk menjadi komponen yang pas," gumamnya, teringat akan naskah Outcome-Based Education (OBE) yang pernah ia puja. "Kami memberi mereka jaminan bahwa jika mereka mengikuti instruksi dalam empat belas kotak yang rapi, mereka akan mendapatkan 'hasil' yang dijanjikan pasar.".

Tetapi apa hasilnya? Hasilnya adalah manusia yang tidak lagi memiliki api di dalam dadanya. Manusia yang lebih takut pada kesalahan teknis daripada kematian jiwa. Mereka bekerja di siang hari untuk kesenangan kecil di malam hari, dan mereka memiliki kesenangan kecil di malam hari untuk mempersiapkan diri bekerja di siang hari. Hidup mereka adalah sebuah lingkaran yang membosankan, sebuah pengulangan tanpa kreativitas yang mereka sebut sebagai "keamanan.".

"Tidak ada lagi penggembala, yang ada hanyalah kawanan!" teriak Abimanyu ke arah lembah. "Semua orang ingin memerintah, namun semua orang terlalu malas untuk memimpin diri sendiri. Semua orang ingin patuh, karena kepatuhan adalah cara termudah untuk menghindari rasa tanggung jawab atas hidup.".

Abimanyu merasakan Roh Gravitasi kembali menarik pundaknya, mencoba mengingatkan bahwa di bawah sana ada tempat tidur yang empuk, pembicaraan yang sopan, dan pengakuan yang manis. Kurcaci di dalam kepalanya berbisik bahwa pendakian ini adalah kegilaan yang sia-sia.

"Mengapa kau di sini, Abimanyu?" bisik suara itu, yang sangat mirip dengan suara Danu saat menawarkan cuti medis. "Di bawah sana, kau dihargai. Di bawah sana, kau adalah subjek yang memiliki predikat. Di sini, kau hanyalah massa biologis yang sedang menunggu untuk membeku.".

Abimanyu menatap tangannya yang kaku dan kotor. Ia melihat darah yang mengering di bawah kuku-kukunya. Ini adalah harga dari menjadi "manusia yang melampaui".

"Aku lebih suka kedinginan di puncak ini daripada berkeringat karena kehangatan palsu dari napas kawanan di bawah sana," jawab Abimanyu pada dirinya sendiri. "Manusia Terakhir adalah mereka yang telah kehilangan kemampuan untuk menghina diri mereka sendiri. Mereka merasa sudah 'sampai'. Mereka tidak lagi memiliki bintang yang bisa mereka lahirkan dari kekacauan di dalam batin mereka."

Melihat ke bawah bukan lagi memberinya rasa rindu, melainkan rasa mual yang mendalam—sebuah nausea ontologis. Ia melihat pasar di lembah sebagai tempat di mana nilai-nilai diperdagangkan seperti barang rongsokan. Para cendekiawan di sana saling menjilat demi angka sitasi, memamerkan kecerdasan mereka seperti merak yang sedang birahi di depan juri akreditasi.

Mereka menyebut diri mereka "objektif" dan "netral," padahal itu hanyalah topeng bagi ketidakmampuan mereka untuk memihak pada kebenaran yang berbahaya. Mereka menulis buku-buku tebal tentang etika, namun mereka sendiri tidak berani melangkah melewati pagar universitas jika tidak ada jaminan dana penelitian.

"Kalian adalah bayangan yang menganggap diri kalian adalah cahaya," desis Abimanyu. "Kalian memuja abu karena kalian takut pada apinya.".

Ia membayangkan seandainya ia turun kembali. Mereka akan menyambutnya dengan kasihan, memberinya obat-obatan untuk menenangkan "gangguan sarafnya," dan menempatkannya kembali di podium agar ia bisa bercerita tentang "pengalaman spiritualnya" sebagai materi kuliah yang menarik. Pendakiannya akan diubah menjadi komoditas, penderitaannya akan dijadikan statistik.

Matahari mulai menghilang di balik cakrawala, meninggalkan semburat warna merah darah yang mengerikan di langit. Abimanyu menyadari bahwa ia tidak boleh lagi menoleh ke bawah. Terlalu lama melihat Manusia Terakhir bisa membuat matanya tertular oleh kerabunan mereka.

Ia membalikkan badannya, memunggungi Lembah Nama dan segala kenyamanannya yang mematikan. Di hadapannya, dinding tebing tegak lurus menanti, lebih hitam dan lebih dingin dari sebelumnya.

"Selamat tinggal, wahai para pemuja hari ini," ucap Abimanyu dengan suara yang kini telah tenang kembali. "Kalian telah menemukan kebahagiaan, dan kalian berkedip. Aku telah menemukan jalanku, dan aku mendaki.".

Bab 13 ini menjadi titik balik di mana sisa-sisa keinginan untuk "diselamatkan" oleh masyarakat telah mati sepenuhnya. Abimanyu menyadari bahwa menjadi Übermensch berarti harus sanggup menanggung rasa jijik yang paling hebat terhadap apa yang dulu ia anggap sebagai "kemanusiaan yang ideal.".

Ia mengambil satu langkah lagi menuju kegelapan di atas sana, meninggalkan semut-semut di bawah sana yang masih sibuk memperebutkan remah-remah kenyamanan di dalam penjara yang mereka sebut sebagai rumah. Di atas tebing ini, ia memang sendiri, tetapi dalam kesendirian itu, ia akhirnya menemukan kedaulatan yang tidak pernah bisa diberikan oleh gelar atau jabatan apa pun di dunia.

1
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!