Sisi Caldwell dipaksa keluarganya mengikuti pesta kencan buta demi menyelamatkan perusahaan, hingga terpilih menjadi istri keenam Lucien Alastor, miliarder dingin yang tak percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
“Terima kasih sudah mengantarku,” ucap Sisi saat turun dari mobil Lucien. Namun pria itu bahkan tidak menatapnya dan langsung melajukan mobilnya.
Pria kasar.
“Selamat siang, Nyonya,” sapa security.
Sisi membalas dengan senyum manis dan menyapa semua orang yang ditemuinya di Kantor. Mereka masih memanggilnya sebagai CEO sementara selama Jericho berada di luar negeri. Sekarang, setelah pria itu kembali, Sisi resmi kembali menjabat sebagai Kepala Desainer Interior.
“Apa aku terlambat?” tanya Sisi tegas saat memasuki ruang rapat.
“Tidak. Silakan duduk,” jawab Jericho tanpa mengangkat pandangan dari folder di tangannya.
Sisi berjalan dengan kepala tegak lalu duduk di samping Jericho. Aleta yang duduk di seberang tersenyum padanya.
“Kita akan mengerjakan proyek terbesar tahun ini,” ujar Arsitek Willy membuka rapat.
“Masalahnya, klien ingin proyek ini selesai dalam enam bulan,” lanjutnya.
Semua orang mengernyit dan saling bertukar pandang. Sisi dan Jericho juga saling menatap.
“Velia apa pendapat Anda?” tanya Sisi.
“Tentu bisa selesai kurang dari enam bulan. Pertanyaannya hanya satu, apakah perusahaan itu siap mengeluarkan dana besar. Permintaan mereka tidak mudah, tapi yang mustahil bisa jadi mungkin kalau uangnya cukup,” jawab Velia panjang lebar.
Sisi mengangguk setuju. Ia membuka folder di hadapannya, lalu matanya membulat ketika membaca nama perusahaan klien.
LA COMPANY
“LA?” gumam Sisi pelan.
“Ya. Mereka berencana membangun resor besar,” jelas sang arsitek.
Sisi mengangguk singkat.
Sialan pria itu.
Rapat berlanjut dengan pembahasan teknis sebelum akhirnya ditutup. Sisi, Aleta, dan Jericho keluar dari ruang rapat hampir bersamaan.
“Gila, suamimu bikin suasana rapat tegang. Tidak kelihatan, ya, kalau dia dendam,” ujar Aleta sarkastis.
“Sudahlah, Aleta,” kata Jericho lembut.
“Maaf ya, Jericho. Aku juga tidak tahu kenapa dia seperti itu,” ujar Sisi sambil menggaruk lehernya canggung.
Jericho hanya tersenyum.
“Tidak apa-apa. Yang penting jangan lupa makan malam kita nanti,” katanya sambil tersenyum hangat.
Sisi membalas senyum dan mengangguk. Senyum Jericho memang selalu menenangkan.
“Permisi, yang jomblo mau lewat. Yang mantan-mantanan jangan halangi jalan,” ucap Aleta sambil bernyanyi.
Sisi dan Jericho menyingkir.
“Gila kau,” gerutu Sisi sambil mengikuti Aleta.
“Kalian manis sekali tadi. Balikan, ya?” tanya Aleta penasaran saat menyetir.
“Kami hanya teman,” jawab Sisi singkat sambil memalingkan wajah.
“Entahlah. Aku tidak paham kenapa kau putus dengan Jericho. Padahal kalian bisa saja punya hubungan rahasia. Toh, kau juga akan bercerai dari suamimu,” oceh Aleta.
“Bukankah itu tidak adil untuk Jericho?” ujar Sisi pelan.
“Tidak adil? Kau baru mikir sekarang?” sindir Aleta.
“Iya, ma--”
“Kalau begitu, seharusnya dari awal kau pilih Jericho, bukan Lucien. Sama-sama kaya. Tapi karena kemarahanmu pada ayahmu yang tidak berguna itu, kau akhirnya tidak bisa menolak,” lanjut Aleta.
Sisi menghela napas panjang. Ucapan Aleta memang menyakitkan, karena benar.
“Hati-hati di jalan. Terima kasih,” pamit Sisi.
Aleta mengangguk lalu pergi.
***
Di dalam mansion, hanya ada para pelayan. Sisi langsung menuju kamarnya, mandi singkat, lalu mengenakan gaun biru one shoulder dengan lengan lonceng berbahan guipure, dipadukan dengan stiletto hitam. Rambutnya dibiarkan terurai, riasannya tipis namun elegan.
Saat keluar kamar, ia berpapasan dengan Lyra.
“Kencan dengan Lucien?” tanya Lyra penasaran.
“Tidak. Janji dengan teman,” jawab Sisi jujur.
Lyra mengangkat alis.
“Rapi sekali. Yakin bukan kencan dengan Lucien?”
Sisi tersenyum canggung.
“Iya. Aku harus pergi.”
Ia mencium pipi Lyra cepat-cepat sebelum percakapan berlanjut.
Di dalam mobil, Sisi membuka pesan Jericho berisi lokasi pertemuan.
“Ayo masuk,” ujar Jericho saat Sisi tiba.
Mereka berada di Amour Restaurant, nama yang aneh untuk sebuah restoran.
Jericho mengenakan setelan jas. Untungnya Sisi juga memakai gaun, jadi tampak serasi.
“Tidak mahal di sini?” tanya Sisi bercanda setelah mereka duduk.
“Tidak,” jawab Jericho sambil tersenyum. “Yang mahal cuma kamu.”