NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Persaingan Mafia
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lea

Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.

Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.

Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.

Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.

Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.

Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 4

Keesokan paginya, sebelum matahari terbit, Jay sudah siap untuk pergi.

Drew berdiri di depan pintu apartemen Jay dengan sikap sempurna. Terlalu sempurna. Seperti prajurit yang ingin membuktikan dirinya tidak bersalah. Seolah Drew menginginkan kesempatan kedua dan ia tidak akan pernah mengecewakan Jay.

Pria itu memakai setelan jas serba hitam dan headphone di telinganya. Perawakannya yang tinggi dan tampan membuat banyak wanita meliriknya. Namun, tetap saja ketampanannya tidak dapat menandingi Jay dan ketampanan itu pun tak pernah benar-benar berarti ketika Jay berada di dekatnya.

Akhirnya Jay keluar tanpa menoleh.

“Antarkan aku.” Perintah Jay sembari berjalan dengan langkah kakinya yang panjang.

Saat berada di lobby, Jay memberikan perintah lagi.

“Tidak perlu terlalu banyak pengawal. Cukup kau dan aku.” Suara Jay rendah dan dingin.

Drew pun mengikuti perintah. Mobil melaju. Tidak ke kantor. Tidak ke pelabuhan. Tidak ke tempat yang pernah disebut Jackman.

Drew menyadarinya di menit kelima.

“Tuan Muda, arah ini…” Ucap Drew hati-hati.

“Aku tahu,” potong Jay tenang. “Teruskan saja.”

Mereka berhenti di sebuah rumah sakit kecil di pinggiran kota. Bangunan tua. Tidak tercatat dalam jaringan rumah sakit keluarga Van O’Connor.

Jay turun perlahan, langkahnya masih pincang. Drew mengikutinya, nalurinya waspada.

Di lorong sepi itu, Jay berhenti.

“Katakan padaku, Drew,” ucap Jay tanpa menoleh,

“jika ayahku bertanya ke mana aku pagi ini… apa yang akan kau jawab?”

Pertanyaan sederhana. Namun itulah ujian pertama.

Drew menelan ludah.

“…Saya akan bilang bahwa anda di apartemen, Tuan.”

Jay tersenyum tipis.

“Bagus.”

Mereka masuk ke sebuah ruangan rawat inap. Seorang pria paruh baya terbaring di sana. Wajahnya pucat, napasnya berat. Saat melihat Jay, matanya membesar, antara takut dan lega.

“Anda datang…” gumam pria itu.

Jay berdiri di samping ranjang, menatapnya seperti menatap cermin retak.

“Kau masih hidup,” kata Jay. “Berarti kau memilih diam.”

Pria itu mengangguk lemah.

Jay lalu menoleh ke Drew.

“Pria ini pernah mencoba menjual informasi tentang pengiriman senjata ayahku,” Jelas Jay datar.

“Aku menemukannya lebih dulu. Sebelum ayahku.”

Drew merasakan jantungnya menghantam dada. Jelas jika Jackman tahu. Tidak ada yang tersisa. Bahkan semuanya akan tewas tak berjejak termasuk dirinya.

“Kenapa… dia masih hidup?” tanya Drew tanpa sadar.

Jay menatapnya. Lama.

“Karena aku ingin tahu satu hal, dan itu membuatku penasaran.” Jawab Jay pelan.

“Apakah manusia bisa belajar setia, setelah nyaris mati.”

Lagi pula… Dia sudah tua dan memiliki penyakit kronis. Tanpa perlu banyak tenaga ajalnya sudah ada di depan mata.”

Drew merinding, ia bahkan bingung, bagaimana menilai Jay, apakah Jay bisa di sebut pahlawan karena menyelamatkan pria tua itu walau akhirnya akan mati di gerogoti usia dan penyakit kronis, ataukah Jay justru psikopat yang melakukan eksperimen nyata pada manusia untuk menjawab dan untuk memuaskan tentang rasa penasarannya.

Jay kemudian melangkah pergi, seolah urusan itu sudah selesai.

Di lorong, dengan langkah yang menggema, pria itu berhenti lagi.

“Sekarang pertanyaan kedua, Drew.”

Drew berdiri tegak.

“Jika ayahku bertanya kenapa orang ini masih hidup, kau akan menjawab apa?”

Hening. Drew tahu jawabannya. Jawaban yang benar. Jawaban yang aman. Namun juga jawaban yang akan menyerahkan pria itu pada kematian dan menyerahkan Jay pada kecurigaan Jackman.

Drew menarik napas.

“…Saya tidak tahu apa pun tentang pria itu,” katanya akhirnya.

Jay menoleh.

Tatapan itu tidak dingin. Tidak puas. Tidak marah.

Tatapan seseorang yang telah memastikan pilihannya tepat.

“Mulai hari ini,” kata Jay, “kau tidak bekerja untuk ayahku.”

Drew membeku.

“Kau bekerja untukku, karena kau sudah memilih.” Kata Jay datar.

Drew berdiri sendirian di lorong rumah sakit itu, menyadari satu hal yang membuat dadanya berat:

Ia tidak dipaksa. Tidak diancam. Tidak disuap.

Ia hanya diberi kesempatan untuk memilih.

Dan tanpa sadar, ia telah menyeberangi garis yang tak bisa ia lihat, garis pembatas yang tak seharus nya ia lewati, namun pasti tak bisa ia lewati kembali.

———

Malam itu Jay tidak banyak bicara. Drew hanya berdiri di samping Jay menjaga. Sesekali Jay mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk jarinya, matanya menatap lurus ke depan, dengan fokus yang cukup membuat Drew merinding, karena kedua mata Jay yang tajam seakan ingin memecahkan layar laptopnya.

Semenjak kepergian sang kakak, Zavier. Kehidupan Jay seolah lebih tenang dan tak banyak gangguan. Jay pergi sesuai jadwal yang Jackman inginkan, dan Jay mempersilahkan Drew melaporkan kegiatan tersebut.

Akhirnya sebuah kalimat, diucapkan Jay sambil duduk santai di kursi ruang kerja apartemennya, segelas jus semangka di tangan, lalu Jay meminumnya pelan.

“Ada satu nama,” kata Jay datar yang tiba-tiba memecah keheningan.

”Dan satu kebiasaan buruk.” Lanjut Jay.

Drew berdiri tegak di hadapannya. Melihat layar laptop yang sama.

“Namanya Leo Hartman. Akuntan internal salah satu anak perusahaan ayahku.”

Jay mengetuk layar laptop dan mendorong laptop ke arah Drew.

“Dia mencuri sedikit. Terlalu rapi untuk terdeteksi audit biasa. Tapi cukup serakah untuk merasa aman dan tidak di bereskan.”

Drew menatap data di layar. Angka-angka kecil. Dipindahkan pelan-pelan. Tidak mencolok.

Jenis pencurian yang biasanya dibiarkan, sampai jumlahnya cukup besar.

Drew mengakui kecerdasan dan ketelitian Jay yang mengerikan. Seolah jika itu hanya serabut kapas tipis yang terbang pun, Jay pasti akan menyadarinya.

“Apa yang harus saya lakukan tuan?” tanya Drew.

Jay tersenyum tipis.

Jay kemudian menyandarkan punggung lebarnya di kursi kebesarannya yang terbuat dari kulit berkwalitas tinggi. Seolah Jay berpikir, kesenangan apa kali ini yang ingin ia rasakan.

“ Aku ingin melihat bagaimana kau bekerja saat tidak ada darah yang bisa kau sembunyikan.”

Drew terdiam. Memahami apa yang sebenarnya tuannya inginkan.

“Tugasmu sederhana,” lanjut Jay.

“Selidiki dia. Tanpa ketahuan.

Bukan untuk membuktikan dia bersalah, aku sudah tahu itu.” Jay menatap Drew lurus.

“Aku ingin tahu… apakah kau bisa membuat seseorang menghancurkan dirinya sendiri.”

Drew mengerti. Kali ini Jay ingin memuaskan perasaannya dengan cara yang berbeda. Itulah yang di maksud Jackman, hobi aneh Jay.

“Saya akan membuatnya kehilangan apapun, dan membuatnya menghancurkan dirinya sendiri.” Kata Drew.

Jay menatap lekat-lekat Drew. Menunggu apa yang akan Drew lakukan atas permintaan Jay.

“Kehilangan orang-orang yang ia sayangi akan menghancurkannya secara perlahan. Fakta bahwa orang-orang terdekatnya akan meninggalkannya saat mereka tahu kejahatan apa yang Leo lakukan, dan hukuman sosial jauh lebih berbahaya daripada hukuman di dalam penjara. Ia akan tenggelam dalam keputusasaan, membenci hidupnya sendiri, hingga muncul keinginan untuk mengakhiri hidupnya. Itu adalah siksaan yang panjang, tidak seperti kematian, yang merasakan sakit sesaat.”

Jay terdiam mendengar rencana Drew.

“Apa anda kurang puas Tuan?” Tanya Drew.

“Ya. Itu cukup. Aku lebih suka dia tersiksa dan menderita, itu adalah hukuman yang lebih lama dari pada kematian, itulah konsekuensinya karena telah mencuri uangku. Meskipun merepotkan, pastikan dia tersiksa selama hidupnya sampai ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Jangan lupa kirimkan semua foto-foto nya padaku.” Kata Jay kemudian kembali bekerja.

Drew menelan ludahnya, ia tahu, Jay selalu ingin memuaskan rasa lapar dan haus nya dengan cara yang berbeda. Terkadang pria itu memilih cara instan, dimana korbannya langsung menuju kematian, namun ketika suasana hatinya berbeda, Jay juga suka dengan cara menyiksa. Semua tergantung suasana hati Jay.

Bersambung

1
@emak aisyah
keren,tidak ada kata selain keren,KEREN KALI THOR semangat di tunggu updatenya 🙏
@emak aisyah
cas cis cus pokoknya gas torr
@emak aisyah
satu kesalan satu ciuman bikin kesalahan trs aahhh🤣🤣
@emak aisyah
lah jadi kacau,kasihan Anna nggk tau apa² jadi sasaran semua orang gerak cepat Jay simpan jangn sampai ada yang menyentuhnya
@emak aisyah
nggk bisa nafas aku bacanya
@emak aisyah
masuk babak menegangkan,apakah Jay masih diam saja saat di tindas zavier
@emak aisyah
blm terjadi tapi aku udah kasihan Ama Anna
@emak aisyah
lah kirain tak sama,ternyata sama² psikopat
@emak aisyah
ko bisa orng berbahaya kaya Jay bisa kuat diam saja di siksa😔😔
@emak aisyah
keren tidak salah kalian author terbaik semangat thor💪💪
@emak aisyah
halo kakak author salam kenal saya fans NEWBEE HK mau ikut nimbrung di sini🙏🙏
eva nindia
makasih up nya thor...
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....
eva nindia
baguss kluar ajaa jay,,, bangun dinasti baru mu....
eva nindia
🙄 knapa insting c jackman gak jalan
eva nindia
cba tahta itu d serahin ke zavier djamin ancurr 🤭🤭
eva nindia
haduhh mreka berhasil ngadu domba jack am jay....
awas ya zavier jgn jtuh cnta am anna klo kmi udh liat dia
eva nindia
yahhh gagal 🤣🤣
udh masuk part dar der dorrr
eva nindia
astagaaa 🤣🤣🤣 untung baca.a skrg 😄
eva nindia
astagaa langsung nyosor z jayy🤣🤣😍
eva nindia
bnerkan c anna gak inget am jay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!