Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 11: Gema Pengkhianatan di Aula Kehampaan
Kehebohan di aula Istana Aurora belum sepenuhnya reda, namun udara di sekitarnya sudah terasa berbeda. Gas saraf yang sebelumnya dilepaskan oleh Isabella telah dinetralkan oleh sistem ventilasi sihir istana, namun aroma kepanikan masih tertinggal, bercampur dengan bau lilin lebah dan parfum mahal yang kini terasa memuakkan. Elara Lane berdiri di tengah lantai dansa, tangannya masih bertaut pada lengan kokoh Alaric von Ravenhurst. Ia bisa merasakan degup jantung Alaric yang stabil melalui kain seragam militernya—sebuah kontras yang tajam dengan detak jantungnya sendiri yang masih berpacu kencang akibat adrenalin yang belum surut.
Di hadapan mereka, Isabella von Ravenstein tampak seperti patung porselen yang retak. Wajahnya yang biasanya angkuh kini dipenuhi bercak merah kemarahan dan ketakutan yang tidak bisa lagi disembunyikan di balik bedak putihnya. Julian, putra kebanggaannya, berdiri di sampingnya dengan kepalan tangan yang memutih, matanya menatap Elara dengan intensitas yang melampaui kebencian biasa; itu adalah tatapan pemangsa yang baru saja menyadari bahwa mangsanya memiliki taring.
"Pengawal! Apa yang kalian tunggu?!" suara Kaisar menggelegar, memecah keheningan yang mencekam. Suaranya yang serak namun berwibawa memantul di langit-langit aula yang tinggi, menciptakan gema yang menakutkan. "Bawa pengkhianat ini dari hadapanku! Aku tidak ingin melihat wajah yang telah menodai kesucian malam musim dingin ini dengan racun dan pengkhianatan!"
Sekelompok ksatria berbaju zirah perak merangsek maju. Suara denting logam mereka yang beradu dengan lantai marmer terdengar seperti vonis mati yang dijatuhkan berulang kali. Isabella tidak meronta saat tangan-tangan kasar para pengawal mencengkeram lengannya, namun saat ia diseret melewati Elara, ia mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Kau pikir kau menang, Elara Lane?" bisik Isabella. Suaranya rendah, serak, dan penuh dengan racun yang lebih mematikan daripada gas saraf mana pun. "Kau hanya pion kecil dalam permainan yang tidak akan pernah kau pahami. Kematianmu di masa lalu... ah, kau pikir itu sebuah kebetulan? Kami akan kembali untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kami."
Elara tidak membalas. Ia hanya menatap wanita itu dengan pandangan dingin yang kosong. Ia telah melihat kematian Isabella di kehidupan sebelumnya—sebuah kematian yang damai di tempat tidur setelah merampas segala yang dimiliki Elara. Kali ini, ia akan memastikan Isabella mati dalam kehinaan di bawah dinginnya jeruji besi, tanpa gelar, tanpa harta, dan tanpa pengikut.
Kegelapan di Bawah Istana
Setelah kerumunan bangsawan mulai membubarkan diri dengan bisik-bisik yang riuh, Alaric membawa Elara menjauh dari pusat keramaian. Mereka berjalan menyusuri koridor istana yang panjang, di mana lukisan para leluhur kekaisaran seolah menatap mereka dengan penghakiman. Alaric melepaskan jubah hitamnya dan menyampirkannya ke bahu Elara yang terbuka. Aroma hutan pinus dan besi dingin yang khas dari Alaric menyelimutinya, memberi sedikit rasa aman di tengah badai emosi.
"Kita harus memastikan Adrian tetap hidup untuk diinterogasi," ucap Alaric pelan. Matanya tetap waspada, memindai setiap sudut gelap koridor. "Isabella hanyalah satu bagian dari teka-teki ini. Adrian tahu lebih banyak tentang bagaimana klan Ravenstein beroperasi di pasar gelap."
Namun, saat mereka mendekati pintu menuju penjara bawah tanah, Kael muncul dengan langkah terburu-buru. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak sangat tegang.
"Tuan Besar, Nona Elara... ada sesuatu yang tidak beres di 'Aula Kehampaan'," lapor Kael dengan suara tertahan.
Jantung Elara mencelos. Penjara bawah tanah Istana Aurora dikenal sebagai tempat di mana mereka yang paling berdosa diasingkan. Jika sesuatu terjadi di sana, itu berarti pertahanan istana telah ditembus dari dalam.
Mereka bertiga bergerak cepat, menuruni tangga batu yang licin dan lembap. Semakin dalam mereka melangkah, suhu udara terasa turun secara drastis, bukan karena cuaca di luar, melainkan karena kehadiran energi yang asing. Saat mereka sampai di depan sel sementara tempat Adrian Miller ditahan, pemandangan yang menyambut mereka sangat mengerikan.
Pintu sel itu tidak dibuka secara paksa, melainkan hancur berantakan seolah-olah diledakkan dari dalam oleh kekuatan yang sangat besar. Di dalam sel, Adrian Miller tidak lagi tampak seperti bangsawan sombong. Ia terduduk di sudut, tubuhnya bergetar hebat, sementara matanya melotot menatap langit-langit sel yang kosong.
Namun, yang membuat Elara membeku adalah simbol yang tertulis besar di dinding sel menggunakan darah segar: Simbol Matahari Terbelah.
"Klan Solis Invicta," desis Alaric. Ia langsung menarik pedangnya, kilatan bajanya membelah kegelapan penjara. "Organisasi pemberontak yang seharusnya sudah dimusnahkan oleh ayahku tiga puluh tahun lalu. Bagaimana mungkin mereka ada di sini, di jantung istana?"
Elara mendekati Adrian yang tampak setengah gila. "Adrian! Siapa yang melakukan ini? Siapa yang membantumu?!"
Adrian mendongak, tawanya terdengar seperti gesekan pisau di atas batu. "Dia datang... sang pembawa cahaya yang sebenarnya datang. Kau pikir kau spesial karena bisa kembali, Elara? Hahaha! Kami semua hanyalah bahan bakar untuk matahari yang baru!"
Tiba-tiba, tubuh Adrian mengejang. Darah hitam mulai mengalir dari mata dan telinganya. Dalam hitungan detik, ia terdiam selamanya. Kutukan pembungkaman sihir hitam telah merenggut nyawanya sebelum ia sempat membocorkan rahasia lebih jauh.
Strategi di Ambang Perang
Elara berdiri perlahan, wajahnya pucat namun matanya berkilat dengan amarah yang dingin. "Mereka membungkamnya tepat di depan kita. Ini bukan sekadar balas dendam keluarga lagi, Alaric. Ini adalah konspirasi untuk meruntuhkan kekaisaran."
"Dan mereka menggunakan Adrian serta Isabella sebagai pengalih perhatian," Alaric menyimpulkan. "Solis Invicta selalu mengincar kendali atas logistik dan keuangan. Pelabuhan Utara milik keluargamu adalah kunci utama bagi mereka untuk memasukkan pasukan atau senjata dari luar benua."
Elara meremas jubah Alaric yang ada di bahunya. "Jika mereka sudah masuk ke istana, maka kediaman Lane adalah target berikutnya. Ayahku... Marquess Lane sedang sendirian di sana."
"Kael!" Alaric berteriak. "Siapkan seluruh ksatria bayangan. Kita kawal Nona Elara pulang sekarang juga. Jangan biarkan ada satu pun bayangan yang mendekati kereta tanpa seizinku. Gunakan formasi tempur."
Perjalanan pulang ke kediaman Lane terasa sangat mencekam. Di dalam kereta, Elara tidak lagi memikirkan gaunnya yang mewah atau pesta yang baru saja ia hancurkan. Pikirannya berlari jauh ke depan, menyusun setiap bidak catur yang ia miliki. Di kehidupan sebelumnya, klan Solis Invicta adalah mitos yang ia dengar saat kekaisaran mulai runtuh. Ia tidak pernah tahu bahwa mereka sudah aktif bahkan sejak awal.
"Alaric," panggil Elara di tengah kegelapan kereta. "Jika mereka adalah matahari, maka kita harus menjadi malam yang menelan mereka. Aku akan menggunakan seluruh pengaruh Pelabuhan Utara untuk memutus aliran dana mereka. Tapi aku butuh kau untuk melacak siapa 'mata' mereka di dalam istana."
Alaric menggenggam tangan Elara, jari-jarinya yang kasar memberikan sensasi yang menenangkan. "Aku akan memburu mereka sampai ke lubang terdalam sekalipun, Elara. Tidak akan ada satu pun pengkhianat yang lolos dari pedangku."
Kepulangan yang Gelisah
Saat kereta memasuki gerbang kediaman Lane, suasana tampak sunyi—terlalu sunyi. Tidak ada penjaga yang menyambut di depan gerbang, dan lampu-lampu taman tampak padam. Elara langsung turun sebelum tangga kereta benar-benar terpasang sempurna.
"Ayah!" teriak Elara saat ia menerobos masuk ke dalam rumah.
Ia menemukan Marquess Lane di ruang kerjanya. Pria paruh baya itu tampak tertidur di atas mejanya, namun saat Elara menyentuh bahunya, ia menyadari bahwa ayahnya hanya berada di bawah pengaruh sihir tidur yang kuat. Di atas meja kerja ayahnya, terdapat sebuah peta pelabuhan yang telah diubah. Seseorang telah menandai titik-titik rawan di pelabuhan dengan tinta emas yang bersinar redup—warna khas Solis Invicta.
"Mereka sudah di sini," bisik Elara. "Mereka tidak ingin membunuh Ayah... mereka hanya ingin menunjukkan bahwa mereka bisa menjangkaunya kapan saja."
Elara mengambil sebuah surat yang tertancap dengan belati kecil di peta tersebut. Surat itu tidak berisi kata-kata, melainkan gambar sebuah bunga lili putih yang dibakar.
"Ini adalah peringatan," Elara menoleh ke arah Alaric yang baru saja masuk setelah memeriksa keamanan sekeliling. "Mereka menantangku. Mereka tahu aku tahu tentang mereka."
Alaric mendekati meja, matanya tertuju pada belati yang tertancap. Belati itu memiliki desain yang sangat spesifik, milik pasukan elit dari wilayah Barat. "Ini adalah pesan dari Julian. Dia tidak ditangkap bersama ibunya. Dia melarikan diri saat kekacauan di istana tadi."
Elara mengepalkan tangannya. "Bagus. Aku lebih suka menghancurkannya saat dia merasa berada di puncak kekuatannya. Alaric, besok pagi, aku ingin kau memanggil seluruh pemilik kapal dagang. Kita akan mengadakan pertemuan rahasia di kediaman Ravenhurst. Kita akan mengubah Pelabuhan Utara menjadi benteng, bukan lagi sekadar gerbang dagang."
Malam itu, di bawah cahaya lilin yang temaram, Elara Lane melepaskan identitasnya sebagai wanita yang mencari cinta atau pengakuan. Ia menatap pantulannya di cermin—gaun merah marunnya masih tampak mempesona, namun matanya mencerminkan jiwa yang telah melewati neraka dan siap untuk kembali ke sana demi melindungi apa yang ia miliki.
"Permainan ini tidak akan berakhir seperti yang kalian rencanakan," gumam Elara pada bayangannya sendiri. "Kalian membawa matahari, tapi aku membawa kegelapan yang akan memadamkannya."
(Melanjutkan momen di sel Adrian Miller yang tewas mengenaskan...)
Bau anyir darah hitam yang mengalir dari tubuh Adrian Miller mulai memenuhi sel sempit itu. Elara masih terpaku, matanya tidak bisa beralih dari simbol Matahari Terbelah yang digambar dengan kasar di dinding batu. Di kehidupan sebelumnya, Adrian adalah sosok yang ia anggap sebagai monster paling mengerikan, namun melihatnya tewas sebagai bidak yang dibuang begitu saja oleh kekuatan yang lebih besar, menciptakan kekosongan aneh di dada Elara.
"Darah ini... baunya bukan seperti darah manusia biasa," Alaric melangkah maju, menghalangi pandangan Elara dari mayat Adrian. Ia berlutut, menggunakan ujung pedangnya untuk memeriksa cairan hitam yang merembes ke celah-celah lantai marmer. "Ini dicampur dengan alkimia terlarang. Siapa pun yang membungkam Adrian, mereka ingin memastikan tidak ada satu pun sel syarafnya yang bisa dibangkitkan kembali bahkan oleh penyihir nekromansi sekalipun."
Elara mundur selangkah, tangannya meraba dinding penjara yang dingin untuk mencari pegangan. "Adrian tadi menyebut nama Sera, Alaric. Dia bilang Sera bukan sekadar asisten. Dia bilang Sera adalah 'mata'. Selama ini, aku mengira Sera hanyalah gadis desa ambisius yang tergoda oleh kemewahan. Tapi jika dia adalah bagian dari Solis Invicta..."
"Artinya mereka sudah mengawasimu sejak kau masih kecil, Elara," potong Alaric dengan suara yang berat. Ia berdiri, wajahnya yang biasanya kaku kini memancarkan kecemasan yang nyata. "Kediaman Lane telah disusupi sejak lama. Setiap langkahmu, setiap rahasiamu, mungkin sudah sampai ke telinga pemimpin mereka."
Ketakutan itu seperti es yang merambat di tulang punggung Elara. Jika Sera adalah mata-mata bagi organisasi kuno, maka semua rencana Elara untuk masa depan mungkin sudah diketahui oleh musuh. Namun, di tengah ketakutan itu, sebuah api kemarahan baru menyala. Elara mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.
"Mereka mengira aku adalah variabel yang bisa mereka kendalikan," desis Elara. "Mereka melihatku sebagai gadis yang kembali dari kematian hanya untuk membalas dendam pada tunangan yang selingkuh. Mereka tidak tahu bahwa aku membawa pengetahuan dari masa depan yang jauh lebih hancur daripada yang mereka bayangkan."
Saat mereka hendak meninggalkan koridor penjara, suara langkah kaki yang teratur namun berat terdengar mendekat. Kael segera berdiri di posisi tempur, namun Alaric mengangkat tangannya, memberi tanda untuk berhenti.
Dari kegelapan lorong, muncul sosok pria tua mengenakan jubah abu-abu dengan bordir lambang kekaisaran yang sudah memudar. Dia adalah Archivist Valerius, penjaga perpustakaan terlarang istana yang jarang sekali menampakkan diri.
"Grand Duke Alaric, Nona Elara," sapa Valerius dengan suara yang terdengar seperti gesekan kertas tua. "Kematian pemuda Miller ini bukanlah akhir dari pertunjukan malam ini. Simbol di dinding itu... itu adalah undangan."
Elara menatap sang Archivist dengan tajam. "Undangan untuk apa, Tuan Valerius?"
"Undangan untuk menyaksikan keruntuhan sebuah era," jawab Valerius, matanya yang kelabu menatap simbol matahari terbelah dengan ngeri. "Terakhir kali simbol ini muncul, kaisar pertama hampir kehilangan kepalanya. Mereka tidak mencari kekayaan. Mereka mencari 'Cawan Keabadian' yang konon terkubur di bawah fondasi Pelabuhan Utara. Sesuatu yang hanya bisa dibuka oleh darah murni keluarga Lane."
Elara tersentak. Sekarang semuanya masuk akal. Mengapa Isabella begitu terobsesi dengan pelabuhan itu. Mengapa Adrian dikirim untuk menikahinya. Semuanya bukan tentang perdagangan, melainkan tentang apa yang tersembunyi di bawah tanah keluarganya.
"Darah murni Lane?" Alaric menyipitkan mata, tangannya semakin erat menggenggam gagang pedang. "Itulah sebabnya mereka membiarkan Elara hidup dan hanya meracuninya di masa lalu? Mereka butuh dia sebagai kunci?"
"Benar," Valerius mengangguk lemah. "Dan sekarang, setelah kalian menghancurkan pion mereka di depan publik, mereka tidak akan lagi bermain dengan aturan diplomasi. Nona Elara, Anda bukan lagi seorang lady yang sedang berdansa. Anda adalah buruan utama bagi mereka yang ingin membelah matahari."
Setelah percakapan yang mencekam itu, Elara dan Alaric segera meninggalkan istana. Di dalam kereta kuda yang melaju cepat menembus badai salju, suasana terasa begitu menyesakkan. Elara bersandar pada dada Alaric, mendengarkan detak jantung pria itu yang kuat. Hanya detak jantung inilah yang membuatnya merasa masih berpijak di dunia nyata.
"Kita akan menutup Pelabuhan Utara besok," ucap Alaric tiba-tiba.
"Tidak," bantah Elara cepat. Ia mendongak, menatap mata gelap Alaric. "Jika kita menutupnya, mereka akan menyerang dengan kekuatan penuh secara rahasia. Kita harus membukanya lebih lebar. Kita buat pesta besar lainnya di pelabuhan. Kita pancing mereka masuk ke tempat di mana kita bisa melihat mereka."
"Itu bunuh diri, Elara! Aku tidak akan membiarkanmu menjadi umpan bagi organisasi yang bisa membunuh orang di dalam penjara terdalam istana!" suara Alaric meninggi, penuh dengan proteksi yang meluap.
"Dengar, Alaric," Elara memegang wajah Alaric, memaksanya menatap ketenangan di mata merah mudanya. "Di kehidupan sebelumnya, aku mati tanpa perlawanan. Aku mati karena aku tidak tahu siapa musuhku. Sekarang, aku tahu siapa mereka. Aku memiliki kau, aku memiliki ksatria bayangan, dan aku memiliki pengetahuan tentang apa yang mereka cari. Kita tidak akan lari. Kita akan membakar mereka dengan matahari yang mereka puja sendiri."
Alaric terdiam lama, sebelum akhirnya ia menghela napas panjang dan menarik Elara ke dalam pelukannya yang paling erat. "Kau adalah wanita paling gila yang pernah kutemui. Dan aku adalah pria paling bodoh karena akan selalu mengikuti kegilaanmu."
Sesampainya di kediaman Lane, Elara langsung menuju kamar ayahnya. Seperti yang diceritakan sebelumnya, Marquess Lane ditemukan tertidur di bawah pengaruh sihir. Namun, kali ini Elara memeriksa lebih detail. Ia menemukan sebuah benda kecil terselip di balik kerah baju ayahnya—sebuah jarum perak halus dengan bau ramuan tidur.
"Ini bukan sihir jarak jauh," Elara menunjukkan jarum itu pada Alaric. "Seseorang di rumah ini baru saja melakukannya. Seseorang yang masih ada di sini."
Suasana di rumah itu mendadak menjadi sangat dingin. Elara menoleh ke arah barisan pelayan yang berdiri di koridor dengan kepala tertunduk. Di antara mereka, ada beberapa pelayan baru yang dibawa oleh Sera beberapa bulan lalu.
"Kael, kunci semua pintu," perintah Elara dengan suara yang tidak menerima bantahan. "Panggil semua pelayan ke aula utama. Malam ini, sebelum matahari terbit, aku akan mencabut akar terakhir pengkhianatan di rumah ini."
Di aula utama, di bawah cahaya lampu gantung yang mulai meredup, Elara berdiri di atas tangga, menatap tiga puluh pelayan yang gemetar. Ia tidak lagi tampak seperti pengantin yang dikhianati; ia tampak seperti ratu yang sedang melakukan pembersihan.
"Sera telah pergi," Elara memulai, suaranya menggema di ruangan yang sunyi. "Tapi dia meninggalkan 'hadiah' untukku di kamar Ayah. Siapa pun yang meletakkan jarum perak itu, majulah sekarang, dan aku akan memberikan kematian yang cepat. Jika tidak... aku akan membiarkan Grand Duke Alaric menggunakan metode interogasi Ravenhurst pada kalian semua, satu per satu."
Keheningan yang mencekam menyelimuti aula. Hingga tiba-tiba, seorang pelayan muda di barisan belakang mencoba berlari menuju jendela. Namun, sebelum ia sempat menyentuh bingkai kayu, sebuah pisau lempar dari Alaric telah menancap di bahunya, menjatuhkannya ke lantai.
Elara melangkah turun perlahan, suara tumit sepatunya terdengar seperti lonceng kematian. Ia berdiri di depan pelayan yang mengerang kesakitan itu, lalu berjongkok.
"Katakan padaku," bisik Elara sambil mencabut jarum perak dari sakunya. "Apakah matahari benar-benar akan terbit di Barat, atau kau akan mati di sini dalam kegelapan?"
Pelayan itu hanya meludah darah dan tersenyum mengerikan. "Matahari... tidak bisa... dipadamkan..."
Dalam sekejap, pelayan itu menggigit pil racun di giginya dan tewas, sama seperti Adrian.
Elara berdiri, merapikan gaunnya yang kini terciprat sedikit darah. Ia menatap Alaric yang berdiri tegak di belakangnya. "Bersiaplah, Alaric. Besok, kita akan berangkat ke Pelabuhan Utara. Perang yang sebenarnya bukan terjadi di pesta dansa. Perang yang sebenarnya dimulai sekarang."
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔