NovelToon NovelToon
BADAI PUSAKA DI TANAH GADHING

BADAI PUSAKA DI TANAH GADHING

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.

Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMBALI KE PERMUKAAN

Suara gemuruh itu bukan lagi suara air yang merembes, melainkan raungan samudra yang menuntut kembali ruangnya. Istana Dasar Segara, yang selama seribu tahun berdiri sebagai monumen kesombongan aliran hitam, kini hancur berkeping-keping di bawah tekanan jutaan ton air. Pilar-pilar kristal tumbang, menciptakan dentuman yang menggetarkan dada.

"Cepat! Altar itu!" Tirta berteriak, suaranya nyaris tenggelam oleh deru air.

Ia menggendong Mayangsari yang masih tak sadarkan diri di punggungnya, satu tangannya mencengkeram Mustika Samudra yang kini berpijar seperti bintang biru yang sekarat. Di belakangnya, Dimas dan Sekar Wangi melompati bongkahan karang yang jatuh, berusaha tetap berada di depan dinding air yang mengejar mereka seperti mulut monster raksasa.

Mereka mencapai Altar Nadi Bumi—sebuah pelataran melingkar di pusat istana yang nampak seperti satu-satunya tempat yang belum tersentuh reruntuhan. Di tengahnya terdapat lubang cahaya vertikal yang memancar lurus ke atas, menembus kubah kaca yang kini mulai retak seribu.

"Itu jalur energinya! Kita harus masuk ke dalamnya!" seru Sekar Wangi.

Namun, tepat sebelum mereka melompat, sesosok bayangan menghalangi jalan mereka. Itu bukan Wulung, melainkan pria ber-Jubah Abu-abu yang sebelumnya menyerang Tirta di dermaga. Pria itu berdiri tenang di tengah kekacauan, memegang sebuah seruling bambu hitam.

"Kalian pikir bisa pergi begitu saja setelah merusak altar pemujaan kami?" pria itu bertanya dengan nada yang sangat sopan namun mematikan.

"Menyingkir, atau aku akan menebasmu bersama air ini!" ancam Tirta, Sasmita Dwipa bersinar dengan sisa-sisa tenaga dalamnya.

Pria jubah abu-abu itu menurunkan serulingnya. Ia menatap Dimas Rakyan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dimas... apa kau akan tetap diam?"

Langkah kaki Tirta terhenti. Ia menoleh ke arah Dimas yang berada di belakangnya. Dimas nampak gemetar, wajahnya pucat pasi.

"Dimas?" bisik Sekar Wangi, busurnya kini berputar arah menuju sahabatnya sendiri.

Dimas menunduk, tangannya yang memegang patahan galah kayu terkepal kuat hingga buku jarinya memutih. "Maafkan aku, Tirta... Aku tidak tahu mereka akan melangkah sejauh ini. Aku tidak tahu Mayang akan dijadikan persembahan."

"Jadi... pesan di dermaga itu benar?" suara Tirta terdengar sangat rendah, penuh dengan kekecewaan yang mendalam. "Kau adalah bagian dari mereka?"

"Hanya karena darah, Tirta! Bukan karena pilihan!" teriak Dimas, air mata mulai mengalir di pipinya. "Keluargaku diancam! Jika aku tidak memberikan laporan tentang pergerakanmu, mereka akan membantai seluruh desa kita! Aku hanya mencoba menyelamatkan orang-orang kita!"

Pria jubah abu-abu itu tertawa kecil. "Dan kau melakukannya dengan sangat baik, Dimas. Tapi sekarang, tunjukkan kesetiaanmu yang sebenarnya. Ambil Mustika itu dari tangan Tirta, dan kau akan bebas."

Keheningan terjadi di tengah raungan air yang semakin dekat. Tirta berdiri mematung, menatap sahabat masa kecilnya. Di satu sisi, ia ingin marah, namun di sisi lain, ia melihat penderitaan yang sama di mata Dimas.

Dimas melangkah maju. Ia menatap Tirta, lalu menatap Mayang yang ada di punggung Tirta. Tangannya terangkat, namun bukan untuk mengambil mustika.

"Tirta... pergilah," ucap Dimas lirih.

Seketika, Dimas berbalik dan menerjang pria jubah abu-abu itu dengan sisa tenaganya.

"LARI, TIRTA! BAWA MAYANG PERGI! INI ADALAH DOSAKU, DAN BIAR AKU YANG MENYELESAIKANNYA!"

"DIMAS! JANGAN!" raung Tirta.

Pria jubah abu-abu itu terkejut oleh serangan nekat Dimas. Ia mencoba menangkis, namun Dimas memeluk tubuh pria itu, mengunci gerakannya tepat saat dinding air menghantam altar.

"Sekar, tarik Tirta masuk!" perintah Dimas terakhir kalinya sebelum air laut menelan mereka.

Sekar Wangi, dengan air mata yang membasahi wajahnya, menarik lengan Tirta paksa menuju pilar cahaya. Tirta sempat ingin berbalik, namun ia melihat Mayangsari yang mulai bernapas pendek di punggungnya. Ia harus memilih. Antara menyelamatkan sahabatnya atau menyelamatkan wanita yang menjadi harapan nusantara.

Dengan teriakan penuh kepedihan, Tirta melompat ke dalam pilar cahaya bersama Sekar.

BLAASSTTT!

Tekanan air yang luar biasa besar melontarkan mereka ke atas. Cahaya Mustika Samudra membentuk gelembung pelindung terakhir yang membawa mereka menembus ribuan kaki air laut menuju permukaan. Kecepatan mereka begitu tinggi hingga Tirta merasa paru-parunya akan meledak.

Saat mereka akhirnya menembus permukaan laut, matahari pagi sudah bersinar terang. Langit begitu biru, sangat kontras dengan kegelapan yang baru saja mereka tinggalkan di bawah sana.

Tirta terombang-ambing di tengah laut lepas, memeluk Mayang dengan satu tangan dan memegang Sekar dengan tangan lainnya. Gelembung pelindung itu perlahan menghilang.

"Tirta... lihat!" Sekar menunjuk ke arah cakrawala.

Kapal Naga Geni nampak rusak berat, namun masih mengapung di kejauhan. Dyandari dan para prajuritnya segera menurunkan sekoci saat melihat pilar air raksasa meletus di tengah laut.

Setelah mereka ditarik naik ke atas kapal, Tirta segera merebahkan Mayang di dek. Tabib istana segera menangani gadis itu. Tirta berdiri di pinggir kapal, menatap ke arah tempat Istana Dasar Segara dulu berada. Di sana, air laut masih membentuk pusaran besar yang perlahan mulai tenang.

"Dimas..." bisik Tirta. Ia menjatuhkan diri ke dek, kelelahan fisik dan batinnya akhirnya mencapai batas.

Sekar Wangi duduk di sampingnya, ia menaruh busurnya yang sudah patah. "Dia memilih jalannya, Tirta. Dia menebus kesalahannya dengan cara seorang ksatria."

Tirta menutup matanya dengan lengan. "Dia bukan pengkhianat, Sekar. Dia hanya seorang korban dari permainan yang lebih besar. Dan aku... aku gagal menjaganya."

Dyandari mendekat, wajahnya nampak muram. "Kita tidak punya waktu untuk berduka lebih lama. Mata Meratap tidak akan berhenti hanya karena satu istana hancur. Wulung memang mati, tapi pusat kekuatan mereka di Pegunungan Dieng sudah mulai bergerak. Gerhana matahari total akan terjadi dalam tiga puluh hari. Itu adalah ritual terakhir mereka."

Mayangsari perlahan membuka matanya. Ia menatap langit biru, lalu menatap Tirta. Tangannya yang lemah mencari tangan Tirta.

"Tirta..." bisiknya.

Tirta segera menggenggam tangan Mayang. "Aku di sini, Mayang. Kita sudah aman."

Mayang menggeleng lemah. "Dimas... aku melihatnya di dalam mimpi saat aku pingsan. Dia belum mati, Tirta. Tapi dia dibawa ke suatu tempat yang sangat jauh... tempat yang tidak ada cahayanya."

Tirta tertegun. Harapan kecil muncul di hatinya, namun juga ketakutan baru. Jika Dimas masih hidup, ia pasti sedang mengalami siksaan yang tak terbayangkan sebagai hukuman atas pengkhianatannya terhadap faksi.

"Kalau begitu, tujuan kita sudah jelas," ucap Tirta sambil berdiri. Ia menatap Mustika Samudra yang kini telah berubah warna menjadi bening transparan—tanda bahwa kekuatannya telah digunakan maksimal. "Kita akan menuju Pegunungan Dieng. Kita akan hancurkan pusat ritual mereka, kita jemput Dimas, dan kita akhiri mimpi buruk ini selamanya."

Kapal Naga Geni mulai berputar balik, menuju daratan. Di bawah sinar matahari pagi, empat orang yang berangkat kini hanya tersisa tiga. Namun, api di mata Tirta tidak pernah berkobar seterang ini. Perjalanan ini bukan lagi soal pelarian, melainkan serangan balik dari cahaya yang telah lama terhimpit kegelapan.

Garis takdir baru telah terlukis. Dan kali ini, sang Pendekar Gerhana tidak akan berhenti sampai matahari benar-benar kembali bersinar di seluruh nusantara.

1
anggita
sip... 👍👌👏
Restu Agung Nirwana: Terimakasih dukungan nya... 🙏🙏
total 1 replies
Was pray
cerita nya menarik 👍
Restu Agung Nirwana: Terimakasih, mohon dukungannya biar makin semangat nulisnya 😄
total 1 replies
anggita
like👍iklan👆bunga🌹, dukungan buat novel silat fantasi timur lokal. moga lancar👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!