NovelToon NovelToon
Ayo Bercerai, Mas!

Ayo Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."

Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Rumah Sakit Columbia Asia, Medan. Pukul 09.30 WIB.

Lorong lantai VIP rumah sakit itu terasa begitu sunyi, hanya deru pelan mesin pendingin ruangan yang memecah keheningan. Bau disinfektan yang tajam bercampur dengan aroma bunga lili mahal yang diletakkan di sudut ruangan. Sava melangkah dengan ritme yang cepat, detak stiletto-nya bergema di lantai granit yang mengkilap, menciptakan ketegangan bagi siapa pun yang mendengarnya.

Tepat di depan pintu ruang VVIP, langkahnya terhenti. Seorang wanita berdiri di sana, mengenakan mini dress merah ketat yang tampak kontras dengan suasana rumah sakit yang tenang. Rambutnya dicat pirang platinum, dan matanya yang tertutup riasan tebal menatap Sava dengan binar kemenangan yang menjijikkan.

Shila. Mantan kekasih Garvi dari masa lalu yang paling manipulatif, wanita yang pernah hampir menghancurkan pertunangan mereka dulu.

"Ternyata kamu datang juga, Miss Sava," sapa Shila dengan nada mengejek. Ia melipat tangan di dada, memindai penampilan Sava dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Atau aku harus memanggilmu... Ave? Ah, lupakan. Panggilan sayang itu hanya berlaku jika suamimu masih sanggup menyebutnya, bukan?"

Sava menatap Shila dengan tatapan sedingin es. "Apa yang kamu lakukan di sini?"

Shila tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti gesekan pisau di atas piring kaca. Ia melangkah mendekat, membisikkan sesuatu tepat di telinga Sava.

"Garvi kecelakaan saat menuju apartemenku, Sav. Dia merindukanku setelah kamu melarikan diri seperti pengecut. Dan sekarang..." Shila mengusap perutnya yang masih rata dengan gerakan dramatis. "Ada nyawa baru di sini. Darah daging Garvi Darwin yang tidak pernah sanggup kamu berikan selama empat tahun ini."

Jantung Sava mencelos, namun wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Ia tidak akan membiarkan wanita ini melihat keretakan di hatinya.

"Kamu pikir aku akan percaya?" tanya Sava rendah.

"Percaya atau tidak, hasilnya akan tetap sama. Garvi milikku sekarang. Nikmatilah sisa waktumu sebagai nyonya besar, karena begitu dia bangun, aku yang akan menemaninya di istana itu," ucap Shila penuh provokasi. Setelah memberikan senyum sinis terakhirnya, wanita itu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum menyengat yang membuat Sava merasa mual.

Sava menarik napas panjang, mencoba menstabilkan oksigen yang terasa menipis di paru-parunya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mendorong pintu ruang rawat Garvi.

Keheningan di dalam ruangan itu jauh lebih menyakitkan. Di atas ranjang rumah sakit yang lebar, sosok pria yang biasanya terlihat seperti dewa Yunani yang tak terkalahkan itu kini tampak sangat rapuh.

Garvi Darwin, sang penguasa Skyline Group, terbaring tak berdaya. Berbagai selang medis menempel di tubuh atletisnya, dan bunyi beep dari monitor jantung menjadi satu-satunya tanda bahwa nyawanya masih tertahan di raga itu.

Wajah rupawan yang biasanya selalu menyeringai manipulatif itu kini pucat pasi. Ada perban melilit kepalanya, dan beberapa luka lecet di rahangnya yang kokoh.

Sava mendekat ke sisi ranjang. Ia menatap wajah suaminya dengan perasaan yang benar-benar campur aduk. Amarah karena pengkhianatan yang baru saja dibisikkan Shila, rasa benci karena dikendalikan selama bertahun-tahun, bersaing ketat dengan rasa sakit yang tak terlukiskan melihat pria ini berada di ambang maut.

"Mas Garvi..." bisik Sava hampir tak terdengar.

Ia ingin menyentuh tangan Garvi, namun ia urungkan. Ingatannya kembali pada pesan singkat tentang kehamilan Shila. Jika itu benar, maka kecelakaan ini bukan hanya akhir dari pelariannya, tapi juga akhir dari seluruh harapannya untuk memperbaiki hubungan ini.

Sava menundukkan kepalanya sejenak. Air matanya hampir jatuh, namun ia segera mengedipkan mata dengan cepat. Ia tidak boleh lemah. Tidak sekarang.

Sava berbalik dan keluar dari ruangan dengan langkah yang lebih mantap. Begitu pintu tertutup, Winata dan Roy yang sejak tadi menunggu dengan cemas langsung berdiri tegak di hadapannya.

"Nyonya Sava..." ucap Roy dengan suara serak.

Sava menatap mereka berdua dengan tatapan COO-nya yang paling tajam. Tidak ada lagi sisa-sisa kesedihan di matanya, yang ada hanyalah otoritas mutlak.

"Roy, Winata, dengarkan instruksiku baik-baik," suara Sava terdengar jernih dan berwibawa. "Pertama, cari tahu detail kecelakaan ini. Aku ingin tahu jam berapa, di mana, dan apakah ada kendaraan lain yang terlibat. Kedua, sembunyikan keadaan Mr. Garvi dari media dan dewan komisaris. Jika berita ini bocor, saham Skyline Group akan terjun bebas sebelum jam makan siang. Katakan Mr. Garvi sedang melakukan perjalanan bisnis mendadak ke luar negeri."

Roy mengangguk cepat, mencatat setiap kata.

"Ketiga," lanjut Sava, matanya menyipit. "Cari tahu motif perempuan bernama Shila itu. Periksa rekam medisnya, cari tahu apakah benar dia hamil, dan jika benar, cari tahu siapa ayah biologisnya. Jangan biarkan satu detail pun terlewat."

Sava kemudian beralih pada sistem keamanan rumah sakit. "Perketat penjagaan di lantai ini. Aku ingin sepuluh orang dari tim keamanan internal kita berjaga 24 jam. Jangan biarkan seorang pun masuk, terutama wanita bernama Shila itu. Hanya dokter dan perawat yang sudah aku tunjuk secara pribadi yang boleh menyentuh suamiku. Mengerti?"

"Mengerti, Nyonya!" sahut Roy dan Winata serempak.

Sava menatap Roy. "Roy, kamu berjaga di sini. Laporkan setiap perkembangan sekecil apa pun kepadaku. Jangan tinggalkan pintu ini sesenti pun."

"Baik, Nyonya."

Sava kemudian menatap Winata. "Wina, kita kembali ke kantor sekarang. Ada banyak dokumen yang harus aku tanda tangani atas nama Mr. Garvi. Perusahaan tidak boleh berhenti berdetak hanya karena jantung pemimpinnya sedang bermasalah."

Sava melangkah meninggalkan lorong VIP tersebut. Langkah kakinya terdengar mantap dan tegak, punggungnya lurus seolah-olah beban berat yang baru saja menghantamnya tidak pernah ada. Para staf rumah sakit dan beberapa kolega bisnis yang kebetulan berada di sana tidak akan menyangka bahwa wanita cantik ini baru saja dihantam badai pengkhianatan dan duka sekaligus.

Begitu sampai di lobi rumah sakit, sebuah mobil sedan hitam sudah menunggu. Sava masuk ke dalamnya disusul oleh Winata. Di dalam mobil yang sunyi, Sava hanya menatap kosong ke arah jalanan kota Medan yang mulai padat.

"Va... kamu tidak apa-apa?" tanya Winata pelan, merasa ngeri melihat ketenangan sahabatnya yang tidak wajar.

Sava tidak menoleh. "Aku baik-baik saja, Win. Pekerjaan adalah satu-satunya hal yang bisa aku kendalikan saat ini. Mas Garvi sudah sering mengendalikan hidupku, sekarang giliran aku yang mengendalikan dunianya."

Mobil meluncur menuju gedung Skyline Group. Di balik wajahnya yang mempesona dan ketegasannya sebagai COO, Sava sedang menyiapkan sebuah rencana besar. Jika Garvi bangun nanti, dia akan menemukan bahwa istrinya bukan lagi Ave yang bisa ia permainkan, melainkan seorang penguasa yang siap menghancurkan siapa pun yang berani mengkhianatinya.

Namun, tepat saat mereka sampai di depan lobi kantor, ponsel Sava bergetar. Sebuah pesan dari Roy masuk.

Pesan dari Roy: "Nyonya Sava, dokter menemukan sesuatu yang aneh. Di dalam saku jas Mr. Garvi saat kecelakaan, ditemukan sebuah kotak perhiasan dan surat permohonan cerai yang sudah ditandatangani oleh beliau. Tapi... surat itu sobek menjadi dua."

Langkah kaki Sava yang baru saja menginjak lantai lobi kantor seketika membeku. Napasnya tercekat.

Mengapa Garvi menandatanganinya? Dan mengapa surat itu disobek?

Sava menatap lift menuju ruangannya dengan perasaan ngeri. Badai yang ia kira sudah berakhir, ternyata baru saja dimulai dengan arah yang sama sekali tidak ia duga.

***

1
Umi Kolifah
kamu hebat Sava, semoga garvi sadar perbuatannya menyakitimu sebelum penyesalan datang terlambat
Desi Santiani
semangat thor💪
Desi Santiani
semangat miss sava, semoga gravi segera siuman n dya bisa menunjukan cara mencintaimu dgn lebih nyata
Desi Santiani
semangat thor😍
Desi Santiani
selalu suka dgn karya2nya thor, krna alur cerita nya dkemas apik, tokoh karakter ddlm cerita sgt jelas per partnya, bahasa penulisannya selalu apik.
Desi Santiani
seru thor double up,
Nda
penasaran thor,di tunggu kelanjutanya
Nda
di tunggu double up-nya thor
Murnia Nia
lanjut thor aku kirim vote ni untuk karyamu
Umi Kolifah
buat gavi menyesal Thor , ave pergi sejauh mungkin
Desi Santiani
menarikk alurnya semangat thor
merry
cinta tp menlukai psagann y,,
Nda
selalu mampir thor
Nda
ditunggu double up-nya thor 😍
Nda
ditunggu kelanjutanya thor,ceritanya seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!