Cover by me.
Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.
Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...
Kadewa..
Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.
Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.
Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rute yang Tak Tercantum di Peta
Sore itu laut Pondok Dayung berwarna jingga. Matahari rendah, memantul di permukaan air yang beriak pelan, menyisakan kilau yang menyilaukan mata.
Kadewa berada di dalam air, berenang bersama mereka.
Tubuhnya dibalut baju renang taktis hitam, ketat, tanpa atribut berlebihan. Pisau selam terikat di paha, mendekap sebuah senjata, masker tergantung di leher, sirip hitam terpasang rapi. Bahunya bergerak stabil membelah air, napasnya teratur, ritmenya tenang, ritme seseorang yang sudah lama menjadikan laut sebagai rumah kedua.
Di sekelilingnya, tiga puluh prajurit Kopaska anggota baru yang baru dua pekan berada di bawah komandonya mengikuti formasi. Ada yang masih kaku, ada yang terlalu cepat, ada yang diam-diam kelelahan. Tapi tak satu pun berani keluar jalur.
“Jaga jarak,” suara Kadewa terdengar rendah tapi jelas, mengalahkan debur air.
“Jangan lawan arus. Baca arusnya.”
Formasi kembali rapi. Gerakan mereka melambat, menyesuaikan irama laut, mengikuti contoh yang Kadewa perlihatkan tanpa perlu penjelasan panjang.
Di latihan seperti ini, Kadewa tidak mengomando dari belakang.
Ia berada di depan, di dalam air yang sama, menghadapi beban yang sama.
Dan mereka belajar, bukan dari teriakan,
melainkan dari caranya bergerak.
Latihan sore itu adalah renang laut tempur.
Bukan sekadar menguji fisik, tapi mengajarkan disiplin, kesabaran, dan keberanian untuk menyatu dengan laut, bukan menaklukkannya. Setiap meter yang mereka tempuh bukan hanya jarak, melainkan kepercayaan, bahwa jika perwira di depan mereka tidak ragu, maka mereka pun tidak boleh goyah.
Dan selama Kadewa masih berada di air, tak satu pun dari mereka berani menyerah lebih dulu.
Sampai akhirnya salah satu prajurit mulai tertinggal. Gerakannya berat.
Kadewa berbalik tanpa ragu. Ia mendekat, satu tangan menahan lengan prajurit itu, satu tangan memberi isyarat.
Jangan berhenti,” katanya pelan. “Pendekkan ayunan. Atur napas.”
Prajurit itu mengangguk singkat, meski wajahnya sudah pucat. Ia mengubah gerakan, memaksa tubuhnya kembali ke ritme yang benar. Air laut masuk ke mulutnya sekali, membuatnya tersedak, tapi ia tidak berhenti.
Tidak berani.
Kadewa memperlambat tempo seperlunya, memastikan jarak aman tanpa mematahkan formasi. Matanya tetap awas, menghitung napas, membaca gerak tubuh prajurit-prajurit di sekelilingnya. Begitu ritme kembali stabil, ia mengambil alih lagi posisi terdepan.
Seorang komandan yang baik tidak meninggalkan orangnya di air.
Ia memastikan semua bisa keluar bersama.
Beberapa menit kemudian, RHIB mendekat dari sisi kanan. Mesin perahu menderu rendah, memecah keheningan laut sore. Gelombang kecil bergulung saat perahu berhenti sejajar dengan formasi.
“Naik. Satu per satu. Tetap tenang,” perintah Kadewa.
Satu per satu prajurit memegang lambung perahu, mengangkat tubuh yang berat oleh lelah dan air asin, lalu naik ke atas dek. Sirip dilepas, senjata diamankan, napas masih tersengal tapi mata mereka tetap fokus.
Begitu giliran terakhir, Kadewa naik paling akhir. Air laut menetes dari rambutnya, dari rahangnya, dari bahunya yang masih tegang oleh sisa tenaga yang terkuras. Ia duduk sejenak di tepi dek, menarik napas dalam-dalam, membiarkan paru-parunya kembali menemukan ritme.
Lalu ia berdiri.
“Latihan selesai,” ucapnya datar namun tegas, suaranya tetap terdengar jelas di atas dengung mesin. “Kita kembali ke darat.”
Tak ada sorak, tak ada keluhan.
Hanya anggukan-anggukan singkat dari prajurit-prajurit yang tahu betul di Kopaska, selesai latihan bukan berarti selesai diuji, itu hanya tanda mereka cukup kuat untuk melanjutkan esok hari.
Di dermaga Pondok Dayung, beberapa prajurit langsung duduk, membuka masker, meneguk air dengan rakus. Yang lain berdiri diam, memijat bahu, memandang laut seolah masih belum sepenuhnya kembali ke darat.
Randi dan Dion menghampiri, rambut keduanya masih basah.
“Bang… latihan gabungan jadi, ya?” tanya Randi.
Kadewa mengangguk sambil melepas pisau selam dari pahanya. “Iya. Persiapan akhir minggu ini.”
“Lintas matra?” Dion turut penasaran.
“Betul.”
Randi menghembuskan napas panjang. “Transitnya pasti ribet.”
Kadewa melirik ke laut, lalu ke arah gedung utama. “Makanya kita latihan serius.”
Belum sempat evaluasi lanjutan, seorang bintara staf berlari kecil menghampiri dermaga.
“Letnan Satu Kadewa!”
Kadewa menoleh. “Siap.”
“Dipanggil Komandan. Sekarang.”
Kadewa mengangguk. Ia menoleh ke timnya. “Bubar. Bilas. Ganti. Randi, rekap latihan.”
“Siap!”
Kadewa berjalan menuju ruang bilas. Air tawar mengalir membasuh garam dari kulitnya. Ia berdiri sebentar di bawah pancuran, menunduk, membiarkan air jatuh di rambutnya.
Sore hampir habis.
Ia keluar dari ruang bilas dengan langkah mantap. Seragam PDH sudah melekat rapi, sepatu dinas terpasang, rambutnya masih sedikit lembap tapi tertata. Kadewa berjalan menyusuri koridor menuju gedung utama Satkopaska. Bau laut tertinggal di belakang, berganti aroma lantai keramik dan pendingin udara yang dingin dan bersih.
Ruang komandan sunyi. Pendingin udara berdengung rendah. Di dinding, peta-peta operasi terpajang rapi, jalur laut, titik sandar, dan rute mobilisasi. Komandan berdiri di depan meja, map biru tua terbuka.
“Duduk, Dewa,” ucapnya singkat.
Kadewa duduk tegap.
“Latihan gabungan lintas matra dipastikan,” lanjut sang komandan tanpa basa-basi. “Pengiriman personel lewat jalur non-udara. Ada pertimbangan keamanan dan kerahasiaan.”
“Siap.”
“Mereka akan transit lewat jalur kereta api khusus,” kata komandan itu sambil menunjuk peta rute. “Masuk Jakarta, titik transit di Stasiun Gambir.”
Kadewa mengangguk, mencatat cepat di kepalanya. Gambir, titik strategis, ramai, penuh variabel. Bukan medan favorit, tapi bukan hal baru.
“Kamu saya tunjuk sebagai perwira koordinasi lapangan,” lanjut komandan. “Tanggung jawab pengamanan, mobilisasi, dan sinkronisasi dengan pihak stasiun selama transit.”
“Siap, Komandan.”
“Durasi penugasan satu bulan,” tambahnya. “Mulai lusa. Siapkan tim inti. Randi ikut.”
Kadewa menegakkan bahu. “Siap.”
Komandan menutup map. “Koordinasi awal besok. Pastikan semua prosedur disiplin. Nggak ada ruang untuk improvisasi yang gak perlu.”
“Dimengerti.”
Kadewa berdiri, memberi hormat, lalu berbalik meninggalkan ruangan. Di koridor, langkahnya tetap stabil. Tidak ada lonjakan emosi, tidak ada bayangan yang mengganggu. Ini tugas dan tugas berarti rencana, detail, dan eksekusi.
Di luar, langit Pondok Dayung mulai beralih ke biru tua. Lampu-lampu dermaga menyala satu per satu. Kadewa berhenti sejenak, menatap laut yang kini tenang, lalu menghembuskan napas pendek.
Kadewa melangkah kembali ke dermaga. Beberapa anggota sudah selesai bilas, mengenakan seragam lapangan, duduk rapi sambil membersihkan perlengkapan. Wajah-wajah lelah, tapi mata mereka menyala, jenis lelah yang membuat prajurit tahu dirinya hidup.
“Bang,” Dion berdiri saat melihatnya mendekat. “Gimana?”
“Fix,” jawab Kadewa singkat. “Transit kereta. Gambir.”
Beberapa kepala terangkat serempak. Ada siulan pelan, ada gumaman pendek.
“Siapin mental,” lanjut Kadewa. “Medannya beda. Banyak sipil. Banyak mata. Kita tetap Kopaska. Disiplin tetap sama.”
“Siap,” jawab mereka serempak.
Kadewa mengangguk. Ia menepuk bahu Dion sekali, lalu berbalik. Malam merambat pelan di Pondok Dayung. Angin laut membawa bau asin yang familiar, menenangkan, seperti pengingat bahwa apa pun yang menunggu di darat, laut selalu ada sebagai rumah untuk kembali.
Ia berjalan menuju parkiran, membuka pintu mobil, dan duduk di balik kemudi. Mesin menyala. Lampu-lampu pelabuhan mengecil di kaca spion saat ia melaju keluar.
Di kepalanya, daftar tugas tersusun rapi, personel, rute, waktu, pengamanan. Semuanya bisa dihitung. Semua bisa dikendalikan.
ah pokoknya author is the best lah👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣