Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberimu 2 pilihan
Ethan mengendurkan genggamannya sedikit, tapi masih erat menyangga pergelangan tangan Dira. Matanya yang sebelumnya penuh amarah kini sedikit mereda, digantikan oleh nada tegas yang tidak bisa ditolak.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi ia menarik Dira perlahan menuju arah pintu keluar. Petugas keamanan berdiri diam, masih tercengang oleh kata-kata Ethan tadi. Beberapa karyawan yang menyaksikan mulai berbisik-bisik, membicarakan siapa pria tampan itu. Kenapa bisa kenal dengan Dira Ananta yang biasa-biasa saja. Bahkan ada yang iri pada Dira.
Setelah sampai di luar gedung, Ethan berjalan ke arah mobilnya yang masih menyala. Dira mengikuti dengan langkah tergesa-gesa, hatinya terus berdebar kencang. Ia tidak berani melihat wajah Ethan, hanya fokus pada jalan di depannya.
"Masuk," kata Ethan saat membuka pintu. Dira masuk dengan ragu, tubuhnya masih gemetar sedikit. Belum masuk, ia ragu.
"Aku bilang masuk, Dira."
Akhirnya wanita itu masuk. Ethan menutup pintu lalu berjalan berputar memasuki jok pengemudi dan mematikan mesin, suasana di dalam mobil menjadi sangat sunyi. Hanya terdengar bunyi napas mereka yang tidak teratur.
Tanpa berkata apa-apa, Ethan mengambil amplop putih tebal dari tempatnya di sebelah jok dan mengulurkam ke Dira.
"Bukalah."
Dira menatap amplop itu dengan tatapan bingung.
"Apa ini?"
"Buka saja!" nada Ethan kembali meningkat, membuat Dira segera meraih amplop dan membukanya dengan jari yang gemetar. Ketika matanya membaca isi kertas putih di dalamnya, wajahnya langsung memucat. Tulisan
"KECOCOKAN GENETIK 99,9%"
Seperti menusuk langsung ke dalam hatinya. Ethan tahu, laki-laki itu akhirnya tahu. Secepat itu? Tetapi Ethan memang laki-laki pintar, ia juga pernah bertemu dengan Arel, pernah makan bersama, tidak mungkin dia tidak curiga sama sekali. Hanya saja Dira tidak menyangka akan secepat itu. Ia berusaha tenang.
"Kau punya anak," Ethan kembali bersuara tanpa menatap Dira. Rendah, pelan, dingin.
"Ya, bukan anakmu."
Kata-kata itu kembali memancing amarah Ethan. Ia memiringkan kepala menatap wanita yang duduk di sampingnya itu.
"Bukan anakku? Coba bilang sekali lagi,"
Dira menegakkan kepalanya dan memberanikan diri menatap Ethan.
"Dia keluar dari rahimku, jadi dia bukan anakmu."
"KAU BUTA? TIDAK BISA MEMBACA?! APA KAU BISA MELAHIRKAN ANAK TANPA PERLU LAKI-LAKI MENANAM BENIH KE RAHIMMU?!"
Bentakan Ethan menggema di dalam mobil, membuat Dira refleks meringis. Air matanya hampir jatuh, tapi ia menahannya mati-matian.
"IA AKU BUTA, TIDAK BISA MEMBACA, KAU PUASSS?!" Ia balas berteriak. Tak kalah kencang. Ketakutannya kepada Ethan berubah menjadi keberanian yang menantang. Dia sampai heran sendiri.
Keduanya sama-sama tidak bisa lagi mengontrol emosi mereka.
"Dia putraku, darah dagingku, aku berhak tahu tentang dia. Kenapa kau menyembunyikannya dariku?!"
"Kita sudah putus, saat aku tahu aku hamil."
"Kau bisa bilang,"
"Memangnya kau akan percaya kalau aku bilang aku hamil anakmu? Kau melihatku bercinta dengan Jeremy."
"APA AKU SEBODOH ITU HINGGA TIDAK TAHU SEPERTI APA RUPA ANAK KANDUNGKU SENDIRI?!"
Ethan marah besar, ia masih marah, dan Dira malah menambah luka di hatinya dengan membahas luka lama, alasan hubungan keduanya kandas. Hening sebentar, dua-duanya terdiam.
Lelaki itu lalu memukul stir berulang kali, penuh emosi sampai buku-buku jarinya berdarah. Dira hanya bisa menutup mata dan telinganya tidak mau melihat amarah Ethan yang ia lampiaskan di stir.
Ethan sendiri, semarah apapun dia pada Dira, dia tidak bisa mengasari wanita itu dengan memukul. Yang dia bisa hanyalah menyakitinya dengan kata-kata menohoknya.
Darah tipis mulai merembes dari buku-buku jari Ethan yang memerah. Napasnya memburu, dadanya naik turun tidak teratur. Ia berhenti memukul setir, tapi tangannya masih bergetar. Dira perlahan membuka matanya. Melihat darah itu, hatinya justru ikut teriris. Tapi ia tidak bisa mengatakan sepatah katapun.
"Enam tahun," pria itu bicara lagi. Suaranya pelan kali ini.
"Enam tahun kau menyembunyikan keberadaan putraku dariku."
"Sudah kubilang dia putraku." Dira tetap kekeuh.
"Aku yang melahirkannya sendiri, aku yang membesarkan dia, aku yang mendidiknya, aku.."
Rahang Ethan mengeras. Tangannya kembali memukul stir.
"KAU PIKIR AKU TIDAK BISA MEREBUT DIA DARIMU!"
Awalnya dia berniat bicara baik-baik dengan Dira, menyesali tahun-tahun yang terlewat dan wanita itu yang membesarkan anak mereka seorang diri, tapi kata-kata Dira sungguh membuatnya tidak bisa menahan diri untuk meluapkan semua emosi yang dia tahan sejak tadi.
Dira langsung terdiam. Nafasnya tercekat. Jantungnya seolah akan berhenti. Ini adalah salah satu alasan yang dia takutkan kalau Ethan tahu. Pertama, laki-laki itu tidak akan percaya anak itu adalah anaknya, kedua, pria itu akan merampas anak itu darinya.
Dira tertawa. Bukan tawa bahagia. Ia menatap Ethan. Keduanya berhadap-hadapan.
"Bukti DNA sudah jelas. Memang kau yang melahirkannya, tapi dengan keadaan ekonomimu sekarang, aku bisa menang di pengadilan." kata Ethan tanpa ragu.
Ucapan itu seperti pisau yang ditancapkan pelan ke dada Dira. Ia menatap Ethan tanpa berkedip. Air matanya jatuh. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Apa kau harus sekejam ini padaku?" Suaranya bergetar hebat. Dia jelas tahu, kalau dia tidak bisa melawan pria itu jika itu sudah berhubungan dengan kekuasaan.
"Kau juga bisa sekejam itu padaku. Menurutmu menyembunyikan darah dagingku sendiri selama enam tahun, itu tidak kejam?"
Dira terdiam, tidak bisa menemukan kata-kata untuk membantah. Setiap kalimat Ethan menusuk lebih dalam dari sebelumnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis sambil berusaha menahan suara tangisnya.
Ethan meremas stir. Dia tahu dia sangat kejam. Tapi kekecewaannya kepada wanita itu masih sangat besar. Pria itu menutup matanya kuat-kuat, membukanya lagi, lalu menghembuskan nafas kasar. Dalam perjalanannya ke tempat ini untuk menemui Dira, dia sudah memutuskan dua hal.
"Aku akan memberimu dua pilihan." katanya.
Dira perlahan menurunkan kedua tangannya dari wajahnya. Matanya merah, napasnya masih tersengal. Ia tidak bicara, hanya menatap, menunggu apa yang akan dikatakan oleh pria itu.
Ethan menatap lurus ke depan beberapa detik sebelum akhirnya menoleh. Wajahnya tidak lagi meledak-ledak, tapi keras. Tegas. Seperti pria yang sudah mengambil keputusan.
"Pertama," ucapnya pelan,
"Kau tetap menyembunyikanku dari Arel. Dan aku akan membawa ini ke pengadilan. Kita selesaikan secara hukum. Hak asuh, tes tambahan, semuanya."
Tubuh Dira langsung menegang.
"Kedua," lanjut Ethan.
"Beritahukan pada Arel tentangku, dan menikah denganku. Aku akan memenuhi semua kebutuhan kalian."
Dira kaget. Tapi kalimat Ethan selanjutnya membuat rasa kagetnya pudar.
"Pernikahan itu hanya untuk membuat Arel memiliki keluarga yang utuh. Aku tidak ingin putraku tumbuh tanpa orangtua. Kau mengerti maksudku kan?"
Dira menatap Ethan lama, menertawakan ide itu dalam hati. Karena lagi-lagi ia tahu, Ethan belum memaafkannya atas kejadian masa lalu. Di saat yang sama, kata-kata pria itu benar. Arel membutuhkan keluarga yang utuh.
"Aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Kau pasti tahu mana yang terbaik untuk anak kita kan?"
Dira tidak menjawab. Pikirannya sedang penuh sekarang.