Safa, wanita dari keluarga sederhana, memberikan makanan pada seorang pria yang dia anggap pengemis – ternyata adalah Riki, CEO perusahaan besar. Terharu dengan kebaikan Safa, Riki menyembunyikan statusnya, mereka jatuh cinta dan menikah.
Ketika Safa bekerja di kantor Riki, dia bertemu "Raka" – teknisi yang ternyata adalah Riki yang berpura-pura. Setelah menemukan kebenaran, Safa merasa kecewa, tapi Riki membuktikan cintanya tulus dengan memperkenalkannya pada keluarga aslinya. Mereka akhirnya memperpublikasikan pernikahan mereka dan hidup bahagia dengan cinta yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang Lagi dan Lagi
Sejak kejadian sate padang yang membuat bajunya terkena noda, Riki datang ke Waroeng Mak Ina setiap malam setelah bekerja.
Tanpa pernah melewatkan satu hari pun, dia selalu muncul tepat pukul sepuluh, mengenakan pakaian sederhana yang sama – kaos polos dan celana jeans – dan selalu memilih meja pojok yang sudah menjadi "tempat khusus" nya. Karyawan warung mulai mengenalnya dengan baik dan menyapa dia dengan senyuman setiap kali dia datang.
Pada malam kelima kunjungannya, Riki datang dengan wajah yang sedikit lesu. Proyek perusahaan nya yang bermasalah belum menemukan solusi yang tepat, dan rapat yang berlangsung seharian penuh dengan tekanan dari para investor yang mulai tidak sabar.
Hatinya hanya ingin menemukan ketenangan dan senyuman hangat dari Safa yang sudah menjadi obat bagi dirinya setelah hari yang melelahkan.
Ketika memasuki warung, dia melihat Safa yang sedang sibuk melayani kelompok pelanggan yang datang bersama-sama.
Meskipun sangat sibuk, Safa segera melihatnya dan memberikan senyuman singkat yang cukup membuat hati Riki menjadi lebih tenang. Riki mengangguk sebagai balasan dan duduk di meja pojoknya seperti biasa.
Tak lama kemudian, setelah selesai melayani kelompok pelanggan itu, Safa datang mendekatinya dengan senyumannya yang khas. "Halo Pak! Hari ini mau pesan apa ya? Mau coba sate padang lagi? Saya jamin kali ini tidak akan terkena baju lagi kan?" ucapnya dengan nada bercanda yang membuat Riki tertawa.
"Aku sudah belajar dari kesalahan kemarin kok," jawab Riki dengan tersenyum. "Kali ini aku mau pesan yang tidak terlalu berisiko aja ya. Bolehkah aku pesan sup buntut? Kamu bilang kemarin sup nya enak kan?"
"Tentu saja Pak! Sup buntut kami memang salah satu favorit pelanggan lho. Kaldu nya sudah direbus selama berjam-jam jadi rasanya sangat kaya dan gurih," ucap Safa dengan semangat. "Saya akan antar segera ya Pak!"
Saat menunggu makanan datang, Riki melihat Safa yang kembali sibuk bekerja. Dia melihat bagaimana Safa dengan cekatan membawa beberapa piring sekaligus tanpa pernah menjatuhkannya, bagaimana dia dengan sabar menjawab pertanyaan pelanggan tentang menu makanan, dan bagaimana dia selalu menemukan waktu untuk membantu teman kerjanya yang kesusahan.
Riki merasa kagum dengan kerja keras dan kebaikan hati Safa yang tidak pernah pudar meskipun dia bekerja selama berjam-jam setiap hari.
Tak lama kemudian, Safa datang membawa mangkuk besar berisi sup buntut yang masih mengeluarkan uap panas.
Dia meletakkan mangkuk dengan hati-hati di atas meja dan memberikan sendok besi yang sudah dipanaskan agar tidak membuat sup cepat dingin. "Silakan dinikmati ya Pak. Kalau kurang garam atau ingin tambah cabe, bilang aja ya!"
Riki mengangguk dan segera mencoba menyendok sup ke dalam mulutnya. Rasanya benar-benar luar biasa – kaldu yang kaya rasa dengan potongan buntut yang empuk dan sayuran yang segar membuatnya merasa hangat dari dalam. Dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagum di wajahnya.
"Sangat enak sekali! Rasanya tidak kalah dengan sup buntut yang aku makan di restoran mewah," ucap Riki dengan tulus.
Safa tersenyum bangga. "Terima kasih Pak! Resep sup ini adalah dari Ayah saya lho. Dia dulu sering membuatnya untuk keluarga ketika ada acara khusus. Ketika saya mulai bekerja di sini, saya ajarkan resep nya pada Bu Yanti dan sekarang jadi salah satu menu andalan warung ini."
Mereka mulai berbincang lagi seperti biasa. Kali ini Safa cerita tentang keluarga nya – bagaimana Ayahnya bekerja sebagai tukang kayu yang sering tidak mendapatkan pekerjaan tetap, bagaimana Ibunya menjaga rumah dan berjualan makanan ringan di depan rumah untuk menambah penghasilan, dan bagaimana dia sebagai anak sulung merasa harus membantu orang tuanya sejak dini.
"Aku merasa sangat bersyukur bisa bekerja di sini," ujar Safa dengan mata yang bersinar. "Bu Yanti sangat baik padaku, memberikan gaji yang cukup dan bahkan sering memberikan makanan untuk dibawa pulang ke rumah. Tanpa dia, aku tidak tahu bagaimana cara kita bisa menjalani hidup."
Riki mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut Safa. Dia merasa sangat tersentuh dengan cerita kehidupan Safa yang penuh dengan perjuangan tapi tetap dijalani dengan penuh kebaikan hati dan rasa syukur.
Berbeda dengan dirinya yang lahir dari keluarga yang cukup mampu dan tidak pernah merasakan kesulitan ekonomi sama sekali.
"Aku benar-benar menghargai apa yang kamu lakukan untuk keluarga mu," ucap Riki dengan suara lembut. "Banyak orang yang tidak bisa melakukan hal yang sama ketika menghadapi kesulitan seperti yang kamu alami."
Safa tersenyum lembut. "Kita hanya bisa berusaha yang terbaik saja Pak. Apapun yang terjadi, saya selalu percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan yang melebihi kemampuan kita. Selain itu, bekerja keras dan membantu orang tua adalah kewajiban kita sebagai anak kan?"
Riki mengangguk setuju. Dia mulai cerita tentang kehidupannya yang dibuat-buat – bagaimana dia harus bangun pagi setiap hari untuk naik angkot menuju kantor yang terletak di bagian kota yang cukup jauh, bagaimana dia sering harus bekerja lembur tanpa ada uang tambahan, dan bagaimana dia berharap bisa suatu hari nanti memiliki cukup uang untuk membeli rumah kecil bagi orang tuanya yang tinggal di luar kota.
"Aku sangat menghargai orang tua ku yang selalu mendukungku meskipun mereka tidak bisa memberikan banyak hal secara materi," ujar Riki dengan ekspresi yang tulus. "Saya berjanji pada diri sendiri bahwa suatu hari nanti saya akan membuat mereka bahagia dan tidak perlu lagi bekerja keras seperti sekarang."
Safa melihatnya dengan mata yang penuh penghargaan. "Itu sangat baik sekali Pak. Orang tua kita adalah orang terpenting dalam hidup kita, jadi sudah seharusnya kita berusaha sebaik mungkin untuk mereka."
Waktu berlalu dengan cepat lagi. Ketika jam menunjukkan pukul sebelas lewat, Bu Yanti datang lagi untuk memberitahu Safa bahwa dia bisa pulang sekarang. Safa merasa sedikit sungkan karena sudah beberapa kali membuat Riki menunggunya.
"Maaf ya Pak, kamu sudah harus menunggu aku setiap malam seperti ini," ucap Safa dengan rasa malu.
"Tidak apa-apa kok," jawab Riki dengan senyuman. "Sebenarnya aku senang bisa menunggumu. Jalanan malam hari tidak terlalu aman untuk seorang wanita sendirian kan? Apalagi kalau kamu harus jalan jauh untuk pulang ke rumah."
Safa merasa terharu dengan perhatian yang diberikan Riki. Sejak bekerja di warung, jarang ada orang yang peduli dengan keselamatannya ketika pulang malam. "Terima kasih banyak ya Pak. Kamu sangat baik hati sekali."
Setelah Safa membersihkan diri dan mengambil tas kerjanya, mereka berjalan keluar dari warung bersama-sama.
Kali ini Riki menawarkan untuk menyertainya sampai ke rumahnya karena dia merasa khawatir dengan keselamatan Safa.
Safa sedikit ragu pada awalnya tapi akhirnya menyetujuinya setelah melihat bahwa Riki memang memiliki niat yang tulus.
Perjalanan pulang mereka diisi dengan pembicaraan yang hangat dan menyenangkan. Mereka berbicara tentang segala hal – dari makanan kesukaan mereka hingga impian masa depan yang ingin mereka capai.
Riki merasa sangat senang bisa berbicara dengan seseorang yang tidak melihatnya sebagai sosok penting atau orang kaya, hanya sebagai seorang pria biasa yang ingin berbagi cerita dan pengalaman hidup.
Ketika mereka sampai di depan rumah kos kecil yang ditempati oleh keluarga Safa, Safa berbalik dan melihat Riki dengan senyuman hangat. "Kita sudah sampai Pak. Terima kasih banyak sudah mengantar aku sampai ke rumah. Kamu benar-benar orang yang baik hati."
Riki tersenyum balik. "Sama-sama. Aku hanya ingin memastikan kamu sampai ke rumah dengan selamat. Jangan lupa ya, besok aku akan datang lagi ke warung. Kali ini aku mau coba ayam bakar lagi ya!"
"Baiklah Pak, saya tunggu ya," ucap Safa dengan tersenyum. "Jangan sampai terlambat ya, karena besok ada banyak pelanggan yang sudah memesan makanan untuk malam hari."
Setelah Safa memasuki rumahnya, Riki tetap berdiri di depan pintu untuk beberapa saat. Dia melihat cahaya lampu yang menyala dari dalam rumah dan bisa mendengar suara orang tua Safa yang menyambutnya dengan hangat.
Hatinya merasa sangat penuh dan bahagia – ini adalah perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, bahkan ketika dia berhasil menyelesaikan proyek besar di perusahaan nya.
Pada perjalanan pulang menuju rumah mewah nya yang kosong, Riki mulai berpikir keras tentang kehidupannya. Dia menyadari bahwa selama ini dia terlalu fokus pada pekerjaan dan kesuksesan materi yang akhirnya membuat hidupnya terasa hampa dan tidak berarti.