Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 36: Asap Terasi dan Gorong-Gorong Belanda
Malam itu, Resort Taman Sari Baru terlihat seperti istana di tengah hutan. Lampu-lampu taman yang kekuningan menerangi jalan setapak berbatu, kolam renang infinity yang memantulkan bulan, dan vila-vila mewah yang berjajar rapi. Di permukaan, tempat ini adalah surga liburan. Di bawah tanah, ia adalah pabrik dosa.
Di pos keamanan utama yang megah, empat satpam berseragam safari sedang berjaga sambil merokok. Mereka dilengkapi stun gun dan walkie-talkie. Di mata batin, mereka didampingi oleh dua anjing herder hitam yang bukan anjing biasa—matanya menyala merah, Anjing Ajag (siluman anjing hutan).
Tiba-tiba, sebuah motor tua berhenti tepat di tengah jalan akses masuk, memblokir gerbang otomatis.
Seorang pria tua turun. Dia mengenakan pakaian koki putih bersih yang berkilau di bawah lampu sorot, lengkap dengan topi tingginya.
Dia tidak membawa senjata. Dia membawa Kompor Semawar (kompor tekanan tinggi) portabel dan sebuah wajan besar.
"Woi! Minggir, Pak! Ini properti pribadi!" teriak kepala satpam, berjalan mendekat dengan pentungan di tangan. Anjing-anjing siluman di sebelahnya menggeram rendah.
Seno tidak menjawab. Dia menyalakan kompornya.
WOOSHH!
Api biru menyembur garang, suaranya menderu memecah kesunyian malam.
Seno meletakkan wajan. Dia menuangkan minyak kelapa.
Lalu, dia mengeluarkan bungkusan daun pisang dari sakunya.
Terasi Merah Gua Langse.
Dia meremas terasi itu, lalu melemparnya ke minyak panas.
CRENGGG!
Asap tebal membumbung seketika.
Aromanya... sungguh tak terlukiskan.
Bagi manusia (satpam), baunya seperti bangkai ikan paus yang membusuk dicampur belerang. Mereka langsung menutup hidung, mata berair, perut mual.
"Uwek! Bau apa ini?! Pak Tua, kau gila ya?!"
Tapi bagi makhluk lain... aroma itu adalah undangan pesta pora.
Aroma itu menyebar cepat, terbawa angin lembah, menembus tembok, menembus tanah, menembus air sungai.
Dari kegelapan hutan di sekeliling resort, terdengar suara gemerisik.
Krak... krek... srrrt...
Anjing siluman Ajag yang tadi galak, tiba-tiba berhenti menggeram. Hidung mereka kembang kempis. Air liur menetes deras. Mereka melupakan tugas menjaga gerbang. Mata merah mereka terkunci pada wajan Seno.
"Datanglah..." gumam Seno sambil mengaduk nasi hangat ke dalam wajan, mencampurnya dengan terasi magis itu. "Makan... yang kenyang."
Satu menit kemudian, neraka bocor di gerbang depan.
Dari arah sungai, puluhan Banaspati (bola api) terbang melesat seperti lampion jahat.
Dari arah pepohonan, Genderuwo bergelantungan turun.
Dari dalam tanah, tangan-tangan pucat Pocong menyembul keluar, melompat-lompat girang.
Mereka semua menyerbu gerbang. Bukan untuk menyerang resort, tapi untuk berebut Sego Golong Terasi buatan Seno.
"Lapor Pusat! Lapor Pusat! Kita diserang... hantu?!" teriak satpam panik di walkie-talkie, sebelum dia pingsan karena melihat Kuntilanak merangkak di atas pos jaga sambil menjilati asap masakan.
Kerusuhan massal terjadi. Ribuan lelembut memadati gerbang depan, menciptakan dinding kekacauan yang sempurna.
Sementara itu, di sisi belakang resort, di pinggir sungai Code yang gelap.
Tiga sosok sedang berdiri di depan sebuah lubang gorong-gorong tua yang tertutup jeruji besi berkarat.
Alya, Om Rian, dan Gulo.
Alya sudah mengoleskan Minyak Kelapa Hijau pemberian Nyai Geni di lehernya. Baunya wangi seperti kue putu, menutupi bau darah kuncinya.
"Ini dia," bisik Om Rian, menyorotkan senter kecil ke jeruji itu. "Saluran pembuangan air jaman kolonial. Ini langsung mengarah ke ruang mesin di bawah kolam renang."
Jeruji itu digembok besar.
"Gulo," panggil Alya.
Gulo melompat maju. Dia mengeluarkan kawat kecil dari rompinya, mengutak-atik lubang kunci gembok itu.
Klik.
Gembok terbuka. Gulo memang ahli maling.
Om Rian menarik jeruji berat itu dengan susah payah. Engselnya berdecit pelan.
Bau apek, lumut, dan lembap langsung menyeruak keluar.
"Ayo. Bapak duluan," kata Om Rian. Dia masuk merangkak ke dalam kegelapan.
Alya menyusul di belakang, disusul Gulo yang bertugas menjaga bagian belakang.
Lorong itu sempit, hanya setinggi satu meter. Dindingnya terbuat dari batu bata merah kuno yang licin berlumut. Air setinggi mata kaki menggenang di dasar, dingin dan keruh.
"Hati-hati, Al. Jangan sentuh dinding kalau nggak perlu. Banyak kelabang," peringat Om Rian.
Mereka merangkak dalam diam selama sepuluh menit. Suara napas mereka bergema.
Di atas mereka, terdengar suara dentuman musik sayup-sayup. Mereka berada tepat di bawah lobi resort.
Tiba-tiba, Gulo mencicit, menarik sepatu Alya.
Alya berhenti. "Kenapa, Gul?"
Gulo menunjuk ke depan, matanya bersinar waspada dalam gelap.
Di depan sana, ada Sarang Laba-Laba raksasa yang menutupi seluruh lorong.
Dan di tengah jaring itu, bertengger seekor laba-laba seukuran helm motor. Warnanya hitam dengan corak tengkorak putih di punggung.
Kala-Kala. Penjaga lorong bawah tanah.
"Waduh," bisik Om Rian. "Ini nggak ada di denah."
"Mbah Suro naruh CCTV alami," desis Alya. "Kalau kita nyentuh jaring itu, dia bakal tahu."
Alya merogoh sakunya. Dia tidak bisa melempar garam, lorong terlalu sempit. Dia tidak bisa pakai pisau, jaringnya terlalu tebal dan lengket.
Gulo maju. Dia menepuk dadanya bangga.
Dia mengeluarkan Ketapel kayu kecil (mainan yang dia curi dari anak santri di pondok).
Dia mengambil sebuah permen karet dari mulutnya (bekas dia kunyah), menempelkannya ke batu kerikil.
Gulo membidik.
Bukan ke laba-labanya. Tapi ke dinding di belakang laba-laba itu, di mana ada pipa uap panas yang bocor sedikit.
Twiing!
Batu lengket itu menempel di katup pipa uap.
Gulo menarik benang yang terikat di batu itu.
Psshhhh!
Katup terbuka. Semburan uap panas menyembur keluar, tepat mengenai pantat si laba-laba raksasa.
"Kiiiiiek!"
Laba-laba itu kaget kepanasan. Dia melompat turun dari jaringnya, lari terbirit-birit masuk ke celah dinding.
Jalan terbuka.
"Keren, Monyet!" puji Om Rian takjub.
Mereka merobek jaring itu dengan pisau Beras Wutah, lalu lanjut merangkak cepat.
Akhirnya, mereka sampai di ujung lorong. Ada sebuah tangga besi vertikal menuju penutup lubang (manhole) di atas.
Om Rian memanjat, mengintip sedikit.
"Aman," bisiknya. "Ini ruang mesin pompa."
Mereka keluar satu per satu.
Ruangan itu bising oleh suara mesin pompa kolam renang raksasa. Pipa-pipa besar berseliweran di mana-mana.
Di ujung ruangan, ada sebuah pintu baja tebal dengan pemindai sidik jari.
Pintu menuju Dapur Magis.
"Gimana cara buka pintunya?" tanya Alya. "Kita nggak punya jari Mbah Suro."
Om Rian tersenyum licik. Dia mengeluarkan HP-nya, lalu menyambungkan kabel data ke panel kontrol elektronik di samping pintu.
"Alya, Papa ini arsitek bangunan ini. Papa tahu backdoor sistem keamanannya. Dulu Papa pasang kode darurat jaga-jaga kalau terjebak kebakaran."
Om Rian mengetik cepat di HP-nya. Jari-jarinya yang biasa menggambar sketsa kini menari lincah meretas sistem yang dia buat sendiri.
"Kode: Rian_Ganteng_1990."
Bip. Bip. Bip. Kliiiik.
Lampu indikator berubah hijau. Pintu baja itu mendesis terbuka.
Alya melongo. "Password-nya narsis banget, Om."
"Ssst. Jaman muda," Om Rian nyengir malu.
Mereka melangkah masuk.
Suhu udara langsung berubah.
Dingin. Sangat dingin.
Dan bau kemenyan campur darah begitu pekat hingga membuat mual.
Ruangan itu luas, berbentuk lingkaran seperti amfiteater. Dindingnya dilapisi marmer hitam.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah lubang besar di lantai yang dipenuhi bara api hijau.
Dan di atas bara api itu, tergantung sebuah benda yang mengerikan.
Kuali Dosa.
Sebuah kuali tembaga raksasa berdiameter tiga meter. Permukaannya diukir relief penyiksaan neraka.
Di dalam kuali itu, cairan hitam pekat mendidih.
Bukan air.
Itu adalah Likuid Kejahatan. Sari pati dari tumbal-tumbal yang sudah dikorbankan.
Di sekeliling kuali, berdiri tujuh tiang batu.
Dan di setiap tiang, terikat Bayangan Hitam yang meronta-ronta. Arwah-arwah yang belum sempat "dimasak".
"Itu..." Alya menunjuk salah satu bayangan yang bentuknya seperti penari. "Itu temen-temennya Laras!"
"Kita harus hancurkan kuali itu," kata Om Rian. "Kalau kualinya pecah, seluruh energinya akan buyar."
Alya menggenggam pisau Beras Wutah-nya.
Gulo mengambil posisi siaga.
Tapi, sebelum mereka sempat melangkah mendekat, terdengar suara tepuk tangan pelan dari sudut ruangan yang gelap.
"Luar biasa..."
Sosok Mbah Suro melangkah keluar dari bayangan. Dia tidak memakai jas lagi. Dia mengenakan pakaian adat Jawa lengkap (beskap hitam), tapi kain jariknya bermotif Parang Rusak (motif larangan untuk rakyat biasa).
Di tangannya, dia memegang tongkat naga baru—tongkat yang terbuat dari Tulang Manusia.
"Tikus got berhasil masuk ke istana," Mbah Suro tersenyum dingin. Di belakangnya, muncul sosok Jaka.
Dan di belakang Jaka, berdiri dua sosok tinggi besar: Algojo Akhirat. Makhluk berbadan merah dengan kapak besar.
"Kalian pikir kerusuhan di depan bisa menipuku?" Mbah Suro menatap Alya. "Aku membiarkan kalian masuk. Karena aku butuh kau, Alya. Darahmu... lebih segar jika diambil langsung di depan kuali."
Jaka melangkah maju, membuka kancing jasnya, memperlihatkan pistol perak di pinggangnya (senjata modern untuk jaga-jaga).
"Maaf, Pak Arsitek," kata Jaka pada Om Rian. "Kontrak kerja Bapak sudah habis. Pesangonnya adalah... kematian."
Alya mundur selangkah, melindungi Om Rian.
Mereka terkepung di dalam perut musuh. Seno masih sibuk di gerbang depan.
Ini adalah pertarungan 3 lawan 4.
Remaja + Arsitek + Monyet VS Dukun Sakti + Mafia Iblis + 2 Algojo.
"Om," bisik Alya tanpa menoleh. "Inget stik golf kemaren? Sekarang pake kunci inggris itu."
Alya menunjuk kunci inggris besar yang tergeletak di lantai.
Om Rian memungut kunci inggris itu. Tangannya gemetar, tapi matanya nekat.
"Siap, Bos."
"SERANG!" teriak Mbah Suro.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
ikutt sja
🙏
👍👍
Alya dapat hadiah dari nyai ratu kidul
cukup Mbah suro gendeng yg binasa
kirain sdh lenyap
mauu juga pak seno
kebanyakan masuk roh jahat
😩
Ndak masuk juru masak dapur keraton sja to,
tapi khusus masak dapur spiritual warung tengah malam 🤭
gunung nya masuk angin
jadi muall 🤣