Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Pepes Magma dan Transaksi Gelap
Panas yang memancar dari Ikan Mas Lahar itu tidak main-main. Bahkan dari jarak satu meter, alis Alya terasa mau keriting. Air di dalam akuarium batu itu sudah menguap habis, menyisakan ikan bersisik emas yang menggelepar di dasar batu pijar, tubuhnya memancarkan cahaya oranye kemerahan seperti besi tempa.
"Pak," bisik Alya sambil menumbuk daun mint dan timun suri di cobek batu dingin. "Gimana cara ngambilnya? Tangan Bapak bisa leleh."
Seno tidak menjawab. Dia memejamkan mata, mengatur napas. Dia sedang memanggil energi dingin dari dalam tubuhnya—energi Yin—untuk melapisi telapak tangannya.
Seno membuka matanya. Tangannya kini diselimuti kabut tipis berwarna biru.
Dengan gerakan cepat yang tak kasat mata, Seno menyambar ikan itu.
Cessssss!
Suara desisan nyaring terdengar saat kulit tangan Seno bertemu sisik panas. Bau daging terbakar tercium samar, tapi tangan Seno tidak melepuh. Lapisan energinya menahan panas itu.
Dia meletakkan ikan itu di atas Daun Talas Naga (daun lebar berwarna ungu gelap yang tahan api) yang disediakan Mbah Benguk.
"Bumbu!" perintah Seno singkat.
Alya segera melumuri tubuh ikan panas itu dengan adonan bumbu dingin yang dia buat.
Reaksinya ajaib. Saat bumbu dingin menyentuh ikan panas, asap putih tebal membumbung. Ikan yang tadinya menggelepar liar perlahan menjadi tenang. Panas magma diredam oleh dinginnya mint dan timun suri.
Seno menambahkan irisan belimbing wuluh dan daun kemangi hitam.
Lalu dengan cekatan, dia membungkus ikan itu dengan daun talas, menyematkan lidi dari tulang ikan hiu di kedua ujungnya.
Seno tidak membakarnya di atas arang. Ikan itu sudah membawa apinya sendiri.
Dia hanya meletakkan bungkusan itu di atas meja batu.
Panas dari dalam tubuh ikan itu sendiri yang akan mematangkan bumbunya dari dalam keluar. Teknik memasak terbalik: Self-Cooking.
Sementara menunggu pepes itu matang, sesosok bayangan mendekat ke area dapur terbuka itu.
Suara tepuk tangan sarkastik terdengar.
"Bravo. Benar-benar pertunjukan yang memukau."
Alya menoleh. Jantungnya berdegup kencang.
Jaka.
Dia berdiri di ambang pintu dapur, masih dengan setelan jas mahalnya yang sedikit berdebu vulkanik. Di tangannya, dia menenteng sebuah koper besi kecil.
Gulo, yang sedang duduk di atas rak bumbu, langsung mendesis dan melempar bawang putih ke arah Jaka.
Jaka menangkap bawang itu dengan dua jari, lalu menghancurkannya.
"Tenang, Monyet Kecil. Aku sedang 'gencatan senjata' di sini. Pasar Bubrah punya aturan ketat soal perkelahian," kata Jaka santai.
Seno tidak menoleh. Dia tetap fokus menjaga suhu pepes. Tapi punggungnya menegang.
Jaka berjalan mendekat, berdiri di samping Alya yang gemetar menahan sakit di bahunya.
"Sakit ya, Nona Asisten?" bisik Jaka. "Akar Mimang itu... jahat sekali. Mbah Suro memang tidak punya selera seni. Kalau aku yang membunuhmu, aku akan melakukannya dengan lebih... elegan."
"Mau apa lu ke sini?" desis Alya, memberanikan diri.
Jaka mengangkat koper besinya.
"Belanja, tentu saja. Kalian pikir kalian satu-satunya yang bersiap perang? Mbah Suro punya uang, aku punya koneksi. Kami sedang membangun... aliansi kecil."
Jaka menatap Seno.
"Kau tahu, Seno? Dunia ini sedang berubah. Batas antara gaib dan nyata makin tipis. Sebentar lagi, kami tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Dan warung kecilmu itu... akan terlindas zaman."
Seno akhirnya menoleh. Tatapannya dingin dan tajam setajam pisau fillet.
"Makanan... enak... tak lekang... zaman," kata Seno dengan suara seraknya. "Kejahatan... selalu... basi."
Jaka tertawa keras. "Filosofi koki tua. Kita lihat saja nanti."
Tiba-tiba, Mbah Benguk melompat masuk.
"Hei! Hei! Berisik sekali! Mana makananku?"
Jaka membungkuk hormat pada Mbah Benguk (bahkan Ordo pun segan pada tabib gila ini), lalu dia mundur perlahan.
"Nikmati makan malam kalian. Mungkin ini yang terakhir," kata Jaka, lalu berbalik dan menghilang ke dalam kerumunan pasar.
Alya menghela napas lega. Kakinya lemas.
"Dia beneran mau perang besar, Pak."
Seno menepuk bahu Alya pelan. Fokus.
Dia menunjuk bungkusan pepes di meja.
Daun talas itu sudah layu dan berminyak. Aromanya... luar biasa.
Aroma rempah segar bercampur dengan aroma mineral bumi yang kuat.
Seno membuka bungkusan itu.
Uap panas keluar.
Daging ikan mas itu kini berwarna merah muda pucat, sangat lembut. Tulang-tulangnya sudah lunak.
Mbah Benguk matanya berbinar-binar. Lidahnya yang panjang menjulur keluar masuk.
"Akhirnya..."
Tabib itu menyambar pepes itu tanpa sendok. Dia memakannya langsung dengan tangan.
Panasnya masih ratusan derajat, tapi bagi Mbah Benguk, itu seperti sup hangat.
"Nyam... nyam... gluk..."
Mbah Benguk makan dengan rakus.
Setiap suapan membuat tubuhnya berubah.
Kulitnya yang bersisik dan kusam perlahan rontok seperti ganti kulit ular. Di balik kulit lama itu, muncul kulit baru yang hijau muda, licin, dan bersinar.
Matanya yang rabun menjadi bening. Postur bungkuknya menjadi tegak.
Dalam lima menit, pepes itu ludes. Tulang-tulangnya pun dimakan.
Mbah Benguk bersendawa keras. Keluar asap emas dari mulutnya.
"Alhamdulillah hirrabbil alamin..." ucap Mbah Benguk (ternyata dia katak yang religius). "Rasanya seperti meledak dan lahir kembali."
Dia menatap Seno dan Alya.
"Kalian memuaskanku. Sesuai janji. Sini, Nduk."
Alya maju dengan ragu. Dia duduk di bangku kayu di depan Mbah Benguk.
Mbah Benguk tidak memakai pisau bedah.
Dia membuka mulutnya lebar-lebar. Dari dalam tenggorokannya, keluar seekor Lintah Hitam kecil yang ujungnya bercahaya biru.
"Ih... itu alat operasinya?" Alya mau muntah.
"Diam. Jangan bergerak," perintah Mbah Benguk.
Dia menempelkan lintah itu ke bahu Alya, tepat di pusat noda hitam Akar Mimang.
Lintah itu menggigit kulit Alya.
Rasanya tidak sakit. Justru terasa dingin dan kebas.
Lintah itu mulai menyedot. Tubuhnya menggelembung.
Dan perlahan... dari pori-pori kulit Alya, tertariklah benang-benang hitam halus.
Akar-akar gaib itu ditarik paksa keluar.
Rasanya seperti ada kawat yang ditarik dari dalam daging.
"Argh..." Alya menggigit bibir sampai berdarah, menahan teriak. Tangan Seno memegang erat tangan Alya, menyalurkan kekuatan.
"Tahan... akarnya dalam..." gumam Mbah Benguk.
Lintah itu menyedot terus. Benang hitam itu semakin tebal. Dan akhirnya... PLOP!
Sebuah gumpalan hitam menyerupai akar pohon beringin kecil tercabut utuh dari bahu Alya.
Gumpalan itu menggeliat-geliat di mulut lintah, lalu lintah itu menelannya bulat-bulat.
Mbah Benguk mengambil lintah itu, lalu membuangnya ke tong sampah berisi abu.
"Sudah bersih. Racunnya sudah hilang."
Alya melihat bahunya. Noda hitam itu lenyap total. Kulitnya kembali mulus, hanya sedikit merah bekas gigitan lintah.
Rasa gatal di bawah dagingnya hilang. Pikirannya jernih. Tidak ada lagi bayangan belatung.
"Sembuh..." Alya meraba bahunya tak percaya. "Makasih, Mbah! Makasih banget!"
Mbah Benguk mengibaskan tangan. "Sudah sana, pulang. Sebelum pasar tutup. Kalau kalian masih di sini saat matahari terbit, kalian akan terjebak di dimensi ini selamanya."
Seno mengangguk hormat.
Mereka berpamitan.
Saat berjalan keluar dari pasar, kabut mulai menipis. Fajar menyingsing di ufuk timur.
Alya merasa tubuhnya ringan sekali. Beban fisik dan mentalnya terangkat.
Tapi kata-kata Jaka tadi masih terngiang.
Aliansi.
Mbah Suro (Dukun Santet) dan Jaka (Ordo Penagih Janji) bekerja sama.
Satu menguasai sihir hitam lokal, satu menguasai birokrasi neraka.
Dan target mereka bukan cuma Seno atau Alya. Target mereka adalah Tanah. Tanah tempat gedung kesenian berdiri, tanah tempat rumah Joglo berdiri, tanah-tanah leluhur yang mengandung energi.
Mereka ingin mengubah Yogyakarta menjadi ladang energi gelap untuk kepentingan bisnis dan kekuasaan.
"Pak," kata Alya saat mereka menaiki motor kembali. "Kita nggak bisa cuma dagang bubur doang mulai sekarang. Kita harus ngelawan mereka."
Seno menyalakan mesin motor. Suaranya menderu memecah kesunyian hutan pinus.
Dia menoleh ke belakang, menatap Alya lewat bahunya.
"Kita... masak... pertahanan," kata Seno mantap.
Motor melaju turun, meninggalkan Pasar Bubrah yang perlahan menghilang ditelan cahaya pagi.
Di saku jaket Alya, pisau Beras Wutah bergetar pelan.
Perang terbuka sudah dideklarasikan.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.
kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.