Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 (twenty two)
Udara di lantai 45 gedung Agro Santara sudah tidak layak hirup. Bau kabel terbakar bercampur dengan gas air mata yang menyengat. Lampu darurat yang berputar menciptakan bayangan merah panjang di wajah Ratna, membuatnya tampak seperti dewa perang kuno yang bangkit di tengah reruntuhan modern.
[00:45...]
"Teguh, pergi! Itu perintah terakhirku sebagai komandanmu!" suara Ratna menggelegar, mengatasi deru mesin server yang mulai overheat.
Teguh tertegun. Di punggungnya, Bagas yang setengah sadar menggumamkan nama Ratna. Teguh melihat tangan Ratna yang gemetar namun tetap kokoh menempel pada panel scanner. Ia tahu, jika ia tetap di sana, mereka semua akan menjadi abu.
Dengan air mata yang mengaburkan pandangannya, Teguh memberikan hormat tegak yang paling sempurna dalam hidupnya sebuah penghormatan terakhir bagi jiwa seorang jenderal yang terjebak dalam tubuh mungil namun perkasa.
"Jangan mati, Bu... Jangan berani-berani mati," bisik Teguh sebelum ia berbalik dan melompat ke dalam kegelapan lorong kabel.
Kini hanya ada Ratna, Jenderal Arman yang merintih memegangi paha berdarahnya, dan Siska yang napasnya tersengal akibat tulang rusuk yang patah.
"Kau menghancurkan segalanya, Ratna!" teriak Arman, suaranya parau karena amarah dan ketakutan. "Sangkala adalah fondasi negara ini! Tanpa kami, ekonomi akan runtuh, pemerintahan akan lumpuh!"
Ratna menoleh perlahan. Matanya dingin, sedingin salju di medan perang tempat jiwanya berasal. "Sebuah negara yang berdiri di atas tumpukan mayat anak-anak bukanlah negara, Arman. Itu hanyalah sebuah rumah jagal yang dipoles dengan emas."
[00:20...]
Jarum mikro di panel scanner menembus kulit Ratna. Darahnya mengalir masuk ke dalam sistem. Seketika, layar raksasa di belakangnya berubah menjadi biru elektrik. Jutaan baris data terenkripsi nama-nama pejabat korup, aliran dana gelap, koordinat laboratorium rahasia, hingga rencana genetik Project Hydra terpancar keluar melalui satelit komunikasi yang telah dibajak oleh Hendra.
Di seluruh penjuru Indonesia, layar-layar TV yang sedang menyiarkan sinetron tiba-tiba statis. Di Bundaran HI, videotron raksasa yang biasanya menampilkan iklan fashion kini berganti menjadi daftar hitam Dewan Tujuh. Rakyat yang masih terjaga di tengah malam berhenti melangkah, menatap layar dengan mulut ternganga. Kebenaran yang selama ini terkubur sedalam tujuh samudera, meledak ke permukaan dalam hitungan detik.
[00:05...]
"Satu hal yang tidak kau mengerti, Arman," bisik Ratna saat sistem self-destruct gedung mulai mengeluarkan bunyi bip yang panjang dan menyatu. "Prajurit sejati tidak takut mati. Kami hanya takut mati tanpa arti."
Siska mencoba menyerang Ratna untuk terakhir kalinya, namun Ratna hanya menatapnya dengan rasa iba. Di detik terakhir, Ratna melihat ke arah tangki titanium besar yang berisi cairan pendingin server. Ia ingat cetak biru gedung ini tangki itu memiliki dinding berlapis ganda untuk menahan tekanan ekstrem.
[00:01...]
BOOM!!!
Ledakan termobarik itu membelah langit Jakarta. Lantai 45 hingga 48 gedung Agro Santara meledak menjadi bola api raksasa. Kaca-kaca pecah berkeping-keping, jatuh seperti salju kristal yang terbakar ke jalanan protokol yang sepi. Seluruh kota bergetar, seolah bumi sendiri sedang murka.
Dunia tidak lagi sama. Berita tentang "Malaikat Tanpa Nama" yang membongkar skandal Sangkala menjadi topik nomor satu di seluruh media internasional. Jenderal Arman dinyatakan tewas, sementara Siska tidak ditemukan diduga tubuhnya telah menguap bersama ledakan.
Di sebuah gubuk kayu kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon kelapa di pesisir Jawa Barat, seorang wanita muda terbangun dengan napas memburu. Seluruh tubuhnya dibalut perban. Rasa sakit yang luar biasa menusuk setiap sarafnya, namun ia masih hidup.
Ratna berhasil selamat. Ia meringkuk di dalam tangki pendingin titanium yang terlempar keluar saat ledakan terjadi dan jatuh ke kolam hias raksasa di lantai dasar gedung. Tubuhnya remuk, namun jiwanya yang sekeras baja menolak untuk menyerah.
"Ibu?" suara kecil terdengar dari balik pintu.
Bagas masuk dengan langkah ragu, diikuti oleh Sarah yang berjalan menggunakan tongkat. Wajah Sarah tampak jauh lebih segar; beban rahasia yang ia pikul selama sepuluh tahun akhirnya lepas.
"Kau hidup, anakku," bisik Sarah, air mata mengalir di pipinya yang mulai berkeriput. Ia memeluk Ratna dengan sangat hati-hati. "Kau benar-benar mirip ayahmu... keras kepala dan tidak bisa dibunuh."
Ratna tersenyum lemah. Ia melihat ke arah laut yang tenang melalui jendela. "Semua sudah berakhir, Bu? Sangkala sudah hancur?"
"Sangkala sudah mati," jawab Teguh yang baru saja masuk membawa obat-obatan. "Tapi, Bu... ada sesuatu yang aneh."
Teguh meletakkan sebuah kotak hitam kecil yang ia temukan di depan pintu gubuk pagi itu. Di dalamnya tidak ada bom, hanya sebuah kartu nama perak dengan ukiran seekor burung Phoenix yang sedang membentangkan sayap di atas tumpukan abu.
Di balik kartu itu, tertulis dengan tinta emas yang elegan:
"Sangkala hanyalah pion yang bisa dikorbankan. Selamat atas kemenangan kecilmu, Sang Jenderal. Tapi ingat, Phoenix tidak pernah mati tanpa alasan. Sampai jumpa di pusat labirin."
Ratna mengepalkan tangannya. Aura jenderal yang sangat kuat tiba-tiba memenuhi ruangan kecil itu, membuat Teguh bahkan harus menahan napas. Ratna menyadari bahwa ia baru saja memotong satu kepala ular, hanya untuk menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Hydra yang sesungguhnya.
"Siapkan senjata, Teguh," ujar Ratna, suaranya kini kembali tenang namun penuh ancaman yang mematikan. "Sepertinya masa pensiun kita harus ditunda lagi."