NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Cahaya lampu ruang perawatan yang temaram menyambut kesadaran Ariel yang perlahan kembali.

Rasa pening yang hebat menghujam kepalanya, dan ada sensasi berat yang janggal di wajahnya.

Saat ia mencoba mengerjapkan mata, ia menyadari hanya satu matanya yang bisa berfungsi.

Dunia tampak berbeda, terbatas, dan gelap di sisi kanan.

Perlahan, fokusnya menangkap sosok Mama Wahyuni yang duduk di sisi ranjangnya dengan mata sembab namun memancarkan kelegaan luar biasa.

"Ma..." suara Ariel parau, hampir menyerupai bisikan.

Tangannya meraba wajahnya sendiri, menyentuh tekstur kasar perban yang menutupi matanya yang terluka parah.

Ia teringat hantaman gagang pistol itu, rasa sakit yang meledak, lalu kegelapan.

Namun, rasa sakit fisiknya kalah oleh rasa cemas yang menghujam jantungnya.

"Ma, di mana Relia? Apa dia baik-baik saja? Markus, apa dia menyakitinya?"

Mama Wahyuni segera menggenggam tangan putranya, mencoba menyalurkan ketenangan.

Ia mengangguk dengan senyum yang dipaksakan muncul di tengah tangis harunya.

"Relia aman, Sayang. Dia ada di sampingmu," jawab Mama Wahyuni lembut.

Ariel mencoba menoleh, meski lehernya terasa kaku.

Di ranjang sebelah, ia melihat sosok bidadarinya masih memejamkan mata dengan tenang. Wajah Relia pucat, namun napasnya teratur.

"Dia hanya butuh istirahat, Ariel. Tapi ada sesuatu yang harus kamu tahu," Mama Wahyuni mendekat, membisikkan kata-kata yang membuat jantung Ariel seolah berhenti berdetak sejenak.

"Selamat ya, Nak. Kamu akan menjadi seorang ayah."

Ariel tertegun. Matanya yang satu membelalak tidak percaya.

"Ma? Apa maksud Mama?"

"Relia sedang mengandung. Dokter bilang usianya sudah beberapa minggu," Mama Wahyuni mengusap air matanya.

"Mungkin ini hadiah dari perjalanan kalian ke Bali kemarin. Di tengah badai ini, Tuhan menitipkan malaikat kecil untuk menguatkan kalian."

Ariel terdiam seribu bahasa. Setetes air mata jatuh dari matanya yang sehat, membasahi bantal.

Rasa syukur, haru, dan perih bercampur menjadi satu.

Ia akan menjadi seorang ayah, namun di saat yang sama, ia harus menerima kenyataan bahwa ia mungkin tak akan pernah bisa melihat wajah anaknya nanti dengan kedua matanya secara sempurna.

Ia menoleh lagi ke arah Relia, menatap istrinya dengan penuh cinta yang kian mendalam.

Tangannya terulur lemah ke arah ranjang sebelah, berusaha menggapai jemari Relia.

"Terima kasih, Relia. Terima kasih sudah bertahan," bisik Ariel lirih.

Sentuhan hangat di jemari Relia terasa seperti jangkar yang menariknya kembali dari dasar samudera kegelapan.

Perlahan, kelopak matanya yang terasa berat mulai terbuka.

Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatannya adalah langit-langit putih rumah sakit yang dingin, namun saat ia menoleh ke samping, dunianya seakan runtuh kembali.

Ariel ada di sana, terbaring dengan perban putih yang melingkar tebal, menutupi salah satu matanya yang biasanya menatapnya dengan penuh binar.

"Mas..." suara Relia pecah seketika.

Ingatan tentang dermaga, hantaman keras Markus, dan wajah Ariel yang bersimbah darah berputar seperti film horor di benaknya.

Relia mencoba bangun meski tubuhnya masih sangat lemah.

Ia menatap perban itu dengan tatapan hancur.

"Mas, maafkan aku. Semua ini karena aku," isak Relia, air matanya mengalir deras membasahi bantal.

"Mas, apa bisa diganti mataku saja? Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini. Aku rela jika harus memberikan mataku untukmu, Mas. Tolong, jangan kamu yang menanggung ini..."

Ariel, yang baru saja terbangun, merasakan dadanya sesak mendengar pengorbanan tulus istrinya.

Ia menggunakan tangan yang tidak terinfus untuk menggenggam tangan Relia lebih erat, sementara ia sendiri mulai menangis sesenggukan.

Suara tangis pria itu terdengar sangat memilukan di dalam ruangan yang sunyi.

"Sayang, jangan bicara seperti itu," bisik Ariel di sela isak tangisnya.

Ia berusaha tersenyum meski hanya dengan satu mata yang tersisa.

"Soal mata itu gampang, Relia. Aku seorang dokter, aku tahu ini bukan akhir segalanya. Sekarang, yang paling penting adalah kamu. Kamu harus fokus pada kesehatanmu dan kehamilanmu."

Relia tertegun. Isak tangisnya terhenti sejenak, wajahnya menunjukkan kebingungan yang luar biasa.

"A-aku, hamil?"

Tepat saat itu, Mama Wahyuni yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan mendekat.

Wajahnya penuh haru saat melihat kedua orang yang sangat dicintainya itu sudah saling menguatkan.

Mama Wahyuni segera duduk di tepi ranjang Relia dan menarik menantunya itu ke dalam pelukan yang hangat dan protektif.

"Iya, Sayang. Kamu hamil," bisik Mama Wahyuni sambil mengelus rambut Relia.

"Ada nyawa kecil di perutmu. Dia anak kalian, hadiah dari Tuhan yang bertahan di tengah semua kekacauan ini. Kamu harus kuat demi dia, Relia."

Relia menyentuh perutnya yang masih rata dengan tangan gemetar.

Rasa tak percaya, bahagia, dan takut bercampur menjadi satu.

Di tengah duka atas luka Ariel, ada harapan baru yang berdenyut di dalam dirinya.

Ia menoleh ke arah Ariel, dan pria itu mengangguk lemah dengan tatapan penuh cinta yang tak berkurang sedikit pun meski terhalang perban.

Pintu ruangan terbuka perlahan, menampakkan dua sosok dokter spesialis yang akan menentukan langkah pemulihan bagi pasangan tersebut.

Dokter Sukma, spesialis kandungan yang ramah namun tegas, berjalan menuju ranjang Relia, sementara Dokter Rendy, spesialis mata dengan wajah serius, menghampiri Ariel.

Suasana menjadi hening seketika saat pemeriksaan dimulai.

Dokter Sukma memeriksa grafik janin pada monitor dan menggenggam tangan Relia.

"Relia, dengarkan saya baik-baik. Kondisi janin saat ini stabil, tapi kamu berada dalam fase yang sangat krusial. Mengingat riwayat kehamilan pertamamu yang sempat keguguran, rahimmu jauh lebih sensitif sekarang."

Relia menelan salivanya dengan wajahnya menegang.

"Kamu harus menjaga pikiranmu. Jangan stres. Kami akan memberikan penguat kandungan, tapi obat terbaik adalah ketenangan jiwamu sendiri. Kamu tidak boleh kehilangan malaikat kecil ini lagi, mengerti?" lanjut Dokter Sukma dengan nada memperingatkan.

Relia mengangguk pelan, jemarinya mengusap perutnya dengan protektif.

"Saya akan berusaha, Dokter. Demi anak ini."

Di ranjang sebelah, Dokter Rendy mulai membuka perban Ariel secara perlahan untuk melakukan serangkaian tes cahaya.

Ariel meringis saat cahaya senter mengenai matanya yang terluka.

Setelah beberapa saat, Dokter Rendy menghela napas panjang.

"Ariel, saraf optik di mata kananmu mengalami trauma hebat akibat hantaman benda tumpul. Untuk saat ini, penglihatan di sisi kanan akan sangat terbatas, bahkan gelap," jelas Dokter Rendy.

Ariel hanya terdiam, ia sudah menduga hasil ini sebagai seorang medis.

"Untuk melindungi mata dari iritasi dan membantu proses adaptasi otakmu, kamu harus memakai eye patch atau penutup mata permanen selama masa pemulihan. Mungkin kamu akan terlihat seperti bajak laut untuk sementara waktu," Dokter Rendy mencoba mencairkan suasana dengan sedikit candaan.

Ariel tersenyum tipis, meski getir.

"Bajak laut, ya? Asalkan aku masih bisa melihat wajah istri dan anakku dengan satu mata ini, itu sudah lebih dari cukup, Dok."

Relia menatap suaminya dengan tatapan yang sangat dalam.

Meski Ariel kini harus mengenakan penutup mata, di mata Relia, Ariel tetaplah pahlawan yang paling tampan.

1
Yuningsih Nining
😭😭
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!