NovelToon NovelToon
Pesona Kakak Posesif Season 2

Pesona Kakak Posesif Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Keluarga / Cintamanis
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Dwi Asti A

Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.

Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.

Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.

Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Diundang

Satya dan Rio duduk di dalam mobil di seberang jalan depan rumah Aariz. Rupanya dia mengikuti Hanin diam-diam sampai di rumah itu. Juga mendengar saat perdebatan antara keluarga.

“Sepertinya akan ada masalah besar di rumah itu, meskipun tidak jelas apa yang mereka permasalahkan, tapi perdebatan itu terdengar cukup sengit. Tampaknya di keluarga barunya Hanin juga tidak bahagia,” kata Rio.

“Jangan dulu menyimpulkan seperti itu, ayahnya seorang pengusaha terkenal, dia tidak akan pernah kekurangan. Mana mungkin tidak bahagia.” Tanggapan Satya.

“Kebahagiaan tidak cukup di materi saja, Satya. Kenyamanan hati dan ketenangan juga dibutuhkan. Kita tidak tahu apa masalah keluarga itu. Mungkin keluarga tirinya?”

“Jika tidak bahagia Hani sudah pulang ke rumah. Dia tinggal bersama keluarga barunya selama lima tahun, kalau tidak bahagia tidak mungkin akan bertahan.”

“Aku tidak merasa begitu, Satya.”

“Intinya jangan sok tahu, kita hanya melihat dari luar, kita akan tahu besok. Aku ingin kau tetap mengawasi tempat ini. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan Hanin.”

“Kau masih peduli dengannya, tapi setiap kali berhadapan dengan Hani kau tak pernah mengungkapkannya.”

“Kedua orang tuaku menginginkan bertemu dengannya, jadi jangan sampai lepas lagi. Selain itu aku masih harus menyelidiki siapa pendonor itu yang menolong tanpa pamrih. Di dunia ini sangat mustahil ada sesuatu yang gratis, aku tidak mau ke depannya kebaikannya justru menjadi masalah.”

“Orang baik saja masih kau curigai.”

“Kita pergi sekarang!”

Mobil melesat meninggalkan halaman rumah besar itu menuju apartemen elite di pinggiran sungai Nil.

••

Pagi-pagi sekali Aariz baru selesai mempersiapkan diri. Amaan datang terburu-buru masuk ruangannya.

“Tuan, ada kejadian buruk,” kata Amaan dengan wajah tertunduk.

Aariz masih mengenakan kemejanya, memasang dasinya, baru setelah itu menemui Amaan yang wajahnya terlihat tegang.

“Katakan dengan jelas!” kata Aariz.

“Di bawah ada tiga orang pria, dua pria bertubuh tinggi dan besar seperti algojo, satu pria berpakaian rapi. Mereka mengatakan dikirim dari pegawai Bank.”

“Apa kita punya hutang di Bank?” Aariz langsung paham kedatangan mereka.

“Anda tidak pernah mengatakannya, jadi saya kira tidak mungkin.”

“Lalu kenapa kau takut.”

“Karena saya merasa mungkin ini ada hubungannya dengan Nyonya.”

“Kau mengira dia yang memiliki hutang itu?” Aariz masih dengan sikap santai menanggapi setiap perkataan Amaan, terakhir mengenakan jas hitamnya kemudian berjalan keluar tanpa pemberitahuan. Amaan mengekor di belakangnya.

Tiba di ruang tamu tiga orang pria itu tengah duduk santai di sofa, sikap mereka sama sekali tak menunjukkan rasa sopan santun seakan mereka berada di rumah sendiri.

“Jangan bersikap seakan ini adalah rumah kalian, seorang tamu seharusnya bersikap selayaknya tamu,” kata Aariz pada tiga pria itu.

Tiga pria itu malah tertawa mendengar perkataan Aariz. Pria berkemeja rapi berwarna kuning dan berdasi itu beranjak dan menghampiri Aariz.

“Sopan santun? Untuk apa? Toh sebentar lagi rumah ini pun bukan lagi milik Anda, Tuan Aariz Zayan Malik, jadi untuk apa aku menghormatimu,” kata pria itu dengan begitu percaya diri.

“Apa maksudmu?” tanya Amaan.

Pria itu mengisyaratkan dengan melambaikan tangan pada dua anak buahnya untuk maju. Pria berkepala botak maju dan menyerahkan sebuah map pada bosnya.

“Di sini Anda bisa mengetahui semuanya, bahwa rumah ini dan seluruh isinya bukan lagi milik Anda.” Pria itu menyerahkan map pada Aariz. Aman mengambilnya untuk mengeceknya. Amaan dengan hati cemas menerima dan membacanya dengan teliti.

“Maksudmu ini penyitaan karena aku berhutang di Bank?” tanya Aariz datar.

“Anda memang cerdas Tuan Zayan, jadi aku tidak perlu menjelaskannya panjang lebar.”

“Aku salah satu pemilik saham terbesar Perusahaan Angkasa Grup, tidak pernah memiliki hutang sepeser pun apa lagi pada Bank sampai harus membayarnya dengan menyita rumah ini. Aku rasa kau yang salah rumah, Pak Gamal,” ucap Aariz dengan begitu yakinnya.

“Dari mana Anda tahu namaku?” pertanyaan bodoh pria itu.

“Id. Card di lehermu bagaimana aku tidak melihatnya.”

Pria bernama Gamal tertawa.

Saat itu datang Hanin menghampiri Aariz, pandangan matanya tertuju pada dua pria berwajah sangar yang membuatnya tanda tanya.

“Ada apa ini, Ayah? Mereka siapa?” tanya Hanin.

“Dept Kolektor,” jawab Aariz.

Pria itu sudah ingin menjelaskan dirinya, tapi Aariz keburu menjawabnya.

“Penagih hutang,” jelas Aariz melihat reaksi Hanin yang tidak mengerti, tepatnya mungkin tidak percaya ayahnya memiliki hutang.

“Ayah punya hutang, itu mana mungkin.”

Aariz tersenyum, lalu kembali beralih pada pria itu.

“Lihatlah putriku saja tidak percaya ayahnya punya hutang, jadi bagaimana ceritanya ada penyitaan rumah seperti ini?”

Saat itu Amaan menghampirinya dan menjelaskan isi berkas-berkas di map tersebut.

“Di sini benar ada hutang sebesar lima ratus juta, Tuan, meskipun ini adalah hutang Nyonya Sabrina, tapi di sini Anda adalah suaminya yang ikut bertanggung jawab, jadi ...”

“Cukup! Aku paham maksudnya.” Aariz memegangi dadanya yang terasa sesak, tapi dia berusaha kuat menahannya.

Amaan dan Hanin cemas dengan keadaan Aariz.

“Ayah sebaiknya istirahat saja, masalah ini biar Amaan yang menyelesaikan,” ujar Hanin.

“Tidak bisa, Hani, ini urusan ayah. Amaan cepat panggil nyonya kemari!”

“Aku sudah di sini Aariz.”

Belum sempat Amaan beranjak, Sabrina sudah muncul di tangga diikuti Luna. Dia terlihat santai seakan tidak terjadi apa-apa, padahal semua masalah yang muncul hari itu adalah ulahnya.

“Ada apa kau mencariku, suamiku?” pertanyaan Sabrina dengan sikap manja. Aariz membalasnya dengan tatapan tajam dan amarah. Hanin mengingatkan ayahnya untuk tetap bersikap tenang dan mengingatkan kondisinya yang tidak boleh tegang apa lagi stres.

“Penjelasan,” kata Aariz. “Jelaskan bagaimana ada semua ini!”

“Bukankah sudah jelas, di situ ada semua penjelasannya.”

“Jelaskan untuk apa hutang 1 miliar itu, dan bagaimana kau begitu bodoh dengan menggunakan rumah ini sebagian jaminan, padahal aku tak pernah kurang memberikan kebutuhanmu selama ini.”

“Itu menurutmu, Aariz. Aku ini wanita banyak kebutuhan, dan ternyata tak sadar sampai hutangku menumpuk sebanyak itu, dan ternyata aku tak bisa melunasinya.” Dengan entengnya Sabrina menjelaskan.

“Ini urusanmu sendiri, jangan bawa-bawa rumah ini karena rumah ini akan aku wariskan pada Hani putri kandungku.”

“Aku ini istrimu, dan selagi tak ada perceraian kita masih suami istri, dan hutang ini kau juga harus bertanggungjawab.”

“Kalau begitu mulai hari juga aku ceraikan kamu, Sabrina!”

Tiba-tiba terdengar petir di pagi itu seakan menyambut ucapan Aariz saat menceraikan Sabrina. Wanita itu langsung naik darah tidak terima di ceraikan di depan banyak orang.

“Kau memang keterlaluan, Aariz!”

“Kau yang sudah keterlaluan, setelah berselingkuh di rumahku, kau pun membuat rumah ini disita. Mulai saat ini kita tidak ada hubungan lagi!” balas Aariz.

“Kau kira aku takut? Bercerai dengan pria berpenyakitan sepertimu dan sebentar lagi tidak berdaya, tidak bisa lagi bekerja, aku merasa beruntung. Kau kira aku mau tetap menjadi istrimu dan mengurusmu, aku ini masih muda, Aariz, masih ingin bersenang-senang dan hidup bahagia dengan pria yang aku inginkan.”

Plak!!

Satu tamparan mendarat di wajah Sabrina meninggalkan warna merah di sana. Bukan tamparan itu yang mengejutkan semua orang, tapi dari mana tamparan itu berasal yang membuat semua orang tercengang.

“Itu untuk pengkhianatanmu pada ayahku dengan berselingkuh, setelah menipu ayahku bertahun-tahun kau juga sudah melukai hatinya dengan ucapanmu yang tidak berperasaan. Kau dan putrimu sudah tinggal enak selama ini, tapi ini balasan kalian pada ayahku!” teriak Hanin dalam amarah dan tangisnya.

“Anak durhaka, beraninya kau memukulku ha!” Sabrina sudah hampir melayangkan tangannya, tapi sebuah tangan menahannya dan menghempasnya keras.

1
Muhammad Raihan
Sudah sampai seperti itu masih saja tidak mau ngaku suka, Satya breng*** juga
Muhammad Raihan
Semangat Kakak 👍🏻
D Asti
Selamat datang di novel ke dua aku, ayo kakak pembaca yang terkasih beri author dukungannya dengan like, komentar, saran dan ulasannya ya, terima kasih😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!