Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sebelas
Pagi ini di rumah Arka, suasana terasa sangat berbeda. Tak seperti biasanya. Bukan karena cuaca, bukan juga karena cahaya matahari yang menembus jendela-jendela besar ruang makan. Ada sesuatu yang lebih halus, lebih sulit dijelaskan, tapi terasa jelas oleh setiap orang yang bekerja di rumah itu.
Bi Marni adalah orang pertama yang menyadari perbedaan itu. Perempuan paruh baya itu sedang mengatur hidangan sarapan di meja panjang ketika langkah kaki Arka terdengar dari arah tangga. Seperti biasa, Bi Marni refleks menegakkan punggungnya. Selama bertahun-tahun bekerja di rumah ini, ia hafal betul kebiasaan tuannya, datang, duduk, makan dalam diam, lalu pergi ke ruang kerja tanpa banyak kata.
Namun pagi itu, Arka berhenti sejenak. “Pagi, Bi,” ucap Arka. Bi Marni jadi terkejut dan heran. Tak biasanya pria itu menyapa.
Satu kalimat sederhana. Bi Marni nyaris menjatuhkan piring di tangannya.
“E—eh?” Bi Marni menoleh cepat, memastikan telinganya tidak salah dengar. “Pagi, Tuan,” jawabnya tergagap.
Arka mengangguk singkat. Tapi yang membuat Bi Marni terdiam bukan hanya anggukan itu. Bibir Arka sedikit terangkat. Bukan senyum lebar, bukan juga ekspresi ramah yang dibuat-buat. Hanya lengkungan kecil yang nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk membuat dunia Bi Marni terasa terbalik.
"Astaga … ini mata saya yang salah, apa memang Tuan Arka lagi sakit?" tanya Bi Marni dalam hati.
Belum sempat Bi Marni mencerna keanehan itu, Revan muncul berlari kecil dari arah koridor, rambutnya masih sedikit berantakan, wajahnya cerah.
“Om ...!” serunya.
Biasanya Arka hanya mengangguk atau menjawab singkat. Tapi pagi itu, Arka berlutut sedikit, menyesuaikan tinggi badannya dengan Revan.
“Sudah cuci tangan?” tanya Arka.
Revan mengangguk semangat. “Sudah! Mbak Alana yang suruh.”
“Bagus,” jawab Arka. “Sarapan dulu. Hari ini kamu mau makan apa?”
Revan berpikir sejenak, lalu menunjuk ke arah meja. “Telur! Sama roti!”
Arka tersenyum. Kali ini lebih jelas. Bi Marni benar-benar membeku di tempat.
"Apa ini benar-benar Tuan Arka?" tanya Bi Marni lagi pada dirinya sendiri.
Alana datang beberapa detik kemudian. Ia mengenakan pakaian sederhana, rambutnya diikat rapi ke belakang. Begitu melihat Arka dan Revan sudah duduk bersama, Alana sedikit terkejut.
“Selamat pagi, Tuan,” sapanya sopan.
“Pagi,” jawab Arka singkat.
Nada suaranya tetap tenang, tapi tidak lagi sedingin es. Tidak ada jarak kaku seperti biasanya. Alana menangkap perubahan itu, meski ia tak berani menunjukkannya di wajah.
Mereka sarapan bersama. Dan itu terasa aneh. Arka benar-benar berbicara.
“Revan, jangan mainkan sendoknya.”
“Pelan-pelan minumnya.”
“Kalau sudah selesai, bilang.”
Kalimat-kalimat kecil, sederhana, tapi bagi Alana dan jelas bagi para pekerja rumah, itu seperti sesuatu yang mustahil terjadi. Bi Marni beberapa kali mencuri pandang, matanya membulat, lalu menggeleng kecil sambil tersenyum sendiri.
"Anak ini … benar-benar membawa perubahan," gumam Bi Marni lagi dalam hatinya.
Setelah sarapan selesai, Arka berdiri. “Aku ke ruang kerja,” ucapnya. Lalu ia menoleh ke Alana. “Revan jangan keluar pagar.”
“Iya, Tuan,” jawab Alana cepat.
Arka mengangguk, lalu pergi. Begitu langkah Arka menghilang, Bi Marni mendekat ke Alana, suaranya diturunkan.
“Non Alana,” bisiknya, “Tuan itu kenapa, ya?”
Alana terkekeh kecil, gugup. “Saya juga tidak tahu, Bi.”
“Tapi … beliau kelihatan beda,” lanjut Bi Marni sambil mengipasi dirinya dengan celemek. “Sudah lama sekali Bi Marni tidak lihat beliau senyum begitu.”
Alana hanya tersenyum kecil. Ada rasa hangat di dadanya, tapi juga kegelisahan yang samar.
"Perubahan seperti ini … biasanya tidak bertahan lama, bukan?" tanya Alana dalam hatinya.
Taman belakang rumah Arka luas dan terawat. Rumputnya hijau rapi, beberapa ayunan kecil berdiri di bawah pohon besar, dan ada jalur batu yang mengelilingi kolam ikan.
Revan berlari-lari kecil, tertawa riang. “Mbak! Lihat aku!” serunya sambil memanjat ayunan.
“Hati-hati,” jawab Alana sambil mendekat. “Pegang yang kuat.”
Revan tertawa, mengayun kakinya tinggi-tinggi. “Aku mau terbang!”
Alana ikut tertawa. Pemandangan ini terasa damai. Dia duduk di bangku taman, mengawasi Revan dengan senyum lembut. Angin pagi menyentuh wajahnya, membawa aroma tanah basah dan bunga. Untuk sesaat, dia lupa pada hutang, lupa pada masa lalu, lupa pada rasa takut yang selalu mengintainya. Sampai .…
Alana melihat sosok itu. Di luar pagar rumah, di seberang jalan yang agak tertutup pepohonan, seorang pria tua berdiri. Posturnya sedikit membungkuk, rambutnya sebagian memutih, mengenakan kemeja lengan panjang dan topi sederhana.
Pria itu menoleh ke arah taman. Jantung Alana terasa berhenti berdetak.
"Pak … Handoko!" ucap Alana dalam hatinya.
Napasnya tercekat. Tangannya refleks mencengkeram sandaran bangku. "Tidak mungkin."
Pak Handoko seharusnya tinggal jauh. Pria yang dulu diperkenalkan orang tuanya sebagai calon suami. Pria yang usianya lebih dari dua kali usianya. Pria yang tatapannya selalu membuat Alana ingin lari.
Kenangan itu datang menghantam tanpa ampun.
Suara ibunya. “Kamu harus nurut, Lana.”
“Ayahmu sudah setuju.”
“Ini demi masa depan kamu.”
Alana berdiri mendadak.
“Mbak?” Revan menghentikan ayunannya. “Kenapa?”
Alana tidak menjawab. Matanya kembali ke arah pagar. Pria itu masih di sana. Menatap lagi. Seolah memastikan.
Tubuh Alana gemetar. Kepalanya berdenyut. Ia tidak tahu apakah pria itu benar-benar Pak Handoko, atau hanya seseorang yang kebetulan mirip. Tapi nalurinya menjerit keras. Pertanda bahaya.
“Revan,” panggil Alana, berusaha terdengar tenang meski suaranya bergetar. “Masuk, yuk.”
“Loh, kenapa? Aku belum capek, Mbak,” protes Revan.
“Ada … ada semut banyak,” jawab Alana asal, sambil meraih tangan kecil itu. “Nanti digigit.”
Revan meringis. “Ih, semut.”
Alana menariknya pelan tapi tegas. Ia tidak berani menoleh lagi ke arah pagar. Setiap langkah terasa berat, seolah ada mata yang terus mengikuti.
Begitu mereka masuk ke dalam rumah, Alana menutup pintu kaca taman dan menguncinya. Barulah ia menarik napas panjang.
Revan menatapnya bingung. “Mbak, kamu kenapa?”
Alana berlutut di depan Revan, memegang kedua pundaknya. Ia memaksakan senyum.
“Tidak apa-apa,” ujarnya pelan. “Kita main di dalam saja, ya.”
Revan mengangguk, meski jelas masih bingung. Alana bangkit, lalu melirik ke arah ruang kerja Arka di lantai atas.
Haruskah ia bilang? Atau … mungkin itu hanya perasaannya saja? Alana mengepalkan tangan.
Kalau itu benar Pak Handoko. Berarti masa lalunya benar-benar sudah menemukan jalan kembali padanya.
Dan entah kenapa, kali ini dia takut bukan hanya untuk dirinya sendiri. Dia takut Arka ikut terseret. Gadis itu takut perlindungan yang baru saja ia rasakan akan segera runtuh.
Di luar, entah nyata atau hanya bayangan, sosok pria tua itu perlahan melangkah pergi.
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭