Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Supervisor terkejut mendengar yang dikatakan Athalia. Suatu prinsip yang baik sebagai karyawan dan juga menunjukan karakternya yang teguh dan patuh.
"Ya, sudah. Kembali kerja." Supervisor tidak bisa memarahi Athalia, karena yang dilakukan tidak menyalahi aturan. Supervisor yakin, bukan Athalia tidak sopan, tapi dia telah menyinggung ego staff perusahaan.
"Terima kasih, Pak." Athalia kembali ke resepsionis dengan hati gundah dan tidak bersemangat.
"Dimarahi?" Tanya Alea yang melihat wajah Athalia tidak happy.
"Tidak. Hanya agak bingung, sepertinya orang tadi melapor yang tidak sebenarnya....." Athalia tidak meneruskan yang dia rasakan. Dia menyimpan sendiri, agar tidak merusak suasana hati mereka.
"Aku sudah bilang, sabar. Nanti juga lewat." Alea coba menghibur dan menyenggol bahu Athalia.
"Iya. Ini lagi nabung sabar, supaya ada yang subur di sini." Athalia menyentuh dadanya sebagai isyarat, dia sungguh-sungguh sedang berusaha sabar.
"Good." Alea memberikan jempol.
"Lihat itu yang sedang menunggu untuk lihat senyummu." Alea berbisik, karena melihat seorang karyawan pria sedang berdiri di lobby dan melihat ke arah mereka.
"Jangan ge'er, Lea. Dia lagi tunggu tamu." Athalia menggerakan tangan, agar tidak memperhatikan pria yang sering ada di lobby dan melihat ke arah mereka.
"Iya, sih. Tapi karna sering lihat dia, berada di lobby di waktu-waktu seperti ini, jadi curiga. Dia ada hati padamu." Ucap Alea.
"Kenapa berpikir padaku? Emang senyummu tidak menggodanya? Tapi karyawan yang begitu, pertanda buruk bagi perusahaan dan juga sebagai calon pasangan."
"Sampe segitunya? Kenapa?" Alea bertanya serius, walau hatinya tersenyum melihat mimik wajah Athalia.
"Dia bukan kerja, tapi lebih banyak bolak-balik ke lobby untuk tebar pesona. Bisa kacau hidup kita." Ucap Athalia sambil mencolek Alea untuk tidak memperhatikan.
"Itu bagian dari bekerja, mencari pasangan mendayung biduk."
"Bagaimana mau dayung, kalau biduknya belum ada?"
"Siapa yang bilang belum ada? Lihat ponselnya, keluaran terbaru apple digigit."
"Nah, itu. Dia sedang tebar pesona, atau pamer?"
"Tidak dua-duanya. Dia sedang buang umpan."
"Syukur kita berdua bukan ikan." Ucapan Athalia membuat mereka senyum tertahan.
"Lupakan dia. Nanti siang mau makan di mana?"
"Sorry, Lea. Aku bawa makan." Bisik Athalia, karena dia harus berhemat.
"Ok. Kalau begitu, nanti aku keluar makan dengan pria itu."
"Ternyata dia pacarmu?"
"Hehehe... Tidak, becanda aja. Pria malas bukan tipeku." Ucapan Alea disambut oleh tos'an Athalia, setuju.
"Kalau begitu, aku ijin ke toilet sebentar, ya."
"Iya, pergi saja. Supaya pria itu bisa bekerja." Alea menggerakan tangan, agar Athalia cepat pergi.
Athalia mengangguk lalu mengambil tissu. Kemudian dia berjalan cepat ke toilet sambil memikirkan pekerjaannya yang tidak mulus.
Sejenak di depan Alea dia tidak mau menunjukan rasa was-was dengan bercanda. Tapi sebenarnya sedang sedih, karena terlanjur suka dan sudah menceritakan kepada Ibunya bahwa sudah bekerja di perusahaan besar.
Setelah berada di toilet, dia hanya duduk untuk menenangkan hati sambil ingat Ibunya di kampung. Hatinya makin sedih, ingat kakaknya yang sudah menikah, tapi harus tinggal di rumah mereka yang sederhana.
~••~
Athalia lahir dan tumbuh besar di Salatiga, Jawa Tengah. Setelah Ayahnya meninggal, dia hidup dengan kakak perempuan dan Ibunya. Walau sudah selesai kuliah, dia sulit mendapatkan pekerjaan yang baik dan sesuai dengan pendidikannya.
Sehingga untuk mengisi waktu, dia bantu menjual kue jajanan pasar buatan Ibunya untuk menambah uang pensiun Ayahnya yang PNS.
Sambil membantu Ibunya, dia mengirim lamaran ke berbagai perusahaan di luar Salatiga. Karena niat hatinya mau merantau. Berbeda dengan kakaknya lebih memilih bekerja di pabrik tekstil yang ada di Salatiga.
Ketika dia menceritakan bahwa ingin merantau ke Jakarta, Ibunya menatap dia lama dan diam.
"Mengapa tidak minta kakakmu cari kerja di salah satu pabrik yang ada di sini saja, Nak?" Ibunya bertanya tanpa bisa menyembunyikan rasa cemas dan tidak rela.
"Tidak, Bu. Teman-teman kakak melihatku seperti ikan yang sudah dipanggang." Ucap Athalia sambil tersenyum, agar Ibunya bisa tenang.
"Tapi kalau di Jakarta, kau lebih jauh dari kami. Biar kita hidup sederhana di sini, asal bisa kumpul." Ibunya berusaha memberi pengertian.
Ibunya tidak mau Athalia jauh darinya. Karena putri bungsunya sangat berbeda dari kakaknya. Selain kulitnya bersih mulus, bentuk tubuhnya bagus dan cantik, juga memiliki pribadi yang hangat.
Sehingga sejak masih kuliah, beberapa staff di pabrik tekstil menyatakan niat mau melamar dia sebagai istri. Tapi Thalia menolak, karena ingin menyelesaikan kuliah dan wisuda sarjana.
"Talia mau coba suasana yang berbeda, Bu. Siapa tahu bisa dapat kerja yang baik dan bisa merubah kehidupan kita." Athalia teguh
"Apa Ibu kuat menahanmu?" Mata Ibunya berkaca-kaca.
"Jangan begitu, Bu. Seakan Talia mau ke mana saja." Athalia mengelus bahu Ibunya.
"Oh iya, Bu. Apa Talia bisa tinggal dengan saudara Ibu di Jakarta?" Athalia menunjukan tekadnya.
"Baiklah, kalau itu maumu. Nanti Ibu tanya Bu'demu." Ibunya tidak bisa cegah.
Setelah mendapat persetujuan Bu'denya, Athalia tiba di Jakarta. Hal pertama yang dilakukan adalah mengirim lamaran ke berbagai perusahaan.
Perusahaan pertama yang merespon lamarannya adalah PT Kendrick yang bergerak di bisnis property. Setelah diterima, dia sangat bersyukur dan berusaha bekerja dengan baik.
Dia ingin menyelesaikan masa training dengan baik. Agar bisa dapat surat pengalaman kerja yang baik sebagai referensi, kalau mau kerja di tempat lain.
~••~
Setelah merasa lebih tenang, Athalia keluar dari toilet dan berjalan cepat ke resepsionis. "Sorry Lea, tadi aku lupa pintu keluar." Athalia merasa tidak enak, karena melihat ada banyak tamu yang berdiri di depan Alea.
"Aku kira, kau sedang mengukur kadar wangi toilet." Ucap Alea sambil mempersilahkan sebagian tamu ke depan Athalia.
Setelah sepi, Alea mencolek Athalia. "Talia, tadi aku mau bilang, tapi lupa. Kenapa tamu hari ini banyak maunya, ya."
"Oh, ada apa? Ada masalah lagi?" Athalia terkejut.
"Ibu pejabat mau pulang, tapi ingin bertemu denganmu. Tapi aku bilang lagi kunjungi toilet. Eh, aku yang dipelototin."
"Ada apa, ya. Sepertinya marah banget sama aku." Athalia jadi heran.
"Entah. Semoga suaminya tidak mempersulit kita." Ucap Alea serius.
"Biarkan saja Talia. Aku tinggal, ya. Kalau sudah lapar dan aku belum kembali, minta tolong security jaga saja." Ucap Alea.
"Iya, makasih. Selamat maksi." Ucap Athalia sambil melambai.
"Eh, kenapa pria itu sudah berdiri di lobby lagi? Jangan lihat ke arahnya. Lirik saja." Alea yang tidak sengaja melihat pria yang keluar dari lift dan melihat ke arah resepsionis.
"Kalau dia menyapamu, traktir ya?" Ucap Alea sambil tersenyum.
Athalia langsung berjongkok. "Mengapa dia mau menyapaku? Sana pergi makan. Aku mau makan juga."
"Berdiri. Dia sudah ke sini." Alea menggerakan tangan.
Ethan yang sudah berada di lobby, terkejut melihat ada karyawan pria berdiri diam sambil menatap Athalia tanpa berkedip.
...~•••~...
...~•○♡○•~...