Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35:PEREMPUAN YANG TIDAK LAGI MEMOHON
Tamparan pertama bukan datang dari tangan siapa pun, melainkan dari keheningan.
Rangga berdiri membeku di tengah ruang penthouse itu, napasnya berat dan tidak beraturan, seolah udara Jakarta yang biasanya menyesakkan kini benar-benar menolak masuk ke paru-parunya. Matanya menatap Livia, tapi tidak sepenuhnya melihatnya. Yang ia lihat adalah rangkaian gambar yang saling tumpang tindih—bekas merah di lehernya, tangan Mateo di pinggangnya, gelas anggur di meja, dan suara ibunya yang tadi siang masih bergema di kepalanya, memerintah, bukan meminta.
Livia.
Perempuan yang semalam memeluknya di bawah hujan, menangis tanpa suara di dada Rangga, mengatakan ia lelah dijadikan komoditas oleh semua orang. Perempuan yang pagi tadi masih berdiri di hadapannya dengan rambut basah, kaus tipis, dan mata yang menyimpan harapan paling berbahaya di dunia: percaya.
Sekarang berdiri di ruangan pria lain.
“Jawab aku, Liv,” suara Rangga parau, lebih terdengar seperti permohonan daripada tuntutan. Tangannya masih mencengkeram bahu Livia, tapi kekuatannya memudar. “Kalau aku pergi sekarang… kamu ikut siapa?”
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti hukuman mati.
Livia menelan ludah. Untuk sesaat, ia benar-benar ingin menjawab jujur. Ingin berteriak bahwa semua ini salah. Bahwa Mateo berbohong. Bahwa ia datang untuk bukti, bukan pelarian. Bahwa Rangga—meski cacat oleh ibunya, oleh bisnis, oleh ambisi—masih lelaki yang ia pilih semalam.
Namun sebelum satu kata pun keluar, Mateo bergerak.
Ia berdiri dari sofa dengan santai, seolah adegan barusan hanyalah intermezzo kecil yang ia izinkan terjadi. Dengan satu tangan, ia merapikan kerah bajunya yang kusut akibat pukulan Rangga, lalu dengan tangan lain, ia meraih tablet di meja dan menyalakannya.
“Lucu ya,” kata Mateo ringan, nyaris bersahabat. “Kalian berdua selalu mengira ini soal cinta.”
Ia memutar layar tablet ke arah Rangga.
Di layar itu: rekaman suara. Suara yang sangat dikenali Rangga. Suara ibunya.
—‘Pastikan Livia tetap di bawah kontrol. Kalau perlu, gunakan pertunangan itu sebagai jaminan ke sponsor. Atlet perempuan cepat rusak kalau dibiarkan berpikir bebas.’
Dunia Rangga runtuh tanpa suara.
Tangannya terlepas dari bahu Livia. Ia mundur satu langkah, lalu dua. Wajahnya memucat, bukan karena cemburu, tapi karena pengkhianatan yang jauh lebih tua dan lebih kejam.
Mateo melanjutkan, menusuk tanpa ampun. “Kamu tahu kenapa aku simpan ini, Rangga? Bukan buat menghancurkanmu. Tapi buat membuktikan satu hal.” Ia menoleh ke Livia, tatapannya lembut palsu. “Kamu tidak pernah akan benar-benar memilih, selama kamu dikelilingi oleh orang-orang yang memilihkan segalanya untukmu.”
Livia gemetar.
Bukan karena takut pada Mateo. Tapi karena ia sadar—ia terlambat.
Terlambat menyadari bahwa datang ke sini sendirian adalah kesalahan. Terlambat menyadari bahwa kebenaran tidak selalu membebaskan; kadang ia hanya mengganti satu penjara dengan penjara lain yang lebih wangi.
“Cukup,” kata Livia akhirnya. Suaranya tidak keras, tapi memotong udara dengan tajam.
Mateo menoleh, alisnya terangkat sedikit. “Apa?”
“Aku bilang cukup.” Livia melangkah maju, kali ini menjauh dari Mateo, berdiri di tengah ruangan, tepat di antara dua pria yang sama-sama merasa berhak atas dirinya. “Kalian berdua bicara seolah aku barang bukti di meja sidang.”
Rangga mengangkat wajahnya. Matanya merah, tapi kosong. “Liv… aku—”
“Tidak,” potong Livia. “Sekarang giliranku bicara.”
Ia menarik napas dalam-dalam. Dadanya naik turun, tapi suaranya stabil.
“Aku tidak ikut siapa pun malam ini,” katanya pelan namun tegas. “Aku tidak kembali ke apartemenmu, Rangga. Dan aku juga tidak tinggal di sini, Mateo.”
Mateo tertawa kecil. “Kamu emosional. Wajar. Tapi kamu tidak aman di luar sana.”
Livia menoleh tajam. “Itu ancaman?”
“Itu fakta,” balas Mateo tanpa ragu. “Keluarga Adiwinata tidak suka kehilangan kendali.”
“Dan kamu suka memilikinya,” sahut Livia dingin.
Untuk pertama kalinya, senyum Mateo retak.
Rangga menatap Livia dengan sesuatu yang lebih berbahaya dari amarah—takut. Takut kehilangan bukan hanya perempuan yang ia cintai, tapi juga satu-satunya hal yang membuatnya merasa masih manusia di tengah mesin bernama keluarga.
“Aku bisa jelaskan semua soal Ibu,” kata Rangga cepat. “Aku tidak tahu soal rekaman itu. Aku—”
“Aku tahu,” jawab Livia lembut, dan itu justru lebih menyakitkan. “Aku tahu kamu tidak tahu. Itu yang membuatnya lebih parah.”
Ia berjalan menuju meja, mengambil tablet dari tangan Mateo tanpa meminta izin. Jemarinya bergerak cepat, mematikan layar.
“Aku tidak butuh bukti lagi,” katanya. “Aku sudah hidup cukup lama di antara kebohongan untuk mengenalinya tanpa rekaman.”
Livia meraih tasnya.
“Satu hal terakhir,” ucapnya sambil menoleh ke arah Mateo. “Kalau kamu benar-benar ingin membebaskanku, kamu tidak akan memelukku untuk menahan, atau berbohong untuk memisahkan.”
Mateo membuka mulutnya, tapi tidak ada kata yang keluar.
Livia lalu menatap Rangga.
Tatapan itu panjang. Berat. Penuh kata-kata yang tidak terucap.
“Aku tidak pergi karena pria lain,” katanya pelan. “Aku pergi karena aku lelah memohon untuk dipilih.”
Rangga ingin bergerak. Ingin menahan. Ingin berteriak. Tapi kakinya terasa tertanam di lantai marmer itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu langkah apa yang benar.
Pintu penthouse tertutup dengan bunyi klik yang halus.
Dan di situlah, di ruangan sunyi yang tersisa, dua pria itu berdiri—satu dengan bukti, satu dengan penyesalan—dan sama-sama kehilangan.
Malam Jakarta menyambut Livia dengan hujan tipis.
Ia berjalan tanpa tujuan beberapa menit, membiarkan dingin menembus jaket tipisnya, membiarkan air hujan mencampur air mata yang akhirnya jatuh juga. Bukan tangisan histeris. Tapi isak tertahan seorang perempuan yang baru saja mencabut dirinya dari dua lengan yang sama-sama mencekik.
Ponselnya bergetar.
Nama Rangga menyala di layar.
Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Livia mematikan ponselnya.
Ia membuka aplikasi lain, nomor yang sudah lama tidak ia hubungi.
Maya Prasetyo — Investigative Journalist
Maya, ini Livia Liang. Kamu pernah bilang kalau aku butuh bicara, pintumu terbuka. Aku punya cerita. Dan kali ini, aku siap tidak dilindungi.
Pesan terkirim.
Livia menengadah ke langit Jakarta yang kelabu.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tidak ada jadwal latihan. Tidak ada arahan keluarga. Tidak ada pria yang berdiri di depannya, mengatakan apa yang harus ia lakukan.
***
Hujan belum reda ketika sebuah mobil hitam berhenti pelan di tepi jalan. Lampunya menyapu tubuh Livia yang berdiri sendirian di bawah kanopi halte kosong. Pintu belakang terbuka.
“Masuk,” kata seorang perempuan dari dalam mobil.
Livia menoleh. Maya Prasetyo.
Jurnalis itu tidak tersenyum. Tidak juga terlihat terkejut melihat wajah Livia yang pucat dan mata yang sembab. Ia hanya bergeser sedikit, memberi ruang.
“Kalau kamu berubah pikiran, aku bisa antar kamu ke mana saja,” ujar Maya datar. “Tapi begitu kamu cerita, tidak ada jalan pulang ke hidup lama.”
Livia menatap jalanan basah di luar. Bayangan gedung-gedung tinggi memantul di aspal, terdistorsi, seperti hidupnya sendiri.
“Aku sudah tidak punya hidup lama,” jawab Livia pelan.
Ia masuk ke mobil.
Pintu tertutup. Mesin bergerak.
Beberapa menit berlalu dalam diam, hanya suara hujan dan wiper yang bekerja ritmis.
“Apa yang mereka lakukan padamu?” tanya Maya akhirnya, matanya tetap lurus ke depan.
Livia menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, ia tidak menyaring jawabannya agar terdengar kuat atau pantas.
“Mereka tidak memukulku,” katanya. “Mereka hanya memutuskan siapa aku, lalu menyebutnya perlindungan.”
Maya meliriknya sekilas. “Dan sekarang?”
“Sekarang aku ingin merebut kembali tubuh, nama, dan prestasiku. Walaupun itu berarti aku harus menghancurkan beberapa orang yang pernah aku cintai.”
Mobil berhenti di lampu merah. Maya mematikan mesin.
“Kalau begitu,” katanya pelan, menatap Livia dengan tatapan tajam seorang pemburu kebenaran, “kita tidak sedang menulis klarifikasi. Kita sedang menulis perang.”
Livia mengangguk.
Ponselnya kembali bergetar di dalam tas. Kali ini ia tidak melihat nama di layar. Ia sudah tahu.