NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Gerobak Soto

Cinta Di Balik Gerobak Soto

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Berondong
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
​Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Pagi masih buta, embun pun masih menetes di dedaunan, namun Luna dan Pratama sudah siap dengan semangat baru.

Luna tampak sangat cantik dan bersahaja mengenakan seragam guru TK-nya yang berwarna batik hijau muda, senada dengan hijab yang ia kenakan.

"Sudah siap untuk jualan pagi ini, Dik?" tanya Pratama sambil merapikan letak panci besar di atas gerobaknya.

Luna menganggukkan kepalanya dengan mantap.

"Sudah, Mas. Ayo, kita buat semua orang ketagihan sama soto kita."

Sebelum melangkah keluar pagar, mereka berdua berhenti sejenak.

Pratama menggenggam tangan Luna, lalu mereka menundukkan kepala, memanjatkan doa yang tulus agar usaha hari ini diberi kelancaran dan keberkahan.

Setelah itu, dimulailah perjalanan mereka menuju jalan raya.

Pratama mendorong gerobak sotonya dengan perlahan, sementara Luna berjalan di sampingnya, ikut memegang tiang gerobak seolah ingin berbagi beban berat dengan suaminya. Namun, baru saja sampai di pertigaan gang, suara tawa yang sangat menjengkelkan memecah kesunyian pagi.

Pak Wandi sudah berdiri di sana dengan sarung yang dikalungkan di leher, tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan di depannya.

"Hahaha! Lihat ini! Guru TK cantik-cantik kok mau-maunya dorong gerobak butut!" sindir Pak Wandi dengan nada menghina.

Ia melangkah mendekat, matanya menatap Luna dengan penuh provokasi.

"Ceraikan saja dia, Luna. Kamu itu cantik, kamu pantas dengan lelaki yang lebih kaya, bukan pria yang dari dulu sudah ditakdirkan miskin seperti Pratama ini!"

Tangan Pratama mencengkeram pegangan gerobak hingga buku-buku jarinya memutih.

Hinaan "ditakdirkan miskin" benar-benar menusuk ulu hatinya.

Tapi Luna tidak tinggal diam. Ia melepaskan pegangannya dari gerobak, lalu berdiri tegak di depan Pak Wandi dengan tatapan yang sangat dingin.

Tatapan seorang CEO yang sedang menghadapi saingan bisnis yang tidak ada harganya.

"Pak Wandi, harta itu bisa dicari, tapi kehormatan dan kerja keras itu harga mati," ucap Luna dengan suara lantang.

"Mas Pratama mungkin sedang berjuang dari bawah, tapi dia jauh lebih terhormat daripada orang yang kerjanya hanya duduk dan menghina nasib orang lain."

Kemudian Luna kembali memegang gerobak suaminya.

"Ayo Mas, jangan berhenti hanya karena suara gonggongan. Kita tunjukkan kalau 'nasib' itu kita yang buat, bukan orang seperti dia."

Pratama mendongak, menatap istrinya dengan penuh kekaguman.

Semangatnya kembali membara. Mereka meninggalkan Pak Wandi yang melongo karena serangannya sama sekali tidak mempan.

Pratama menghentikan langkahnya dengan mendadak.

Jantungnya berdegup kencang saat melihat tiga orang pria berbadan tegap dan berpakaian rapi sudah berdiri menunggu tepat di titik biasa ia mangkal.

Dalam pikirannya, ia sudah membayangkan hal terburuk: Satpol PP atau penertiban liar.

"Ada apa ya, Pak? Saya.mau berjualan di sini seperti biasa," ucap Pratama dengan suara yang sedikit bergetar, sambil berusaha melindungi gerobaknya.

Salah satu pria yang tampak paling berwibawa melangkah maju.

Dia adalah Agung, salah satu manajer kepercayaan Luna yang kini sedang menyamar menjadi pemilik lahan di kawasan tersebut.

"Maaf, Pak. Mulai hari ini, area ini sudah tidak bisa digunakan untuk berjualan. Jalan ini sudah sah akan saya jadikan area parkir pribadi," ucap Agung dengan wajah datar namun tegas.

Wajah Pratama seketika pucat pasi. "Tapi Pak, ini satu-satunya tempat saya mencari nafkah. Kalau di sini dilarang, saya harus ke mana?"

Agung berdehem, lalu melirik sedikit ke arah Luna yang berdiri di belakang Pratama dengan wajah pura-pura prihatin.

"Begini saja, Pak. Saya kebetulan punya ruko kosong yang baru saja selesai dibangun tepat di depan Rumah Sakit Husada. Bapak pakai saja ruko itu untuk berjualan."

Pratama terbelalak, namun ia segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Aduh, maaf sekali Pak. Saya tidak punya uang untuk sewa ruko. Apalagi di depan rumah sakit besar begitu, pasti mahal sekali."

Agung tersenyum tipis, menjalankan skenario yang sudah disusun matang oleh Arini.

"Siapa yang bilang soal sewa? Ruko itu saya berikan kepada Anda secara gratis. Anggap saja sebagai bentuk CSR atau amal saya agar kawasan ini bersih dari pedagang kaki lima."

"Gratis?" tanya Pratama dengan nada tidak percaya. Ia menoleh ke arah Luna, mencari pegangan.

"Iya, Pak, gratis. Tanpa syarat. Mari, biar saya antar sekarang juga ke rukonya," tegas Agung.

Sebelum Pratama sempat menolak lagi, Agung memberi isyarat kepada dua anak buahnya yang bertubuh kekar.

"Kalian berdua, bawa gerobak bapak ini ke depan RS Husada. Hati-hati, jangan sampai ada kuah yang tumpah!"

Pratama hanya bisa melongo melihat gerobak kesayangannya didorong oleh dua pria berjas rapi menuju arah jalan raya.

Luna menyentuh pundak suaminya, menyembunyikan senyum kemenangannya.

"Mas, mungkin ini jawaban dari doa kita tadi pagi. Ayo kita ikuti mereka," bisik Luna menyemangati.

Pratama masih merasa seperti dalam mimpi. Ia tidak tahu bahwa pria yang ia anggap "pemilik lahan dermawan" itu sebenarnya adalah bawahan istrinya sendiri yang digaji puluhan juta per bulan.

Sesampainya di depan ruko tersebut, Pratama benar-benar mematung.

Mulutnya sedikit terbuka, tak percaya dengan apa yang ia lihat.

Ia mengira akan melihat bangunan kosong yang berdebu, namun kenyataannya jauh dari bayangannya.

Ruko itu tampak sangat bersih dan modern. Di dalamnya sudah tertata rapi deretan meja kayu yang kokoh dan kursi-kursi minimalis yang nyaman.

Di langit-langit, beberapa kipas angin besar berputar memberikan kesejukan, sangat kontras dengan hawa panas jalanan yang biasa ia rasakan.

Bukan hanya itu, di sudut ruangan terdapat sebuah kulkas showcase yang sudah terisi penuh dengan berbagai minuman ringan yang tertata cantik.

Di pojok lainnya, sebuah kulkas dua pintu yang besar tampak berdiri gagah, siap menampung stok ayam kampung dan bumbu-bumbunya.

"Ya Allah, Pak. Ini benar-benar untuk saya?" tanya Pratama dengan suara gemetar, matanya berkaca-kaca menatap Agung. "Ini terlalu mewah. Meja, kursi, bahkan ada kulkas dan kipas angin..."

Agung mengangguk mantap sambil menyembunyikan senyum profesionalnya.

"Semua yang ada di dalam sini adalah fasilitas untuk penyewa, Pak. Karena Bapak saya bebaskan biaya sewa, maka Bapak juga bebas menggunakan semua fasilitas ini. Silakan, gerobaknya diletakkan di bagian depan sini agar aromanya mengundang orang masuk."

Luna yang berdiri di samping Pratama berpura-pura ikut terkejut.

"Mas, ini luar biasa! Lihat, tempatnya sangat bersih. Pembeli pasti betah makan di sini."

Luna diam-diam melirik ke arah kipas angin dan kulkas tersebut.

Ia sengaja menyuruh Arini memilih merk terbaik agar suaminya bisa berjualan dengan nyaman tanpa kepanasan.

"Ayo Mas, jangan melamun terus. Sebentar lagi jam sarapan, orang-orang dari rumah sakit pasti akan segera keluar mencari makan," ucap Luna menyadarkan Pratama yang masih merasa seperti sedang bermimpi.

Pratama menyeka ujung matanya. Ia merasa hari ini adalah hari paling ajaib dalam hidupnya.

Ia tidak tahu bahwa semua "keajaiban" ini diatur dengan sangat teliti oleh tangan dingin istrinya.

Agung tersenyum sopan sambil menyodorkan sebuah kunci ruko dengan gantungan kulit yang elegan.

"Ini kuncinya, Pak. Mulai sekarang, Bapak yang bertanggung jawab atas tempat ini. Saya pamit dulu, masih ada urusan lain."

Pratama menerima kunci itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

"Terima kasih banyak, Pak. Semoga kebaikan Bapak dibalas oleh Allah."

Begitu Agung dan anak buahnya pergi, Pratama segera menghidupkan api di kompor gerobaknya yang sudah tertata rapi di area depan ruko.

Tak butuh waktu lama, aroma kuah soto ayam kampung yang gurih mulai menguar ke jalanan.

Baru saja ia meletakkan serbet di pundaknya, dua orang pria yang terlihat seperti pegawai dari rumah sakit dan langsung melangkah masuk.

"Pak, pesan soto ceker sayap dua, ya. Terus teh tawar dua," ucap salah satu pelanggan dengan nada antusias.

Pratama tersentak, sedikit gugup karena ini adalah pelanggan pertamanya di tempat semewah ini.

"Oh, i-iya Pak. Segera!"

Luna yang melihat suaminya mulai sibuk dengan panci soto, langsung bergerak cekatan menuju area dispenser dan gelas-gelas bersih yang sudah tertata.

Ia menyingsingkan sedikit lengan seragam batiknya dengan rapi.

"Mas, biar aku yang membuat teh tawarnya. Mas fokus ke sotonya saja, jangan lupa kasih koya yang banyak biar mereka ketagihan," bisik Luna menyemangati suaminya.

"Iya, Dik. Terima kasih ya," sahut Pratama. Tangannya mulai lihai mengambil mangkok porselen putih, memasukkan soun, kubis, lalu menyiramkan kuah panas yang mengepul.

Luna dengan anggun membawakan dua gelas teh tawar ke meja pelanggan.

Meski ia seorang CEO, gerakannya saat melayani pelanggan terlihat sangat luwes, seolah ia benar-benar menikmati perannya sebagai istri seorang pedagang soto.

Diam-diam, Luna melirik ke arah luar. Ia melihat beberapa orang lain mulai menoleh ke arah ruko mereka.

Rencananya berhasil mencari tempat strategis, fasilitas mewah, dan aroma masakan suaminya adalah kombinasi yang mematikan untuk memulai sebuah bisnis besar.

1
tiara
itu pingsan kaget apa karena hamil ya🤭🤭🤭
awesome moment
pratama tu org dgn banyak potensi tp tersembunyi dalam kekisminan
Nabila Nabil
itu pingsan karna papa jati mau dipanggil opa dan arini dipanggil oma.... 🤣🤣
awesome moment
kpm tertangkap tu mokondo 2 ekor
awesome moment
lambe turah g punya obyek julid lg n
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
semoga Dirga dan Noah lekas tertangkap ya,agar papa Jati cepat menikah
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
pa Wandi ga bisa lagi gangguin Pratama tuh, hilang juga pemasukan ya kasian deh tukang nyinyir
my name is pho: 🤭🤭 hehe
total 1 replies
awesome moment
smg luna g kaget klo arini dan papa jati jujur.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Setiawan
kog aneh yah ?? bukannya td pratama lg di jln pulang br bs nolongin luna ?? itu kesian amat mtr bebek tua nya di tggl di jln 🤭🤭🤭
awesome moment
whoah...sama2 virgin ternyata
awesome moment
smg pratam slain kejujuran punya kecerdasan bisnis yg keyen. biar g njomplang bgts sm luna
awesome moment
udh terhura dluan
awesome moment
dih...juwita tu perempuan model p c
awesome moment
👍👍👍luna panggil arini, mama dunk😄😄😄
tiara
wah ternyata Arini menjalin hubungan dengan papa Jati toh, seru nih nantinya
Nabila Nabil
ini nanti ceritanya Luna yg gantian manggil bu ke arini🤣🤣🤣🤣🤣 kocak sih... 🤣🤣🤣
deepey
saling support ya kk. 💪💪
deepey
paginya gulingnya sdh pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!