NovelToon NovelToon
Dark Crown: Devil'S Bride

Dark Crown: Devil'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Roman-Angst Mafia / Menikah dengan Musuhku / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Coldmaniac

‎"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."

‎Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
‎Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
‎Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.

‎Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.

‎Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.

‎Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Nafas di Balik Timah Panas

DUNIA di sekitar Aria mendadak melambat, namun suaranya menjadi sepuluh kali lebih memekakkan telinga. Dentuman peluru yang menghantam dinding kontainer baja di belakang punggungnya menciptakan bunyi tring yang memilukan, getarannya terasa hingga ke sumsum tulang belakangnya.

Aria merosot ke lantai beton yang dingin. Bau bensin yang terbakar dan aroma karat pelabuhan menusuk hidungnya. Di depannya, api dari kargo yang dibakar Dante menjilat langit malam, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari liar.

"Dante!" teriaknya, namun suaranya tenggelam dalam rentetan tembakan berikutnya.

Ia tidak bisa melihat Dante. Pria itu telah menghilang ke dalam kegelapan di antara celah-celah kontainer seperti hantu yang kembali ke rumahnya. Aria sendirian. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa dadanya akan pecah.

Ini bukan lagi tentang dokumen hukum. Ini bukan tentang memenangkan argumen di pengadilan. Ini adalah tentang siapa yang bernapas paling terakhir.

Aria mencengkeram pisau lipat perak di saku mantelnya. Tangannya dingin dan gemetar. Ia mencoba mengingat instruksi singkat Dante di dermaga tadi pagi. Jangan panik. Mata pada sasaran. Jadilah bagian dari hentakannya.

Namun, bagaimana ia bisa tidak panik saat ia mendengar langkah sepatu bot yang berat mendekat ke arah tempat persembunyiannya?

Langkah itu pelan, beradu dengan kerikil di atas beton. Krek. Krek.

Aria menahan napas. Ia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun. Air mata ketakutan mulai menggenang di sudut matanya, namun ia menolaknya untuk jatuh. Jika ia mati di sini, Julian Vane akan tertawa di atas makamnya.

Langkah kaki itu berhenti tepat di balik dinding kontainer tempat ia bersandar.

"Aku tahu kau di sana, Nona Vane," sebuah suara serak terdengar. Itu bukan suara anak buah Dante. Itu adalah salah satu orang bayaran ayahnya. "Kembalilah pada ayahmu. Dia hanya ingin bicara."

Aria memejamkan mata. Kebohongan itu terdengar begitu menjijikkan. Ayahnya tidak ingin bicara; ayahnya ingin memastikan saksi kunci pengkhianatannya bungkam selamanya.

Aria melihat bayangan ujung laras senjata muncul dari sudut kontainer. Ia tidak punya pilihan. Ia tidak bisa hanya diam dan menunggu dieksekusi.

Tepat saat pria itu melangkah memutari sudut, Aria bertindak. Ia tidak berdiri, melainkan menyapu kaki pria itu dengan seluruh kekuatannya.

Pria itu terkejut, keseimbangannya goyah. Saat ia terjatuh, Aria menerjang maju dengan pisau lipatnya yang sudah terbuka. Ia tidak membidik jantung—ia tidak cukup berani untuk itu—ia hanya mengayunkan pisau itu ke arah lengan pria yang memegang senjata.

Srak!

Pisau itu merobek kain jaket dan kulit pria itu. Ia mengerang kesakitan, dan pistolnya terlepas, terlempar ke bawah kolong kontainer.

"Dasar jalang!" pria itu mengumpat, tangannya yang berdarah mencoba mencengkeram leher Aria.

Aria meronta, namun tenaga pria itu jauh lebih besar. Punggungnya menghantam beton dengan keras, membuatnya kehilangan napas sejenak. Tangan kasar pria itu mulai menekan tenggorokannya. Oksigen mulai menipis, penglihatan Aria mulai berbintik-bintik hitam.

Apakah ini akhirnya? pikirnya getir.

Tiba-tiba, tekanan di lehernya hilang. Tubuh pria di atasnya tersentak ke depan seolah ditabrak truk tak terlihat. Sebuah lubang kecil muncul di tengah dahi pria itu, mengeluarkan cairan merah pekat yang langsung membasahi wajah Aria.

Pria itu ambruk di sampingnya, matanya terbuka lebar namun tak lagi bernyawa.

Aria terengah, mencoba meraup udara sebanyak mungkin. Ia gemetar hebat, melihat darah yang bukan miliknya menodai mantel hitamnya.

Sebuah bayangan besar menutupi cahaya api di atasnya. Dante berdiri di sana.

Wajahnya terciprat darah, dan matanya yang abu-abu tampak lebih gelap dari malam itu sendiri. Ia tidak memegang pistol dengan cara biasa; ia memegangnya seolah benda itu adalah perpanjangan dari tangannya sendiri. Dingin dan mematikan.

Dante berlutut di samping Aria. Ia tidak bertanya "Apakah kau baik-baik saja?" dengan nada lembut. Ia hanya mencengkeram bahu Aria, memaksanya untuk menatap matanya.

"Apakah kau terluka?" tanya Dante, suaranya parau namun tegas.

Aria menggeleng lemah. "Dia... dia mencoba..."

"Jangan lihat dia," perintah Dante, memalingkan wajah Aria dari mayat di sampingnya. "Lihat aku. Fokus padaku, Aria."

Dante menyeka noda darah di pipi Aria dengan ibu jarinya. Gerakannya kasar namun entah bagaimana terasa protektif. "Kau bertahan. Kau melukainya. Itu lebih dari yang kuharapkan dari seorang pengacara."

Dante kemudian berdiri dan menarik Aria ikut berdiri. Ia merangkulkan lengannya di bahu Aria, menyembunyikan wanita itu di bawah ketiaknya saat suara tembakan lain kembali terdengar di kejauhan.

"Tempat ini sudah tidak aman. Anak buah Julian lebih banyak dari yang dilaporkan mata-mataku," ucap Dante. Ia berbicara ke radionya. "Marco, siapkan mobil di sektor barat. Bakar sisa kargonya. Kita keluar sekarang!"

Mereka berlari melintasi labirin kontainer. Dante bergerak dengan efisiensi yang mengerikan, sesekali berhenti untuk melepaskan tembakan balasan tanpa perlu membidik lama. Setiap pelurunya seolah punya tujuan pasti.

Saat mereka sampai di mobil SUV hitam yang sudah menunggu dengan mesin menderu, Dante mendorong Aria masuk ke kursi belakang sebelum ia sendiri melompat masuk.

"Jalan!" teriak Dante pada sopirnya.

Mobil itu melesat membelah kegelapan pelabuhan, menabrak pagar kawat dan meninggalkan kobaran api yang kian membesar di belakang mereka.

Di dalam mobil yang gelap, suasana terasa sangat berat. Aria duduk menyudut, memeluk dirinya sendiri. Ia masih bisa merasakan sisa-sisa jari pria tadi di lehernya. Ia masih bisa merasakan hangat darah yang memuncrat ke wajahnya.

Dante duduk di sampingnya, sedang mengganti magasin pistolnya dengan tenang. Seolah-olah mereka baru saja pulang dari pesta makan malam, bukan dari ladang pembantaian.

"Kau bergetar," ucap Dante tanpa menoleh.

Aria tidak menjawab. Ia tidak bisa bicara. Giginya beradu karena guncangan adrenalin yang mulai surut, meninggalkan rasa lelah yang luar biasa.

Tiba-tiba, Aria merasakan sesuatu yang hangat menutupi bahunya. Dante telah melepas jas hitamnya dan menyampirkannya ke tubuh Aria. Jas itu beraroma seperti Dante—tembakau, parfum kayu yang mahal, dan sedikit bau mesiu.

"Jangan berpikir ini karena aku peduli," bisik Dante, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin mobil. "Aku hanya tidak ingin jok mobilku kotor karena kau muntah atau pingsan."

Aria menarik jas itu lebih erat. Ia tahu itu adalah cara Dante untuk menunjukkan sisi manusianya tanpa harus mengakui bahwa dia memilikinya.

Ia menoleh ke jendela, melihat lampu-lampu kota Milan yang mulai terlihat di kejauhan. Malam ini, ia telah melewati garis yang tidak bisa ia lalui kembali. Ia telah melihat kematian, ia telah menyebabkan luka, dan ia telah diselamatkan oleh iblis yang ia nikahi.

"Dante," panggil Aria pelan.

"Hmm?"

"Terima kasih."

Dante terdiam. Ia menatap Aria sejenak melalui kegelapan kabin mobil. Ada kilatan emosi yang tidak terbaca di matanya—mungkin keterkejutan, mungkin juga sesuatu yang menyerupai rasa sakit.

"Jangan berterima kasih padaku," sahut Dante, suaranya kembali sedingin es. "Satu-satunya alasan kau masih hidup adalah karena aku masih membutuhkanmu untuk menghancurkan ayahmu. Ingat itu, Aria. Jangan pernah berpikir ada hal lain di antara kita."

Aria memejamkan matanya, membiarkan kegelapan membawanya pergi. Ia tahu Dante berbohong. Atau setidaknya, ia berharap pria itu berbohong. Karena jika tidak, maka ia benar-benar sendirian di tengah-tengah monster.

1
Nida Saefullah
kerenn....
awesome moment
tekad yg 👍👍👍
awesome moment
👍👍👍
Nida Saefullah
👍💪
fitri ani
luar biasa
Coldmaniac: terima kasihhh
total 1 replies
awesome moment
blm slesekan? kpn lanjutnya?
Coldmaniac: ditunggu yaaaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!