Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut Dibuang
"Wah sangat indah." Ucap Theo tanpa sadar.
"Apa yang indah? Bulan memang terlihat indah." Kata Maerin sambil menolehkan wajahnya menatap ke arah bulan.
Theo tersadar dan langsung mengalihkan topik, "Rambutmu sangat berantakan dan basah kuyup. Harusnya kau mengeringkan rambutmu dahulu. Bajumu bisa basah karena rambut basah loh. Apalagi bisa masuk angin. Mari kembali ke rombongan dan mencari sesuatu untuk mengeringkan rambutmu." Theo jadi terdengar mengomel. Mereka berdua berjalan beriringan tanpa sepatah kata, namun terasa sangat bermakna.
Sesampainya di rombongan, ada yang bertanya pada mereka, "Nona, apa kau habis terpeleset di suatu tempat hingga rambutmu basah kuyup?"
"Tidak Bibi, aku hanya bermain air sebentar di danau. Ternyata rambutku jadi basah kuyup." Maerin berkata sambil menyentuh dan menatap rambut panjangnya yang basah itu.
"Kemarilah, kubantu mengeringkannya." Ajak salah satu rombongan itu. Maerin mengikutinya dari belakang dan masuk ke dalam sebuah tenda khusus untuk para wanita tidur. Bibi baik hati ini ternyata istri dari pedagang pemimpin rombongan.
Di dalam tenda ada beberapa wanita, ada yang masih muda dan tua juga seumuran bibi tersebut. Mereka saling berkenalan dengan Maerin. Lalu Sally yang paling muda tiba-tiba berkata, "Maerin, kenapa kau pakai pakaian laki-laki?"
"Karena aku tak punya pakaian, pakaian ini dipinjamkan oleh tuan Theo (Maerin memanggil Theo dengan sebutan tuan saat dengan orang lain) tapi ini rasanya nyaman kok." Maerin menjawab dengan sedikit tersipu.
"Bagaimana kalau kau pakai salah satu pakaian yang kami bawa. Dan tentunya pakaian wanita." Kata bibi
Lalu Sally menarik Maerin untuk berganti pakaian, setelah selesai. Maerin terlihat cantik dan anggun meskipun memakai pakaian wanita biasa.
"Mustahil. Bagaimana bisa kau terlihat sangat cantik padahal memakai pakaian sejenis yang kupakai." Ucap Sally dengan antusias
"Entahlah, apa memang pakaian wanita terasa seperti ini?" Maerin penasaran.
"Apa maksudmu?" Lirik Sally pada Maerin.
"Sudah, ayo kita keluar. Kurasa sudah waktunya untuk makan." Ajak bibi
Mereka berjalan keluar, dan semua mata tertuju ke arah Maerin. Mereka takjub dan kagum dengan perubahan drastis Maerin. Padahal Maerin tak melakukan banyak hal. Hanya mandi dan berganti pakaian yang bahkan pakaian sederhana. Serta sedikit merapikan rambut berantakannya. Dia terlihat seolah adalah seorang putri bangsawan.
Begitupun Theo, dia juga terpesona dengan kecantikan Maerin dan refleks menyatakan perasaannya saat itu juga.
"Maerin, menikahlah denganku." Ucap Theo tanpa basa-basi.
Orang-orang pun ikut terdiam menantikan jawaban dari Maerin tentang ajakan menikahnya itu. Namun respon Maerin tidak sesuai dengan harapan orang-orang. Maerin bukan menolak hanya saja dia gak tau harus merespon, "Apa yang seharusnya kujawab? Aku tak memahami tentang pernikahan." Jawab nya sambil tertunduk karena tak berani melihat wajah orang-orang. Sebab traumanya yang diperlakukan tak manusiawi masih melekat. Theo pun merasa bersalah karena bersikap impulsif seperti itu. Seharusnya dia pelan-pelan menyembuhkan trauma dan luka batin serta fisik yang diderita Maerin.
"Maafkan aku, Maerin." Theo pergi menyendiri setelah mengatakan itu tanpa menatap Maerin karena merasa malu pada dirinya sendiri yang terbawa suasana dan membuat situasi jadi kacau. Maerin hanya terpaku di tempat dan menatap punggung Theo yang menghilang di kegelapan malam. Dia berpikir mungkin Theo butuh waktu menenangkan diri.
***
Namun hal itu berlangsung beberapa hari. Sejak kejadian itu, seolah Theo menghindari bertemu dengan Maerin. Jadi mereka berdua tak pernah sekalipun bertemu sejak tragedi yang canggung untuk diingat itu. Di sisi Theo, dia memberi ruang untuk Maerin beradaptasi dengan sekitar. Namun di sisi Maerin, dia merasa tak lama lagi akan dibuang dan berakhir menjadi budak kembali dan tinggal selamanya di dalam mimpi buruk. Kilas balik masa-masa menyakitkan saat dia menjadi budak sering muncul dalam mimpinya ketika dia tidur. Bahkan ingatan yang sudah lama banget ingin dia pendam dan hapus, sesekali pun muncul. Dan ternyata berdampak pada pemulihan fisik Maerin. Dokter yang sesekali memeriksa keadaannya, akhirnya diam-diam melapor kepada Theo. Dokter tak tau penyebab pemulihan Maerin yang lambat, namun Theo menduga hal itu terjadi karena lamaran konyol dan dadakan yang dilakukannya beberapa hari silam. Dokter jelas menegaskan sepertinya ada hal yang lebih dalam dari itu, tapi Dokter tak bisa menebaknya. Dokter menyarankan untuk Theo mengajak ngobrol Maerin, pelan-pelan untuk mencari informasi. Karena Dokter menilai bahwa sosok Theo adalah hal berharga untuk Maerin. Jelas Maerin pasti akan terbuka dengan hal apapun yang akan dia katakan dengan Theo. Theo pun mengangguk setuju dan mengatur rencana supaya terlihat alami saat mengajak ngobrol Maerin.
***
Haripun mulai berganti demi hari, hingga waktu sampai ke kota tujuan tak sampai dua hari. Kondisi Maerin makin memprihatinkan, sementara Theo seperti pecundang yang menunda-nunda membicarakan hal penting pada Maerin.
Hingga tiba saat Theo dan Maerin saling menatap, baik Theo maupun Maerin merasa jantungnya berdegup kencang. Dan Theo pun memberanikan diri menyapa Maerin, "Kau terlihat kurang sehat. Apa kau rutin bertemu dokter akhir-akhir ini?"
"Saya bertemu dokter cukup sering, terima kasih atas kebaikan hati Anda untuk saya." Maerin menjawab dengan penuh kehati-hatian.
"Namun kau terlihat tidak membaik. Apakah ada yang mengganggu pikiranmu? Kau bisa mengatakan apapun padaku karena aku yang membawamu pergi denganku. Tentu saja aku akan bertanggung jawab atas keselamatanmu. Jadi cobalah sedikit terbuka denganku tentang apa yang kau rasakan, Maerin." Tanya Theo dengan penuh perhatian sekaligus merasa cemas dan khawatir.
"Sa-saya takut anda akan membuang saya." Maerin tertunduk takut dengan apa yang telah dia ucapkan.
"Apa? Membuangmu? Kenapa kau berpikir begitu? Apa kau lupa seberapa mahalnya harga tebusanmu dari pria mengerikan itu? Yah aku tak bermaksud mengungkit kejadian itu. Hanya saja aku mau nunjukin bahwa kamu berharga dan jangan memandang rendah dirimu sendiri." Kata Theo dengan nada lembut. "Bukankah seharusnya aku yang khawatir akan kau buang?" Ucap Theo dengan berpura-pura sedih hanya untuk menggoda Maerin. Namun Maerin meresponnya dengan sangat serius, "Saya sudah memutuskan untuk mengikuti kemanapun anda pergi. Jadi tak pernah sekecilpun saya punya niat buruk yang seperti itu." Suara Maerin terdengar gemetar dan takut. Theo pun mengubah topik menjadi lebih ringan, "Mari kita coba mengunjungi banyak tempat sebayak mungkin." Theo tersenyum ceria saat mengatakan hal ini. Hal itu membuat Maerin tak murung lagi. Theo menceritakan banyak hal yang pernah dialaminya mengunjungi berbagai macam kota, mulai dari hal menyenangkan serta yang tidak menyenangkan. Maerin mendengarkan dengan seksama dan antusias hingga memunculkan rasa ingin tahu tentang dunia luar di benaknya.
"Lalu apakah ada akhir dari perjalanan panjang ini?" Tanya Maerin karena penasaran tentang perjalanan yang akan dilakukan dengan Theo.
Theo pun berpikir sejenak dan menjawab pertanyaan Maerin...
Bersambung...