Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.
Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.
Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
H-1 menjelang akad nikah.
Seharusnya, ini adalah hari paling membahagiakan bagi seorang gadis. Hari di mana ia melakukan perawatan lulur, memakai masker wajah mahal, dan membayangkan malam pertama yang romantis bersama pangeran impian.
Tapi tidak bagi Citra Anindya.
Gadis berusia dua puluh tahun itu kini duduk meringkuk di sudut kamarnya yang sempit. Di hadapannya, koper tua berwarna biru warisan almarhum bapaknya sudah terbuka menganga. Isinya sungguh memprihatinkan: tumpukan kaos oblong, celana jeans belel, dan beberapa daster motif kartun kesayangannya yang warnanya sudah pudar.
Citra mengangkat salah satu daster bergambar Doraemon yang sudah sobek sedikit di bagian ketiak. Ia menatapnya sedih.
"Nasibmu gimana nanti di sana, Mon?" ajak Citra bicara pada gambar Doraemon itu. "Kalau aku pake kamu di depan Mas Putra, pasti aku langsung diusir. Dia kan perfectionist banget. Liat debu dikit aja matanya melotot, apalagi liat daster bolong."
Ia melempar daster itu masuk ke koper dengan lemas.
"Madesu... beneran madesu... Masa depan suram.." gumam Citra sambil memeluk lutut. Matanya bengkak. Hidungnya merah. Sudah tiga jam ia menangis tersedu-sedu, meratapi nasibnya yang berubah 180 derajat dalam sekejap mata.
Ponselnya yang tergeletak di kasur terus bergetar. Ratusan notifikasi ucapan selamat dari teman-teman sekolah dan rekan kerjanya di restoran membanjiri layar.
"Gila lo, Cit! Nikah sama CEO Aditama Group! Rezeki nomplok!"
"Jangan lupa traktiran woy, udah jadi Sultan!"
"Enak banget jadi Cinderella, dapet pangeran kaya raya!"
Citra membaca pesan-pesan itu dengan bibir manyun. Ingin rasanya ia melempar ponselnya ke dinding. Teman-temannya hanya melihat kulit luarnya saja mobil mewah, jas mahal, dan gedung tinggi. Mereka tidak tahu betapa menyeramkannya sosok di balik semua kemewahan itu.
"Pangeran apanya?" rutuk Citra kesal, menghapus air mata dengan lengan bajunya secara kasar. "Mereka nggak tahu aja aslinya gimana. Dia itu bukan pangeran, tapi Dementor! Dia nyedot kebahagiaan orang cuma lewat tatapan mata!"
Bayangan wajah Putra Mahesa Aditama kembali menghantui benaknya. Wajah tampan tapi kaku itu. Tatapan mata yang selalu merendahkan. Dan kalimat-kalimat pedasnya yang lebih tajam dari boncabe level 30.
"Saya tidak butuh istri. Kamu cuma pengganggu."
Kalimat itu terngiang-ngiang terus. Citra merinding. Ia membayangkan hidupnya nanti di apartemen mewah itu. Jangan-jangan di sana ada peraturan tertulis yang ditempel di kulkas: Pasal 1: Dilarang tertawa keras. Pasal 2: Dilarang bernapas sembarangan. Pasal 3: Istri dilarang menyentuh barang-barang mahal.
"Duh, Gusti... Citra masih mau nonton drakor sambil makan seblak," rengeknya pada tembok kamar. "Kalau nikah sama Om Mahesa, pasti nggak boleh makan pedes. Nanti dibilang bau, dibilang kampungan. Bisa-bisa Citra disuruh makan salad rumput tiap hari biar kurus kayak model."
Citra bangkit, berjalan gontai menuju cermin lemari plastiknya. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya masih muda, kulitnya kencang, dan meski matanya bengkak, ia tahu ia cukup manis. Sifat centil-nya yang biasanya membuatnya percaya diri kini menguap entah ke mana.
"Sayang banget kamu, Cit," ucapnya pada cermin, mendramatisir keadaan layaknya pemain sinetron. "Masih muda, masih 20 tahun, eh malah terjebak sama Om-Om umur 30 tahun yang judesnya minta ampun. Harusnya kamu tuh pacaran sama kakel ganteng yang naik motor sport, diajak jalan sore keliling kota, makan bakso pinggir jalan. Bukan sama om-om yang naik sedan hitam kayak mobil jenazah, terus makannya di restoran bintang lima yang garpunya ada tiga."
Air matanya tumpah lagi. Sifat cengengnya benar-benar tak bisa diajak kompromi. Ia merasa seperti sapi yang mau digolongkan ke rumah jagal, bukan pengantin wanita.
"Citra..."
Suara lembut Bu Sari terdengar dari balik pintu, disusul ketukan pelan.
Citra buru-buru menghapus air matanya, menarik napas panjang, dan mencoba tersenyum, meski hasilnya lebih mirip seringaian menahan sakit gigi. "Masuk, Bu."
Bu Sari masuk membawa segelas susu hangat. Ia melihat koper yang setengah penuh dan mata sembab putrinya. Hati ibu mana yang tidak sakit melihat anaknya seperti ini? Namun, Bu Sari tahu, menolak lamaran keluarga Aditama bukanlah pilihan bijak bagi ekonomi dan masa depan mereka. Apalagi ini amanat almarhum Bapak.
"Minum dulu, Nduk," Bu Sari duduk di tepi kasur, mengusap rambut Citra sayang.
Citra menurut, meminum susu itu sedikit. "Bu... Citra takut," cicitnya pelan, pertahanannya runtuh lagi di depan ibunya. "Om Mahesa itu galak banget. Kalau Citra salah ngomong dikit, dia pasti marah. Kalau Citra nggak bisa masak makanan mewah gimana? Kalau Citra diusir? Terus nanti siapa yang nemenin Ibu di sini? Siapa yang mijitin Ibu kalau pegel?"
"Hush, nggak boleh ngomong gitu," tegur Bu Sari lembut. "Nak Putra itu cuma... kaku. Namanya juga orang sibuk, pemimpin perusahaan besar. Dia butuh orang yang ceria kayak kamu buat ngimbangin hidupnya. Kamu yang sabar, ya? Anggap aja ini ibadah. Istri yang sabar itu pahalanya besar."
"Tapi sabarnya harus setebal kamus bahasa Inggris, Bu," keluh Citra, menyandarkan kepalanya di bahu ibunya. "Dia itu dinginnya ngalahin es batu di freezer. Citra senyum aja dicuekin, Bu. Sakit hati Citra."
Bu Sari terkekeh pelan. "Lama-lama es batu juga cair kalau dijemur matahari, Cit. Kamu harus jadi mataharinya. Jadilah istri yang baik. Masak yang enak, siapin bajunya, senyum yang manis. Laki-laki itu, sekeras apa pun hatinya, kalau diperlakukan lembut pasti luluh. Percaya sama Ibu."
Citra hanya diam, tidak berani membantah ibunya. Dalam hati, ia ragu setengah mati. Matahari? Yang ada dia malah beku duluan sebelum sempat menghangatkan Putra. Dia merasa lebih mirip lilin ulang tahun yang sekali tiup langsung mati di hadapan badai bernama Putra.
"Sekarang tidur, ya. Besok harus bangun pagi-pagi sekali buat dirias. Jangan nangis lagi, nanti matanya bengkak, jelek difoto," bujuk Bu Sari sambil membetulkan selimut Citra.
Setelah ibunya keluar, Citra kembali sendirian. Ia mematikan lampu kamar, lalu naik ke kasur, memeluk guling kumalnya erat-erat. Guling ini baunya apek tapi nyaman. Apa Putra akan membiarkan dia membawa guling butut ini? Pasti tidak.
Citra menatap langit-langit kamar yang gelap.
"Ya Allah," bisiknya dalam doa yang polos. "Kalau memang jodoh Citra sama Om Dingin itu, tolong kuatkan hati Citra. Tolong bikin dia jangan galak-galak amat. Minimal senyum dikit kek setahun sekali. Atau kasih Citra kekuatan super buat ngadepin mulut pedesnya."
Ia menghela napas panjang, mencoba memejamkan mata meski hatinya bergemuruh. Besok adalah hari eksekusi... ah, maksudnya hari pernikahan.
Tiba-tiba, sebuah ide konyol melintas di kepalanya. Kalau Putra memang tidak menginginkan pernikahan ini dan akan bersikap jahat, kenapa Citra harus diam saja dan menderita?
"Awas aja kalau dia macem-macem," gumam Citra dengan sisa-sisa keberaniannya yang kecil. "Biarin aja dia galak, nanti aku kerjain balik. Aku bakal jadi istri paling annoying sedunia biar dia pusing! Liat aja nanti, Om Mahesa. Citra nggak akan nyerah gitu aja!"
Dan dengan tekad konyol untuk menjadi "istri menyebalkan" itulah, Citra akhirnya tertidur, menjemput mimpi buruk tentang pernikahan tanpa cinta di esok hari.
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih