kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Alendra merenung setelah mendengar nama panggilan Patricia saat pertama kali menginjakkan kakinya di pesantren.Bagi Alendra, sekuat apa pun ia mencoba menghormati identitas baru Patricia sebagai wanita bercadar yang dipanggil "Ummu Nia" oleh para santri, hatinya tetap memanggilnya Cia. Nama Cia adalah nama kesayangan yang ia dengar dari orang-orang yang menyayangi Patricia seperti Hilman dan orang tuanya. Panggilan Cia di dalam benak Alendra adalah simbol kerinduan pada sosok gadis pujaannya yang dua tahun lalu adalah sosok yang sombong namun ceria.
Sebagai kuli kebun yang awam dan sok akrab, Alendra sengaja memanggilnya "Mbak Cia" setelah mendengar nama aslinya secara tidak sengaja dari Gus Azmi atau santri lain. Panggilan ini terdengar lebih membumi dan konyol khas orang desa, dibandingkan panggilan formal Ummu atau Ukhti yang terasa terlalu suci bagi karakter Kang Asep yang jenaka.
Para santriwati yang iri dan benci justru menolak memanggilnya Ummu Nia. Mereka merasa Patricia tidak pantas menyandang gelar itu karena hamil tanpa suami yang jelas. Mereka menggunakan nama Cia atau Patricia dengan nada sinis untuk merendahkan statusnya, seolah ingin mengingatkan semua orang bahwa dia hanyalah wanita asing yang datang membawa masalah.
Suatu sore di dapur, Alendra sempat bertanya pada salah satu santriwati sambil mengupas singkong. "Neng, kok semua orang panggilnya beda-beda ya? Ada yang panggil Ummu Nia...ada yang panggil Mbak Cia. Nama aslinya siapa toh?"
Santriwati Mencibir "Kalau Gus Azmi sama Ning Laila sih panggilnya Ummu Nia , biar kedengarannya terhormat. Tapi kalau kita-kita ya panggil Cia saja. Lagian, nama Ummu itu berat, Kang. Harus suci. Kalau yang nggak jelas asal-usulnya begitu, panggil Cia saja sudah bagus."
Alendra hanya bisa terdiam sambil mengepalkan tangan di bawah meja. Ummu berarti Ibu, dan Alendra tahu benar bahwa Patricia adalah calon ibu dari anaknya. Namun, di saat yang sama, ia merasa nama Cia adalah milik pribadinya yang kini dicuri dan dikotori oleh mulut-mulut santriwati itu.
Alendra membatin "Dulu aku memanggilmu Cia karena cinta. Sekarang mereka memanggilmu Cia karena benci. Maafkan aku, Sayang... karena aku, namamu pun kini menjadi bahan ujianmu."
___
Suasana pesantren yang biasanya tenang kini berubah menjadi sarang desas-desus yang tajam. Di balik tembok-tembok asrama dan di sela-sela kegiatan mengaji, nama Patricia menjadi buah bibir yang pahit.
Sore itu, Patricia sedang berjalan menuju aula utama. Langkahnya yang berat karena kandungan yang kian membesar terasa semakin sulit saat ia melewati sekumpulan santriwati yang sedang mencuci di sumur umum.
"Lihat itu... perutnya makin besar saja," bisik salah satu santriwati dengan nada sinis yang sengaja dikeraskan. "Datang-datang sudah berbadan dua, tidak jelas siapa suaminya. Tapi lihat bagaimana Gus Azmi memperlakukannya? Istimewa sekali, kan?"
"Iya, jangan-jangan benar kata orang... dia itu istri muda yang sengaja disembunyikan Gus Azmi di sini supaya tidak ribut," sahut yang lain sambil melirik tajam ke arah Patricia.
Patricia menghentikan langkahnya. Tangannya gemetar mencengkeram kitab di dadanya. Perih. Fitnah itu lebih tajam daripada sembilu. Ia ingin berteriak bahwa ia punya suami, bahwa ia bukan wanita rendahan, namun lidahnya kelu. Ia hanya bisa menunduk, membiarkan air mata membasahi cadarnya.
Di balik pohon mangga yang tak jauh dari sana, Alendra mendengar semuanya. Tangannya yang sedang memegang arit untuk memotong rumput mencengkeram gagang kayu itu hingga kukunya memutih.
Rahangnya mengeras. Sosok Alendra yang kejam hampir keluar dari cangkang Kang Asep. Ia ingin sekali mendatangi kerumunan itu, membanting meja, dan berteriak, "DIA ISTRIKU! WANITA PALING MULIA DI DUNIA INI!"
Namun, ia teringat pesan Gus Azmi. Jika ia membongkar identitasnya sekarang, ia akan kehilangan kesempatan untuk berada di dekat Patricia. Alendra hanya bisa memukul batang pohon mangga dengan kepalan tangannya sampai berdarah, melampiaskan amarah yang menyesakkan dada.
"Sabar, Alen... sabar. Demi Patricia," bisiknya dengan suara serak yang penuh penderitaan.
Ketegangan mencapai puncaknya saat sebuah mobil berhenti di depan kediaman Gus Azmi. Ning Laila, istri Gus Azmi yang dikenal sangat santun, cerdas, dan memiliki wibawa yang tenang, baru saja kembali dari kunjungan ke pesantren orang tuanya kyai Rahman untuk menjenguk adik iparnya Ayudia yang baru saja melahirkan bayi putra.
Para santriwati segera berkumpul, menyalami beliau. Namun, beberapa dari mereka yang bermulut tajam sengaja memancing suasana.
"Ning... kasihan Ning Laila baru pulang. Di sini ada tamu yang sepertinya betah sekali, bahkan Gus Azmi sering memberikan perhatian lebih padanya," ucap seorang santriwati dengan wajah pura-pura prihatin sambil melirik ke arah Patricia yang masih berdiri mematung di kejauhan.
Ning Laila menatap ke arah Patricia. Suasana seketika menjadi hening dan mencekam. Alendra di balik pohon sudah bersiap-siap, jika Ning Laila sampai menghina Patricia, ia tidak peduli lagi dengan penyamarannya.
Ning Laila berjalan perlahan menghampiri Patricia. Patricia gemetar, ia sudah bersiap untuk diusir atau dihina. Namun, apa yang terjadi sungguh di luar dugaan.
Ning Laila memegang kedua bahu Patricia dengan lembut. Matanya menatap Patricia dengan keteduhan yang luar biasa.
"Mbak Patricia... maafkan saya baru bisa menemui sekarang," ucap Ning Laila dengan suara yang sangat tenang. "Terima kasih sudah menjaga amanah Allah di dalam perutmu dengan sabar di sini. Jangan dengarkan suara-suara sumbang. Allah tahu apa yang ada di dalam hatimu."
Patricia langsung terisak. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pembelaan seindah itu. Ning Laila kemudian berbalik menatap para santriwati dengan tatapan yang tegas namun tetap santun.
"Siapa pun yang menebar fitnah tentang saudara kita, sama saja dengan memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati. Mbak Patricia adalah tamu kehormatan saya dan Gus Azmi. Barang siapa menyakitinya, berarti menyakiti saya."
Melihat kejadian itu, Alendra terduduk lemas di balik semak. Ia menangis syukur. Namun, melihat Patricia yang masih sesenggukan, ia ingin melakukan sesuatu. Ia ingin memeluk nya, menenangkan istrinya.
***
Malamnya, saat suasana sepi, Alendra menaruh sebuah bungkusan di depan pintu kamar Patricia. Isinya bukan lagi mawar atau melati, melainkan sebuah tulisan tangan di atas kertas kusam yang sengaja ia buat sejelek mungkin agar tidak dikenali:
"Sabar ya, Mbak Cia. Pohon yang buahnya paling manis memang paling sering dilempari batu. Mbak itu Berlian, lumpur tidak akan bisa mengurangi kilaunya. Semangat, Mbak! - Asep si Kuli Kebun"
Di dalam kamar, Patricia membaca surat itu sambil mengusap perutnya. Ia tersenyum di tengah sisa air matanya.
"Terima kasih, Kang Asep... terima kasih sudah selalu ada di saat aku merasa sendirian," bisik Patricia.
Alendra yang mengintip dari balik celah jendela hanya bisa tersenyum getir. Aku di sini, Sayang. Aku selalu di sini, menjagamu dari setiap fitnah yang mencoba menyentuhmu.