"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."
Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.
Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.
Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.
Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Pertemuan Tak Sengaja
Pagi itu, langit Jakarta tampak lebih cerah, seolah-olah semesta memberikan jeda sejenak dari duka yang menggelayuti rumah keluarga Fandy. Nida merasa sedikit lebih bertenaga setelah beban rahasia tentang Anita terangkat. Meski rasa sakit di perutnya tetap setia menyapa, semangatnya untuk memperkenalkan Hana pada dunianya kian menggebu. Namun, Nida tahu ia tak bisa memaksa Fandy dalam sebuah pertemuan formal yang kaku. Ia butuh sesuatu yang organik, sesuatu yang tidak terasa seperti sebuah "penjodohan paksa."
Nida mengatur sebuah kunjungan ke sebuah panti asuhan di pinggiran kota, tempat di mana Hana sering mengabdikan waktunya untuk mengajar mengaji dan bercerita pada anak-anak yatim. Nida mengajak Fandy dengan alasan ingin melakukan bakti sosial sebagai bentuk syukur atas keberhasilan buku terbarunya. Syabila dan Syauqi pun ikut, membawa beberapa kardus buku dan pakaian layak pakai.
"Kita hanya sebentar di sana, Mas. Aku hanya ingin anak-anak melihat bagaimana berbagi itu menenangkan hati," ujar Nida saat mereka berada di dalam mobil.
Fandy mengangguk, tangannya tetap menggenggam tangan Nida di atas tuas transmisi. "Apa pun untukmu, Sayang. Asal kamu tidak kelelahan."
Sesampainya di Panti Asuhan "Cahaya Umat," suasana riuh rendah suara anak-anak langsung menyambut. Di tengah halaman yang rindang oleh pohon mangga, terlihat seorang wanita sedang duduk di lantai semen yang bersih, dikelilingi oleh belasan anak kecil. Wanita itu sedang membacakan sebuah buku cerita dengan ekspresi yang sangat hidup. Suaranya lembut namun jelas, diselingi tawa kecil yang menular pada anak-anak di sekelilingnya.
Itu adalah Hana.
Nida memperhatikan perubahan raut wajah Fandy. Suaminya tertegun sejenak. Mungkin Fandy mengira Hana adalah sosok yang kaku dan terlalu serius karena predikat "guru mengaji," namun yang ia lihat adalah seorang wanita muda yang penuh energi, berpakaian sederhana namun tampak sangat bersinar karena ketulusannya.
"Assalamu’alaikum, Mbak Hana," sapa Nida setelah mendekat.
Hana menoleh dan seketika berdiri dengan wajah berbinar. "Wa’alaikumussalam, Mbak Nida! Masya Allah, kejutan sekali." Pandangan Hana kemudian beralih pada Fandy dan anak-anak. "Ini pasti keluarga Mbak Nida ya?"
"Iya, ini Mas Fandy, suamiku. Dan ini Syabila serta Syauqi," Nida memperkenalkan mereka satu per satu.
Hana menunduk hormat pada Fandy tanpa bersentuhan tangan, sebuah gestur kesantunan yang membuat Fandy terkesan. Namun, kejutan sebenarnya terjadi saat Syauqi, yang biasanya sangat pemalu pada orang asing, tiba-tiba mendekati Hana.
"Kakak tadi baca cerita apa? Kok ada suara harimaunya?" tanya Syauqi sambil menarik-narik ujung gamis Hana.
Hana berlutut agar sejajar dengan Syauqi, matanya menatap bocah itu dengan penuh kasih. "Tadi Kakak cerita tentang Nabi Sulaiman yang bisa bicara sama hewan. Mau dengar kelanjutannya? Sini, duduk bareng teman-teman yang lain."
Dalam hitungan detik, Syauqi sudah membaur. Syabila yang awalnya ragu juga mulai mendekat, tertarik dengan cara Hana berinteraksi dengan anak-anak panti yang tampak sangat mencintainya. Nida dan Fandy duduk di bangku kayu tak jauh dari sana, memperhatikan pemandangan itu.
"Dia... sangat berbeda dengan Anita," bisik Fandy, hampir tidak terdengar.
"Dia mencintai anak-anak bukan karena tugas, Mas, tapi karena itu adalah bagian dari jiwanya," sahut Nida. "Lihat bagaimana Syauqi langsung merasa nyaman. Itu bukan hal yang bisa direkayasa."
Fandy terdiam cukup lama. Ia melihat Hana membantu seorang anak kecil yang terjatuh, membersihkan lututnya yang berdebu dengan penuh kesabaran, lalu membisikkan doa-doa penenang. Ada kedamaian yang terpancar dari cara Hana bergerak. Sesuatu yang selama ini Fandy pikir hanya dimiliki oleh Nida.
Namun, pertemuan yang indah itu terganggu oleh sebuah kejadian tak terduga. Tiba-tiba, seorang pria paruh baya dengan pakaian lusuh masuk ke halaman panti sambil berteriak-teriak. Pria itu tampak sedang dalam pengaruh alkohol atau zat terlarang. Ia mencari salah satu anak panti yang ternyata adalah keponakannya, mencoba membawanya paksa untuk diajak mengemis di jalanan.
"Mana si Ucok! Dia harus ikut aku! Jangan sok suci kalian di sini!" teriak pria itu sambil mendorong salah satu pengurus panti yang sudah tua.
Suasana menjadi mencekam. Anak-anak mulai menangis ketakutan. Fandy secara naluriah berdiri di depan Nida dan anak-anaknya untuk melindungi mereka. Namun, sebelum Fandy sempat bertindak, Hana sudah melangkah maju.
Hana berdiri tegak di depan pria kasar itu. Wajahnya tidak menunjukkan ketakutan, melainkan ketegasan yang luar biasa. "Bapak, tolong bicara baik-baik. Ini tempat ibadah dan belajar. Anda menakuti anak-anak," ujar Hana dengan suara stabil.
"Minggir kamu, perempuan sok tahu!" Pria itu mengangkat tangannya, hendak menampar Hana.
Fandy sudah bersiap untuk melompat maju, namun ia terpaku melihat apa yang terjadi. Hana tidak mundur selangkah pun. Ia justru menatap mata pria itu dengan tajam namun tetap tenang. "Jika Bapak memukul saya, Bapak tidak hanya berurusan dengan polisi, tapi Bapak sedang menutup pintu tobat Bapak sendiri. Mari bicara di kantor panti, kita cari solusi untuk keluarga Bapak tanpa kekerasan."
Anehnya, pria itu perlahan menurunkan tangannya. Kekuatan batin Hana seolah-olah meredam kemarahan buta pria tersebut. Beberapa warga sekitar akhirnya datang membantu dan membawa pria itu keluar untuk ditenangkan.
Fandy menarik napas lega. Ia menatap Hana dengan pandangan yang benar-benar baru. Bukan lagi sebagai "calon pengganti" yang dipaksakan istrinya, melainkan sebagai sosok wanita yang memiliki keberanian dan prinsip yang kokoh.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Fandy saat Hana kembali mendekati mereka, suaranya kini lebih hangat.
Hana tersenyum tipis, meski napasnya masih sedikit terengah. "Alhamdulillah tidak apa-apa, Pak Fandy. Hal seperti ini kadang terjadi di lingkungan seperti ini. Kita hanya perlu menghadapi mereka dengan hati, bukan dengan otot."
Sore itu, saat mereka pulang, suasana di dalam mobil jauh lebih tenang. Syauqi tidak berhenti bercerita tentang "Kak Hana" yang hebat. Syabila pun tampak merenung, sesekali tersenyum mengingat cara Hana mengajarinya cara membuat origami tadi.
Nida menatap suaminya. Fandy tampak termenung sambil menyetir. "Mas?" panggil Nida lembut.
"Dia... dia wanita yang luar biasa, Nida," Fandy mengakui secara jujur. "Tapi tetap saja, melihatnya membuatku merasa sangat bersalah padamu. Seolah-olah aku sedang mengizinkan orang lain untuk masuk ke dalam ruang rahasia kita."
"Jangan merasa bersalah, Mas. Ruang rahasia kita akan selalu ada. Tapi rumah kita butuh penjaga yang kuat. Dan hari ini, Allah menunjukkan padamu siapa Hana sebenarnya," Nida menyandarkan kepalanya di bahu Fandy. Rasa sakit di tubuhnya mendadak terasa sedikit berkurang karena rasa lega yang memenuhi jiwanya.
Namun, tanpa mereka sadari, pertemuan itu ternyata dipantau dari kejauhan. Anita, yang belum benar-benar menyerah, telah menyewa seseorang untuk membuntuti keluarga Fandy. Ia melihat semuanya dari dalam mobil yang terparkir jauh. Kemarahannya kian memuncak melihat betapa harmonisnya keluarga itu bersama "si guru mengaji."
"Jadi itu mainan baru kalian?" gumam Anita dengan penuh kebencian. "Lihat saja. Kalau aku tidak bisa memiliki Fandy, maka tidak ada orang lain yang boleh, apalagi wanita kampung seperti dia."
Anita mulai memutar otak. Ia tahu ia tidak bisa lagi mendekati Fandy secara langsung. Maka, ia akan menyerang Hana. Ia akan menghancurkan reputasi Hana di depan yayasan dan orang-orang panti. Ia akan membuat Hana terlihat seperti seorang penggoda yang berusaha merebut suami orang yang sedang sakit sakaratul maut.
Malam itu, Nida menulis di buku catatan cokelatnya dengan tangan yang kian lemah: *Langkah pertama sudah dilalui. Mas Fandy sudah melihat cahaya itu. Ya Allah, kumohon berikan aku sedikit waktu lagi untuk memastikan cahaya itu benar-benar menerangi rumah ini sebelum aku kembali ke kegelapan kubur.*
Di sisi lain kota, Hana sedang bersujud dalam tahajudnya. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan pertemuan hari itu. Ada getaran duka yang ia tangkap dari mata Nida, dan ada beban yang sangat berat di pundak Fandy. Hana tidak tahu bahwa ia sedang dipersiapkan untuk sebuah peran besar. Ia hanya berdoa agar selalu dikuatkan untuk menolong sesama. Ia tidak pernah membayangkan bahwa pertolongan terbesar yang akan ia berikan adalah memberikan hatinya pada sebuah keluarga yang sedang diambang kehancuran.
Pertemuan tak sengaja itu telah menanam benih takdir. Benih yang akan tumbuh di tengah badai fitnah yang sedang disiapkan oleh Anita. Dan Nida, sang sutradara dari balik layar kehidupan ini, hanya bisa berharap bahwa pilihannya tidak akan berbalik menjadi bumerang bagi mereka semua.
---