Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.
Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Pertarungan Pertama dengan Monster
"Level kesulitan dinaikkan," ucap Guru Choi dengan suara datar, tangannya memegang remote kontrol. "Hari ini kalian menghadapi simulasi Gate C-rank. Monster: Shadow Stalker, tipe predator siluman dengan kecepatan tinggi dan kemampuan kamuflase terbatas."
Kami berdiri di tengah arena simulasi berbentuk hutan artifisial. Pepohonan holografik, bebatuan palsu, bahkan aroma tanah basah disimulasikan dengan sempurna. Tapi kami tahu ini bukan Gate sungguhan—cedera di sini nyata, tapi tidak mematikan. Sistem keamanan akan menghentikan simulasi jika detak jantung salah satu dari kami turun drastis.
"Shadow Stalker adalah monster pintar," lanjut Guru Choi. "Mereka berburu dalam kelompok kecil, menggunakan taktik flank dan serangan mendadak. Pertahanan fisik mereka lemah, tapi kecepatan dan kecerdasan mereka berbahaya."
Joon-ho sudah siap dengan tabletnya, menghitung kemungkinan pola serangan. Ji-woo berdiri di depan dengan perisai baru—lebih ringan tapi lebih lebar. Seo-yeon menggenggam stafnya erat-erat, ekspresinya tegang tapi tidak lagi panik seperti dulu.
"Tim kalian dinilai berdasarkan: waktu penyelesaian, kerusakan diterima, efisiensi energi, dan kerja sama. Mulai dalam 3... 2... 1..."
*Bzzzt!*
Suara sistem aktif. Hutan di sekitar kami tiba-tiba terasa lebih hidup—atau lebih tepatnya, lebih mengancam. Cahaya temaram, suara angin berbisik, dan di kejauhan, terlihat bayangan bergerak cepat di antara pepohonan.
"Posisi bertahan," bisik Joon-ho. "Formasi segitiga. Ji-woo depan, Min-jae dan Seo-yeon di belakang membentuk sudut. Saya di tengah."
Kami bergerak cepat membentuk formasi. Aku merentangkan tangan, merasakan energi telekinesis mengalir di ujung jari—seperti otot keenam yang semakin kuat setiap hari.
*Ssst—*
Suara gesekan di daun. Lalu hening.
"Gerakan dari kiri, 10 meter," lapor Joon-ho, matanya tak lepas dari tablet yang menampilkan sensor panas. "Satu individu. Tapi Shadow Stalker biasanya berdua atau bertiga."
"Artinya ada yang lain sedang mengitari kita," gumam Ji-woo.
Aku mengalihkan perhatian ke kanan—tidak ada apa-apa. Tapi instingku berteriak ada yang salah. *Editor's eye* aktif dengan sendirinya, menganalisis lingkungan: pola bayangan tidak konsisten, arah angin tidak sesuai dengan gerakan daun—
"Atas!" teriakku tiba-tiba.
Dari dahan pohon di atas kami, sosok hitam meluncur seperti panah. Bentuknya seperti kucing besar dengan bulu gelap bermotif bayangan, cakar memanjang, mata kuning menyala.
Ji-woo mengangkat perisai, menahan serangan pertama. *Clang!* Cakar logam menggores permukaan perisai, meninggalkan bekas dalam.
Tapi itu hanya pengalih.
Dua Shadow Stalker lainnya muncul dari kanan dan kiri, menyerang bersamaan ke arah Seo-yeon dan Joon-ho.
"Min-jae, kanan! Saya kiri!" teriak Joon-ho, mengeluarkan alat semprotan gas.
Aku berputar, mengarahkan telapak tangan ke Shadow Stalker yang mendekati Seo-yeon. Bukan mendorong—aku mencoba sesuatu yang baru: *membuat perisai udara.*
Energi telekinesis mengeras di udara antara monster dan Seo-yeon, seperti dinding tak terlihat. Shadow Stalker menabraknya, terpelanting mundur, bingung.
Tapi itu menghabiskan banyak energi. Kepalaku pusing seketika.
"Bagus, tapi tidak sustainable," komentar Joon-OH sambil menyemprotkan gas ke mata Stalker di kirinya. Monster itu menjerit, mundur. "Kamu harus belajar membuat perisai lebih tipis tapi lebih luas—seperti membran, bukan dinding."
"Aku coba," gumamku, berkeringat.
Ji-woo sedang bertarung dengan Stalker pertama, saling serang dan tangkis. Monster itu cepat, menghindar setiap kali Ji-woo mencoba memukul.
"Koordinasi!" teriak Joon-ho. "Ji-woo, kunci dia! Min-jae, bantu dari jarak!"
Ji-woo mengerti. Dia tidak lagi mencoba menyerang—dia mendorong maju, memaksa Stalker ke arah dinding batu simulasi. Saat monster itu terpojok, aku fokus pada kakinya—membuat semacam 'ikatan udara' yang memperlambat gerakannya.
Itu bekerja. Shadow Stalker itu terhambat, dan Ji-woo menghantamnya dengan pukulan telak di kepala. Monster itu jatuh, tak bergerak.
Satu down.
Dua tersisa—yang kena gas dan yang kena perisai udara tadi. Mereka mundur, bergabung, mengeluarkan suara mendesis seperti komunikasi.
"Mereka sedang berstrategi ulang," kata Joon-ho. "Hati-hati."
Shadow Stalker berpisah lagi—satu melingkar ke belakang, satu tetap di depan. Taktik flank lagi, tapi lebih terkoordinasi.
"Seo-yeon, siapkan healing area di tengah," instruksiku. "Ji-woo, jaga depan. Joon-ho, kau dan aku hadapi yang belakang."
Seo-yeon mengangguk, menancapkan stafnya ke tanah. Cahaya keemasan memancar, membentuk lingkaran pelindung kecil—skill healing area dasar yang dia pelajari baru-baru ini.
Shadow Stalker di depan mencoba serangan tipuan—maju lalu mundur cepat. Ji-woo tidak terpancing, tetap di posisi.
Yang di belakang menyerang lebih agresif. Aku kembali mencoba perisai udara, tapi kali ini lebih tipis, lebih luas—seperti saran Joon-ho. Energi yang terpakai lebih sedikit, tapi cukup untuk memperlambat monster itu.
Joon-ho melemparkan bola asap kecil. Asap pekat menyebar, mengurangi visibilitas. Tapi Shadow Stalker tidak terganggu—mereka bisa navigasi dengan suara dan panas.
"Pindah posisi!" teriak Joon-ho.
Kami bergerak keluar dari asap. Tapi satu Shadow Stalker berhasil menyelinap, cakarnya mengarah ke leher Seo-yeon.
Waktu seolah melambat.
Aku melihat cakar itu mendekat, Seo-yeon yang membelakangi, tidak sadar. Ji-woo terlalu jauh. Joon-ho sibuk dengan yang lain.
*Tidak.*
Energi telekinesis meledak dari tubuhku—bukan terkontrol, tapi impulsif, seperti refleks. Aku tidak mencoba mendorong monster atau membuat perisai. Aku... *menghentikan gerakannya.*
Cakar Shadow Stalker berhenti di udara, seolah terbentur dinding kaca tak terlihat. Tapi kali ini, bukan perisai di depan cakar—aku mengerahkan telekinesis langsung *pada tubuh monster*, membekukan otot-ototnya, mengunci sendi-sendinya.
Monster itu tercekik, mata kuningnya melotot keheranan. Lalu aku dengan kasar membantingnya ke tanah—masih dengan kontrol telekinesis yang sama.
*Bam!*
Shadow Stalker itu tidak bergerak lagi.
Tapi efeknya ke aku langsung terasa. Hidungku mengalir darah hangat. Kepala berdenyut-denyut sakit. Lutut lemas, dan aku terjatuh.
"Min-jae!" Seo-yeon berlari, menyalurkan energi penyembuhan ke arahku.
"Jangan! Selesai dulu pertarungan!" teriakku, tapi suaraku lemah.
Ji-woo dan Joon-ho menghabisi Shadow Stalker terakhir yang sudah kebingungan melihat rekannya dilumpuhkan dengan cara aneh.
Simulasi berakhir. Lampu menyala terang. Suara sistem: *"Misi selesai. Waktu: 7 menit 22 detik. Kerusakan diterima: minimal. Efisiensi energi: rendah. Evaluasi: C-plus."*
C-plus. Turun dari B-minus.
Tapi Guru Choi tidak marah. Dia mendekati kami, terutama menatapku yang masih duduk dengan hidung berdarah.
"Min-jae. Apa yang baru saja kau lakukan?"
"Aku... tidak tahu," jawabku jujur. "Aku cuma tidak ingin Seo-yeon terluka. Lalu telekinesisku bekerja sendiri—seperti membekukan monster itu dari dalam."
Guru Choi terdiam sejenak. "Itu bukan sekadar telekinesis dasar. Itu masuk ke tingkat *kinetic manipulation*—mengontrol gerakan molekular target secara langsung. Sangat advanced, sangat berbahaya, dan sangat menguras energi."
Dia menunduk, suaranya rendah. "Kau melakukannya karena stres tinggi dan insting melindungi. Itu bagus. Tapi kalau tidak dilatih, bisa membunuhmu sendiri. Darah dari hidung itu pertanda otakmu kelebihan beban psionik."
Aku mengangguk pelan, masih pusing.
"Kamu punya potensi besar. Tapi potensi tanpa kontrol adalah bom waktu." Guru Choi berdiri. "Mulai besok, kita fokus pada kontrol, bukan kekuatan. Kamu harus belajar menggunakan telekinesis dengan presisi, tanpa membebani sistem sarafmu."
"Ya, Guru."
Dia melihat ke tim kami. "Secara keseluruhan, kerja sama kalian meningkat. Tapi masih ada delay komunikasi dan respons. Latihan lagi besok."
Guru Choi pergi, meninggalkan kami di arena.
Seo-yeon membantu membersihkan darah di wajahku. "Maaf, gara-gara aku..."
"Bukan salahmu," potong Joon-ho. "Itu adalah skenario realistis—healer selalu jadi target prioritas monster. Kita harus punya strategi khusus untuk melindungi Seo-yeon."
Ji-woo mengangguk. "Aku akan lebih waspada."
Aku berdiri, masih limbung. Tapi ada satu hal yang kurasakan: telekinesisku bukan sekadar mengangkat benda. Ada lapisan lebih dalam—mengontrol gerakan, mungkin bahkan menghentikannya.
Dan itu mengingatkanku pada sesuatu.
*Editor's eye* melihat celah, kelemahan, pola.
*Telekinesis* bisa memanipulasi gerakan fisik.
Apa mungkin… keduanya adalah dua sisi dari koin yang sama?
Joon-ho mendekat, membisikkan, "Malam ini, kita lanjut investigasi. Saya nemukan sesuatu tentang 'Editor's Gate'."
Aku mengangguk. Rasa penat di kepalaku masih ada, tapi rasa penasaran lebih kuat.
Pertarungan pertama dengan monster yang sebenarnya menakutkan sudah berlalu. Tapi pertarungan yang sebenarnya—melawan misteri masa lalu, dan memahami kekuatan dalam diriku—baru saja dimulai.
---