Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.
Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: MISI PERTAMA
Matahari pagi menyinari pelataran batu di depan Gate F-07. Gate itu sendiri terlihat seperti distorsi udara setinggi tiga meter, berkilau pelangi, berputar perlahan seperti cairan tegak. Di sekelilingnya, pagar listrik dan pos penjagaan dengan dua hunter berpengalaman—mereka hanya mengawasi, tidak ikut masuk.
Guru Choi berdiri di depan kami, ekspresinya lebih serius dari biasa. Di sebelahnya, tiga tim lain juga bersiap—termasuk tim Song Min-hyuk. Mereka melirik kami, beberapa tersenyum sinis.
"Peringatan terakhir," suara Guru Choi tegas. "Ini Gate F-rank, tapi bukan berarti aman. Goblin mungkin primitif, tapi mereka berbahaya dalam kelompok. Tujuan kalian: eliminasi semua Goblin dalam radius 200 meter dari titik masuk. Tidak perlu menjelajah lebih jauh. Waktu maksimal: 3 jam. Jika lebih dari itu, kami akan masuk untuk evakuasi."
Joon-ho sudah berdiri di belakang kami, tablet di tangan, drone kecil melayang di bahunya seperti lebah logam. Dia mengenakan vest dengan banyak kantong—perlengkapan lapangan modifikasinya.
"Tim Kang Min-jae, kalian masuk terakhir," instruksi Guru Choi. "Amati dulu bagaimana tim lain masuk dan berkoordinasi."
Tim pertama—tim dengan anggota paling berapi-api—masuk dengan teriakan semangat. Gate berkilau saat mereka melangkah, lalu menghilang. Tim kedua dan ketiga menyusul. Song Min-hyuk melemparkan tatapan pedas ke arah kami sebelum masuk.
"Siap?" bisikku pada tim.
Ji-woo mengangguk, tangan memegang perisai latihan yang diberikan akademi—baja ringan dengan lapisan penyangga energi dasar. Seo-yeon menggenggam staf kayunya, napas sedikit cepat.
"Tenang," suara Joon-ho terdengar di communicator di telinga. "Ikuti rencana. Saya pantau dari sini."
Guru Choi memberi isyarat. "Giliran kalian. Good luck."
Kami melangkah maju. Saat mendekati Gate, aku merasakan tarikan aneh—seperti magnet lembut. Dunia di seberang terlihat buram, seperti melalui kaca berkabut.
Udara terasa berbeda—lebih segar, lebih tajam, dengan aroma tanah basah dan daun membusuk. Dua matahari tergantung di langit—satu besar dan kuning, satu kecil dan kemerahan—memberikan cahaya keemasan aneh pada hutan di depan kami.
Pohon-pohon tinggi dengan daun biru kehijauan, lumut menyala seperti lampu neon kecil di batangnya. Suara serangga aneh berdengung, tetapi tidak ada burung. Kami berdiri di tanah padat, Gate berkilau di belakang kami seperti cermin air tegak.
"Formasi," suara Joon-ho di telinga. "Ji-woo depan, Min-jae tengah, Seo-yeon belakang. Saya luncurkan drone."
Dua drone kecil melesat dari bahunya, menghilang di antara pepohonan. Di tabletnya, layar terbagi menjadi beberapa feed kamera.
"Area aman dalam radius 20 meter. Tidak ada tanda Goblin. Tim lain sudah bergerak ke arah timur—kita ambil rute barat seperti rencana."
Kami mulai berjalan. Ji-woo dengan hati-hati, matanya menyapu semak. Aku berusaha tetap fokus, mempertahankan jarak. Seo-yeon bernapas dalam-dalam di belakangku.
"Hutan ini… cantik," bisik Seo-yeon, terpesona.
"Jangan lengah," peringatan Joon-ho. "Kecantikan sering menjadi kamuflase bahaya."
Kami berjalan sekitar sepuluh menit sebelum drone pertama mendeteksi sesuatu.
"Kontak. 100 meter barat laut. Tiga Goblin, sedang mengais makanan di dekat sungai kecil." Joon-ho mengirimkan gambar ke layar tablet kecil yang dipegang Ji-woo. Makhluk itu pendek—sekitar 1,2 meter—kulit hijau kusam, telinga runcing, berpakaian kulit hewan kasar. Satu membawa tongkat dengan paku, dua lainnya memegang batu.
"Heat signature normal. Tidak ada tanda sihir atau kemampuan khusus." Joon-ho pause. "Rencana A. Ji-woo, tarik perhatian dari depan. Min-jae, siap mengganggu keseimbangan. Seo-yeon, standby healing. Saya akan memantau sekeliling untuk gerakan mendadak."
Ji-woo mengangguk, lalu mulai bergerak maju dengan langkah berat. Aku mengikuti, tangan terkepal—siap menggunakan telekinesis.
Goblin pertama melihat Ji-woo dan mendengus, mata merah kecilnya melebar. Ia berteriak keras—suara parau—dan ketiganya langsung menyerang.
Ji-woo mengangkat perisai. *Bam!* Tongkat pertama menghantam. Ji-woo tidak goyah, malah mendorong maju, membuat Goblin itu tersandung.
"Sekarang, Min-jae—Goblin di kiri, dorong lututnya dari samping!"
Aku fokus. Di mataku, dunia seolah melambat—*editor's eye* aktif. Aku melihat titik lemah: lutut Goblin yang bengkok, tekanan tidak seimbang. Aku menjulurkan tangan, merasakan energi psionik mengalir.
*Dorong.*
Goblin itu terhuyung, lalu jatuh. Batu di tangannya terlempar.
"Bagus," suara Joon-ho. "Ji-woo, hantam yang tengah. Min-jae, yang kanan—coba ambil tongkatnya."
Aku mengalihkan fokus ke Goblin ketiga yang sedang mengayunkan batu. Kali ini, aku tidak mendorong tubuhnya—aku menarik tongkat di tangannya. Rasanya seperti menarik benda berat dengan tali tipis. Tongkat itu terlepas, terbang beberapa meter.
Goblin itu terkejut, melihat tangan kosongnya.
Ji-woo sudah menghabisi Goblin kedua dengan pukulan tepi perisai ke kepala—cukup untuk membuatnya tidak sadar. Goblin pertama bangkit, marah, tapi Ji-woo sudah di depannya. Satu tendangan rendah, Goblin jatuh lagi.
"Seo-yeon, bisa kamu ikat mereka dengan tali ini?" Joon-ho mengoperasikan drone kecil yang menjatuhkan gulungan tali khusus.
Seo-yeon, yang sempat terdiam, segera bergerak. Ia mengikat ketiga Goblin dengan cepat—tampaknya dia punya pelatihan dasar.
"Target dinonaktifkan," lapor Joon-ho. "Waktu: 47 detik. Efisiensi: 82%. Cukup baik untuk pertama kali."
Kami semua menarik napas lega. Jantungku berdebar kencang, tapi ada kepuasan aneh. *Kami berhasil.*
"Tidak boleh berpuas diri," Joon-ho mengingatkan. "Masih ada 9 hingga 12 Goblin tersisa. Drone kedua mendeteksi kelompok lebih besar—lima Goblin—di dekat gua kecil 200 meter dari sini. Mereka tampaknya sedang menjaga sesuatu."
"Menjaga?" tanyaku.
"Mungkin ada sumber makanan atau benda berharga untuk mereka. Bisa juga hanya sarang." Joon-ho memperbesar gambar. "Ada cahaya aneh dari dalam gua. Spektrum energi tidak match dengan lingkungan."
"Harus kita periksa?" tanya Ji-woo.
"Tidak dalam misi ini. Tujuan kita hanya eliminasi Goblin." Joon-ho pause. "Tapi… jika ada anomali, sebaiknya kita laporkan. Itu bisa nilai tambah."
"Risiko?" tanyaku.
"Jika kita mendekati gua, kita harus menghadapi lima Goblin sekaligus di medan sempit. Probabilitas cedera naik jadi 30%."
Kami saling pandang.
"Menurutku kita coba," ujar Ji-woo. "Kita sudah latihan formasi. Kita bisa."
Seo-yeon mengangguk pelan. "Aku setuju. Asal… hati-hati."
Aku melihat ke arah gua yang samar-samar terlihat di antara pepohonan. Sesuatu di sana… terasa aneh. Seperti ada getaran halus di udara.
"Joon-ho, bisa kamumerasakan energi aneh dari sana?" tanyaku.
"Ya. Tapi instrument terbatas. Tidak bisa identifikasi." Joon-ho terdiam sejenak. "Keputusan ada pada kalian sebagai tim tempur. Saya hanya beri data."
Aku menarik napas. "Kita periksa. Tapi tetap prioritas aman. Jika terlalu berbahaya, kita mundur."
"Baik," sahut Joon-ho. "Saya akan atur strategi pendekatan."
***
Kami bergerak perlahan, menyusuri tepi sungai kecil. Joon-ho terus memberi arahan melalui drone yang terbang di atas, memindai perangkap atau Goblin tersembunyi.
"Kelima Goblin di mulut gua. Satu tampak lebih besar—mungkin pemimpin. Mereka memiliki senjata lebih baik: ada yang membawa kapak batu, ada yang memegang tombak pendek."
"Strategi?" tanyaku.
"Kita butuh pengalihan. Min-jae, kamu bisa mengangkat batu kecil dan melemparnya ke arah semak di samping gua? Itu bisa menarik perhatian dua Goblin. Ji-woo hadapi sisanya. Seo-yeon, siapkan area healing di balik pohon besar itu."
Aku mengangguk, mencari batu sebesar kepalan tangan. Aku fokus, merasakan beratnya di pikiran, lalu… *angkat*. Batu itu melayang perlahan. Dengan dorongan mental, aku melemparkannya ke semak belukar.
*Krek!*
Dua Goblin menengok, lalu berjalan mendekati sumber suara. Tersisa tiga—termasuk yang besar.
"Ji-woo, sekarang!"
Ji-woo melompat keluar, perisai di depan. Goblin besar berteriak, mengayunkan kapak batu. *Duaar!* Kapak menghantam perisai, tetapi Ji-woo menahan dengan stabil.
Aku segera fokus pada kedua Goblin lain. Satu dengan tombak mendekat dari samping. Aku dorong tombaknya, mengubah arah serangan. Goblin itu tersandung, tombak menancap di tanah.
Yang lain melemparkan batu. Aku hampir tidak bisa menghentikan batu sepenuhnya, tetapi aku berhasil membelokkannya sedikit—cukup untuk meleset dari kepala Ji-woo.
"Min-jae, bantu Ji-woo dengan yang besar—ganggu keseimbangannya saat dia mengayun!"
Aku lihat Goblin besar mengangkat kapak untuk pukulan kedua. Saat ia memutar badan, aku dorong punggungnya dengan telekinesis. Ia terhuyung, kapaknya melenceng. Ji-woo tidak menyia-nyiakan kesempatan—ia maju, menghantam perut Goblin dengan perisai, lalu menyelesaikan dengan pukulan ke dagu.
Goblin besar terjatuh, tidak bergerak.
Dua Goblin yang tersisa panik, mencoba lari, tetapi drone Joon-ho sudah memblokir jalan mundur dengan suara bising. Kami dengan cepat melumpuhkan mereka.
"Semua Goblin di area ini dinonaktifkan," lapor Joon-ho. "Sekarang, gua."
Kami mendekati mulut gua. Dari dalam, cahaya keemasan samar berdenyut pelan.
"Energinya semakin kuat," bisik Seo-yeon. "Rasanya… hangat."
"Jangan masuk dulu." Joon-ho mengirim drone kecil ke dalam. Feed kameranya menunjukkan gua dangkal, di tengahnya ada batu datar, dan di atasnya…
"itu apa?" gumamku.
Benda itu seperti kristal kecil, sebesar ibu jari, memancarkan cahaya lembut. Di sekelilingnya, ada simbol-simbol aneh terukir di lantai gua—bukan buatan Goblin.
"Joon-ho, kau kenal simbol itu?" tanyaku.
"Dokumentasi terbatas… tapi ini mirip dengan rune dimensi stabilisasi yang pernah ayahmu teliti."
Aku membeku. *Ayah?*
"Amankah kita ambil?" tanya Ji-woo.
"Tidak tahu. Tapi benda ini tidak seharusnya ada di Gate F-rank." Joon-ho terdengar serius. "Saya rekomendasikan kita ambil sebagai bukti, lalu laporkan ke Guru Choi."
Aku melangkah masuk, hati-hati. Saat tanganku mendekati kristal, terasa getaran hangat. Aku mengambilnya—ringan, halus, dan cahayanya meredup seketika.
"Energinya stabil setelah disentuh," komentar Joon-ho. "Menarik."
Tiba-tiba, communicator berbunyi—suara Guru Choi.
"Semua tim, perhatian. Ada anomali energi di Gate. Siap-siap untuk evakuasi dini jika diperlukan. Tim yang sudah clear area, segera kembali ke titik masuk."
Kami saling pandang.
"Kita sudah selesai di sini," kata Joon-ho. "Mari kembali."
Dengan kristal misterius di sakuku, kami berjalan cepat menuju titik masuk. Pikiranku dipenuhi pertanyaan: *Apa hubungan kristal ini dengan penelitian ayah? Dan kenapa ada di Gate F-rank?*
***
Kami keluar tepat saat dua tim lain sudah kembali. Song Min-hyuk dan timnya terlihat sedikit lecet tetapi percaya diri. Mereka melirik kami, mungkin heran kami kembali utuh.
Guru Choi menghitung Goblin yang berhasil dinonaktifkan tiap tim. Tim kami: 8 Goblin—semua hidup, hanya dilumpuhkan. Tim lain rata-rata 6-7, beberapa dibunuh.
"Kalian berhasil menangkap hidup-hidup?" Guru Choi terkesan. "Itu lebih sulit."
"Strategi tim," jawabku singkat, menoleh ke Joon-ho.
Guru Choi menganggak, lalu matanya tertuju pada kantongku yang bercahaya samar.
"Ada apa itu?"
Aku mengeluarkan kristal. Cahayanya kembali berdenyut lembut saat terkena udara luar.
Guru Choi diam sejenak, wajahnya berubah serius. "Bawa itu ke ruang saya. Sekarang. Misi selesai, kalian boleh istirahat."
Tim lain penasaran, tetapi Guru Choi mengusir mereka. Kami mengikutinya ke ruangannya di akademi, kristal masih di tangan.
***
"Di mana kalian menemukan ini?" tanya Guru Choi setelah menutup pintu.
"Di dalam gua, dijaga Goblin. Ada simbol rune di lantai," jelasku.
Guru Choi memeriksa kristal dengan alat pemindai kecil. "Ini… resonance crystal. Digunakan dalam eksperimen stabilisasi dimensi skala kecil." Dia menatapku. "Ini seharusnya tidak ada di Gate F-rank. Kecuali…"
"Kecuali?" dorongku.
"Kecuali ada yang menempatkannya di sana dengan sengaja." Guru Choi menarik napas. "Atau Gate ini tidak alami—dibuat, bukan terbentuk."
Joon-ho, yang diam sampai sekarang, berbicara. "Apakah ini terkait dengan proyek Dimensional Resonance yang dilakukan Ouroboros beberapa tahun lalu?"
Guru Choi menatapnya tajam. "Kau tahu banyak untuk seorang siswa."
"Ayah saya pernah bekerja di sana."
Guru Choi menghela napas. "Baik. Tapi ini bukan pembicaraan untuk sekarang. Kristal ini akan saya serahkan ke pihak berwenang. Kalian… jangan ceritakan ke siapa pun. Ini bisa berbahaya."
"Tapi—" protesku.
"Tidak ada tapi." Suara Guru Choi keras. "Kalian sudah melakukan baik dengan membawa ini. Tapi selidiki lebih jauh bukan urusan siswa. Fokuslah pada pelatihan."
Kami dipersilakan pergi. Di luar, suasana berat.
"Guru Choi menyembunyikan sesuatu," bisik Joon-ho saat kami berjalan.
"Aku tahu," jawabku. "Tapi kita tidak bisa lawan dia sekarang."
"Kita punya salinannya," ujar Joon-ho tiba-tiba. "Drone saya mengambil gambar detail rune dan kristal sebelum diambil. Saya akan analisis."
Aku tersenyum kecil. Tim underdog ini mungkin tidak kuat, tetapi kami punya cara kami sendiri.
"Besok kita latihan lagi," kataku. "Dan… selidiki data itu."
Mereka mengangguk. Chemistry aneh kami mungkin belum sempurna, tetapi hari ini, kami membuktikan sesuatu: kami bisa bekerja sama. Dan dunia ini penuh misteri yang menunggu untuk diungkap.
---