Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Rumah keluarga Ryan dan Amara biasanya menjadi tempat yang paling santai bagi para mahasiswa Teknik untuk berkumpul. Namun, suasana hangat itu perlahan mendingin sejak Nicholas lebih sering menghabiskan waktunya hanya untuk menatap gambar teknis dengan pandangan kosong.
Sebagai sahabat sekaligus abang, Ryan tentu tidak bodoh. Ia menyadari ada tembok besar yang tiba-tiba berdiri di antara Nicholas dan Amara. Sore itu, di sela-sela waktu istirahat pengerjaan tugas besar, Ryan menarik Nicholas ke teras belakang rumah, menjauh dari teman-teman lainnya.
"Nick, lo ada masalah apa sama Amara?" tanya Ryan tanpa basa-basi sambil menyulut rokok.
Nicholas terdiam. Ia menatap asap rokok yang mengudara, lalu menunduk menatap jemarinya yang masih berbekas luka gesekan aspal. "Nggak ada masalah. Gue cuma nurutin kemauan dia buat menjauh."
"Menjauh? Tapi muka lo kayak orang lagi dihukum mati, Bro," sahut Ryan. "Adek gue bilang apa ke lo sampai lo jadi sekaku ini? Dia nolak lo? Atau lo yang bikin dia nangis lagi?"
Nicholas menghela napas berat. "Dia bener, Yan. Gue terlalu maksa. Gue anggap dia barang yang perlu gue kurung biar nggak rusak. Dia bilang gue nggak dewasa, dan setelah gue pikir... dia bener."
Ryan tertegun. Ia jarang melihat Nicholas yang arogan dan penuh percaya diri ini terlihat serapuh sekarang. "Terus lo mau gimana? Nyerah?"
"Nggak akan," jawab Nick tegas namun tenang. "Gue cuma lagi belajar caranya jadi orang yang dia mau. Kalau dia mau gue jadi orang asing, gue bakal lakuin itu. Sampai dia sendiri yang minta gue balik."
Sementara itu, di dalam rumah, suasana tidak kalah tegang. Ujian praktek sekolah memang sudah selesai, namun bagi Amara, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai: Persiapan UTBK.
Sofa ruang tamu kini dipenuhi dengan tumpukan buku tebal—mulai dari Wangsit, soal-soal simulasi, hingga catatan rumus yang bertebaran di meja. Amara duduk meringkuk di sudut sofa dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Tangannya sibuk mencoret-coret kertas buram, namun keningnya tidak berhenti berkerut.
"Duhh... ini gimana sih? Kok hasilnya nggak ada di pilihan jawaban?" gumam Amara frustrasi.
Ia baru saja mengerjakan soal Matematika Saintek tentang limit fungsi trigonometri yang sangat rumit. Berkali-kali ia menghitung, hasilnya selalu berbeda dengan kunci jawaban.
"Ah, ini kisi-kisinya yang nggak bener atau gue yang makin bego sih?!" serunya tertahan sambil melempar pulpennya ke atas meja.
Ia bersandar di sofa, menatap langit-langit rumah. Pikirannya buntu. Biasanya, ia bisa bertanya pada Daffa, tapi Daffa sedang fokus pada ujian mandiri universitas swasta dan mereka jarang berkomunikasi sejak insiden gerbang belakang itu. Dan bertanya pada Bang Ryan? Ryan sedang sibuk di teras belakang dengan teman-temannya.
Amara kembali menatap kertasnya. Satu soal itu seolah mengejeknya. Ia merasa ingin menangis bukan karena soalnya, tapi karena ia merasa tidak punya tempat untuk berkeluh kesah. Ia teringat bagaimana Nicholas—meskipun menyebalkan—dulu sering memperhatikannya saat ia belajar, meskipun hanya dengan memberikan tatapan tajam atau sekaleng kopi.
Nicholas masuk ke dalam rumah untuk mengambil tasnya yang tertinggal di dekat televisi. Langkahnya terhenti saat melihat Amara yang tampak sangat frustrasi di sofa. Rambut gadis itu sedikit acak-acakan karena sering ditarik sendiri, dan wajahnya terlihat lelah.
Nick ingin mendekat, tapi ia teringat janji "menjauh"-nya. Ia hanya berdiri di ambang pintu ruang tamu, memperhatikan Amara yang kembali mencoba mengerjakan soal itu dengan tangan gemetar.
Bruk.
Amara menjatuhkan kepalanya ke meja, menyerah.
Nicholas tidak bisa menahannya lagi. Ia berjalan pelan menuju sofa, tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia berdiri di sisi meja, melihat kertas buram Amara yang penuh dengan coretan coret-coretan berantakan.
Tanpa berkata apa-apa, Nicholas mengambil pulpen yang tadi dilempar Amara. Ia menarik kertas buram itu perlahan.
Amara tersentak. Ia mendongak dan mendapati Nicholas sudah berdiri di sampingnya. Ia hendak memprotes, tapi Nicholas sudah mulai menuliskan sesuatu.
Nick tidak bicara. Ia hanya menuliskan langkah-langkah penyelesaian dengan tulisan tangannya yang rapi namun tegas. Ia memecah rumus rumit itu menjadi bagian-bagian sederhana.
Langkah 1... Langkah 2...
Hanya dalam waktu dua menit, Nicholas sudah menemukan jawaban yang sesuai dengan pilihan ganda. Ia melingkari jawaban akhir tersebut, lalu meletakkan pulpennya kembali.
Amara menatap kertas itu, lalu menatap Nicholas yang masih diam. Nicholas tidak memberikan senyuman sombong seperti biasanya. Ia justru menatap Amara dengan pandangan yang tenang, namun menyiratkan rasa bersalah yang masih tersisa.
"Langkah lo tadi salah di penguadratan awal. Coba cek lagi," ucap Nick sangat pelan, hampir seperti bisikan.
"Kak..."
"Gue nggak ganggu. Gue cuma liat lo kayak orang mau nangis gara-gara limit," potong Nick cepat. Ia merapikan jaketnya. "Gue balik dulu. Ryan ada di belakang kalau lo butuh bantuan lagi."
Nicholas langsung berbalik dan berjalan menuju pintu depan tanpa menoleh lagi. Ia tidak menagih ucapan terima kasih, tidak juga mencoba berlama-lama di sana.
Amara terpaku di sofanya. Ia menatap barisan rumus yang baru saja ditulis oleh Nicholas. Penjelasan Nick sangat mudah dimengerti, jauh lebih jelas daripada guru lesnya. Hati Amara berdesir. Ia merasa seperti baru saja diberikan air di tengah padang pasir, tapi air itu diberikan oleh orang yang baru saja ia usir.
"Gue yang nggak dewasa, atau emang gue yang terlalu keras sama dia?" bisik Amara pada dirinya sendiri.
Ia kembali mengerjakan soal-soal berikutnya, tapi kali ini konsentrasinya terpecah bukan karena sulitnya soal, melainkan karena aroma parfum Nicholas yang masih tertinggal di sekitar sofa, mengingatkannya bahwa pria itu masih menjaganya—bahkan dalam diam dan jarak yang ia minta sendiri.